
Dikarenakan guru yang mengajar di kelas Hans akan segera datang dan terlihat sedang berjalan ke arah kelasnya. Hans pun melepaskan pelukan Zahra.
"Jangan nangis. Sini gue hapus air matanya. "
Hans pun menghapus air mata yang sudah jatuh dengan deras sedaritadi dan tentu saja hal itu membasahi kedua pipi Zahra saat ini. Mendapatkan perlakuan yang terbilang istimewa, membuat hati Zahra sendiri dengan sontak berdegup kencang.
Hatinya goyah. Jika mengingat Farel, kecewalah yang menjadi satu kata mewakili dari semua rasa yang Zahra rasakan saat ini.
"Yaudah sekarang lo masuk gih, gak enak kalo ada yang liat juga. "
"Hm..ok. "
"Yaudah sana. "
Belum saja Zahra melangkahkan kakinya menuju kelas, ia pun kembali memanggil Hans.
"Hans. "
"Hm?"
"Makasih ya. "
"Makasih buat apa?"
"Makasih lo selalu ada buat gue. "
"Sama-sama. "
"Yaudah gue balik ke kelas dulu ya. "
"Iya. " ucap Hans dengan singkat.
Zahra pun membalikan badannya lalu kembali menuju kelas dengan kedua tangannya yang saat ini bersikeras menghapus air mata yang selalu saja mengalir dari kedua matanya.
"Gue kesel sama lo El. Tapi karna lo juga, gue jadi sedikit lega sekarang, " batin Hans.
Lalu Hans pun masuk ke dalam kelasnya. Dikarenakan letak kelas Hans maupun kelas Zahra memang bersebelahan.
...***...
Zahra pun duduk kembali, sedangkan kedua matanya selalu saja menatap ke arah Elina yang terlihat sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Apa bener Farel masih ada rasa sama Elina, " batin Zahra yang masih diliputi rasa panik dalam benaknya sedaritadi.
"Ra. " sapa Nabila yang membuat Zahra sendiri terkejut dengan seketika.
"Lo mah ngagetin. "
"Hahaha. Maaf-maaf, lagian hobi banget ngelamun. "
"Mentang-mentang lagi bahagia huh. "
"Iya dong. "
"Sombong. "
"Emang Ra, " ucap Nabila dengan bangganya.
"Bagus deh kalo sadar. "
"Hahahah. "
"Semenjak jadian sama Kevin. Temen gue yang satu ini jadi sedikit rada-rada emang ya, " batin Zahra.
Kevin yang sudah sedaritadi bingung ingin menghabiskan waktu dengan Nabila pun, akhirnya membuka suara.
"Kita nonton atau karaokean?" tanya Kevin.
"Aku mah hayu aja. Terserah kamu yang. "
"Yaudah gimana kalo kita nonton aja?"
"Nonton yang romantis-romantis ya, " ucap Nabila dengan antusias.
"Maksud aku kita nonton bola sayang. "
"Hah?"
"Hm. Hahahah ngakak 4G gue dengernya. " Ejek Zahra.
"Berisik lo ah, " kesal Nabila.
"Lagian lo juga jahat banget Vin, gue yang dengernya aja mikir lo bakal ngajak Nabila nonton bioskop genre romantis. Eh ternyata oh ternyata, hahahaha. "
"Jahat banget emang, " Ketus Nabila.
"Emang ada yang salah kalo pacaran nonton bola?"
"Gak ada yang salah sih. Tapi ya seenggaknya lah sayang. "
"Emang harusnya gimana?" tanya Kevin dengan polos.
"Vin. Lo punya mantan berapa sih?" tanya Zahra.
"Nabila pacar pertama gue. " Perjelas Kevin.
"Kompak amat, " ucap Kevin.
"Gue saranin, lo banyak-banyak berguru sama kakak lo noh. "
"Berguru jadi Fakboi maksud lo?" Sarkas Kevin.
"Is. Damage nya bukan main. "
"Udah udah. Kok malah jadi debat gini sih, " ucap Nabila berusaha meleraikan.
"Yaudah iya Kevin iya. Kita nonton bola nanti malem, " ucap Nabila dengan pasrahnya.
"Kadang kek anak-anak, kadang juga kek orang tua. Punya sifat kok kadang-kadang, " batin Zahra.
"Bener?" ucap Kevin dengan antusias.
"Iya. "
Nabila dan Kevin pun berbincang-bincang layaknya sepasang kekasih yang kesannya seperti dunia hanyalah milik mereka berdua.
Dikarenakan guru yang mengajar kelas Zahra sedang mengambil cuti hamil dan tidak ada guru yang bisa menggantikannya, secara otomatis suasana kelas pun menjadi layaknya jamkos.
Saat ia membuka ponselnya, terdapat sebuah pesan dari orang yang sangatlah penting dalam hidupnya. Dan saat itu juga, Zahra pun memutuskan untuk menemui Farel yang sudah menunggunya sedaritadi di taman sekolah.
Sampainya Zahra di sana, terlihat Farel yang sedang menatap halaman sekolah dengan tatapan yang terbilang sedikit menyeramkan.
"Udah lama?" ucap Zahra dari arah belakang.
Farel pun membalikan badannya.
"Udah berapa kali gue bilang, jangan deket-deket sama cowok lain selain gue. " tegas Farel.
"Apaan sih. Siapa juga dih, gak jelas. " ucap Zahra dengan membela diri.
"Gak usah pura-pura ****. "
"Bukan pura-pura tapi emang nyatanya gue ****. "
"Terserah. "
"Yaudah terserah lo. " ucap Zahra lalu meninggalkan Farel.
Belum saja selangkah Zahra meninggalkan taman. Farel sudah lebih dulu menahan salah satu pergelangan tangan Zahra, berusaha untuk menahannya agar ia tidak pergi.
"Apalagi si Rel?"
"Jauhin! Apa gue bunuh!"
"Jauhin siapa? Gue emang deket sama siapa coba?"
"Jauhin! Apa gue bunuh. "
"Gue harus jauhin siapa Rel?"
"Kevan maksud lo?"
"Semua yang deket sama lo. "
"Apaan sih, lo pikir lo siapa hah?" Sarkas Zahra.
"Gue pacar lo. "
"Lebih tepatnya masa lalu. "
"Maksudnya?"
"Gue ngerasa gagal jadi yang terbaik buat lo. Jadi lebih baik sampe sini aja Rel. "
"Kenapa Zah? Karna soal tadi pagi?"
"Gue bisa jelasin. " ucap Farel yang saat ini sudah mulai frustasi.
"Lo udah ngebohongin gue bukan sekali dua kali Rel. Jadi buat apa juga kita lanjutin. "
"Gue ngerasa kita udah gak cocok. " lanjut Zahra.
"Aku minta maaf sayang. Kasih aku kesempatan satu kali lagi. "
"Maaf Rel. Keputusan gue udah bulat, gue udah gak bisa kali harus pura-pura **** lagi. "
"Semoga lo nemuin yang lebih baik lagi dari gue. Maaf selama ini gue cuma bisa nyusahin lo doang. "
"Makasih atas semuanya Rel. "
Zahra pun meninggalkan Farel yang masih dengan setianya berdiam diri di halaman taman sekolah dengan kondisi yang terbilang sangatlah naas.
Rambut yang acak-acakan. Dengan kondisi muka yang merah padam dan terlihat kedua tangannya yang mengepal dengan penuh rasa kebencian.
"Ini semua karna lo Hans!" ucap Farel disertai sorotan kedua matanya yang tajam.