Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 9 [Kita bertemu kembali]



Saat itu Rafael tengah mempersiapkan rapatnya, ia tak sengaja melihat sebuah dokumen yang ternyata itu adalah data identitas dari sekretaris barunya.


Namanya Zoeya Larassati, pria itu melihatnya dengan seksama karena ia merasa familiar. Rafael berusaha mengingat-ingat apa dirinya mengenal gadis ini.


Namun ponselnya berdering membuat semua pikirannya buyar tentang sekretarisnya itu. Ia mengangkat panggilan yang ternyata dari Lais salah satu sahabatnya.


"Halo, kenapa bro"


"El bantu aku please" ucap suara berat pria dari sana.


Rafael menautkan alisnya bingung maksud perkataan Lais "Hah? Bantu apa?"


"Bantu aku memutuskan hubungan dengan wanita ular itu. Kau tau rasanya hari demi hari wanita itu menjeratku, benar-benar ular! Bantulah aku sebelum aku mati ditangannya"


Rafael semakin bingung lagi Wanita ular? Dijerat? Wanita yang mana?


"Hey wanita yang mana? aku tak bisa tahu yang mana yang kau maksud" keluh Rafael karena ia tahu sahabatnya yang satu ini memiliki banyak wanita disisinya.


"Kau ini.. yah pokoknya yang itu nanti kuberi tahu. Yang penting kau bantu aku kan? Yakan? Yakan?"


Rafael menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar, "Baiklah, dasar merepotkan. Sudah ya aku ada rapat"


"Oke, janji ya" Rafael tak menjawab, ia langsung mematikan panggilan tersebut. Dirinya tak ada waktu untuk meladeni Lais, ia pun segera menuju ruangan rapat karena sudah sedikit terlambat, bisa-bisa Papinya itu menghajarnya nanti.


Dua jam berlalu rapat berjalan dengan lancar sesuai yang ia harapkan, sebab Papi tidak mengomelinya. Rafael pun kembali ke ruangannya dengan hati gembira.


Ketika membuka pintu Rafael dikejutkan dengan berdirinya seorang wanita cantik, pakaiannya sangat rapih, dari postur tubuhnya terlihat profesional. Tapi masih bisa terlihat kalau ia sedikit tegang dan gugup. Ia mengembangkan senyumannya dengan sedikit canggung.


Rafael kembali merasa familiar dengan wajah di hadapannya itu. "Perkenalkan Tuan saya Zoeya sekretaris baru anda" tubuh Rafael seakan membeku, ia akhirnya mengingat sebuah nama Zoeya. Zoeya teman bertengkar nya semasa kecilnya.


Rafael tak bisa berkata apa-apa selain memandangi gadis itu dari atas hingga bawah, ia tak percaya Zoeya secantik ini. Gadis itu jadi merasa aneh di tatap begitu. "Tuan? Apa ada yang salah dengan saya?" Tanya Zoeya sopan sembari merapihkan bajunya meskipun sudah terlihat rapih.


"Mungkin kalau dari dulu kau bertingkah sopan begini, aku tidak akan menempelkan permen karet dirambutmu" celetuk Rafael diiringi senyum jahilnya. Sekarang giliran gadis itu yang terkejut hingga bola matanya seperti akan keluar.


"Anda..?" Gadis itu tak bisa berkata apa-apa selain tangannya yang menunjuk ke arah Rafael.


"Ya, Rafael Khurana" Sahut Rafael melanjutkan apa yang ingin di katakan gadis tersebut.


Zoeya terkejut sekali lagi sampai ia menutup mulutnya tak percaya. Pikirannya seakan kembali mengingat masa kecilnya bersama anak menyebalkan yang kini berdiri dihadapannya. Sangat jauh berbeda, sampai Zoeya pun tak mengenalinya. Jika saja Rafael tak menyebutkan namanya ataupun menyamarkannya ia pun pasti percaya begitu saja.


"Aku tau, aku terlalu tampan. Jangan kaget begitu dong, aku kan jadi maloe" narsisnya dan mengedipkan sebelah matanya. Zoeya hanya bisa terdiam membeku, ia merasa ada yang menyerang hatinya.


Saat kecil ia menganggap tatapan itu sangatlah menyebalkan tapi sekarang tidak, ia berubah pikiran. Tatapan itu sangatlah mematikan, mungkin wanita yang beriman lemah pasti dia akan langsung menyerahkan diri nya begitu saja pada pria narsis di hadapannya ini.


