![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Semenjak kepergian Zoeya, Rafael lebih banyak diam tak seperti biasanya yang selalu mengoceh, mengomeli orang-orang, bahkan menjahilinya. Hampir semingguan ia menjadi Rafael super kalem sampai Tya dan Hansel pun keheranan dengan sikap putra bungsunya itu.
Tahun demi tahun berlalu, Rafael menemukan teman baru saat duduk di bangku menengah atas. Tya menjulukinya sebagai 'Tiga rupa' karena kedua teman putranya itu memiliki sifat yang hampir sama dengan Rafael. Apalagi jika soal merayu dan jahil mereka bertiga memang juaranya.
Dan sampai kini hubungan pertemanan mereka begitu awet, Rafael kini telah tumbuh menjadi pria tampan yang memiliki banyak pesona, hal tersebut tidak di ragukan lagi dari sang putra bungsu. Sedangkan Tama putra sulungnya juga tak kalah dengan paras sang adik. Ia tumbuh menjadi pria kalem nan cool seperti karakternya yang sedari kecil.
Tama di perintahkan oleh Hansel untuk memegang alih perusahaan cabang di Kota C. Sedangkan Rafael berada dalam naungannya sendiri di Perusahaan utama. Hansel ingin mengawasi putra tengilnya itu dengan matanya sendiri.
"Selamat pagi, Tuan Rafael" sapa Hansel ketika berkunjung ke ruangan putranya, yaitu ruangan manager. Rafael yang tengah ongkang-ongkang kaki sambil bermain game itu langsung berdiri tegap, dengan cepat ia membereskan buku dan file yang berantakan di meja.
"P-pagi Papi" sahutnya dengan senyum terpaksa.
"Eh maksudnya, Pagi Tuan Dirut" sambungnya lagi.
Hansel menghembuskan nafas kasar "Dimana attitude mu Rafael, ini kantor bukan rumahmu. Jaga sikapmu dan kehormatan dari keluarga kita" tegas Hansel.
Rafael hanya manggut-manggut saja, ia menunduk seakan memberikan raut wajah menyesal. Hansel melangkah keluar dari ruangan yang berantakan itu.
Sebelum ia benar-benar keluar, Hansel kembali menoleh "Sebelum rapat, anda ke ruangan saya sebentar Tuan manager"
Rafael yang mendengar perintah itu mengangguk kecil dan sedikit membungkukkan badan dengan sopan.
"Baik Tuan"
Setelah mengatakan itu barulah Hansel pergi dan menuju ruangannya.
15 menit sebelum rapat, Rafael melangkahkan kakinya menuju ruang pimpinan perusahaan ini. Dalam langkahnya ia menjadi gugup,
"Kenapa aku di panggil sebelum rapat?" Hanya pikiran itu yang ada di kepalanya. Tapi ia pun percaya kalau tidak ada yang salah dari dirinya jadi Rafael menenangkan dirinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, setelah mendengar sahutan dari dalam ia pun masuk dan menutup pintunya kembali.
"Papi eh Tuan kenapa anda mem..." Belum selesai ia bicara, Hansel sudah mengangkat tangannya yang berarti "Stop, diam, jangan bicara sebelum aku menyuruhmu bicara"
Begitulah yang ia tahu dari kepribadian sang Papi. Dan Rafael pun langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Saya menempatkan sekretaris untuk membantu pekerjaan anda, hari ini dia akan datang"
Rafael mengerutkan keningnya, ia merasa tidak membutuhkan seorang sekretaris.
"Maaf Tuan, tapi sejauh ini kinerja saya bagus-bagus saja. Dan saya tak terlalu membutuhkan sekretaris" protesnya, karena Rafael merasa dirinya sendiri sudah cukup menyelesaikan pekerjaannya.
"Ya kinerja mu sangat baik, tapi sikapmu yang buruk"
"Papiii" rengek putranya itu, sekarang ia tak peduli dengan status mereka di kantor. Sedangkan Hansel hanya memberi ekspresi datar melihat putra bungsunya merengek seperti anak kecil, entah kapan putranya itu dewasa.
