
Suasana kelas yang terlihat sangatlah nyaman, belum lagi dengan adanya guru mata pelajaran yang terkenal akan sosoknya yang baik hati, membuat suasana kelas itu sendiri pun menjadi damai nan indah.
BU KESYA POV
"Anak-anak. Ibu peringatkan kembali, untuk pembayaran study tour kelas XI IPA 6 paling lambat lusa. "
"Baik. Sekarang kalian bisa buka paket fisika halaman 172. Kerjakan dan saat ibu kembali lagi ke kelas, buku sudah harus terkumpul dengan lengkap di atas meja ibu, " Perintah Bu Kesya.
"Siap buu.. " ucap Murid serentak.
"Lama gak bu? Lamain aja, biar bisa mimpi indah dulu maksudnya, " Celetuk Kevan dan diiringi tawa oleh murid-murid lainnya.
"Kevan, kamu ini malesan ya orangnya. "
"Ibu harus ikut rapat dulu, mungkin akan selesai sekitar satu jam ke depan. "
"Mau tidur, mau ke kantin, itu terserah kalian. Yang terpenting saat ibu kembali nanti, buku sudah harus tersusun dengan lengkap di atas meja ibu, " ucap Bu Kesya.
"Paham?" Lanjutnya.
"Siap paham bu, " ucap murid serentak.
Usainya bu Kesya memberi tugas, saat itu juga, mereka pun melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Sebagian dari mereka, ada yang mengerjakan tugasnya dengan sunguh-sunguh dan tidak sedikit juga di antaranya yang pura-pura berpikir. Bahkan, tidur sekalipun.
Dan tak lama kemudian, Bu Kesya pun sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya di dalam kelas, ia sangat terburu-buru pastinya, hingga ia sendiri pun lupa membawa ponselnya.
"Gosh. Mana bisa Bu Kesya seceroboh itu, " batin Nabila.
Saat itu juga, Nabila pun pergi membawa ponsel Bu Kesya dan akan membawakannya ke lantai 3, tempat di mana rapat akan diseleggarakan. Belum saja, ia melangkahkan kakinya, Zahra sudah lebih dulu memanggilnya.
"Bil lo mau kemana?" tanya Zahra.
"Gue mau ke toilet dulu sebentar. Lo kerjain aja dulu tugasnya, kalo ada yang susah tanya Kevan aja noh, " ucap Nabila lalu, menunjuk ke arah Kevan dan sedikit tersenyum simpul padanya.
"Ih apaan sih, yaudah sono buruan, " Zahra sendiri kesal akan ucapan Nabila padanya tadi. Karna ia tau, Nabila selalu saja berusaha menjodohkan dirinya dengan Kevan.
Usainya ia berbincang dengan Zahra, tak lama kemudian, Nabila pun langsung menyusul Bu Kesya. Ia terus saja menaiki anak tangga dan sampainya ia di lantai 3, Nabila bertanya terlebih dahulu ke salah satu penjaga sekolah, yang saat ini terlihat sedang menikmati secangkir kopi.
"Pak maaf, kalo boleh tau rapatnya udah dimulai apa belum ya pak?" tanya Nabila.
"Belum neng, baru ada lima guru yang ada di sana. Belum terkumpul semua neng, " ujar Pak Anto.
"Makasih ya pak atas infonya. Saya pamit dulu, " ucap Nabila dengan sopan.
"Kembali kasih neng geulis. "
"Nahanya, budak jaman ayeuna mah geulis-geulis euy, heran saya mah, " ucap Pak Anto dengan logat Bandungnya yang sangatlah kental.
Di tempat lain, ada Bu kesya yang sedang frustasi karna telah lupa meninggalkan ponsel miliknya di atas meja kelas yang ia ajar tadi pagi.
"Eh kayaknya hape saya ketinggalan deh bu. " ucap Bu Kesya dengan penuh rasa cemas.
"Kok bisa ketinggalan sih bu? Apa Saya telpon anak kelas aja, biar dianterin ke sini hapenya, " balas Bu Rena. Guru Bahasa Indonesia.
Sampai pada akhirnya, terdengar jelas ada suara dari arah pintu yang tadinya tertutup dengan sangat rapat.
Ceklek
"Permisi. "
"Nabila? Ada apa nak?" Bu Kesya yang sedikit terkejut akan kehadiran Nabila yang sudah terlihat basah kuyup disertai keringat yang telah membasahi seluruh permukaan wajahnya saat ini.
"Maaf ya bu, sebelumnya saya udah lancang datang kemari, " ucap Nabila, dengan sedikit nada yang terengah-engah.
"Tapi tujuan saya kemari, untuk membawakan ponsel ibu yang tertinggal di atas meja tadi. "
"Pas saya mau isi daftar kehadiran di meja ibu, saya liat ada ponsel. Mungkin aja ibu gak sengaja lupa bawa dan saya pikir, lebih baik kalo saya bawain ponsel milik ibu ke ruang rapat. "
"Iya. Ibu lupa banget tadi, ibu buru-buru banget soalnya, makasih banget loh Nabila. "
"Untung aja ada Kamu. Gak tau lagi deh, kalo Kamu gak ke sini. "
"Ibu pasti gak bakal bisa kabarin orang rumah, harus nunggu rapat sampai selesai dulu. "
"Eh taunya ada Kamu, makasih banyak ya Nabila, " ucap Bu Kesya dengan salah satu tangannya yang mengusap-usap pundak Nabila dengan penuh kasih sayang.
"Kembali kasih bu, " Nabila pun langsung memberikan ponsel yang sudah sedaritadi ia bawa kepada Bu Kesya.
"Nabila pamit dulu ya bu. Soalnya Nabila juga belum selesai kerjain tugasnya. "
"Terima ya. Anggep aja ini tanda terimakasih ibu ke kamu Nabila, " Bu Kesya mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya yang sudah berisikan dengan sejumlah uang dan diberikannya lah kepada Nabila.
"Gak usah bu..gak usah. Nabila ikhlas kok, ibu simpen lagi aja uangnya. "
"Maaf ya bu, Nabila harus balik lagi ke kelas. "
"Tapi.. " lanjut Bu Kesya.
"Udah bu gak papa. Assalamu allaikum, " ucap Nabila dengan mengecup tangan milik Bu Kesya dan juga Bu Rena. Lalu, pergi menuruni anak tangga.
Nabila sendiri bermaksud untuk kembali ke kelasnya, dikarenakan tugasnya yang belum selesai tadi.
"Nabila..Nabila, " ucap Bu Kesya dengan senyuman tulus yang terukir di bibir tipisnya.
NABILA POV
Nabila terus saja menuruni anak tangga, sampai pada akhirnya ia pun merasa letih karna harus melewati 3 tangga yang begitu melelahkan.
"Huh. Akhirnya nyampe juga. "
SEBUAH MISTERI.
Mengapa Zahra begitu tidak menyukai Kevan? Sejelek itukah Kevan baginya?