Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 36 [Perdebatan sehari-hari]



Jika biasanya para pasutri baru melakukan hal-hal yang romantis bersama karena baru saja menikah dan lagi bucin-bucinnya. Namun pasutri yang satu ini berbeda dari orang kebanyakan, tidak ada kata romantis dalam kesehariannya.


Kehidupan baru mereka malah diwarnai oleh perkelahian, perdebatan, dan per-peran lainnya. Sudah hampir seminggu lebih Zoeya tinggal di kediaman Khurana, dan semingguan itu juga ia masih berselisih dengan Rafael. Bahkan untuk hal kecil saja bisa membuat mereka beradu mulut, tak ada hari tenang dalam hidup mereka.


Karena keseharian mereka yang agak brutal tersebut Zoeya harus membuat jadwal untuk mengatur kapan dirinya dan Rafael bertengkar, bisa gila Zoeya kalau terus meladeni manusia seperti Rafael setiap harinya. Contohnya sore ini Rafael terus saja mengoceh tanpa henti disebabkan salah satu boxer kesayangannya hilang.


Gadis itu yang tidak tahu menahu soal boxer tersebut malah disalahkan suaminya, ia pun menyumpal mulut Rafael dengan tisu saking kesalnya. Reflek suaminya itu melepehnya.


"Hey! apa-apaan ini"


"Makanya! aku sebal sekali denganmu! barangmu yang hilang itu tak ada hubungannya denganku. Dan juga ini bukan waktunya kita bertengkar. Jangan mengajakku bertengkar sekarang, huss huss pergi sana aku sibuk" usir Zoeya menyuruh Rafael pergi dari kamar mereka.


"Siapa kau berani mengusirku? Inikan kamarku. Suka hati aku dong" sahut Rafael yang tak mau keluar, bahkan ia merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Kalau kau tetap mau disini jangan terus memancing emosiku, jadwal kita bertengkar itu nanti sebelum tidur" Rafael tergelak mendengarnya.


"Bahkan bertengkar pun kau bikin jadwal, sejauh ini kau memang wanita paling aneh yang kutemui"


Zoeya hanya memberikan tatapan sinis seraya mengambil jas, sepatu, dasi dan barang-barang Rafael lainnya yang tergeletak di sembarang tempat begitu saja. Suaminya ini sangat jorok dan pemalas, entah keburukan apa di masa lalunya sehingga Zoeya mendapat suami seperti Rafael. Pantas saja boxernya itu hilang, sudah bisa dilihatkan siapa yang patut disalahkan.


"Tentu saja aku harus membuat jadwal! tidak mungkin setiap kau pulang kerja aku harus mendengarkan ocehan mu yang tidak berguna itu"


Gadis itu melirik ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Ah sudah waktunya aku membantu Cadh Bibi di dapur, aku harus pergi bye" sebelum pergi Zoeya sempat melirik sekilas pria itu kemudian ia berbalik badan dan pergi dari sana. Rafael hanya menatapnya saja.


"Sehabis ku pecat dia malah sibuk menjadi babu" gumam Rafael sambil melepas bajunya, entah mengapa suhu ruangan di kamar menjadi gerah.


Rafael melepaskan t-shirt polosnya. Ia bertelanjang dada dan hanya menyisakan celana pendeknya. Rafael berjalan menuju jendela, melihat sekitarnya yang ternyata awan begitu gelapnya. Mungkin malam ini akan turun hujan pikir Rafael.


"Kau sedang melihat apa?" ucap suara seorang wanita. Rafael menolehkan kepalanya dan melihat siapa di belakangnya, bisa dilihat ia terkejut tapi juga ada tatapan kesal dalam netranya.


"Maaf aku mengejutkanmu, aku hanya tak sengaja lewat tadi dan melihat kau terdiam di depan jendela"


"Keluar!" usir Rafael seperti sebuah perintah.


Rafael tak suka saja melihat wanita ini berkeliaran sesuka hatinya bahkan sampai memasuki kamarnya tanpa izin. Hubungan mereka kan tak seharmonis dulu, untuk apa wanita ini mendekatinya.


"Aku bilang keluar! apa kau tuli?"


Lusiana semakin berjalan mendekat, usiran Rafael seakan angin lalu di telinganya. Wanita itu mulai merangkul lengan kekar Rafael dengan raut wajah yang begitu rindu. Sangat disayangkan rayuan abal-abal seperti itu tidak mempan, Rafael malah semakin jijik melihatnya.


