![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Semalaman Rafael tertidur di sofa yang berada di ruangan tersebut, ia benar-benar menjaga Zoeya. Tak ingin sesuatu hal terjadi pada gadis yang terbaring itu, saat kecil mungkin Rafael tak bisa berbuat apapun ketika Zoeya down. Sekarang ia ingin melakukan apa yang seharusnya seorang teman lakukan.
Pukul 3 dini hari Rafael mengucek matanya, ia terbangun karena merasa tak nyaman dengan posisi tidurnya. Tak lupa ia juga mengecek apakah Zoeya terbangun atau mungkin membutuhkan sesuatu. Rafael mendekati tubuh yang terbaring itu perlahan.
Nampak raut wajah Zoeya yang masih terlihat agak pucat diiringi kerutan di dahinya, matanya terpejam tapi ia berkeringat dingin seperti ia sedang gelisah. Rafael menyadari bahwa Zoeya tengah bermimpi buruk, ia pun menepuk pelan pipi Zoeya berniat membangunkannya.
"Zoey.. Zoey.." panggilnya lembut. Gadis itu mulai membuka matanya perlahan-lahan, dan mendapati wajah Rafael di sana.
"Mmn... I-ibu" ucapnya lirih, Rafael mengusap punggung tangan Zoeya agar lebih tenang.
"Aku Rafael bukan ibumu, kau memerlukan sesuatu?" Rafael mendekatkan telinganya supaya bisa mendengar apa yang akan gadis itu ucapkan. Zoeya menggeleng pelan dengan sisa tenaga yang ia punya, "ibu" satu kata yang berhasil membuat Rafael terdiam.
Ia langsung cepat-cepat merubah ekspresi nya, "Iya nanti kita kunjungi setelah kau sehat ya. Ayo tidurlah lagi, aku akan disini"
Gadis itu kembali memejamkan matanya karena usapan lembut tangan Rafael di kepalanya. Ia merasa lebih rileks dan nyaman.
"Maaf Zoeya sudah membuatmu jadi seperti ini, maaf untuk yang kedua kalinya" gumamnya pelan, rasa kantuk juga mulai menyerangnya kembali akhirnya Rafael ikut memejamkan matanya.
Cahaya pagi mulai masuk lewat celah-celah jendela. Rafael yang merasa terganggu dengan cahayanya mulai membuka matanya, ia melihat Zoeya masih tertidur pulas. Pria itu meregangkan otot-otot tubuhnya, rasanya pegal sekali karena ia tertidur dengan posisi duduk. Kemudian terdengar suara ketukan pintu, yang ternyata seorang dokter untuk mengganti cairan infus Zoeya sembari memeriksanya kembali. Rafael mempersilahkannya masuk.
"Dokter apa dia sudah baik-baik saja? dia juga sempat mengeluh kepalanya sakit. Apa ada masalah serius Dok?" Cerca Rafael dengan berbagai pertanyaan.
"Sabar ya Tuan saya periksa dulu" sahut Dokter itu dan mulai melakukan pemeriksaan.
"Istri anda hanya gegar otak ringan, tidak ada masalah serius Tuan. Kondisinya sudah jauh lebih baik, nanti akan saya kasih resep obat pereda nyeri" Jelas Dokter tersenyum ramah seraya mengganti cairan infus.
"Syukurlah" ucapnya pelan, Rafael mengatupkan kedua tangannya sebagai tanda rasa syukur. Tapi ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Dokter.
"Tunggu dulu, ada kata-kata yang aneh. Istri? Istri siapa? Istriku?" Batin Rafael melirik Zoeya yang masih belum bangun.
Dokter itu menepuk pundak Rafael pelan yang membuat Rafael tersadar dari lamunannya, ternyata sang Dokter sudah mengganti cairannya dan akan pergi.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, Istri anda sudah diperbolehkan pulang besok. Sebaiknya jangan biarkan dia melakukan aktivitas yang berat dan beristirahat yang cukup" pesan Dokter dan langsung keluar dari ruangan itu.
Pria itu mendekat kembali di samping Zoeya dengan dumelannya yang merasa keberatan di anggap sebagai suami Zoeya.
"Kau dengar? Darimananya kita terlihat seperti pasangan?" Rafael mengerutkan keningnya heran, ia berbicara sendiri.
Rafael menggenggam tangan Zoeya sambil berpikir apa reaksi gadis itu ketika mengetahui bahwa ibunya berada di sini juga namun bukan untuk menjenguknya melainkan untuk bertahan hidup.
Zoeya tiba-tiba membuka matanya, ia menatap tangannya yang di genggam Rafael dengan tatapan heran.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan suara lemah, Rafael yang baru menyadari Zoeya terbangun reflek melepaskan genggamannya. Zoeya masih menatap pria itu heran seraya melihat sekelilingnya, tembok yang bercat putih, kasur rumah sakit, bau obat-obatan, dan pakaian rumah sakit. Ia bisa mengerti bahwa dirinya berada di tempat orang sakit yang di rawat.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa disini?" Tanyanya melirik ke arah tangan yang sedang di infus dan terasa nyut-nyutan. Rafael menghembuskan nafas panjang bersiap untuk bercerita.
