Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 42 [Sore hari bersamamu]



Waktu silih berganti, pertengkaran mereka di siang hari tadi mungkin akan dilanjutkan di malam hari. Sore hari ini mereka berdua saling diam, tak membuat keributan ataupun berselisih karena masalah kecil. Sore hari yang damai bagi Zoeya.


Bahkan yang biasanya mereka berdua berebutan kamar mandi, sekarang tidak. Entah mengapa Rafael memilih mandi di bawah saja dan mengalah. Zoeya pun sangat diuntungkan karenanya, ia tidak tahu saja Rafael mandi di bawah sana memiliki niat tersembunyi.


Ia tidak tahan dengan wanginya masakan Zoeya yang menggugah selera. Jadi selepas mandi Rafael berniat untuk diam-diam memakan makanan tersebut tanpa sepengetahuan Zoeya sebab gengsinya yang begitu tinggi, setinggi ujungnya menara Eiffel.


Beberapa menit berlalu, kini Rafael sudah rapih dengan pakaian santainya. Sebelum ke ruang makan ia celingukan seperti seorang pencuri. Meskipun memang benar ia akan mencuri. Ia bahkan sudah mengambil piring untuk menampung makanan lezat buatan istrinya.


Tapi karena Rafael takut ketahuan ia pun hanya mengambil sedikit daging dan sayurannya. Zoeya yang ingin mengambil air minum di kulkas tanpa sengaja jadi memergoki Rafael yang diam-diam mencuri makanannya. Ia bersembunyi dibalik tembok dan menertawakan tingkah Rafael yang nampak waspada dan terburu-buru.


Setelah ia rasa cukup, Rafael pergi ke dapur untuk memakan makanannya karena ruang makan terlalu terbuka baginya. Jadi lebih aman ia makan di dapur saja pikir Rafael. Baru saja ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk memasukkan makanan tersebut, Rafael langsung membeku kala mendengar suara wanita di belakangnya.


"Lebih enak dimakan pakai sambalnya" ujar suara itu yang sudah ada di belakang Rafael, sambil memegang mangkuk kecil di tangan kanannya. Zoeya mulai menghampiri sang suami.


"Aku tidak memakan makananmu" sahut Rafael membuang wajahnya dan agak menjauhkan piring yang ia pegang. Gadis itu tersenyum tipis melihat perilaku pria di hadapannya ini yang masih saja mengelak dan tak mau mengaku. Padahal bukti piring penuh makanan sudah di depan mata.


"Baiklah, aku juga tidak melihat piring di tanganmu itu kok" Zoeya ikut-ikutan membuang wajahnya dan menaruh mangkuk sambal itu di dekat Rafael. Kemudian ia berlalu pergi dari dapur dan meninggalkan suaminya sendirian lagi. Rafael celingukan memeriksa apakah Zoeya sudah pergi, setelah dirasa aman sentosa ia pun melanjutkan suapannya.


Rafael juga mengambil sambal tadi dan benar kata Zoeya, memang rasanya jadi lebih mantap. "Wah gila enak banget" ucapnya dengan mulut penuh.


"Aku bilang juga apa" sahut suara di depan pintu dapur reflek Rafael menoleh kearah sumber suara tersebut dan ia jadi tersedak melihat kepala Zoeya yang muncul di sana.


Gadis itu cekikikan sembari mengambilkan segelas air dan langsung disambar oleh Rafael. Gadis itu menepuk-nepuk punggung Rafael pelan.


"Kau ini tinggal mengaku lapar saja gengsimu tinggi sekali, sudahlah akui saja makananku lebih enak dari makanan gosongmu" Rafael melirik istrinya itu dengan perasaan malu setengah mati tapi ia harus stay cool sebagai topeng gengsinya.


Zoeya mendengus pelan, kali ini ia mengalah dan tak akan menganggu pria itu lagi.


"Lebih baik kau makan di ruang makan saja daripada makan di sini sambil berdiri. Tenang saja aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi jangan kau habiskan semua ya! sisakan juga untukku" pesan gadis itu sebelum benar-benar pergi. Rafael hanya diam saja memperhatikan Zoeya yang memang terlihat menepati perkataannya, ia naik ke atas menuju kamar.


Rafael terdiam, memikirkan perkataan Zoeya tadi. "Tumben dia berperilaku baik padaku, jangan-jangan itu pesan terakhirnya sebelum mengakhiri hidupnya" Rafael jadi over thinking sendiri melihat gelagat Zoeya yang menurutnya aneh.


"Hey menantu kesayangan tunggu!" panggil Rafael dari bawah, sontak Zoeya menoleh dan memberhentikan langkahnya. Pria itu mulai menaiki tangga sambil membawa makanannya tadi, melihat hal itu tentu saja membuat dahi Zoeya mengerut bingung.


Kini Rafael sudah berada disampingnya, dan gadis itu masih berekspresi sama seperti tadi. "Apa yang kau lakukan?" tanya Zoeya menatap manik mata Rafael.


"Aku makan di kamar saja" sahut Rafael dan menggandeng tangan Zoeya tiba-tiba. Istrinya itu semakin bingung kenapa juga pria ini menggandengnya.


Saat sudah sampai di lantai dua, Zoeya melepas paksa genggaman Rafael.


"Ada apa sih denganmu? kerasukan apa kamu? setan bucin?" tanya Zoeya yang sedaritadi merasa aneh dengan perilaku suaminya itu.