Ia pun menjauhkan lengannya dari rangkulan Lusiana, ia juga mengusap-usap lengannya seperti tengah membersihkan sesuatu yang menjijikkan.


"Sudah dipastikan malam ini aku harus mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan aura jahat di lenganku" celetuk Rafael sang pesatir handal.


Lusiana menunjukkan ekspresi kesalnya, Rafael sangat sulit didekati sekarang. Ia jadi merasa tak punya harga diri setelah merayu pria di hadapannya ini. Zoeya yang kembali lagi ke kamar untuk mengambil ponselnya otomatis melihat dua orang tersebut. Dalam pikirannya haruskah dirinya itu kabur saja dan pura-pura tidak lihat?


Tapi mau kabur juga untuk apa? toh ini kan kamarnya, gadis itu mengurungkan niatnya untuk kabur dan memilih menghampiri mereka berdua.


"Wah wah Kakak ipar, sedang apa kemari? Oh iya kita jarang bertemu ya padahal kita serumah. Ayo sini-sini ngobrol denganku" Zoeya merangkul pundak Lusiana dan menuntunnya menjauh dari Rafael.


Sesekali ia melirik ke belakang di mana Rafael berdiri, Zoeya memberi isyarat dengan memelototinya agar Rafael memakai bajunya. Diantarkannya Lusiana menuju keluar dari kamar.


"Nah kita mengobrol di sini saja ya. Maaf kamar kami berantakan tidak enak dipandang hehe" gadis itu menyunggingkan senyuman manisnya. Meskipun wanita di hadapannya ini melihatnya dengan tatapan sinis.


Bagaimana tidak sinis? ini Zoeya secara tidak langsung mengusir Lusiana dari kamarnya.


"Kak Lusiana, aku belum mengucapkan selamat padamu ya, selamat atas pernikahan kalian. Aku harap kalian berdua bahagia selalu, maaf ya aku baru mengucapkannya sekarang" Dengan ekspresi masamnya Lusiana hanya membuang wajahnya dan tangan yang ia lipatkan di dada.


"Terimakasih. Tapi sepertinya pernikahanmu tidak bahagia ya, aku tahu kalian menikah karena dijodohkan. Sebaiknya kau membebaskan Rafael yang belum siap untuk berkomitmen itu, kau pun jadi bebas juga" Tutur Lusiana dengan wajah tanpa dosa.


Baru saja Zoeya akan mengeluarkan suaranya tapi dihentikan oleh suara berat di belakangnya yang lebih dulu menyahutinya. "Gampang sekali mulutmu itu memberi saran, tapi maaf penilaianmu tentang pernikahan kami itu salah!" Jawab Rafael yang tiba-tiba muncul di belakang Zoeya, kemudian tanpa ragu ia juga merangkul mesra pundak istrinya.


"Entah mengapa tiba-tiba saja aku sudah siap berkomitmen sekarang, apalagi saat ini aku sudah menikah mungkin aku akan belajar memulainya dari hubungan kami. Jadi kau tidak perlu ikut campur Kakak Ipar, kami bisa mengatasinya" sambungnya lagi dan Rafael menunjukkan senyuman Pepsodentnya seraya menaruh dagunya di atas kepala Zoeya.


Bisa mereka lihat wajah Lusiana yang memerah karena kesal, kemudian wanita itu pergi dari sana dengan langkah lebar. Zoeya yang melihat itu jadi agak ngeri, takut Lusiana terpeleset dan berakibat fatal pada bayinya.


"Haduh dia ceroboh sekali, padahal sedang hamil begitu" gumam Zoeya pelan yang masih bisa didengar oleh Rafael.


"Kau benar, harusnya dia lebih hati-hati saat berjalan" sahut Rafael yang masih menaruh kepalanya di atas kepala Zoeya, membuat gadis itu mendongak.


"Kenapa kau masih merangkulku? lepaskan aku!" Zoeya menjauh dari Rafael, ia jadi merasa canggung melihat pria di belakangnya ini setelah mengatakan kata-kata tadi.


"Rambutmu bau ketombe" celetuk Rafael yang mendapatkan tatapan sinis dari Zoeya.


Gadis itu menginjak kaki Rafael sekuat tenaga hingga suaminya itu meringis.


"Maaf ya keinjak. Kakimu besar sekali kupikir keset tadi hehe" Zoeya tersenyum lebar kemudian meninggalkan Rafael di sana.


"Sialan! Awas kau ya!"


...---...


