![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Hansel mempersiapkan pesta di salah satu hotel miliknya, hampir semua sudah beres dan tinggal melaksanakan acaranya saja. Sedangkan Rafael ia mempersiapkan pesta di halaman rumahnya yang luas itu, ia ingin mengundang teman-temannya.
Rafael dan Zoeya akan menghadiri dulu acara yang di selenggarakan Papinya, lalu mereka pulang dan menyambut tamu yang berada di rumah. Ia melakukan hal ini karena ingin Kakaknya saja yang menjadi pusat perhatian dalam acara yang digelar sang Papi, ia tak ingin ikut andil. Dirinya sudah terbiasa toh memang inilah perannya.
Saat ini Rafael tengah mandi, sebelumnya ia sudah menelfon Zoeya dan mengatakan alamat rumahnya agar segera datang untuk berangkat bersama. Sekalian agar sekretarisnya itu membantunya bersiap-siap.
Zoeya pun menerima perintah itu dan sudah dalam perjalanan menuju rumah Rafael, ia memperhatikan jalanan di sore hari dengan hiruk pikuk kota tersebut. Jalanan yang masih sama seperti saat kecil dirinya berkunjung. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat kediaman keluarga Khurana yang begitu megah. Agak sedikit berbeda kelihatannya, karena dulu saat kecil tak semegah ini. Mungkin sudah di renovasi kembali pikirnya.
Ia pun meminta supir taxi untuk berhenti dan membayarnya. Saat gadis itu berdiri di depan gerbang, ia merasa seakan berdiri di depan gerbang istana. Zoeya pun tak ingin berlama-lama mengagumi keindahan rumah ini. Langsung saja ia mengabari Rafael kalau ia sudah sampai dan akan segera masuk. Di depan pintu gerbang Zoeya di sambut oleh penjaga di sana. Setelah Zoeya memperkenalkan diri, penjaga tersebut mengantarkan Zoeya sampai ke pintu utama dengan ramah.
Saat ia menekan tombol bel rumah tersebut nampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu tersebut. Zoeya mengenal sekali sosok di hadapannya ini, ia memberikan senyumannya. Tya membalas dengan senyuman juga meskipun wajahnya nampak banyaknya pertanyaan.
"Maaf nyonya ini sekretaris Tuan Rafael, katanya di perintahkan untuk datang kemari" ucap penjaga yang mengantarkan Zoeya, Tya mengerti dan segera mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Zoeya menyapukan pandangannya, isi rumah ini begitu mewah sangat berkelas. Tak henti-hentinya ia mengaguminya.
Tya langsung saja mempersilahkan Zoeya untuk duduk terlebih dahulu dan ia pun menurutinya.
"Silahkan duduk Nona, saya Ibunya Rafael. Kalau boleh tahu siapa nama sekretaris putraku ini?" Tanya Tya diiringi senyuman ramahnya.
"Nama saya Zoeya, Zoeya Larassati"
Tya terkejut mendengar nama itu, reflek ia langsung memeluk Zoeya erat diiringi tangisan haru.
"Ya Tuhan.. anakku.. aku bertemu lagi denganmu" ujarnya di sela-sela tangisnya, ia menciumi rambut Zoeya dengan penuh rasa rindu. Zoeya pun ikut menangis terharu, ia jadi ingin cepat-cepat mempertemukan Ibunya dan Tya. Tya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Zoeya lamat-lamat.
"Kau tumbuh cantik begini bagaimana bisa aku mengenalimu tadi"
Zoeya tertawa kecil, ia pun menyeka air mata Tya dengan lembut.
"Aunty juga awet muda begini, kupikir Aunty Kakaknya Rafael" keduanya jadi tertawa bersama.
"Ah kau ini bisa saja, kenapa anak itu tidak bilang padaku kalau sekretaris barunya ini dirimu. Unclemu juga terlalu sibuk sampai tak memberitahuku"
"Mungkin Uncle Han lupa Aunty, pekerjaannya padat sekali wajar saja. Mohon Aunty maklumi"
Tya memeluk Zoeya kembali, ia menyalurkan semua rasa rindunya.
"Bagaimana kabar Ibu dan Ayahmu, sudah bertahun-tahun aku kehilangan kontak dengan kalian"
Gadis itu menatap Tya dengan senyumannya. Ia tak tahu harus menjawab apa, kini Ibunya sedang sakit.
"Ibu sedang sakit, tapi akan baik-baik saja. Aunty tak perlu khawatir"
Tya menunjukkan ekspresi sedih di wajahnya, padahal baru saja dirinya itu gembira karena bertemu Zoeya. Sekarang ia mendengar bahwa sahabatnya itu tengah sakit, Tya jadi sedih kembali.
"Apa boleh nanti Aunty mampir ke rumahmu dan menjenguknya?" Zoeya mengangguk setuju, ia senang akhirnya ibunya kembali bertemu dengan Tya. "Tentu saja boleh, Aunty beritahu saja kalau ingin ke rumah"
"Baiklah nanti kita akan lanjutkan cerita banyak hal, sekarang kau temuilah Rafael. Dia yang menyuruhmu kemari kan?"
Gadis itu menepuk jidatnya pelan, dirinya itu hampir saja lupa tujuannya kemari karena terlalu larut kangen-kangenan bersama Tya.
"Ah iya Aunty, untung saja Aunty ingatkan. Aku temui dia dulu ya"
Zoeya pun langsung bangkit dari duduknya dan buru-buru akan pergi tapi baru saja dua langkah Zoeya berhenti dan kembali menoleh ke arah Tya.
