
Masih di tempat yang sama, di mana ada Cindy dan juga Elina di dalamnya.
Sebelum Elina pindah ke Amsterdam, memang Farel lah yang lebih dulu meninggalkan Elina untuk meneruskan sekolahnya di Berlin. Tapi sebelum Farel memutuskan untuk berangkat, Farel sudah lebih dulu memberi tau Elina akan keberangkatannya tersebut.
Elina sebenarnya tidak rela, hanya saja ia harus mendukung keputusan dari Farel itu sendiri dan Farel pun telah berjanji padanya, ia tidak akan menghianati Elina saat keduanya tidak bersama dan akan kembali lagi ke Indonesia untuk menemuinya.
Tapi nyatanya? Farel sendirilah yang telah melanggar janjinya dan menghianati Elina yang sudah jelas-jelas menunggunya selama bertahun-tahun.
Cindy yang tidak peduli akan derita yang Elina alami pun, membuat Cindy sendiri menjadi muak akan kesedihan yang saat ini ia dengar.
"Emang lo pikir gue peduli apa. "
"Lo kan bisa omongin baik-baik. Gak gini caranya, lo bisa aja masuk penjara, " Ancam Cindy.
"Gak usah banyak bacot. Diem jauh lebih baik, kalo masih pengen bernapas dengan tenang, " ucap Elina.
Lalu pergi menutup pintu kamar itu kembali dan menghampiri cowok yang sudah menculik Cindy kemarin pagi.
"Sebenernya gue pengen orang yang ada di dalem kamar itu Zahra. Bukan mantan lo, " ucap Elina dengan kesal.
"Segitu juga udah untung gue bantu. "
"Masalahnya gue gak bisa nyulik orang yang lo maksud, waktu gue ngikutin dia sampe rumahnya, ternyata rumahnya di jaga ketat, " Perjelas cowok tersebut.
"Dan pas gue selidiki tentang Farel lebih jauh, ternyata dia punya ade beda ibu dan itu mantan gue sendiri, jadi yaudah daripada gue pusing, gue bawa aja dia ke sini dan jadiin dia bahan sandra lo. "
"Kerja bagus. Ok gak masalah, seenggaknya dia juga bisa buat Farel jatuh ke dalam pelukan gue lagi dan ninggalin Zahra si ****** itu, " ucap Elina dengan dingin disertai tatapan tajam dari kedua sorotan matanya.
"Segitu tergila-gilanya lo sama dia, sampe harus nyuruh gue nyulik orang segala. "
"Dia cinta pertama gue dan lo gak bakal paham itu, " ucap Elina dengan tegasnya.
Elina pun meninggalkan cowok yang ia temui tadi dan pergi menuju ruang tamu. Tak lama kemudian, ia langsung menghubungi Farel dan mengatakan apa yang sudah ia lakukan terhadap Cindy.
Dret
Dret
Panggilan pun terhubung.
"Selametin ade lo secepatnya, sebelum ade lo sendiri jadi mayat, " ucap Elina.
"Maksud lo?" ucap Farel dengan terkejut saat mendengar apa yang sudah Elina ucapkan tadi.
"Gue share lock alamatnya ntar di WA dan gue pastiin, lo harus ke sini secepatnya, sebelum lo sendiri nyesel. "
Belum saja Farel menjawab, Elina sudah lebih dulu mematikan panggilan tersebut dari pihaknya.
Farel pun langsung memeriksa WA miliknya dan dengan kecepatan tinggi ia pun pergi menuju tempat yang sudah Elina share lock tadi.
Elina sendiri pun sudah tidak sabar dengan hal yang akan terjadi nanti dan ia hanya tersenyum smirk saat melihat foto Zahra yang sedang ia tatap sedaritadi.
"Lo bakal hancur dan bakal rasain apa yang gue rasain selama ini tiap liat lo bahagia sama orang yang harusnya jadi milik gue. Bukan milik lo ******!"
Setelahnya ia puas mengumpat, Elina mematikan ponselnya kembali dan duduk disebuah sofa yang ada di ruang tamu, sambil menunggu kedatangan Farel nanti.
