Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 39 [Hukuman untuk sang pelaku]



Pria paruh baya dengan gayanya yang khas itu berjalan menuju kamar putra sulungnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah gelang perak sedangkan tangan kanannya ia masukkan kedalam saku celananya. Di samping kanannya terdapat pula sang istri yang tak kalah sangarnya, Tya ikut menemani Hansel menghampiri sang putra untuk membongkar sebuah kebenaran.


Tanpa mengetuk pintu Hansel langsung masuk ke dalam kamar tersebut dengan raut wajah dinginnya. Terlihat sekali penghuni kamar begitu terkejut dengan kedatangan Hansel dan Tya yang tiba-tiba bahkan bisa dibilang kurang sopan itu.


"Pa-papi" ucap Tama yang sedang berada di depan laptopnya sedangkan Lusiana yang berada di ranjang buru-buru memakai outer piyamanya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi pi?" tanya Tama heran sambil bangkit dari duduknya, ia berjalan menghampiri Hansel dan Tya.


Papinya itu menyodorkan sebuah gelang perak yang sudah rusak, tentu saja hal itu membuat Tama semakin bingung. "Apa ini papi?" tanyanya mengerutkan keningnya.


"Ini milikmu kan?" Hansel balik bertanya dengan wajah yang serius.


Tama menggelengkan kepalanya, ia menunjukan pergelangan tangannya yang memang terdapat gelang perak sama persis seperti gelang yang rusak itu.


"Punyaku ada di sini" jawabnya. Raut wajah Hansel berubah, yang tadinya ia serius dan dingin sekarang menjadi lebih serius lagi.


"Jika ini bukan punyamu maka gelang ini milik siapa?" sontak mereka semua melirik ke arah Lusiana. Wanita itu menunjukkan ekspresi bingungnya, kenapa mereka semua menatapnya seperti itu.


"Tunggu dulu papi, sebenarnya ada apa ini?" Tama kembali bertanya karena masih tak mengerti dengan situasi ini.


Hansel akhirnya menjelaskan semuanya, Tama menyimak penjelasan dari sang papi dengan serius. Ia bahkan tidak pernah menduga jika kejadian naas kemarin merupakan sesuatu yang disengaja.


Antara percaya tak percaya, Tama mengambil gelang rusak itu dari tangan sang papi karena ia ingin memeriksanya sendiri. Gelang perak ini adalah gelang couple dirinya dan Lusiana. Bahkan gelang itu ia pesan sendiri pada perancang perhiasan terbaik saat di kota C.


Ia ingat betul saat itu dirinya menginginkan gelangnya diberi inisial nama mereka di sebelah kirinya. Miliknya sendiri berinisial T dan milik Lusiana L, Tama melihat gelang perak itu memang terdapat inisial L.


"Lulu? kau?" raut wajah Tama menunjukkan ekspresi bingung dan tak percaya. Bagaimana bisa istrinya melakukan hal keji seperti itu, Lusiana menggeleng cepat seakan ia membantah tuduhan yang mengarah padanya.


"Aku tak melakukan apapun Tama, sungguh. Aku bahkan terkejut jika ini semua–"


"CUKUP!" Sentak Hansel marah. Membuat Lusiana kaget dan langsung membungkam mulutnya.


"Kami sudah sangat sabar dan menerima pernikahan kalian dengan lapang dada. Tapi lihatlah sekarang, memang hubungan darah dari keluarga Edward sungguh tidak bisa dipercaya di keluarga kami"


"Aku berkata jujur, aku benar-benar tidak tahu semua ini. Ayah mertua tolong percayalah padaku" ujar Lusiana yang sudah berlutut dihadapan Hansel.


"Tidak!! sudah cukup kami mempercayaimu! jika kamu sudah berani menyakiti orang lain maka dikemudian hari kau pasti akan mengulangi hal yang sama"


Tya menarik nafas panjang, ia pun memegang pundak suaminya lembut untuk menenangkannya. Kemudian Tya maju dan kini yang berada dihadapan Lusiana adalah Tya. Tatapan mata yang tajam dan menelisik itu semakin membuat Lusiana terintimidasi.


