Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 10 [Pegangan bukan memelukku]



"Ayahku sudah meninggal 3 bulan lalu" ia berbicara dengan berani tapi matanya tak bisa berbohong, bulir-bulir air mata itu terjun bebas tanpa persetujuannya.


Hansel dan Rafael saling pandang, mereka sama-sama terkejut. Rafael berjalan mendekat, Hansel mengusap bahu kiri Zoeya sedangkan Rafael mengusap di bahu kanan. Mereka berdua memberi gadis itu kekuatan.


Zoeya buru-buru menghapus air matanya dan meminta maaf pada keduanya.


"Gapapa tak usah minta maaf nak. Bekerja keraslah disini untuk membahagiakan Ibumu, kuatkan lagi bahumu. Perjalananmu masih panjang.. mungkin sesekali boleh bersedih tapi jangan sampai berlarut-larut dalam kesedihan" nasehat Hansel lalu menepuk pelan pundak Zoeya.


"Baiklah aku masih banyak pekerjaan, lakukanlah pekerjaan mu dengan baik"


Zoeya mengangguk, ia berjanji dalam hatinya bahwa tidak akan pernah mengecewakan Hansel. Setelah Hansel pergi, Zoeya mengerjakan tugas-tugas nya yang diperintahkan oleh Rafael. Baginya tidak begitu sulit karena ia sudah sering melakukannya sebelum berada di sini. Jadi ia bisa menyelesaikannya dengan mudah.


Meja kerja Zoeya ditempatkan di luar ruangannya, alhasil Rafael hanya bisa memperhatikan gadis itu dari dalam ruangan dengan pintu kaca yang besar sebagai pemisah. Bisa ia lihat Zoeya mengerjakan pekerjaannya dengan telaten, jujur saja ia kagum.


Namun tiba-tiba pikirannya memiliki rencana, ia merogoh ponselnya yang berada di saku jasnya. Ternyata Rafael menelfon Lais, dan tak membutuhkan waktu lama Lais mengangkat panggilannya. Mereka pun berbicara dengan serius tapi terkadang Rafael tertawa kecil di sela pembicaraan mereka.


Zoeya yang memang menyempati diri untuk mencuri pandang jadi tersenyum sendiri kala melihat ekspresi Rafael yang konyol. Dan saat secara tak sengaja pandangan mereka bertemu, keduanya saling melempar senyum. Zoeya pun melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat tertunda. Ia berpikir mungkin inilah awal sebenarnya dari hubungan pertemanan mereka, Zoeya juga berpikir bahwa dirinya dan Rafael bisa menjadi partner kerja yang baik.


Setelah menyelesaikan obrolannya, Rafael bangkit untuk menemui Zoeya.


"Ayo pergi" ajaknya tiba-tiba yang membuat gadis itu keheranan.


"Mau kemana?" tanya Zoeya bingung.


Rafael mendekatkan dirinya sambil tangannya memutar kursi yang diduduki Zoeya agar mereka bisa saling berhadapan.


Gadis itu gugup saat Rafael membungkukkan badannya dan wajah mereka jadi begitu dekat hanya tersisa beberapa senti saja. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas paras rupawan dari atasannya itu.


"Ada sebuah pekerjaan untukmu. Aku akan mengajakmu ke restoran"


Gadis itu tak bisa berkata apa-apa selain terhanyut dalam tatapan lekat Rafael. Seakan ada bunyi sirine dari dalam hatinya untuk tidak jatuh lebih dalam dengan pria itu, Zoeya pun membuang wajahnya. Sedangkan Rafael tersenyum simpul melihat reaksi Zoeya.


Rafael berjalan lebih dulu dan Zoeya pun menyusul di belakangnya dengan pikiran yang masih mencerna apa yang terjadi barusan. Gadis itu seakan linglung hingga Rafael berbicara pun ia hanya setuju-setuju saja, padahal sama sekali tidak mendengarkan apapun.


Akhirnya Zoeya kembali dengan kewarasannya karena ia dikejutkan dengan suara klakson motor yang tiba-tiba berada di sampingnya. Saking terkejutnya Zoeya sampai terlompat ke belakang.


Pria itu membuka kaca helm nya yang ternyata adalah Rafael.


"Apa yang kau tunggu, ayo naik" titahnya.


"Hey kau ini masih saja payah, ayo naik cepat" ucapnya tak sabar. Zoeya mengerutkan keningnya,


"Kita naik motor ini? Yang benar saja" sahutnya ragu sambil menilisik motor besar yang terlihat mahal tersebut.


"Dasar gadis payah, cepat naik jangan banyak tanya. Entah apa yang ada dalam pikiranmu sampai tak fokus"


Gadis itu cemberut, ia sebenarnya kesal dengan julukan gadis payah tapi ia juga salah karena daritadi tidak fokus. Akhirnya ia memilih menurut saja dan duduk di belakang Rafael.


Untung saja stelan kantornya hari ini memakai celana. Jadi ia bisa bergerak lebih leluasa. Rafael pun melajukan motornya menuju jalan raya.


"Pegangan, nanti jatuh" ujarnya dan mulai melajukan motornya.


Zoeya yang masih cemberut itu tak menggubris, ia merasa tak nyaman duduk di jok yang begitu kecil. Ia merasa kalau gerak sedikit pasti ia langsung beda alam.


Gadis itu berteriak saat Rafael melajukan motornya begitu cepat, reflek ia jadi memeluk pria itu dengan erat.


"Hey aku hanya menyuruhmu pegangan bukan memelukku" cibirnya tapi raut wajahnya malah terlihat senang, untung saja ia memakai helm jadi Zoeya tak tahu senyuman jahil itu.


"Dasar k-keterlaluan.. kau tak tau saja aku hampir terjatuh di belakang sini. Kenapa juga kau ke kantor dengan motor ini, baru kali ini ku temui manusia aneh sepertimu"


Rafael terkekeh dengan keluhan gadis itu, "Aku memang biasa ke kantor dengan motor, jadi sebagai sekretarisku kau harus terbiasa untuk perjalanan selanjutnya" jelas Rafael dan menurunkan kecepatan.


"Siapa juga yang mau dibonceng lagi dengannya, dasar narsis" gumam Zoeya pelan, ia merapihkan rambutnya yang berterbangan itu dengan kesal.


"Jangan mengumpatku" sahut Rafael tiba-tiba. Gadis itu menatap tengkuk Rafael jengkel, bagaimana bisa pria ini selalu saja tahu.


"memangnya ada mata dan telinga di belakang kepalamu ini" batinnya kesal.


"Jangan remehkan aku, aku ini sangat peka" sahutnya lagi, membuat gadis itu tak bisa membatin apa-apa lagi. Setelah perdebatan sepele itu akhirnya mereka sampai.


Mereka berhenti di sebuah restoran yang terlihat lumayan ramai. Zoeya menatap tempat itu dengan tatapan ragu,


"Apa disini tempatnya? Tapi disini ramai sekali waktu makan siang kita tidak akan cukup" celetuk Zoeya, karena ia mengira mereka berdua akan makan siang bersama.


"Ssstt Ikut saja denganku" ujar Rafael menutup mulut gadis itu dengan telunjuknya lalu menggandeng tangan Zoeya untuk masuk.


Zoeya memilih menurut saja dan mengikuti Rafael meskipun ia masih merasa ragu. Saat mereka baru memasuki restoran itu dan berjalan beberapa langkah, Rafael tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya dengan agak kasar sehingga membuat gadis itu terhempas dan menabrak seseorang di belakangnya.