"Bagaimana kabarmu dan keluargamu beberapa tahun ini?" Tanya Rafael memulai obrolan.


"Kami... baik-baik saja"


Rafael mengerutkan keningnya merasa curiga dengan jawaban Zoeya yang sempat terdiam beberapa detik.


"Ya, Mami sehat. Semua keluargaku baik-baik saja. Tapi Kakakku beberapa bulan lalu berada di kota C sampai sekarang dia belum kembali, mungkin di sana dia juga baik-baik saja"


Zoeya mengingat kembali soal Kakaknya Rafael, tapi ia tak bisa mengingat dengan baik. Dulu mereka pernah beberapa kali bertemu dan saling melempar senyum, tapi tetap saja Zoeya tak bisa mengingat wajahnya.


Karena lelah sehabis rapat Rafael pun duduk di kursi kebesarannya, ia memainkan pulpennya dengan jari jarinya yang luwes dengan mata yang terus memandang pada gadis yang masih berdiri terdiam. Tiba-tiba Papi datang dan mengetuk pintu.


Hal itu membuat keduanya terkejut kembali.


"Eh.. Papi eh maksutnya Tuan Dirut, silahkan masuk" ujar Rafael mempersilahkan. Zoeya pun langsung menunduk hormat saat Hansel memasuki ruangan.


Hansel tersenyum melihat Zoeya, ia mengusap kepala Zoeya lembut seperti yang ia lakukan kepada putra-putranya.


"Halo Zoeya bagaimana kabarmu nak?" Tanya Hansel hangat, gadis itu akhirnya berani untuk mengangkat wajahnya menatap Hansel.


"Saya baik-baik saja Tuan" mendengar jawaban Zoeya, Hansel tertawa kecil.


"Tidak perlu formal begitu, bicaralah santai padaku"


Zoeya memberikan senyuman hangatnya,


"Mungkin untuk hari ini saja saya akan menuruti Uncle Han. Tapi di hari lain saya akan tetap memanggil anda, Tuan"


Hansel terkekeh ia hanya bisa pasrah, terserah gadis itu mau memanggilnya apa.


"Aku ingin bertanya sesuatu, bagaimana bisa Uncle menemukanku?" Tanya Zoeya yang memang penasaran dengan pertemuan mereka ini, ia merasa bertemunya mereka kembali bukanlah sekedar kebetulan belaka.


Hansel tersenyum tipis, ternyata gadis di hadapannya ini begitu peka,


"Itu mudah bagiku nak, kau datang sendiri ke perusahaan ku di kota mu dan aku langsung menemukanmu" Jawab Hansel santai.


Zoeya tersenyum mendengar jawaban Hansel. Ia merasa takdir begitu baik hingga dapat mempertemukan kembali dengan keluarga ini. Jika ibunya mengetahui hal ini pasti ia sangat bahagia.


"Apa Ibu dan Ayahmu baik-baik saja nak? Mereka ikut pindah kemari bersamamu atau kau disini sendiri?"


"Kau pasti tahu betul jika istriku tau kalian disini, dia pasti sangat bahagia" sambung Hansel dengan menunjukkan wajah gembiranya.


Gadis itu terdiam, raut wajahnya bingung mau berkata apa. "A-anu.. Uncle.." ucapnya terbata-bata. Rafael yang daritadi hanya memperhatikan pun terheran kenapa reaksi Zoeya begitu. Ia merasa kecurigaannya benar bahwa Zoeya menyembunyikan sesuatu. Begitu pula dengan Hansel yang merasa heran.


"Ada apa nak?" Tanya Hansel dengan nada khawatir. Gadis itu membisu, lidahnya kelu. Ia tak bisa mengatakan apapun selain ekspresi yang nampak tak tahu harus bicara apa.


"Baiklah nak, tak perlu dipikirkan. Jika tak mau cerita maka tidak apa-apa" Hansel menenangkannya, ia pun mengajak gadis itu untuk duduk.


Zoeya masih terdiam di sana sehingga membuat Hansel ikut terdiam dan keheranan.


"Uncle.. s-s-sebenarnya" ucapnya terbata-bata, lalu Zoeya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sekarang dari raut wajahnya ia nampak berani untuk berbicara.


"Ayahku sudah meninggal 3 bulan lalu" gadis itu berbicara dengan berani, tapi matanya tak bisa berbohong, bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya tanpa persetujuannya.