Dan tak diragukan lagi kemampuannya itu sangat membantu perusahaan, ia bermalas malasan pun dapat membantu perusahaan. Apalagi jika putranya itu rajin, mungkin perusahaan ini akan lebih sukses dalam kepemimpinannya.
Hansel hanya bisa berharap putranya itu bisa sadar dan memiliki pikiran dewasa untuk membuat perusahaan ini lebih berkembang dan sukses dari masa kepemimpinannya. Entah kapan putranya itu bisa sadar tapi yang pasti Hansel harus bersabar dulu, untuk saat ini ia membiarkan Rafael berproses perlahan-lahan.
...***...
Di sebuah rumah sederhana seorang gadis membersihkan meja makan sesekali ia bersenandung kecil. Kakinya yang indah begitu lincah memainkan gerakan. Terkadang ia berputar dan bahkan menggerakkannya seakan sedang berdansa.
Ia menaruh makanan yang sudah matang dengan hati-hati.
"ibuuu sarapan sudah siap" ucap gadis itu lantang. Beberapa menit seseorang keluar dari kamar, Roma tersenyum saat melihat putrinya itu sedang asyik berdansa sendiri. Ia menikmatinya tapi gadis itu keburu tahu karena batuknya.
Saat wajah itu menoleh ke arahnya, Roma hanya bisa menatap haru meskipun ia sudah banyak kali melihat paras putrinya. Zoeya tumbuh dengan paras cantik yang persis seperti ibu kandungnya. Roma seakan melihat sahabatnya yang telah tiada itu hidup kembali.
"Ibuuu kenapa hanya berdiri? ayo duduk, kemari ibu minum dulu"
Roma tersadar dari lamunannya kemudian ia berjalan menghampiri Zoeya.
"Ini ibu minum dulu lalu makan dan minum obatnya oke"
Roma mengangguk nurut dan mengusap rambut putrinya itu lembut. Ia bersyukur ketika sakit begini ada yang mengurusnya. Zoeya seperti cahaya dalam kehidupannya.
Mereka makan bersama dengan lauk yang tadi putrinya buat.
"Hmm enak sekali" pujinya saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya.
"Tentu saja, aku kan putri ibu yang serba bisa" ucap gadis itu berbangga diri, mereka berdua tertawa bersama.
Gadis itu meminum air putih yang berada di sampingnya, lalu ia mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya.
"Ibu aku sudah selesai makan dan aku harus berangkat, hari ini adalah hari pertamaku bekerja di kota ini. Ayo cepat doakan aku agar aku bisa mengatasi segalanya" gadis itu sudah mengatupkan kedua tangannya di dada dan memejamkan matanya menunggu doa dari sang Ibu.
Roma geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu, ia pun ikut memejamkan mata dan mulai memanjatkan doa.
"Ya Tuhan aku titipkan putriku dalam penjagaanmu, permudahkanlah segala urusannya, dan jadikanlah ia anak yang bermanfaat bagi sekitarnya Amin. Tuhan memberkatimu"
"Amin terimakasih Ibu" Zoeya mencium pipi sang Ibu sebelum ia pergi.
"Hati-hati ya nak" ucap Roma dan Zoeya pun mengangguk. Lalu ia melangkahkan kakinya, baru saja ia berjalan lima langkah. Zoeya mundur dua langkah dan berdiri di depan foto Zaid, Ayahnya.
"Ayah doakan aku ya, aku tahu ayah selalu mengawasi ku maka dari itu berikanlah putrimu ini sedikit keberanian agar semua masalah dan pekerjaan dapat aku tangani dengan baik. Aku sayang Ayah" Gadis itu mengecup singkat foto sang Ayah, setelah mengatakan itu barulah ia benar-benar pergi dan melangkahkan kakinya menuju perusahaan yang kini menjadi tempatnya mencari nafkah.