Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 27 [Hari mengucap janji suci]



Dalam hati Zoeya selalu terbesit rasa bersalah, berulang kali ia mengucapkan kata maaf dalam hatinya. Ia masih belum berani mengucapkan maaf jika secara langsung. Hari begitu cepat berlalu, soal keputusannya yang memilih Rafael sudah diketahui oleh keluarga Rafael juga.


Ia tahu sekali mengapa sikap Rafael berubah total setelah menemui Ibunya dan sampai sekarang pria itu menghindarinya bahkan menganggapnya seperti angin lalu. Zoeya merasa lebih baik Rafael marah padanya daripada mendiamkannya begini. Rasanya lebih menyakitkan.


Saat ini Tya mengajaknya bersama Rafael untuk fitting baju pengantin. Karena pernikahannya beberapa hari lagi akan di langsungkan di sebuah gereja tanpa acara besar-besaran. Hal itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga untuk pemberkatan pernikahan. Kalau pun nanti resepsi di adakan, mungkin mereka tak akan mengundang banyak orang. Tapi entahlah yang terpenting keluarga ingin pemberkatan saja dahulu, perihal resepsi itu bisa diatur nanti.


Zoeya keluar dari ruangan ganti dan sebuah gaun pengantin yang begitu cantik melekat di tubuhnya. Dengan desain A-line dan off shoulder. Andaikan memang ini pernikahan yang ia lakukan dengan orang yang di cintainya, pasti ia akan memilih gaun ini.


"Zoeya sayang, kalau kau suka ambil saja ya nak" celetuk Tya yang sedari tadi melihat raut wajah Zoeya nampak berbinar-binar saat mengamati gaun yang ia kenakan.


Rafael juga ikut keluar setelah beberapa detik dari gadis itu keluar. Stelan jas pengantin berwarna putih begitu gagah di pakainya, Rafael melirik sekilas kearah Zoeya lalu membuang wajahnya malas.


"Emm Aunty Tya, Aku tidak—"


"Ambil yang ini" sela Rafael yang malas mencoba baju lagi. Ia ingin segera menyelesaikannya.


Zoeya menatap Rafael, ia memperhatikan ekspresi wajah pria itu yang terlihat jengah. Kemudian ia melirik Tya kembali, Tya menganggukan kepalanya yang berarti ia juga mendukung keputusan Rafael. Zoeya hanya bisa pasrah, meskipun sikap Rafael begitu. Tapi kebetulan sekali gaunnya adalah yang di sukainya jadi ia juga sedikit merasa senang.


Setelah selesai memilih mereka kembali pulang, Rafael mungkin pergi ke kantor. Zoeya juga akan menyusulnya tapi sebelum itu ia ingin ke rumah sakit dahulu untuk menemani Roma sebentar. Untungnya lusa kemarin Ibunya sudah bisa dipindahkan ke kamar rawat inapnya kembali.


"Ael kau akan ke kantor kan nak?" Tanya Tya, Rafael mengiyakan saja.


"Kalau begitu sekalian saja dengan Zoeya, dia mau mampir sebentar ke rumah sakit. Kamu tunggulah sebentar ya" dari raut wajah Rafael nampak ia keberatan dengan perintah Tya. Tya juga heran kenapa anaknya itu terlihat enggan saat bersama Zoeya.


Tya menatap Zoeya yang duduk di sampingnya itu, "Apa kalian sedang bertengkar?" bisik Tya di telinga Zoeya. Gadis itu diam beberapa detik dan baru mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Bertengkar karena apa? Kalian mau menikah lho, tidak baik saling tak bertegur sapa cepatlah berbaikan" ujarnya masih berbisik-bisik.


"Baik Aunty" Jawab Zoeya pasrah.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Tya turun terlebih dahulu dan di susul oleh Zoeya. "Kau mau menunggu sebentar kan El? Atau kau mau ikut masuk juga?" Ucap Tya pada putranya yang masih terduduk di kursi pengemudi.


"Aku disini saja" sahut Rafael.


"Yasudah kalau begitu"


Rafael terpaksa menunggu Zoeya karena permintaan Maminya meskipun hatinya masih belum memaafkan gadis itu. Rafael menunggu lumayan lama mungkin 20 menitan ia berada di mobil hanya untuk menunggu sekretarisnya itu sambil memainkan ponselnya.


Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Zoeya muncul dengan membawa Tote bag di tangannya. Rafael melihatnya dari dalam mobil, setelah sekian lama ia tak menatap wajah gadis itu. Zoeya membuka pintu dan duduk di samping Rafael, ia bersikap biasa saja dan seperti tak terjadi apa-apa di antara mereka.


Kemudian Rafael melajukan mobilnya menuju perusahaan. Dalam perjalanan juga mereka saling diam tak membicarakan apa yang terjadi beberapa hari lalu. Zoeya memang merasa sangat bersalah tapi ia juga tidak punya pilihan lain. Keadaan menyudutkannya.


Mau minta maaf pun ia harus mengumpulkan keberanian dalam dirinya, selama berhari-hari ini ia mencoba untuk memantapkan dirinya berbicara empat mata dengan Rafael. Namun Rafael malah menghindarinya yang membuat keberaniannya luntur seketika.


Tak terkecuali di dalam mobil itu Zoeya masih memikirkan bagaimana cara memulai obrolan dan meminta maaf. Karena Zoeya terlalu lama berpikir membuatnya tak sadar bahwa mereka sudah sampai di parkiran. Rafael memarkirkan mobilnya dan menunggu gadis itu keluar.


Gadis itu menarik nafas perlahan dan membuangnya, akhirnya ia memilih untuk meluruskan semua ini daripada ia pendam sendiri.


"Rafael.. aku ingin berbicara denganmu"


Rafael tetap diam, tatapannya menatap ke depan tanpa menoleh sedikitpun. Zoeya tak masalah dengan itu, yang terpenting Rafael mendengarkannya.


"Sebelumnya aku minta maaf padamu, karena sudah mengingkari janjiku. Aku punya alasanku sendiri sebab saat it—"


Rafael langsung keluar dari mobilnya tanpa mau mendengarkan penjelasan Zoeya, padahal gadis itu berniat untuk menceritakan semuanya termasuk soal Tama.


"Rafael! Tunggu dulu!" Panggil Zoeya seraya membuka pintu mobil dan menyusul langkah Rafael.


"Aku belum selesai bicara, Rafael!" Panggilnya lagi dan meraih tangan Rafael. Pria itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Zoeya dingin.


"Lepas" ucapnya penuh penekanan. Zoeya melepaskan tangan Rafael, lalu ia mendongak menatap pria dihadapannya itu.


Kali ini Rafael ikut menatapnya tapi dengan pandangan yang berbeda, Rafael benar-benar tak bisa menyembunyikan sorot mata yang masih dipenuhi emosi dalam dirinya. Zoeya bisa merasakan itu.


"Apa yang mau kau jelaskan lagi, semua sudah jelas. Sesuai keinginanmu kan?" cibir Rafael menyunggingkan senyum smirknya.


"Akan ku turuti saja permainanmu, lakukan. Aku tak butuh penjelasanmu" setelah mengatakan hal itu Rafael melangkahkan kembali kakinya dan meninggalkan Zoeya disana. Zoeya merasa tak mudah untuk membuat pria itu mengerti, pria keras kepala yang hanya mementingkan egonya sendiri. Rafael benar-benar tak mau mendengarkan penjelasannya.


Zoeya berusaha bersabar dan mencoba kembali untuk berbicara lagi dengan Rafael. Gadis itu menyusul Rafael sambil berlari-lari kecil karena ia sudah tertinggal jauh.


...***...


Hari ini adalah hari dimana mereka berdua akan menikah dan melakukan pemberkatan. Gaun yang dipilih saat fitting kemarin benar-benar membuat Zoeya cantik hari ini, riasan make-up flawless disertai gaun pengantinnya yang mengembang cantik semakin terlihat sempurna di seluruh tubuh Zoeya.


Gadis itu mulai memasuki gereja dan melangkahkan kakinya, semua mata tertuju kepadanya. Berdecak kagum dengan kecantikannya kecuali pria yang berdiri di sana, Rafael Khurana, calon suaminya. Sorot matanya tetap seperti biasanya dingin dan datar,tak ada aura kebahagiaan.


Saat langkahnya mulai dekat dengan Rafael, mata Zoeya melirik ke arah kiri yang ternyata Ibunya juga berada di sana dengan kursi rodanya dan juga di sampingnya adalah Tya, Hansel, dan Tama. Ia sangat senang sekali akhirnya Ibunya bisa bertahan dan melihatnya memenuhi keinginan terakhir sang Ibunda.