"Bukti sudah ada di depan mata. Jika kamu terus mengelak mungkin sebaiknya kami panggilkan pihak yang berwajib" tutur Tya penuh penekanan. Melihat Maminya yang sudah turun tangan Tama jadi ikut berlutut, ia bahkan sampai bersujud di kaki Tya.


"Mami tolong jangan laporkan ini, aku mohon ampuni Lusiana. Jika memang dia bersalah berikanlah hukuman untuknya tapi tolong jangan laporkan dia ke polisi"


Putra sulungnya itu bersujud-sujud bahkan sampai menitikkan air matanya. Tya membuang wajahnya dengan perasaan campur aduknya.


"Mamii aku tak pernah meminta apapun padamu, tapi untuk kali ini tolong kabulkan lah permintaanku. Aku mohon ampuni istriku"


Bagi Tya, Tama putranya sudah dibutakan oleh cinta. Ia tidak tahu lagi harus membereskan masalah ini bagaimana. Di tengah isak tangis Tama, Hansel akhirnya membuka suaranya. "Hukuman baginya dia tidak diterima lagi di keluarga ini. Silahkan meninggalkan kediaman kami"


Tya menoleh ke arah Hansel dengan tatapan tajam. "Hanya itu? bukankah hukuman ini terlalu ringan" cakap Tya yang memang tidak puas atas hukuman yang diberikan oleh Hansel. Suaminya itu menarik tangannya lembut untuk mendekat ke arahnya.


"Masih ada lagi sayang, dengarkan baik-baik"


"Lusiana.. kau tidak akan bisa berkarier sebagai model lagi, mungkin ini hukuman yang pantas untukmu" pernyataan Hansel yang ini sungguh membuat hati Lusiana tercabik-cabik dan juga membuat Tama membelalakkan matanya.


"Papi apa maksud papi Lusiana diblacklist? kenapa papi begitu kejam padanya"


"Meskipun kalau aku tak melakukan itu dan dia kumasukkan ke dalam penjara pun karirnya akan berakhir Tama, tidak ada bedanya." sahut Hansel. Putranya itu bangkit berdiri dan perlahan berjalan mendekat.


"Jika Lusiana di usir dari sini maka aku pun akan ikut keluar dari rumah ini"


Hansel menatap putranya itu, ia tak bisa mengatakan apapun selain menatap Tama dengan sorot tajam. "Kau sudah tahu dia salah dan masih membelanya?" Tama melirik Lusiana, ia menghapus buliran air mata yang jatuh dari kedua matanya.


"Meskipun begitu, dia tetap istriku. Bahkan jika dunia menganggapnya bersalah, aku akan tetap berada disisinya"


Hansel menelan salivanya seraya membuang wajahnya. "Terserah padamu" Hansel menarik tangan Tya agar pergi dari sana. Tama hanya menatap kepergian kedua orang tuanya dengan air mata yang mengalir. Kemudian ia berjalan mendekati Lusiana dan merangkulnya.


"Tidak apa-apa, masih ada aku" ucapnya dengan senyumannya, ia mengelus sayang kepala sang istri. Lusiana hanya mengangguk kecil, "Tama percayalah bukan aku yang–" Tama langsung menyodorkan jari telunjuknya di depan bibir Lusiana. "Ssstt, sudah. Aku percaya padamu, ayo kita pergi"


Lusiana kembali mengangguk, Tama mengambilkan jaketnya dan ia pakaikan ke tubuh istrinya itu. Mereka berdua berjalan keluar dari kediaman Khurana sambil bergandengan tangan. Sedangkan Hansel dan Tya melihat dari kejauhan kepergian putra sulungnya.


"Pelayan! bereskan semua barang-barang Tama dan Lusiana" titahnya.


"Tama.. putraku.." tangisan tak rela membasahi pipi Tya. Ia melirik sekilas kearah suaminya yang bergeming.


