Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 20 [Ibu Roma yang kritis]



"Bagaimana ini Bu Rt? Zoeya belum sampai juga, apa kita langsung bawa saja ke rumah sakit. Karena Bu Roma daritadi belum sadar juga" ucap salah seorang wanita yang duduk di samping terbaringnya tubuh Roma. Nampak seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh di sana tengah berpikir.


"Baiklah kalau begitu kita bawa saja ke rumah sakit dengan mobil saya, tapi salah satu harus menunggu di sini takutnya Zoeya pulang atau Zoeyanya di telfon saja dan diberi tahu bahwa Ibunya di bawa ke rumah sakit"


"Baik Bu Rt" jawab para ibu-ibu komplek dengan serempak, mereka saling membantu untuk membopong tubuh Roma yang tak berdaya masuk ke dalam mobil milik Bu Rt. Tanpa mengulur waktu mobil pun segera melaju ke rumah sakit dengan Bu Rt sendiri yang menyetir mobil tersebut.


...***...


Saat ini Zoeya sudah berada di dalam ruang rawat inap. Ia baru saja diperiksa dan diberi obat penenang. Seakan Zoeya memang tanggung jawabnya Rafael tak pernah pergi kemanapun, ia justru selalu berada di samping Zoeya sambil menggenggam tangannya lembut. ia melihat jam menunjukkan pukul 12 malam, rasa kantuk mulai menyerangnya tapi Rafael tak ingin tidur dulu. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, kemudian Rafael teringat dengan ucapan Zoeya tentang ibunya saat di ambulans.


Ia mulai merogoh kembali kantongnya untuk mengambil ponsel Zoeya dan menghubungi Roma. Tapi sayangnya ponsel Zoeya habis baterai. Rafael memilih untuk keluar sebentar menemui Arga yang sedang menunggu di luar ruangan.


"Arga" panggilnya, Arga yang kala itu tengah bermain game online segera menghampiri Rafael.


"Aku mau minta bantuan. Tolong kau ke rumah Zoeya. Ini alamatnya, tolong kau beritahu ibunya bahwa Zoeya di rumah sakit. Kalau dia mau ikut kesini bersamamu maka ajak saja"


Arga mematikan ponselnya dan mengangguk nurut lalu ia segera pergi dengan bermodal alamat yang Rafael beri.


"Untung saja anak itu lumayan berguna ikut kemari" batin Rafael.


Rafael hendak masuk kembali ke dalam tapi matanya tak sengaja melihat pasien yang baru saja lewat dengan para medis yang mendorong ranjang rumah sakit tergesa-gesa. Rafael bisa menebak kalau pasien itu tengah kritis tapi wajahnya mirip sekali dengan Roma, Rafael yang penasaran akhirnya memilih mengikuti para medis yang membawa pasien tersebut ke ruangan ICU.


Rafael sempat melihat kembali wajah itu sebelum benar-benar masuk ke ruangan, ia membelalakkan matanya ketika sudah yakin bahwa pasien itu memang benar-benar Roma. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ibu-ibu yang tadi ia lihat juga mengekori mengantar Roma.


"Permisi, apakah benar pasien yang tadi masuk ruangan ICU bernama Roma?" Tanya Rafael sopan.


"Iya benar, apa anda mengenalnya anak muda?" sahut salah satu dari mereka. Rafael terdiam sejenak dirinya masih terlihat syok, ia benar-benar terkejut bahwa pasien tadi betulan ibunya Zoeya. Mengapa bisa Roma masuk ruangan ICU itu? Apa yang terjadi? pikir Rafael penuh pertanyaan.


Pria itu mulai tersadar dari lamunannya tadi dan ia melihat para ibu-ibu itu tengah menunggu jawabannya, "Saya mengenal putrinya, Zoeya juga berada di rumah sakit ini"


Semua ibu-ibu itu jadi heboh mendengar Zoeya berada di sini juga, "Kenapa Zoeya disini? Kami sudah lama menunggunya di rumah, bahkan sudah kami hubungi untuk segera pulang tapi ia tak kunjung datang"


"Zoeya ada sedikit masalah, mohon ibu-ibu yang cantik ini memakluminya karena saya yang membawanya kemari" Semua yang berada di sana ber-Oh ria dan suasana kembali tenang.


"Maaf sebelumnya, kalau boleh tahu Ibunya Zoeya kenapa ya sampai di bawa kemari?"


Wanita paruh baya yang berbadan gemuk itu menghembuskan nafas panjang, ia bersiap akan menjelaskannya pada Rafael.


"Bu Roma ditemukan tergeletak di teras rumahnya, biasanya Bu Roma memang menunggu putrinya pulang dengan duduk di teras rumah sambil menyapa tetangga yang lewat bahkan terkadang mengajak untuk mampir. Saya juga kurang tahu Bu Roma punya penyakit apa sampai drop begitu, daripada terjadi apa-apa jadi ibu-ibu komplek menyarankan untuk membawa Bu Roma ke rumah sakit saja" jelasnya panjang lebar.