Farel yang emosinya sudah terbilang memuncak pun memutuskan pergi dengan kecepatan yang sangatlah tinggi, membelah ibu kota.
Sampai pada akhirnya, turunlah Farel disebuah apartemen yang terbilang mewah, hanya saja jika dibandingkan dengannya itu bukanlah hal yang menakjubkan.
Farel pun langsung mengecek WA nya kembali, untuk memastikan lantai berapa yang akan ia datangi.
Farel masuk ke dalam lift, tak butuh waktu yang lama, sampailah Farel di depan pintu apartemen yang terdapat Cindy di dalamnya. Farel pun langsung menekan bel yang ada di depan pintu apartemen tersebut dan keluarlah Elina untuk membuka pintu.
"Hai sayang. "
"Di mana Cindy?"
Farel pun langsung masuk ke dalam apartemen, tanpa meminta izin terlebih dahulu. Farel sendiri sudah khawatir akan keadaan Cindy yang telah Elina sekap selama 2 hari belakangan ini.
"Sekali lagi gue tanya. Di mana Cindy?"
"Gue bakal kasih tau, tapi dengan syarat. "
"Untung cewek, kalo cowok dah gue bunuh lo sekarang juga. "
"Elina lo budeg apa gimana sih? Gue tanya sekali lagi, Cindy di mana?"
"Kok lo bentak gue? Kan gue ngomongnya baik-baik sayang. "
"Gak usah sayang-sayangan. "
"Galak amat sih. "
"Gue masih banyak urusan dan gue mohon sekarang juga, lo kasih tau di mana lo sekap Cindy?"
"Cindy ade lo maksudnya?"
"Dari mana dia tau, " batin Farel.
"Kok diem? Kaget ya, gue tau soal itu. "
Farel pun langsung membuka satu-persatu setiap pintunya, tanpa membahas perihal yang Elina bicarakan tadi.
Dan saat Farel sudah membuka setiap satu-persatu pintu yang ada di dalam apartemen tersebut, ada satu pintu yang tidak bisa dibuka olehnya, Farel pun langsung mendobraknya dengan tangannya sendiri.
Brugh
Terbukalah.
"Farel.. " Teriak Cindy dengan badannya yang sudah sangatlah lemas.
Farel pun langsung menghampirinya dan membuka ikatan yang ada di tangan Cindy dengan cepat.
Saat ikatan sudah mulai terbuka, Farel pun langsung menggendong Cindy yang terlihat sudah tidak lagi sadarkan diri.
Tapi semuanya tidak berjalan dengan lancar, Elina sendiri sudah berada di depan pintu kamar yang ia buat untuk menyekap Cindy sedaritadi. Lalu tersenyum smirk ke arah Farel maupun Cindy.
Dan saat Farel ingin melewatinya, Elina sudah lebih dulu mengunci pintu kamar tersebut dari dalam dan menyimpannya di dalam saku celana miliknya.
Farel yang tau akan hal itu pun, langsung menurunkan Cindy terlebih dahulu. Lalu membaringkan Cindy yang sudah tidak sadarkan diri disebuah kasur yang memang sudah ada di dalam kamar itu sendiri.
"Apa yang lo mau?" tanya Farel yang sudah muak akan tindakan Elina.
"Gue pengen lo tinggalin cewek lo sekarang juga. "
"Demi lo?"
"Iya. Dan balik lagi ke pelukan gue. "
"Gak bakal. "
Elina sendiri pun kesal mendengar akan hal itu.
"Terserah sih. Itu juga kalo emang lo mau pacar lo panjang umur, " ucap Elina disertai senyum smirk yang terukir di bibir manisnya tersebut.
"Gue bakal lakuin apapun itu yang lo mau. Tapi soal gue balik lagi ke pelukan lo.
"Maaf keknya gue gak bisa. "
"Ini yang lo bilang janji hah? Lo ninggalin gue waktu gue lagi sayang-sayangnya sama lo, apa lo gak inget?" ucap Elina.