Sekarang Zoeya sudah di samping Rafael, mereka di minta untuk bergandengan tangan. Dan mereka melakukannya. Pastor mulai membaca doa-doa suci dan pujian kepada Tuhan, kemudian di lanjut dengan beberapa pertanyaan sebelum sumpah pernikahan, mereka berdua menjawabnya dengan lancar meskipun Zoeya sendiri merasa gugup. Dan akhirnya pastor akan mengatakan ikrar yang akan ditujukan kepada kedua mempelai.


“Rafael Khurana, apakah kamu bersedia mengambil Zoeya Larassati untuk menjadi istrimu? Apakah anda berjanji untuk setia padanya di saat-saat baik dan buruk, dalam sakit dan sehat, untuk mencintainya, dan menghormatinya sepanjang hidup anda?


Rafael sempat terdiam sejenak hal itu benar-benar membuat jantung Zoeya seperti berhenti berdetak karena menunggu jawaban Rafael.


"Aku bersedia"


Zoeya bisa melihat betapa gemetarnya bibir Rafael saat mengatakan itu. Air mata Zoeya turun seketika, semua rasa yang ada dihatinya terkumpul disaat itu. Rasa bersalah, rasa sedihnya, dan juga senang karena ia bisa melakukan permintaan Ibunya dan membuat Ibunya tak mengkhawatirkan dirinya lagi.


Sekarang giliran Zoeya yang diajukan pertanyaan oleh pastor, sama seperti pertanyaan yang di ajukan pada Rafael.


"Zoeya Larassati, apakah kamu bersedia menerima Rafael untuk menjadi suamimu? Apakah anda berjanji untuk setia padanya di saat-saat baik dan buruk, dalam sakit dan sehat, untuk mencintainya, dan menghormatinya sepanjang hidup anda?"


Dan Zoeya menutup matanya sebelum menjawabnya, ia membiarkan air matanya turun sebelum dirinya benar-benar menjadi istri seseorang. Zoeya pun membuka matanya.


"Saya bersedia" jawabnya.


Mereka berdua bertukar cincin diiringi dengan tepukan tangan para hadirin yang datang. Mereka berdua juga dipersilahkan untuk mencium satu sama lain. Zoeya hanya diam saja, kalau Rafael tak ingin pun Zoeya juga tak akan melakukannya.


Zoeya pikir Rafael tak akan pernah melakukan hal itu tapi pikirannya salah, karena saat ini bibirnya sudah menempel dengan bibir Rafael. Lebih tepatnya seperti kecupan singkat saja. Meski begitu siapa juga yang tak terkejut jika pria ini melakukannya tiba-tiba.


Pastor mengesahkan bahwa mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Semua keluarga mulai mendekat untuk memberikan keduanya ucapan selamat. Tya memeluk Zoeya di sertai tangisan bahagianya.


"Selamat ya nak, semoga kalian berdua bahagia selalu"


Zoeya juga turut menangis sambil memeluk Tya erat ia juga mengaminkan doa dari Tya yang sekarang sudah menjadi Ibu mertuanya.


Dan sekarang Ibunya, Zoeya berjongkok agar bisa sejajar dengan Roma. Ia memeluk Roma begitu erat, hal utama yang menjadikannya menerima pernikahan ini adalah demi Ibunya.


"Selamat menempuh hidup baru putriku, Ibu tahu kamu masih belum mencintai Rafael begitupun sebaliknya. Tapi ingatlah ini nak, siapapun yang menjadi suamimu maka dia adalah pria terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan" ujar Roma menepuk pelan punggung gadis itu.


Zoeya mengangguk-angguk mengerti akan nasihat dari Ibundanya. Dan sekarang gantian Rafael yang berjongkok ia memegang kedua tangan Roma lembut. Ia masih memberikan senyumannya meskipun dirinya memang tak ingin pernikahan ini terjadi.


"Nak.. sekarang aku bisa tenang kalau Tuhan mencabut nyawaku sekarang karena putriku sudah bersamamu. Hati ibu ini yakin sekali kalau kau akan selalu menjaga dan melindunginya"


"Ibu... Jangan berkata seperti itu, aku yakin ibu bisa bertahan lebih daripada ini" Rafael mengusap air mata Roma, ia bisa merasakan betapa kuatnya wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Berjanjilah padaku, kau akan selalu disisinya, menjaganya, dan mencintainya"


Rafael melirik Zoeya sekilas, "Aku berjanji" ucapnya sebelum dirinya melepas genggaman tangan Roma. Setelah mendengar menantunya itu berjanji Roma merasa tidak ada yang ia khawatirkan lagi di dunia ini.