A LIFE FULL OF MYSTERY

A LIFE FULL OF MYSTERY
TARGET



Jam menunjukan pukul 19.45 WIB.


Disebuah ruang tamu berukuran besar terdapat Farel dan kedua temannya. Bagas maupun Justin mau tidak mau akan Farel libatkan dalam rencana yang sudah ia buat sebelumnya.


"Tapi gue gak tega Rel. " ucap Justin.


"Lakuin apa yang gue perintah. Atau jantung lo yang gue jadiin bahan percobaan. "


"Kalo emang bener lo sayang. Gak seharusnya lo buat rencana kek gini. " ucap Bagas.


"Sayang? Gue gak sayang sama dia. "


"3 tahun pacaran, lo bilang gak sayang?"


"Pelampiasan doang. "


"Wajah doang cakep, tapi sikapnya melebihi psikopat, " celetuk Justin.


"Coba sekali lagi ucapin, gue pengen denger. "


"Itu..si Bagas wajahnya aja cakep, hatinya mah hello kity. "


"Tadi lo gak ngomong kek gitu. "


"Salah denger kali ah, " ucap Justin dengan wajah tanpa dosanya.


"Salah besar gue jadiin lo temen, " Sarkas Farel.


"Popularitas manusia tampan berkurang, kalo gak ada gue di antara kalian berdua. "


"Serah lo Bambang, " ucap Farel yang sudah kualahan menghadapi perilaku Justin.


"Udah diem. Kasih waktu dia buat nenangin pikirannya dulu, " ucap Bagas pada Justin.


Justin pun terdiam. Bagas sendiri terbilang pawang dari segala segi masalah yang menimpa Farel maupun Justin.


Di antara ketiga pria tersebut, hanya Bagas lah yang terlihat sedikit lebih waras. Selain daripada itu, Farel maupun Justin, keduanya terlihat sama. Sikapnya yang ke anak-anakan, dengan sontak membuat Bagas sendiri menjadi sosok yang lebih dewasa.


"Jadi rencana pertama lo apa?" tanya Bagas.


"Culik Elina. "


"Elina? Emang di sekolah kita ada yang namanya Elina?" tanya Justin dengan polosnya.


"Istilah primadona Amsterdam yang pernah buat sekolah kita geger 2 bulan yang lalu, apa masih asing di telinga lo?" tanya Farel.


"Jadi primadona itu namanya Elina?"


"Makanya ngobrol, main game aja terus. Apatis. "


"Kalo gue Apatis, lo apa?" tanya Justin.


"Manusia tertampan di BK. " balas Farel dengan penuh percaya diri.


"Ada plastik gak di sekitar sini?"


"Buat apa emang?"


"Gak tahan gue dari tadi nahan muntah. "


"Anjim. "


Melihat Farel dan Justin yang selalu saja bercekcok adu mulut, membuat Bagas yang sedaritadi berpikir untuk melancarkan rencana Farel pun menjadi sedikit buyar.


"Saran gue, lo jangan libatin Elina dalam rencana yang lo buat, " ucap Bagas dengan tenang.


"Kenapa emang? Jangan bilang lo suka?" ucap Farel dengan sorotan kedua matanya yang tajam.


"Sekarang bukan waktunya buat ributin cewek, lo ikutin saran gue atau lebih baik ngejalanin rencana lo sendiri tanpa kita berdua. "


"Lo pikir gue bakal ikutin saran lo? Gak bakal, tanpa adanya lo..gue bisa ngejalanin rencana gue sama Justin. "


"Lo ikut pulang bareng gue dalam keadaan selamat. Atau terlibat dalam kasus pembunuhan yang ujungnya kantor polisi?" tanya Bagas pada Justin.


"Maaf Rel. Soal itu..gue gak bisa ikut-ikutan. "


"Lo ini gimana sih. Katanya bakal bantu gue dalam keadaan apapun, " ucap Farel dengan sangat kesal akan keputusan Justin.


"Huh. " Bagas yang mendengarnya pun hanya bisa menghela napas dengan kasar.


"Bener kan Gas?" tanya Justin untuk memastikan akan ucapannya tadi.


"Iya. " ucapnya dengan singkat.


"Yaudah sana. Nyesel gue udah percaya ke manusia munafik kek lo berdua. "


"Tawaran masih berlaku. Lo bisa pikirin lagi tawaran gue tadi, " ucap Bagas.