"Lo sendiri Rel, yang janji gak bakal ngehianatin gue. Tapi apa sekarang? Lo pacaran sama orang lain dan itu orang yang gue kenal bahkan. " Masih dengan tatapannya yang sendu.
"Maafin gue El, gue tau emang itu salah gue. Tapi apa lo gak sadar? Sikap lo sendiri yang bikin gue kek gini dan sampe harus mutusin buat cari pengganti lo. "
"Maksud lo?"
"Waktu gue udah di Berlin. Gue emang sengaja gak kontek lo sama sekali, karna gue pengen uji kesetiaan lo. "
"Hm. Tapi apa El? Lo malah jadian sama Hans, gue frustasi soal itu dan sampai akhirnya gue pulang ke Indonesia buat dateng ke acara pemakaman mamah gue. "
"Dan asal lo tau, kenapa gue bisa sejahat ini ke lo. Karna selain lo ngehianatin gue, papah lo juga yang udah bikin mamah gue koma dan sampai pada akhirnya gue harus kehilangan mamah gue untuk selamanya. " Perjelas Farel.
"Gue gak jadian sama Hans. Bahkan, dia aja udah gue anggep abang sendiri. Hati gue cuma buat lo Rel. "
"Dan apa kata lo tadi? Papah gue yang udah bikin mamah lo koma?" lanjut Elina.
"Jelas-jelas di postingan instagram lo ada foto Hans yang lagi meluk lo El. Emang lo pikir selama gue di Berlin, gue gak mikirin lo sama sekali apa. "
"Justru gue selalu mantau lo dari sosial media , tanpa lo sadari itu El. "
"Dan soal papah lo yang udah nabrak mamah gue. Itu bener dan gue tau itu, karna sebelum-sebelumnya gue udah nyuruh orang buat nyelidikin siapa yang udah nabrak mamah gue dan betapa gak nyangkanya waktu gue tau kalo yang nabrak mamah gue itu papah lo sendiri El, " lanjut Farel.
Elina terdiam seribu bahasa. Elina sangatlah frustasi, karna tindakan egois papahnya tersebutlah, Elina harus mengalami kesakitan yang sangatlah dalam dan yang lebih menyakitkannya lagi, Elina harus mendapatkan ganjaran dari orang yang menurutnya sangatlah berarti bagi hidupnya bahkan dari cinta pertamanya sendiri.
"Gue gak tau soal itu Rel, demi apapun itu gue gak tau dan gue minta maaf banget soal papah gue yang udah buat mamah lo.. " ucap Elina disertai air mata yang telah berlinang dan jatuh dikedua pipinya.
Farel yang sadar akan hal itupun langsung mengusap air mata yang sudah berjatuhan sangatlah deras di pipi Elina. Bagaimanapun juga Farel masih mempunyai perasaan, ia tidak tega jika harus melihat wanita yang ada di hadapannya menangis apalagi kalau harus menangis karna tindakannya.
"Gue udah lupain soal itu. "
"Tapi soal gue harus ninggalin Zahra. Keknya gak bisa El, gue udah terlanjur sayang sama dia, kayak sayang gue dulu ke lo. "
"Tapi gue sayang sama lo Rel, kayak sayang lo ke Zahra. "
"Gue juga gak bisa kalo harus mendem rasa terus-terusan. Lo sendiri yang janji, kalo lo udah balik ke Indonesia, lo bakal ngasih kepastian ke gue. "
"Tapi sekarang apa? Yang ada lo malah nyakitin perasaan gue Rel. "
"Lo sendiri yang mancing gue buat ngehianatin lo El, lo tau sendiri, dari dulu juga gue gak suka kalo lo deket sama Hans. Tapi apa? Lo malah ngehianatin komitmen yang udah kita buat waktu itu. "
"Gue harus bilang gimana lagi si Rel. Gue sama sekali gak ada hubungan sama Hans. "
"Emang iya, waktu itu Hans minta tolong ke gue, buat jadi pacar pura-puranya. Karna ada cewek yang fanatik banget ke dia waktu itu dan mau gak mau, gue bantu dia dong. "
"Tapi sama sekali gak ada perasaan sedikitpun dari gue buat dia Rel. "
Farel terdiam, ia mencerna dengan benar akan penjelasan yang Elina ucapkan padanya tadi padanya. Ada rasa bersalah dalam benaknya. Tapi di sisi lain, Farel sendiri bimbang, ia sangat menyayangi Zahra dan di sisi lain ia pun kembali ada rasa ke Elina, karna bagaimanapun juga, Elina adalah cinta pertamanya dan begitupun sebaliknya, Farel adalah cinta pertama Elina.