Aroma makanan yang begitu harumnya mulai tercium dari arah dapur. Lusiana yang memang sudah merasa lapar, menunggu di meja makan. Kebetulan juga Tama yang baru pulang kerja itu tak sengaja melihat Lusiana terduduk sendirian di sana, langsung saja ia hampiri istrinya itu.


"Lulu? kok sendirian aja? dimana yang lain?" Tama celingukan mencari anggota keluarga lainnya.


"Anu.. mereka belum turun, aku hanya lelah saja dan duduk di sini."


"aku di sini saja. Malas bolak-balik" Tama mengangguk mengerti, "Yasudah kalau begitu, aku ganti baju dulu ya" Tama mencium singkat kening Lusiana sebelum ia pergi. Baru saja Tama melangkahkan kakinya beberapa langkah ia berpapasan dengan Zoeya yang akan berjalan ke arah dapur.


Mereka berdua nampak canggung satu sama lain dan berakhir Zoeya melewati Tama begitu saja. Aneh rasanya, Zoeya pernah memilihnya sebagai calon suaminya tapi sekarang malah menjadi Kakak Iparnya.


"Bibi bagaimana masakanku tadi apakah sudah matang?" Tanya Zoeya pada Cadh Bibi yang masih sibuk memotong beberapa sayuran.


"Iya, sudah matang"


"Baiklah aku bawa ke meja makan ya Bi" Cadh Bibi mengizinkannya, segera gadis itu membawa masakannya ke meja yang di sana sudah ada Lusiana.


"Halo Kakak Ipar, sudah menunggu lama ya. Aku ambilkan piring ya untukmu" sapa Zoeya hangat tak lupa dengan senyumannya. Lusiana hanya diam seperti manekin, ia memang sudah lapar sekali sejak tadi tapi dirinya itu gengsi. Zoeya kembali dengan sebuah piring ditangannya.


Beberapa saat munculah anggota keluarga lainnya, tapi yang lebih spesial di sini adalah Mami Tya datang bersama Roma. Zoeya sangat gembira saat melihat Tya mendorong kursi roda dengan Roma terduduk di sana.


"Lho Mami? Ibu? aaa sejak kapan ibu di sini?" Zoeya berjalan mendekati keduanya, ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Ibunya. Mereka berpelukan untuk melepas rasa rindu mereka, meskipun kemarin sudah dijenguk.


"Tak tahu kenapa, Ibu ingin sekali melihatmu nak"


Zoeya terkekeh geli, "Bilang saja Ibu masih rindu padaku kan?" mereka semua jadi tertawa bersama. Rafael yang berada di sana juga harus absen wajahnya dahulu. Ia ikut berjongkok di samping sang Istri.


"Ibu apa kabar? maaf Rafael jarang menjenguk Ibu. Rafael banyak kerjaan hehehe" ucapnya menyengir kuda.


Sontak Tya dan Zoeya menyoraki Rafael serempak. Hansel dan Tama juga sudah datang bersama, kali ini ruang makan jadi ramai sekali. Lantas hal itu membuat Rafael menerapkan sikap romantisnya pada Zoeya. Gadis itu membayangkan andaikata semua orang memang seharmonis ini, terutama Rafael yang kini menggenggam tangannya.


Andai ia melakukannya tulus karena keinginannya sendiri, bukan karena sandiwara. Pasti kehidupan akan terasa menyenangkan. Rafael melirik Zoeya kemudian mengangkat satu alisnya seperti mengatakan "Apa yang kau pikirkan?"


Zoeya meresponnya dengan menggeleng pelan diiringi senyuman manisnya. Rafael ikut tersenyum melihatnya, mereka semua mulai menyantap hidangan yang ada.


"Woahh ini enak sekali. Apa ini? Cadh Bibi tanganmu luar biasa" puji Rafael pada Cadh Bibi yang tengah melayani Lusiana.


Cadh Bibi hanya memberikan senyumannya kemudian ia mengeluarkan suaranya.


"Tuan muda, yang memasak lauk itu bukan saya, melainkan Nona Zoeya"


Rafael melirik Zoeya yang berada di sampingnya.


"Oho~ kau lumayan juga" bisik Rafael lalu menyenggol lengan Zoeya.


"Bukan lumayan! tapi luar biasa. Matamu saja yang tidak bisa melihat betapa hebatnya aku" sahut Zoeya bangga dengan dirinya sendiri. Makan malam mereka pun di lanjut dengan perkelahian antara Zoeya dan Rafael yang berbisik-bisik.