"Aunty.. Rafael ada dimana?" Tanya Zoeya cengengesan karena merasa bodoh, ia buru-buru mau menemui Rafael tapi tak tahu orangnya ada dimana.
"Ada di kamarnya, masuk saja. Kau masih ingatkan kamarnya"
Zoeya berpikir sejenak, ia berusaha mengingat kembali ruangan rumah ini kan pernah ia kunjungi apalagi kamar Rafael. Seingatnya letaknya berada di ujung.
Ia memang ingat ruangannya ada di ujung tapi ia tak ingat yang kanan atau yang kiri. Gadis itu menggaruk kepalanya bingung,
"Coba cek yang kanan, tapi kalau bukan kamarnya bagaimana? Kan tidak sopan melihat ruangan orang lain sembarangan. Apa aku kembali saja tanya pada Aunty" Zoeya pun memutuskan untuk kembali saja dan bertanya lagi pada Tya tapi saat ia tiba di tempat mereka mengobrol tadi Tya sudah tidak ada disana.
Mau tidak mau gadis itu harus memilih kamar yang kanan atau yang kiri. Setelah ia memantapkan hati dan yakin pada dirinya, akhirnya ia memilih kamar kanan. Toh kalau salah dirinya tinggal tutup kembali pintunya. Ia pun mulai mengetuk dan membuka pintu perlahan dan ia bisa melihat kamar yang begitu rapih dan tampak luas.
"Siapa ya?" terdengar suara seorang pria dan pria itu pun keluar dengan handuk di pinggangnya. Zoeya yang melihat itu langsung membalikkan badannya dan menutup mata. Pria itu juga nampak terkejut dengan kehadiran Zoeya dan langsung bergegas mengambil jubah mandinya.
"Sudah, kau boleh lihat. Jawab pertanyaanku siapa kau"
Zoeya pun membalikkan badannya dan menatap pria itu, rupanya ia telah salah kamar. Karena pria penghuni kamar ini bukanlah Rafael. Langsung saja ia membungkuk hormat untuk meminta maaf.
"Maaf Tuan, s-saya salah kamar" ucap Zoeya menunduk.
Tama mengerutkan keningnya ia melihat wajah Zoeya dengan seksama karena ia merasa familiar.
"Apa kita pernah bertemu?"
Gadis itu pun mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap pria yang kini sudah berdiri dihadapannya. Ia juga merasa familiar.
"Anda? Pria gelang perak" ucapnya yang mengingat pertemuan mereka saat berteduh di sebuah ruko. Tama pun mengingat juga, "Anda gadis pulang kerja?"
Mereka jadi tertawa bersama karena keduanya sama-sama tidak tahu nama dan hanya bisa mengingat situasi saat itu.
"Tadi anda bilang salah kamar?"
"Iya, saya mencari kamarnya Rafael. Tapi saya malah masuk ke kamar anda, jadi..." Gadis itu memutus ucapannya, ia baru sadar kalau ini bukan kamar Rafael berarti ini adalah kamar Kakaknya.
"Anda kakaknya?"
Tama membenarkan ucapan gadis tersebut, baru saja ia akan menanyakan sesuatu tapi dari luar sudah terdengar suara bising Rafael yang terdengar sedang menggerutu dan marah-marah.
"Dasar payah, dimana sih gadis itu katanya tadi sudah sampai tapi sampai sekarang tak kelihatan juga batang hidungnya" omelnya sendiri sambil membetulkan jubah mandinya, rupanya ia juga habis selesai mandi.
Zoeya pun menatap Tama dengan canggung, ia pun berpamitan untuk keluar dari sana dan menemui Rafael. Tama mengizinkan dan ia mengikuti Zoeya di belakang. Saat mereka keluar dari kamar, Rafael terkejut melihat keduanya. Apalagi sang Kakak hanya memakai jubah mandi juga, sama sepertinya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kau keluar dari kamar Kakakku?" sentak Rafael dengan nada bingung bercampur kesal.
"Kenapa kau kesal begitu Adik? ekspresimu itu seolah habis melihat wanitamu selingkuh. Kau cemburu?"
"T-tidak! aku hanya bingung bagaimana bisa sekretarisku keluar dari kamarmu" elak Rafael sambil berkacak pinggang. Sedangkan Tama melipat kedua tangannya di dada.
"Dia tersesat, memangnya kau pikir apa? aku menyuruhnya ke kamarku begitu?"
Adiknya itu mengangkat bahunya, "Tidak ada yang tahu, kan bisa saja begitu"
Sekarang Tama memasang ekspresi tajam begitu pula dengan Rafael yang tak mau kalah, ia menatap Kakaknya itu dengan tatapan sinis.
Sekarang Zoeya jadi merasa seperti habis keluar dari kandang singa masuk ke kandang buaya. Kakak beradik ini malah bertengkar karena masalah sepele dan mereka tak ada malunya mengumbar dada bidang mereka di depan gadis polos sepertinya. Ia pun langsung menengahi keduanya dengan mendorong tubuh mereka agar menjauh. Kebetulan tanpa sengaja Zoeya jadi memegang dada Kakak beradik itu dengan kedua tangannya.
"Sudah sudah! kalian ini malah jadi ribut" ujar Zoeya menengahi dengan menundukkan kepalanya, karena tak mau menodai matanya yang masih suci. Padahal tangannya sudah ternodai.
"Dasar payah, cepat masuk" omel Rafael yang masih kesal.
Zoeya memanyunkan bibirnya seraya melirik Tama seolah tengah memberitahu "Adikmu sangatlah menyebalkan"