"Gue gak punya kontak lo Rel, lo sendiri aja gak pernah ngasih nomor kontak lo ke gue. "
"Iya juga sih. "
"Tapi seenggaknya, lo bisa chatt gue lewat FB. "
"Gue selalu cari nama lo di pencarian FB gue, tapi gak ada. "
"Apa selama ini lo nunggu kedatangan gue?"
"Gila lo ya, jelas gue nunggu lo. "
"kalo nggak. Gue udah jadian sama orang di Amsterdam Rel, tapi apa? Gue jaga komitmen yang pernah lo ucapin ke gue waktu itu. Tapi yang buat komitmen itu sendiri yang ngelanggar, bahkan ngehianatin. "
"Hm. Gak habis pikir gue. "
Elina pun membalikan badannya, ia sudah sangatlah kecewa akan sikap Farel terhadapnya dan belum saja satu langkah Elina melangkahkan kakinya, Farel sudah lebih dulu memeluk Elina dari belakang.
"Maafin gue El. Gue bingung. "
Farel masih dengan posisi memeluk Elina. Sedangkan Elina sendiri, ia hanya terdiam seribu bahasa saat Farel memeluknya.
"Lo gak salah Rel, gue yang terlalu egois. "
"Lo bisa pergi, bawa Cindy ke rumah sakit sekarang juga, gue takut keadaan dia makin parah nantinya. "
"Psikopat dasar, berubah-berubah sifat dalam sekejap. "
"Kenapa lo tiba-tiba baik gini?"
"Gue gak bakal ganggu lo lagi, yang terbaik aja buat lo. "
"Gue udah salah besar jadiin lo cinta pertama gue. Emang bener ya kata orang, cinta pertama emang jarang bisa bersama. " ucap Elina disertai dengan senyum kecutnya diakhir kata.
"Lo nyerah?"
"Gue gak nyerah, tapi buat apa juga Rel. "
"perasaan lo cuma buat dia, jadi ngapain juga gua berjuang lagi. Gue gak sebego itu. "
"Gue sayang ke lo El, tapi kenapa baru sekarang lo dateng lagi di dalam kehidupan gue?"
Elina yang mendengar akan ucapan yang Farel tadi lontarkan pun, dengan sontak ia terdiam seribu bahasa, di sisi lain Elina sendiri sudah sangatlah kecewa, tapi di sisi lain ada rasa percaya tidak percaya akan ucapan yang Farel lontarkan dari mulutnya sendiri.
"Gue emang usaha buat lupain lo El dan sampai pada akhirnya, gue ketemu sama Zahra dari 3 tahun yang lalu, dia ngehibur gue di saat gue lagi hancur-hancurnya. "
"Dia dateng di waktu yang tepat dan emang waktu itu gue sendiri belum ada rasa sama sekali sama dia dan sampai pada akhirnya gue nyatain perasaan ke dia. "
"Secepet itu lo lupain gue Rel?"
"2 bulan gue jadian sama dia, rasanya masih tetep sama. "
"Gue masih gak bisa lupain lo El dan lo tau? Awalnya gue cuma jadiin Zahra sebagai pelampiasan, biar gue bisa lupain lo. "
Deg
"Pelampiasan? Jadi..pertamanya lo emang gak ada niat serius sama dia?"