"Syukurlah kau sudah sadar. Kau ingat tidak? dirimu itu hanyut di sungai, untunglah aku dan teman-temanku menemukanmu. Jadi aku membawamu kemari"
Zoeya mulai mengingat kejadian itu, ia juga mengingat detik-detik sebelum dirinya tercebur dan bagaimana ekspresi Lusiana yang melepaskan tangannya begitu saja. Terlihat sekali tak ada niat sedikitpun untuk membantunya saat terpeleset. Entah ini memang rencana liciknya atau memang ketidaksengajaan.
Selain mengingat kejadian itu Zoeya juga mulai mengingat ibunya. Ia yang di suruh pulang karena Ibunya pingsan, ia mengingat itu.
"Rafael.. Ibuku!!"
Gadis itu memegang pergelangan tangan Rafael, "Sebelum aku tercebur, aku mendapat telfon dari tetanggaku bahwa ibuku pingsan dan aku disuruh pulang. Rafael aku harus pulang! Tolong bawa aku pulang" pinta Zoeya mulai ingin melepas infus dengan paksa.
Rafael menghentikan Zoeya dan menahannya agar tidak melepas infusannya.
"Zoey! Tenang dulu"
"Tidak! Tidak bisa, ibuku sedang sakit aku harus pulang" Zoeya masih bersikeras ingin melepas infusnya. Namun lagi-lagi tangannya di tahan Rafael, "Cukup! Ibumu sudah ada disini" sentak Rafael yang berhasil membuat gadis itu diam.
"Dimana? Dimana ibuku?"
"Ada di ruangannya" jawabnya lalu ia menundukkan pandangannya tak berani menatap Zoeya. Melihat raut wajah Rafael tentu saja Zoeya curiga, mengapa bisa ibunya ada disini dan di ruangannya. Apa maksud pria di hadapannya ini.
"Apa maksudnya? Apa yang terjadi pada ibuku?" Gadis itu mengguncangkan tubuh Rafael, sedangkan Rafael hanya diam membiarkannya.
"Jawab aku!! Antar aku ke sana kalau kau benar!"
Saat itu Rafael sangat terkejut ketika melihat infusan itu sudah terlepas dari tangan Zoeya. Darah segar keluar dari tangannya, namun hal itu tak membuat Zoeya mengurungkan niatnya. Ia tetap ingin bertemu dengan ibunya.
"Hey tunggu! dengarkan aku dulu! Gadis tidak waras" pekiknya sembari menyusul Zoeya.
Zoeya tak peduli lagi dengan perkataan pria itu, ia lebih ingin bertemu Ibunya.
Melihat cara berjalan gadis itu membuat Rafael jadi iba karena terlihat sekali Zoeya berjalan dengan susah payah ia berusaha untuk melangkahkan kakinya, tanpa di minta Rafael pun mengangkat tubuh itu yang membuat Zoeya cukup terkejut dengan apa yang di lakukan pria ini.
"Kenapa kau menggendongku?" Zoeya menatap Rafael dengan pandangan heran.
"Pegangan! Nanti jatuh" ia mengalihkan pembicaraan dan melanjutkan langkahnya.
Gadis itu memutar bola matanya, meski sedikit kesal dengan tingkah Rafael. Zoeya tetap menaruh tangannya di pundak pria itu sesekali juga ia curi pandang melihat wajah Rafael, baru kali ini ia merasakan di gendong seorang pria selain ayahnya. Ia jadi teringat cita-cita konyolnya saat kecil ingin di gendong ala bridal style dengan pangeran impiannya.
"Pria ini membuat cita-citaku berantakan" batin Zoeya dan melirik Rafael dengan tatapan kesal.
Mereka berdua pun sampai di ruangan ICU, "kenapa ke ruangan ini?" gumam Zoeya pelan namun masih bisa di dengar Rafael.
"Karena kondisi ibumu kritis makanya ibumu di rawat disini. Maaf kau tidak bisa melihat ibumu dulu untuk sementara" jelas Rafael dengan ekspresi yang terlihat sedih.
Pria itu menurunkan Zoeya perlahan namun tangannya masih ia genggam untuk memapahnya. Zoeya yang tak bisa masuk menjenguk ibunya hanya bisa meraba pintu tersebut. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya, hatinya sakit sekali. Ia sangat ingin melihat kondisi Roma.
"Maaf.. aku datang terlambat ibu" ucapnya lirih di depan pintu. Rafael mengusap punggung Zoeya seolah memberinya kekuatan. Ia mendekap tubuh Zoeya, agar gadis itu bisa menjadikannya sebagai tempat bersandar.
