
Disebuah kamar yang terbilang megah, terdapat Elina yang sedang menyiapkan dirinya untuk melanjutkan sekolah yang sudah papahnya sendiri daftarkan saat mereka baru saja kembali ke tanah air satu minggu yang lalu.
Elina Manora Nasution. Anak semata wayang dari salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Ia sempat melanjutkan sekolahnya di Amsterdam selama 3 tahun. Hanya saja, ia harus kembali ke tanah air untuk mengikuti keputusan yang sudah Thomas pertimbangkan dari jauh-jauh hari. Mau tidak mau, Elina pun mengikuti apa yang sudah papahnya sendiri putuskan. Sosoknya yang ramah, membuatnya disukai banyak orang. Pertama kali bertemu dengannya, kemungkinan besar orang lain akan berpendapat Elina adalah sosok yang angkuh. Karna raut wajahnya yang terbilang jutek.
FENITA POV
Fenita yang sudah sedaritadi menyiapkan makanan di dapur pun akhirnya memutuskan, untuk menghampiri Elina yang masih berada di dalam kamarnya saat ini.
"Sayang ayo sarapan dulu, mamah udah siapin nasi goreng spesial kesukaan kamu tuh, " ucap Fenita yang saat ini sudah berada di depan pintu kamar Elina.
"Iya mah bentar. Elina pake seragam dulu, " Teriak Elina dari dalam kamarnya.
"Kalo udah selesai, langsung ke ruang makan ya."
"Kamu harus sarapan dulu, " ucap Fenita lalu meninggalkan Elina dan pergi menuju ruang makan.
"Iya mah. "
...Seragam Elina yang harus ia kenakan hari ini....
Elina pun bersiap-siap. Ia langsung mengenakan seragamnya tersebut dan sedikit merapihkan rambutnya yang sudah sedaritadi terurai. Tidak lupa menambahkan sedikit olesan bedak tabur pada wajahnya.
Elina sendiri tidak begitu menyukai dandanan yang terlalu tebal. Sehingga membuatnya terlihat tampak lebih natural setiap harinya.
Setelah selesai bersiap-siap. Elina pun langsung menuju ruang makan untuk menghampiri mamahnya dan sampai pada akhirnya, keduanya pun sarapan bersama.
ELINA POV
"Mah, " ucap Elina.
"Iya El? Ada apa?"
"Emang harus ya kita balik lagi ke Indonesia?"
"Padahal aku aja udah betah banget di Amsterdam, tapi kenapa harus pindah lagi coba? Mana mendadak, " tanya Elina dengan sesekali ia mengerucutkan bibirnya. Yang membuat Fenita sendiri gemas akan tingkah laku anaknya tersebut.
"Kan kamu tau sendiri. Papah kamu kerjanya pindah-pindah. "
"jadi kita juga harus bisa pandai-pandai beradaptasi. Kalo suatu saat harus pindah lagi-pindah lagi. "
"Ini juga kan demi kebaikan ekonomi kita sayang, " Perjelas Fenita.
"yes i know, " ucap Elina yang masih dihantui akan rasa kesalnya tersebut.
"Nanti juga kamu bakal terbiasa sayang. "
"Udah ah jangan cemberut gitu. Mamah gak suka, " ucap Fenita disertai senyuman simpul, dikarenakan melihat tingkah laku anak gadisnya yang terbilang manja.
"Oh iya mah. Nama sekolahnya apa? Masa iya aku gak tau nama sekolah aku sendiri, " tanya Elina yang sudah selesai menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya tersebut dengan waktu yang terbilang hanya sekejap mata.
"SMAN BHAKTI KENCANA, " ujar Fenita.
"Sekolahnya bagus kok sayang. Papah sama mamah juga gak mungkin sembarang masukin kamu ke sekolah yang latar belakangnya gak jelas. "
"Dan inget, kamu harus ramah ya. Biar kamu juga jadi punya banyak temen. "
"Yes, of course. Pastinya mah. "
"Yaudah Elina berangkat dulu ya mah, " Pamit Elina dan tidak lupa mengecup tangan mamahnya terlebih dahulu.
"Hati-hati sayang, " teriak Fenita yang sudah hampir jauh dari titik keberadaan Elina saat ini.
"Siap mah, " Sahut Elina.
ELINA POV
Sampainya ia di teras depan rumahnya, Elina pun disambut dengan baik oleh supir pribadinya dan langsung dipersilahkan masuk ke dalam mobil layaknya seorang ratu.
"Silahkan masuk non, " ucap Joko.
Elina pun masuk ke dalam mobil. Untuk ke depannya, Elina akan selalu diantar-jemput oleh Supir pribadi kepercayaan Thomas. Papah Elina itu sendiri.
Karna bagaimanapun juga, Thomas tidak bisa jika setiap harinya harus mengantar jemput Elina. Jadwal kerjanya yang terbilang cukup padat, membuatnya harus selalu meeting dan meeting setiap harinya.
Dikarenakan, Thomas sendiri memiliki kontrak kerja sama yang bukan hanya satu dua dengan perusahaan lainnya. Maka dari itu, kehidupan Elina sama sekali jauh dari kata tidak berkecukupan. Apapun yang Elina inginkan, pasti akan terkabul saat itu juga.
Disela-sela keheningan yang terbilang cukup lama dan tentu saja membuat Elina sendiri, merasa jenuh. Ia ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan. Sampai pada akhirnya, Elina pun memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu dan terdapat Joko yang terlihat jelas, sangat canggung dengannya saat ini.
"Apa masih jauh sekolahnya?"
"Sebentar lagi non. " Jawab Joko dengan antusias. Meski ia sendiri masih sedikit canggung dengan sikap dingin Elina terhadapnya.
"Eum. Ok, " ucap Elina yang masih saja fokus menatap hangat sepanjang jalan dari arah samping jendela mobilnya.
Tak lama kemudian, sampailah keduanya di sekolah yang akan Elina tempati.
"Maaf non. Udah sampai, ini sekolahnya. "
ELINA POV
"Gede juga, " batin Elina saat melihat sekolah yang akan ia tempati.
"Yaudah makasih pak. Saya masuk dulu, " ucap Elina dengan tidak sengaja melihat Joko yang terlihat jelas dengan kondisi mulutnya yang saat ini sedikit menganga.
"Pak Joko?" ucap Elina yang sontak membuat Joko sendiri pun kembali tersadar akan lamunannya tadi.
"Maaf non. Maaf, " Jawab Joko dengan penuh rasa bersalah.
"Yaudah saya masuk dulu. Nanti kalo udah bubar, saya kabarin lagi, " ucap Elina lalu keluar dari dalam mobilnya.
"Baik, siap non. "
Joko sendiri tidak mau banyak bicara dengan anak majikannya tersebut. Karna itu hanya akan membuatnya menjadi lebih merindukan anaknya yang selama ini memang sudah tidak ada kabar. Terlebih lagi, usianya juga yang tidak jauh beda dengan Elina.
"Seandainya aku punya banyak uang. Gak mungkin waktu itu bapak sampe jual kamu Ca, " batin Joko. Lalu, meninggalkan sekolah Elina saat itu juga dan pergi menuju kantor Thomas karna adanya panggilan mendadak tadi.