"Sama sekali nggak, karna posisinya gue masih sayang sama lo dan yang lebih parahnya, semakin lama gue ngejalin hubungan sama dia, semakin banyak sifat lo yang gue temuin di dalam diri dia El. Maka dari itu, gue nyaman banget sama Zahra sampai detik ini. "
"Dan sekarang udah ada gue Rel, lo gak perlu nemuin jati diri gue di orang lain lagi. "
"Tapi maaf El, gue gak bisa. Gue udah janji sama diri gue sendiri, gue gak bakal ninggalin Zahra sekalipun gue kembali ada rasa sama lo sekarang. "
Saat itu juga, Farel pun pergi dari hadapan Elina, menghampiri Cindy yang sedaritadi ia letakan di atas kasur dan menggendong Cindy yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.
Elina yang sadar akan hal itupun, langsung mengambil kunci yang telah ia simpan tadi di dalam saku celana miliknya, lalu membukakan pintu untuk Farel.
Farel pun keluar membawa Cindy yang sedang ia gendong tadi dan meninggalkan Elina yang masih terdiam di dalam kamar, dengan keadaan hatinya yang saat ini sudah sangatlah hancur.
Tapi sebelum Farel meninggalkannya, Farel sudah terlebih dulu mengucapkan terimakasih atas pengertian Elina terhadapnya dan hanya dibalas anggukan singkat oleh Elina.
"Hati gue sakit banget Rel. "
Dengan secepat mungkin, Farel menggendong Cindy menuju mobilnya dan akan membawanya ke rumah sakit terdekat, karna bagaimanapun juga, Farel sangatlah khawatir akan kondisi adiknya tersebut.
Meski bukan adik kandungnya sendiri, Farel sangatlah menyayangi Cindy, tapi keduanya terlihat sangatlah tidak akrab saat di sekolah, bahkan keduanya satu rumah pun, tidak ada yang tau akan hal itu. Dikarenakan, memang sudah keputusan dari Cindy sendiri pada saat itu.
Cindy masih tidak terima akan keputusan mamahnya yang menikah dengan papahnya Farel itu sendiri. Maka dari itu, Cindy sangatlah tidak menyukai Farel, karna menurutnya Farel hanya bersikap so baik di depannya. Padahal yang sebenarnya, Farel memang sangatlah menyayanginya.
Tak lama kemudian, sampailah Farel disebuah rumah sakit yang memang letaknya tidak jauh dari lokasi apartemen tadi.
Farel pun langsung membawa Cindy ke ruang pasien yang memang sudah ia siapkan sebelum menjemput Cindy di tempat dirinya saat disekap.
Masuklah Farel ke dalam ruangan pasien dan membaringkan badan Cindy di ranjang. Farel pun langsung menyuruh dokter untuk secepatnya memeriksa Cindy, ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.
Dokter pun melaksanakan perintah Farel saat itu juga, dikarenakan Farel sendiri adalah cucu dari pemilik rumah sakit tersebut. Maka dari itu, Farel bisa dengan mudahnya mendapatkan ruangan pasien yang cukup terbilang kelas atas atau bisa juga disebut dengan ruang VVIP.
Farel pun keluar dari dalam ruangan pasien dan mengabari papahnya untuk segera datang menjenguk Cindy yang sedang tidak sadarkan diri.
Panggilan terhubung.
"Halo pah. "
"Iya Rel ada apa?"
"Cindy ada di rumah sakit *** "
"Kok bisa? Ok papah ke sana sekarang juga. "
Farel pun duduk disebuah kursi yang memang sudah difasilitasi dari pihak rumah sakit itu sendiri.
Suster-suster yang melihat adanya Farel di sana, langsung menunduk memberi hormat layaknya memberi hormat kepada seorang pangeran kerajaan. Farel sendiri yang sadar akan hal itupun acuh tak acuh, ia masih saja memikirkan apa yang sudah Elina ucapkan saat bersamanya tadi.
Farel pun mengambil ponselnya. Lalu membuka galeri dan terlihat jelas ia sedang memandang foto dua orang anak kecil, satu cewek-satu cowok.