Rafael mengangguk mengerti dan berterimakasih, ia memilih untuk ikut menunggu bersama ibu-ibu komplek tersebut. Zoeya juga sedang tidur jadi ia pikir aman saja kalau ia tinggal sebentar sembari menunggu dokter memeriksa Roma. Ia sekarang tengah duduk bersandar di bangku rumah sakit, wajahnya terlihat bingung bercampur khawatir.


Keadaan jadi tak terkendali, Rafael berpikir lebih baik Mami dan Papinya mengetahui soal Roma dan Zoeya. Apalagi Roma adalah sahabat Maminya, bukankah sekarang hanya keluarga Khurana lah yang dapat membantu mereka. Akhirnya pria itu membuat keputusan untuk menelfon Maminya dan memberitahu semuanya. Ia menduga pasti Maminya itu sangat terkejut atas musibah yang menimpa sahabatnya.


"Halo Ael? Kenapa nak? Mami masih di jalan ini mau pulang"


Rafael menelan salivanya, ia jadi tak tega memberitahukan kabar ini.


"A-anu Mam, sekarang Ael di rumah sakit"


"Astaga nak, kenapa? Ada apa? Kamu kecelakaan?" Tanya Tya dengan nada yang terlihat khawatir.


"Bukan Mam, Zoeya yang masuk rumah sakit Ael ngejaga dia. Tapi Aunty Roma juga disini, Aunty... berada di ruang ICU"


Mendengar kabar itu tubuh Tya menjadi lemas seketika, padahal esok hari ia berniat untuk menjenguk sahabatnya itu tapi malam ini malah mendengar kabar bahwa Roma berada di rumah sakit.


"Ya Tuhan nak, sekarang kamu di rumah sakit mana? Mami mau kesana sekarang"


Rafael memberitahu rumah sakit di mana dirinya itu berada dan panggilan mereka terputus. Pria itu mengusap wajahnya pelan, ia mondar-mandir tak sabar menunggu dokter keluar. Beberapa menit kemudian akhirnya dokter keluar dengan membawa kabar bahwa Roma menderita kanker paru-paru stadium akhir.


Yang berarti harapan untuk sembuh sangatlah kecil, tanpa terasa air mata menetes dari mata Rafael. Dirinya yang tak pernah menangis itu, untuk kali ini meneteskan air matanya. Segera Rafael mengusap air matanya dan menenangkan dirinya.


"Lakukan segala cara dok, meskipun peluangnya sangat kecil"


"Kami akan berusaha sebisa kami"


Dokter itu menepuk pelan pundak Rafael dan kemudian pergi. Rafael tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zoeya kalau mengetahui kondisi Ibunya. Apalagi Zoeya juga belum sepenuhnya sadar.


Di tengah semua rasa campur aduk itu Rafael mendengar suara yang sangat ia kenal memanggilnya. Ternyata Tya sudah tiba bersama Hansel Papinya. Ia bisa melihat betapa khawatirnya Tya saat wanita yang melahirkannya itu sudah berada di hadapannya.


"Bagaimana? Bagaimana keadaannya? Apa kata Dokter?" Tanya Tya sambil memegang tangan putranya erat. Rafael bisa merasakan dinginnya tangan Maminya itu, mungkin karena saking paniknya. Ia pun mengajak keduanya untuk duduk terlebih dahulu.


Rafael menghampiri mereka semua kembali, "Ibu-ibu sebaiknya kalian pulang saja, biar Bu Roma saya yang menjaga. Disini juga sudah ada keluarga saya yang ikut menjaganya"


awalnya mereka agak ragu namun berkat penuturan Rafael mereka semua jadi setuju, beberapa dari mereka ada yang langsung berpamitan pulang terkecuali wanita paruh baya berbadan gemuk itu.


"Ayo Bu Rt kita pulang" ajak salah satu ibu-ibu tersebut, namun wanita yang di panggil Bu Rt itu hanya mengangguk pelan.


"Kalian duluan saja ke mobil, saya mau bicara sebentar dengan pemuda ini" sahutnya dan melirik kearah Rafael. Mereka semua menuruti perintah Bu Rt dan pergi duluan keluar rumah sakit.


"Nak apa tidak apa-apa jika kami tinggal?" Tanya Bu Rt masih dengan raut wajah yang cemas, Rafael pun memberikan senyuman hangatnya agar wanita di hadapannya ini tidak terlalu khawatir.


"Iya, saya tidak apa-apa. Lagipula keluarga kami adalah teman dekat Bu Roma, saya sangat berterimakasih kepada semua ibu-ibu terutama Bu Rt yang sudah mengantarkan Bu Roma ke rumah sakit dengan sigap"


"Ini bukan apa-apa, sesama tetangga memang harus tolong menolong. Saya pamit undur diri ya, tolong jaga Bu Roma dan Zoeya"


Rafael mengangguk mengerti, Bu Rt menepuk pelan bahu Rafael kemudian pergi menyusul ibu-ibu komplek tadi.