Ia tahu sekali Hansel pun pasti merasa tak rela juga, namun ia menyembunyikannya dengan wajah datarnya. Jika Hansel marah dan tidak peduli lalu mengapa ada buliran air mata yang turut membasahi pipinya. Mereka berdua tak menyangka jika Tama akan membela Lusiana dan ikut terusir dari rumah ini.


...•---•...


"Zoeya, tebak kita mau kemana hayo" pertanyaan yang sangat tidak berfaedah itu benar-benar membuat Zoeya kesal. Meski kesal, Zoeya tak bisa berbuat apapun selain menikmati perjalanan mereka. Zoeya tidak tahu dirinya itu akan dibawa kemana oleh pak supir dan Rafael.


Niat bunuh dirinya jadi gagal total karena pria sableng ini. Zoeya melihat pemandangan pepohonan rindang, sepertinya perjalanan mulai memasuki kawasan hutan? entahlah ia tak tahu. Semakin dipandang rasanya semakin Zoeya tenang di kesunyian jalan itu. Tidak ada yang melintas selain mobil mereka.


Rafael yang menyadari Zoeya tengah menikmati keindahan alam pun jadi ikut tersenyum. "Pelan-pelan pak supir" celetuknya, dan langsung dituruti oleh sang supir untuk menurunkan kecepatan mobil. Gadis itu menoleh kearah Rafael dengan wajah yang menahan kesal.


Rafael cengengesan saja memperlihatkan giginya yang rapih. "Tak jadi deh, kita cepat-cepat saja pak supir" tuturnya. Pak supir sempat mendengus dan ia pun langsung tancap gas melaju kencang. Diawal memang kecepatan nampak normal saja tapi entah mengapa semakin lama kelajuan mobil ini semakin bertambah.


"Pak supir ini terlalu cepat" teriak Rafael yang rohnya hampir saja keluar dari tubuhnya.


Zoeya sendiri pun ikut terkejut, untunglah dirinya dan Rafael memakai seat belt jadi nyawa mereka masih aman sentosa didalam raga. Entah ada masalah apa supir yang satu ini dengan mereka, Zoeya juga jadi ikut mempertahankan rohnya di dalam mobil tersebut.


Dengan kecepatan secepat kilat, akhirnya Rafael dan Zoeya tiba di vila pribadi Khurana. Tentunya dengan kondisi teler, kepala pusing, mual-mual. Rafael yang tidak kuat segera keluar dari mobil sambil memuntahkan isi perutnya, sedangkan Zoeya sepertinya rohnya sudah keluar. Gadis itu teler didalam mobil.


Pak supir sendiri sudah ngibrit entah kemana, meninggalkan tuan dan nonanya yang masih mabuk darat. "Hoeekk supir sialan, entah ada dendam apa dia denganku" Rafael ngoceh-ngoceh sendiri, dari arah belakang sebuah tangan memijat-mijat tengkuknya.


Rafael menoleh dan melihat Zoeya dengan ekspresi datarnya sedang memijatnya. Rupanya gadis itu rohnya telah kembali.


"Kepalaku pusing sekali Zoey huee" rengek Rafael dan langsung di puk-puk oleh Zoeya. Pria itu sudah seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya.


Mereka berdua berjalan masuk kedalam vila setelah Rafael sudah lebih baik. Tiba-tiba pak supir tadi muncul dari arah samping dan mengehentikan langkah mereka. "Mohon maaf tuan muda saya kebelet tadi hehe makanya ngebut" ujarnya cengar-cengir dengan wajah tanpa dosa.


"Sialan kau! awas kau ya!" sahut Rafael yang kepalanya masih pening karena ulah supir tersebut.


"Ya maaf tuan muda, daripada saya brojol di mobil kan"


"Tidak ada yang bertanya. Sudah-sudah pergi sana, jangan sampai ku lindas pula kepalamu itu ya" Rafael melanjutkan langkahnya sambil dipapah oleh Zoeya.