Farel menatapnya dengan tatapan sendu, di sisi lain ia bahagia Elina telah kembali dan masih setia akan komitmen yang telah keduanya buat pada saat itu. Tapi di sisi lainnya Farel sendiri sangatlah menyesal, karna telah salah paham terhadap Elina selama ini. Sampai ia harus menjadikan Zahra sebagai pelampiasan untuk melupakan cinta pertamanya tersebut.
"Maafin gue El, " batin Farel.
Tak lama kemudian, Zacky pun datang. Ia menghampiri Farel yang sedang duduk dan masih dengan fokusnya memandang foto yang sudah sedaritadi ia lihat.
"Gimana kondisi Cindy sekarang?" tanya Zacky dengan penuh rasa cemas.
"Dia pingsan dan sekarang lagi ditangani sama dokter, "
"Gimana bisa Cindy sampai diculik?"
Skip
Farel pun menceritakan semuanya ke papahnya dan belum saja ia memperjelas. Zacky sudah lebih dulu menampar Farel.
Plak
"Bisa-bisanya kamu ngomong seperti itu, kamu tau kan papahnya lah yang telah membuat sosok wanita yang kita sayang pergi untuk selamanya. "
"Tapi Farel gak bisa dendam pah, gimanapun juga Elina cinta pertama Farel. "
"Kamu sudah punya Zahra, jangan sakitin dia karna ke egoisan kamu itu. " ucap Zacky penuh dengan penekanan di setiap perkataan yang ia lontarkan tadi.
"Kalo papah benci. Terus, kenapa Elina diterima di sekolah papah?"
"Papah hanya membenci papahnya, bukan anak gadisnya. "
"Papah suka sama Elina?"
"Dia terlalu muda Rel. Kamu ini bicara apa sih, papah sudah mempunyai istri yang jauh lebih cantik. "
"Terserah papah aja. "
"Kamu harus pilih Zahra bagaimanapun juga. "
"Farel pilih Zahra pah, tapi di sisi lain Farel juga masih sayang sama Elina. "
"Papah gak setuju akan hubungan kamu dengan anak yang sudah membuat orang yang papah sayang pergi untuk selamanya. "
"Kamu paham itu?" lanjut Zacky.
Sampai pada akhirnya, disela-sela aduk cekcok antara Zacky dan juga Farel. Dokter pun keluar dari dalam ruangan pasien. Keduanya langsung menghampiri dokter yang telah memeriksa Cindy dan bertanya akan kondisi Cindy saat ini.
Skip
Zacky pun masuk ke dalam ruangan pasien dan tersenyum sendu saat melihat keadaan Cindy. Sedangkan Cindy yang sudah mulai sadar akan pingsannya tadi pun langsung mengalihkan pandangannya, seolah-olah ia tidak mau menatap Zacky yang sekarang sudah ada tepat di hadapannya.
Sedangkan Farel, saat ia tau kondisi Cindy telah membaik, tanpa pikir panjang Farel pun memutuskan untuk pulang ke rumah berencana mengistirahatkan badannya.
Sampainya ia di rumah, Farel pun langsung pergi menuju kamarnya yang berada di lantai 3.
Farel yang telah sampai di kamarnya pun, langsung mengambil ponsel miliknya yang sedaritadi ia simpan di saku celananya. Lalu menghubungi seseorang di sebrang sana.
Berdering.
Drett
Drett
Panggilan terhubung.
"Ada yang mau gue omongin, besok pagi kita ketemu di rooftop sekolah, " ucap Farel.
"Ok, " balasnya dengan singkat.
Farel pun langsung mematikan panggilan tersebut dari pihaknya, ia sedikit malu akan sikapnya tadi yang dengan sontak menelpon Elina. Farel sendiri berharap jika Elina akan menggodanya kembali. Tapi realitanya Elina sendiri malah bersikap acuh.
SEBUAH MISTERI.
Akankah Farel kembali ke dalam pelukan Elina? Dan kenapa Zacky sangat bersikeras, agar Farel tetap bertahan dengan Zahra? Apakah ada alasan tersendiri baginya?