"Alasan lo biar Elina gak terlibat dalam rencana gue apa dulu?"


"Yang ada masalah sama lo itu Zahra sama Hans, " Perjelas Bagas.


"Hubungannya sama Elina apa? Kan gak ada. "


"Justru gue putus sama Zahra tuh karna gue udah ketauan ngungkapin rasa gue yang sebenernya ke Elina tadi pagi. " Perjelas Farel.


"Dia kan baru 2 bulan di sini. Gue juga gak pernah liat lo ngobrol sama dia. " ucap Bagas dengan heran.


Farel pun menceritakan semuanya dengan detail.


Skip


Bagas dan Justin memang orang kepercayaan Farel. Bahkan, saat Farel tiap kali usai membunuh, Bagas dan  Justin lah yang membereskan semua jejak busuk Farel selama ini. Dari mutilasi hingga pembuangan jasad, semua dilakukan oleh mereka.


Hanya saja, untuk masalah pribadi ataupun asmara, Farel jarang meluapkannya ke Bagas ataupun Justin. Ia terbilang  pribadi yang sangatlah tertutup. Maka dari itu, Bagas dan juga Justin tidak tau-menau perihal hubungan Elina dan Farel yang sebenarnya.


Farel sendiri terbilang dingin, hanya Justin lah yang berani bersikap semena-mena dengannya. Selain daripada itu, mereka akan tunduk. Kharisma yang ia punya membuat semua kaum hawa di BK, lumer akan paras tampan bak pangeran Yunani yang ia miliki.


Wajah yang terukir sempurna, tatapan sendu dari kedua matanya, sikapnya yang dingin. Membuat Farel sendiri banyak diminati dari kalangan para remaja di sekolahnya.


...***...


"Yaudah kembali lagi ke rencana awal. Gue dan juga Justin, pasti bakal bantu lo. "


"Serius?" tanya Farel dengan antusiasnya.


"Kapan gue bohong. "


"Rel kalo gue boleh jujur.. " ucap Justin.


"Emang dasarnya pembohong, jadi mau jujur juga laporan dulu, " Sarkas Farel.


"Psikopat kek lo, hidupnya jauh lebih menyedihkan ya, " ucap Justin dengan polosnya melanjutkan perkataannya tadi yang sempat terpotong akan ucapan Farel yang begitu jleb.


"Ya begitulah, " ucap Farel dengan tatapan kosong.


"Udah yuk ah, keburu malem. Justin ayo balik, lo di sini bisanya cuma mancing emosi orang doang, " Sarkas Bagas.


"Lebih tepatnya, bakat yang harus dipelajari lebih dalam, " balas Justin dengan bangganya.


"Kalo bukan temen, udah gue congkel mata lo dari tadi. Ngebacotnya yang gak guna terus, " Tentu saja Farel sendiri sudah sangatlah kesal akan sikap Justin yang selalu saja berani semena-mena dengannya.


"Merinding aku mas, " Goda Justin.


"Kapan lo bakal mulai rencananya?" tanya Bagas.


"Besok malem. "


"Yaudah gue sama Justin pulang dulu. Kabarin kita lagi nanti, kalo misalnya ada perubahan rencana. "


"Siap. "


"Yaudah sampe ketemu besok di sekolah. "


"Hati-hati. "


Bagas dan Justin pun pergi menuju garasi mobil yang memang sudah terparkir sedaritadi sore. Sedangkan Farel, ia menuju sebuah gudang rahasia yang sudah ia bikin sebelumnya, saat Zacky sedang berada di luar kota pada saat itu. Dilengkapi kata kunci di setiap pintunya, membuat orang lain pun tidak akan bisa masuk dengan mudah.


Tak lama kemudian, keluarlah Farel dari gudang rahasia miliknya. Lalu, membawa beberapa senjata yang memang 2 tahun belakangan ini sudah jarang ia gunakan. Dan akan kembali ia gunakan untuk menghabisi target yang saat ini sedang ia incar.


SEBUAH MISTERI.


Farel sendiri, ingin Elina kembali kepadanya. Tapi kenapa harus membuat Elina menjadi target pembunuhan selanjutnya? Ancaman Atau sebuah dendam, karna Elina sudah berani mencampakan perasaannya?