Rafael pun kembali duduk di samping Maminya dengan wajah lesu,


"Ayo cepat El beritahu Mami, ada apa dengan Roma" ucap Tya tidak sabar dengan ekspresi cemasnya.


"Mam.. sebenarnya aunty Roma.. peluang untuk sembuh sangatlah kecil. Penyakit kanker paru-parunya sudah mencapai stadium akhir"


Tya tak bisa berkata apa-apa selain air mata yang tumpah dari matanya, Hansel yang mendengar kabar itu turut sedih. Ia mendekap erat tubuh istrinya itu untuk memberikan kekuatan.


"Lalu ada apa dengan Zoeya El? Apa yang terjadi" Tanya Hansel, Rafael mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Zoeya tercebur ke sungai, dia sempat hanyut. Untunglah teman-teman dan aku menemukannya" jawab Rafael dengan nada penuh penyesalan.


"Apa kau gila El? Bagaimana bisa kau biarkan Zoeya tenggelam lagi dalam sungai itu? Apa kamu tidak ingat bagaimana dia pernah tenggelam juga di sungai itu sewaktu kecil? Apa kamu tidak ingat bagaimana kondisinya saat itu!?" Murka Tya, ia mengguncangkan tubuh putranya itu yang lalai menjaga Zoeya. Ia pikir karena sekarang Zoeya sudah menjadi sekretarisnya jadi Rafael bisa turut menjaganya. Tapi ternyata pikirannya salah.


"Kenapa bisa dia tenggelam? tak mungkin kan kalau Zoeya sendiri yang masuk ke sungai. Cepat beritahu Mami" sambungnya lagi. Rafael terdiam tak bisa menjawab, dirinya memang belum yakin siapa yang mendorong Zoeya tapi situasi merujuk kalau pelakunya adalah pacarnya sendiri. Kalau Ia mengatakannya pasti dirinya tamat hari ini di tangan sang Papi.


"I-itu... Aku tak tahu" dan yang keluar dari mulut Rafael hanya kata-kata itu.


Hansel yang ikut geram pun tak percaya dengan jawaban putra bungsunya.


"Jujur! Kau pikir Papi gabisa lihat kebohonganmu, mau jawab jujur atau papi cari tahu sendiri" ancam Hansel. Kini Mami dan Papinya menatap Rafael tajam, mereka memang tak bisa langsung percaya begitu saja.


"Sungguh. Aku tak tahu, saat itu aku berada di dalam rumah dengan teman-temanku sedangkan Zoeya berada di luar" elak Rafael masih berusaha untuk menutupi.


"Baiklah nak, jika kamu pun tidak tahu. Papi akan interogasi teman-temanmu yang kau undang satu persatu, maka kita jadi bisa tahu siapa pelakunya" Hansel langsung menelefon penjaga gerbang untuk menutup pintu dan tak membiarkan teman-teman Rafael pulang.


Mereka semua dipersilahkan untuk menginap disana semalam dan paginya Hansel akan mencari tahu pelakunya. Ia juga meminta Tama untuk berjaga di rumah, untuk mengawasi jangan sampai ada tamu yang kabur.


"Papi bukankah ini berlebihan?" Celetuk Rafael, sedangkan Hansel tak menggubrisnya dan masih lanjut menelfon.


"Kita tunggu besok, sekarang kau pergilah jaga Zoeya. Mami akan disini untuk menunggu Roma" titah Tya pada putranya, Rafael mengangguk nurut dan pergi dari sana.


"Kalau benar Lusiana pelakunya, maka matilah aku" batin Rafael.


Ketika ia berjalan menuju kamar inap Zoeya, Rafael dikejutkan dengan suara Arga yang memanggilnya dari belakang.


"El.. Ael.." panggilnya sambil berlarian. Rafael pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


"Ael.. di rumah Zoeya tidak ada orang" sambungnya dengan nafas ngos-ngosan.


Rafael menghela nafas, "Aku tahu, sudahlah kau pulang saja. Terimakasih sudah ikut mengantar"


Arga memasang wajah bingung, kalau Rafael sudah tahu disana tidak ada orang kenapa menyuruhnya pergi ke sana.


"Apa maksudmu sudah tahu?" Tanya Arga.


Pria itu mengusap kepalanya seraya memejamkan matanya sejenak.


"Aku lelah menjelaskan, sebaiknya kau pulang saja" ujarnya menepuk pundak Arga dan Arga pun mengangguk mengerti. Ia bisa melihat sahabatnya itu seperti orang yang banyak pikiran.


"Yasudah aku pulang, kalau perlu bantuan kabari aku atau Lais" pamit Arga dan pergi dari sana.


"Cape banget lari-lari tapi malah di suruh pulang, setidaknya suruh duduk dulu kek" gerutu Arga sambil berjalan keluar menunggu ojek onlinenya sampai, akibat drama panggil ambulans yang membuat mobilnya tertinggal di rumah Rafael, sekarang ia terpaksa harus kesana lagi untuk mengambil mobilnya.