Angin semilir begitu sejuk ketika menyentuh kulit gadis itu, rupanya jendela kamar Zoeya yang belum tertutup mengundang angin untuk masuk, ia pun segera menutupnya agar ruangan kembali hangat. Di sana sudah ada Ibunya yang terduduk bersandar pada penopang ranjang.


"Sudah hangatkan Bu?" tanya Zoeya, Ibunya itu mengangguk pelan kemudian matanya beralih melihat menantu tampannya yang membawa cemilan dan juga jus ditangannya.


"Tada~ aku bawa cemilan sehat untuk ibu"


"Terimakasih nak, padahal tidak perlu repot-repot. Malam ini Ibu juga kembali ke ruang inap" terlihat Zoeya dan Rafael menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Ibu tidak bisakah menginap semalam di sini?" tanya Rafael diikuti dengan Zoeya yang mengangguk-angguk membenarkan perkataan Rafael.


"Entahlah mungkin saja bisa, tapi Ibu harus bicara dulu pada dokter" sahut Roma seraya mengelus pipi Rafael. Mereka berdua jadi tersenyum kembali.


"Lho kok ibu panas sekali, ibu demam?" Rafael memeriksa kening Roma dan benar saja Roma demam.


"Ibu demam!! Aku ambilkan obat dulu" ujar Rafael dan langsung bangkit berdiri kalang kabut.


"Ael.. tolong sama kompresan juga ya" tutur Zoeya dan diangguki oleh suaminya yang sudah berada di luar kamar. Tiba-tiba lampu padam, saat itu Zoeya kembali membuka jendela untuk melihat apakah di ruangan lain juga padam.


Rupanya seisi rumah mati lampu. Zoeya segera kembali mendekat ke arah Roma diiringi penerangan dari ponselnya.


"Ibu tenang ya, sebentar lagi juga nyala listriknya." Roma mengangguk pelan, putrinya itu membaringkan sang Ibunda perlahan-lahan.


"Tumben sepi sekali, kemana ya Tya?"


"Mami tadi keluar bersama Papi katanya mau kencan berdua hihi" jelas Zoeya tertawa kecil, hubungan ibu mertuanya itu sangatlah romantis. Terkadang Zoeya pun jadi merasa iri, padahal usia tak lagi muda tapi hal itu seperti bukan penghalang untuk cinta keduanya.


"Oh iya, Ibu baru ingat tadi Tya juga sempat memberitahu hal itu pada Ibu tapi Ibu lupa. Tya itu dari dulu sampai sekarang tidak ada berubahnya, Ibu sangat senang melihat dia begitu bahagia mendapatkan suami yang sangat mencintainya"


Zoeya mendengarkan dengan seksama cerita sang Ibu meskipun hanya bermodalkan cahaya dari ponsel, ia jadi lebih bisa merasakan betapa kuatnya hubungan persahabatan keduanya.


"Ibu juga bahagia kan pernah bersama dengan Ayah. Kalian berdua memiliki kebahagiaan yang sama, yaitu menikahi pria yang tepat" celetuk Zoeya.


Namun raut wajah Roma terlihat begitu sedih.


"Ada sahabat kami satu lagi yang tidak beruntung." ujar Roma dengan suara pelan.


"Siapa itu Bu? kok aku tidak tahu ya Ibu punya sahabat selain Mami Tya" Zoeya semakin penasaran.


Mereka berdua yang berada di dalam kamar tidak sadar di dapur terjadi kebakaran. Dan apinya sudah menjalar sampai ke atas yang berarti bertepatan dengan ruang kamar Zoeya. Kondisi gelap gulita tentunya tidak ada yang mengetahuinya. Para pelayan juga sudah berada di paviliun jika sudah malam.


"Rafael kok lama sekali ya nak? dia turun ke bawah kan tadi? dia mengambil obat atau membeli obat?" tanya Roma berusaha mengalihkan pembicaraan. Zoeya yang juga heran jadi ikut mengalihkan rasa penasarannya. Sekarang ia lebih penasaran di mana suaminya itu.


"Iya ya, coba deh aku cek dulu ya Bu ke bawah" Roma mengangguk kecil, dan putrinya itu beranjak pergi dari kamar. Baru saja Zoeya dua langkah keluar dari kamar tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari lantai bawah. Reflek Zoeya berjongkok dan menutup telinganya.


Gadis itu menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia, di tengah kegelapan itu cahaya dari api yang menyala begitu besar berada dalam kamarnya.


"Ibuuu!!!"