Setibanya mereka mata Zoeya selalu memperhatikan sekelilingnya. Vila yang nampak begitu indah. Saat ia membuka pintu utama begitu luas, bersih, sederhana namun elegan. Vila ini terasa seperti rumah yang sangat ia idamkan untuk tinggal bersama pria yang ia cintai. Zoeya dulu sempat memiliki mimpi seperti itu.


Namun gadis itu melirik Rafael sekilas dan langsung membuyarkan ingatan keinginan terpendamnya. Dalam pikirannya vila ini bukanlah miliknya apalagi saling mencintai bersama Rafael? itu tidak akan mungkin.


Zoeya mendudukkan Rafael di sofa. Ia juga ikut duduk di sana untuk melepaskan rasa lelah diperjalanan tadi.


"Akhirnya~ bokongku mendarat di sini" Rafael memijat pelipisnya dan menyandarkan punggungnya disandaran sofa.


"Bukankah tempat ini nyaman Zoey, kau bisa healing di sini dan begitu juga denganku. Rasanya kepalaku mau pecah bekerja terus di kantor" gadis itu mendengarkan curhatan Rafael. Pria ini memang suka mengoceh, bagi Zoeya kehadiran Rafael lebih dari cukup dibanding dengan adanya para pelayan.


Karena dengan Rafael seorang pun sudah berisik sekali bagai ia adalah 10 orang. "Kau tau Zoey, tempat favoritku adalah vila ini. Aku bisa bebas melakukan apapun di sini, tanpa ada yang mengawasi. Hanya ada aku dan alam" gadis itu mengerutkan keningnya, heran dengan maksud dari kata terakhir.


Rafael yang mengetahui kenapa istrinya berekspresi seperti itu langsung bangkit dan mengajaknya untuk mengikutinya. Zoeya menurut saja dan mengekori Rafael. Ia dibawa ke sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar.


Mata Zoeya tak bisa lepas untuk memperhatikan isi kamar tersebut, hingga ia tak sadar Rafael berhenti dan berakhir dirinya menabrak tubuh pria itu. "Sudah sampai" mereka berdua sampai di balkon kamar. Rafael berjalan lebih dulu meninggalkan Zoeya yang masih berdiri diam.


Pria itu memejamkan matanya menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya, vila ini sekelilingnya hutan maka dari itu Rafael bilang hanya ada dirinya dan alam. Zoeya perlahan berjalan mendekat turut melihat pemandangan.


Angin semilir mulai mengayunkan rambut panjangnya yang terurai, untuk sesaat ia merasa begitu damai. Zoeya juga melihat ada pantai yang jaraknya tak jauh dari vila ini.


"Vila ini memang dekat dengan pantai, kalau kau ingin ke sana kita bisa pergi tapi kita harus jalan kaki" ujar Rafael yang kini sudah di samping Zoeya.


Gadis itu mendongak menatap wajah pria di sampingnya yang sedaritadi terlihat sangat senang. Apa Rafael sesuka itu dengan tempat ini, Zoeya pun baru pertama kali melihat Rafael begitu gembira. Rasa bahagia yang tulus dari hatinya, raut wajah yang sumringah. Zoeya jadi bisa turut merasakan kegembiraan itu.


Tiba-tiba Rafael menoleh dan ikut menatapnya, "Jangan pernah berpikir kau ingin bunuh diri di sini. Awas kau ya! aku tak akan membiarkan itu terjadi" ucapnya memberi peringatan. Zoeya menyudahi tatap-tatapan itu, dan ia pun masuk kedalam.


"Ingat ya jangan macam-macam kau di sini, kalau kau mati di vila ini kan tidak lucu, tempat favoritku bakal jadi vila horor karena menantu Khurana bunuh diri di sini" ujar Rafael agak lantang agar gadis itu mendengarnya.


"Tapi aku yakin, kau tidak akan pernah bisa memikirkan tentang rencana bunuh dirimu jika berada di sini. Aku jamin itu" sambungnya lagi.


Gadis itu terduduk di ranjang, tatapannya kosong menatap lurus ke depan. "Kau salah telah membawaku kemari Rafael Khurana" gumam Zoeya lirih.