"Kita akan menyembuhkan Ibumu, percayalah. Kau jangan khawatir ada keluargaku yang siap membantu, sebaiknya kau pulihkan dirimu dulu Zoey" kata Rafael seraya mengelus rambut Zoeya.
"Ayo kita kembali ke kamarmu, kita akan jenguk ibumu lagi nanti" bujuk Rafael dan merangkul pundak Zoeya.
"Aku mau tetap disini" gadis itu menepis tangan Rafael.
"Zoeya dengarkan aku, ayo kita kembali dulu. Aku janji akan membawamu kemari lagi" bujuknya sekali lagi sambil berusaha merangkulnya kembali. Namun lagi-lagi Zoeya menepisnya dan masih ingin berada di sana.
"Tak ada gunanya kau berdiri di sini Zoey! Tubuhmu masih lemah, kau harus memulihkan tubuhmu. Apa ibumu ingin melihat putrinya sakit? Tidak kan? Makanya ayo kita kembali dulu" sentak Rafael yang mulai jengkel.
Zoeya yang di marahi begitu jadi menundukkan kepalanya, air matanya malah semakin deras. Rafael menggaruk kepalanya, bingung harus membuat gadis ini mengerti bagaimana lagi. Di lembutin salah, di kasarin apalagi.
"Yasudah terserah berdirilah disini selama yang kau mau, dasar keras kepala" ketusnya dan meninggalkan Zoeya sendirian di sana.
Gadis itu menatap punggung lebar Rafael yang menjauh pergi. Kemudian Zoeya terduduk di bangku yang berada di sana, Zoeya menyeka air matanya yang terus terusan tak ingin berhenti. Hampir 5 menitan ia terduduk di sana.
Tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah coklat padanya, Zoeya pun mendongak untuk melihat siapa itu. Ternyata orang itu adalah Rafael dengan senyuman tipisnya meskipun masih bisa terlihat kekesalan di wajah tampannya. Zoeya kembali melihat coklat tersebut dengan seksama, coklat yang familiar.
"Coklat yang suka kau curi dulu?" Celetuk Zoeya seraya mengambil coklat itu.
"Yah.. tidak salah juga sih aku sering mengambilnya diam-diam. Dulu juga sebelum kau pergi aku memberimu. Sudah kau makan?"
"Tentu saja sudah, Kau pikir aku akan terus menyimpannya"
Rafael mengangkat bahunya, kini ekspresi jahilnya tergambar jelas di wajah tampannya.
"Siapa tahu kau terus menyimpannya karena hanya itu pemberian berharga dari pria tampan sepertiku" sahut Rafael berbangga diri, sedangkan Zoeya menunjukan raut wajah malas.
"Kau jangan narsis begitu! Pemberianmu tak sebagus itu bagiku"
Sekarang Zoeya berusaha bangkit dari duduknya, setelah tadi ia berpikir yang di katakan Rafael ada benarnya. Dirinya itu tak ada gunanya hanya terdiam disini dan menangis. Lagi-lagi Rafael mengangkat tubuh Zoeya yang membuat gadis itu membelalakkan matanya.
"Apa kau sudah gila? Turunkan aku! Aku bisa sendiri" Rafael menoleh kesamping agar bisa lebih dekat dengan wajah Zoeya.
"Kau terlalu berisik untuk seseorang yang sedang sakit, bisakah kau diam sehari"
Zoeya menggerakkan badannya agar di turunkan, ia benar-benar tak mau di gendong. Dirinya malu karena orang-orang mulai menatap mereka dengan tatapan aneh, Sedangkan Rafael tak peduli ia malah terkekeh melihat kelakuan Zoeya yang ingin melepaskan diri.
"Nak apa yang kalian lakukan?" Ujar suara seseorang yang sangat Rafael kenal, ialah suara Maminya, Tya. Raut wajahnya kini berubah, semenit yang lalu ia bisa tertawa tapi sekarang berubah menjadi gelagapan. Seperti orang yang sedang dipergoki selingkuh.
Zoeya juga turut terkejut melihat kedatangan Tya, ia reflek menyembunyikan wajahnya pada dada Rafael agar wajahnya tidak terlihat. Namun sayangnya Tya sudah mengetahui bahwa gadis itu Zoeya.
"Kenapa kau malah menyembunyikan wajahmu? Mami pasti jadi tambah salah paham" batin Rafael, sekarang ia jadi bingung harus menurunkan Zoeya atau tidak. Bayangkan saja betapa awkwardnya mereka.
"He-he-he Mami.. disini" Rafael mulai menurunkan tubuh Zoeya perlahan. Dengan hati yang degedar degedur Zoeya hanya bisa menunduk melihat ke lantai tanpa ingin menatap Tya. Dan Rafael sendiri mengalihkan pandangannya dan menggosok-gosok tengkuknya canggung. Ingin rasanya Zoeya naik kepuncak gunung dan meneriaki pria itu di puncaknya.
"RAFAEL SIALAN!! INI SEMUA SALAHMU"