"Hah?? maksud??" jawab Rafael jadi ikutan bingung, karena ia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Zoeya masih menatap pria itu dengan tatapan aneh dan takut lalu Zoeya ngibrit ke kamar tak mau menunggu Rafael.


"Dasar aneh kenapa dia takut begitu" batin pria itu heran.


Rafael menutup pintu kamar, ia melihat Zoeya berada di balkon, lagi-lagi entah mengapa Rafael takut Zoeya melakukan sesuatu yang dapat membahayakannya. Ia pun menuju ke balkon dengan sedikit berlari, saat itu bisa Rafael lihat Zoeya yang memandang pantai indah di sana. Dalam hati Rafael ia lega sekali, untunglah Zoeya tidak melakukan hal yang berbahaya.


"Apa kau suka sekali dengan pantai?" tanya Rafael yang mengagetkan Zoeya dengan kehadirannya.


"Kenapa kau di sini? kau bilang mau makan di kamar, makan saja di sana" ujarnya agak ketus.


"Suka-suka aku, balkon juga termasuk bagian dari kamar" sahut Rafael. Ia pun duduk di kursi yang berada di sana sambil menyantap makanannya, tak mengapa jika gadis itu memakinya yang terpenting Zoeya masih dalam pengawasan matanya.


Meskipun sebal karena dirinya selalu dibuntuti oleh Rafael, Zoeya memilih tak ambil pusing dan tetap menikmati pemandangan. Rafael sendiri pun menikmati makanannya, sesekali ia masuk ke dalam untuk mengambil air minum dan dirinya kembali lagi ke balkon.


Rafael bisa melihat mata Zoeya yang berbinar-binar ketika melihat pantai. Rafael jadi kepikiran untuk membawa Zoeya ke sana meskipun mereka seharian ini belum berisitirahat dengan benar.


"Mau pergi ke sana?" tanya Rafael dan Zoeya langsung menatapnya.


"Boleh? tapi hari sudah sore" sahut gadis itu sambil kembali menatap depan yang terlihat sedikit kecewa.


"Tidak masalah, kita main-main saja di sana sebentar. Ayo" ajak Rafael dan akhirnya mendapat anggukan antusias dari Zoeya. Mereka berdua pun menuruni tangga, Rafael tiba-tiba berbelok ke arah belakang sedangkan Zoeya ke depan. Sontak Rafael memanggil Zoeya karena gadis itu tidak mengikutinya.


"Zoeya! lewat belakang saja" panggil Rafael agak lantang, gadis itu pun menoleh dan menghampiri suaminya. Ia mengekori Rafael meskipun ia sendiri tak tahu mau dibawa ke jalan yang mana. Yang pastinya ke jalan yang benar.


Rafael membuka pintu belakang, Zoeya bahkan tidak sadar ada pintu seperti ini di dekat dapur. Saat pintu itu terbuka alam yang luas menyambut mereka berdua. Benar-benar hutan dan ada jalan setapak yang mungkin itu adalah jalan menuju pantai. Zoeya jalan mendahului Rafael.


Ia tersenyum lebar, dirinya sangat menyukai alam bebas.


"Ssstt berisik nanti saudaramu pada datang" tutur Rafael yang membuat Zoeya berwajah masam.


"Emangnya kenapa? siapa saudaraku?"


"itu.. si monyet" Rafael tertawa ngakak lalu berlari sebelum Zoeya mengamuk.


Mereka berdua jadi saling kejar-kejaran, Zoeya sendiri jadi teringat masa kecil mereka saat dikejar preman abal-abal dan saat Rafael pertama kali ke rumahnya. Dulu dirinyalah yang mengerjai Rafael, sekarang Rafael yang mengerjainya.


"Hey tunggu dulu, aku lelah" ujar Zoeya yang berada di belakang Rafael beberapa meter. Pria itu pun langsung melambatkan langkahnya dan membiarkan Zoeya menyusulnya.


"Kenapa? masa segitu saja sudah lelah. Padahal dulu kau lari kaya kilat aku bahkan tidak bisa menang darimu" Zoeya tertawa kecil mendengarnya. Rupanya Rafael masih mengingat masa kecil mereka.


Kini Zoeya sudah berada di samping Rafael seraya mengusap keringat di dahinya.


"Kau salah memilih lawan, pertandingan belum selesai" Zoeya berlari kembali, kali ini lebih cepat dan meninggalkan Rafael di sana.


"Hey! itu namanya curang, ulang! kau membohongiku" Pria itu pun kembali berlari sambil protes.


"Ahahaha dasar payah, yang kalah harus menggendong yang menang" teriak Zoeya yang terus berlari menjauh takut Rafael menyusulnya.


"Akan kubuat kau menyesali perkataanmu" kali ini Rafael tidak mau kalah, ia pun berlari sekencang-kencangnya menyusul Zoeya. Mungkin saat kecil ia kalah, tapi sekarang ia tak mau kalah. Dan kali ini Rafael yang menang, mereka berdua sampai di pantai tapi Rafael duluan yang menginjakan kakinya di pasir pantai.


"Aku menang yuhuuuu" teriaknya puas, sedangkan Zoeya dibelakangnya ngos-ngosan memegangi kedua lututnya.


"Aku tarik.. perkataanku tadi.." ucapnya tersengal-sengal sambil berjalan perlahan menghampiri Rafael.


"ah mana bisa, no no no! kau harus menggendongku" Rafael tertawa jahat, ia sangat puas bisa mengalahkan gadis itu.


"Dasar jahat! tubuhku bisa langsung remuk kalau menggendongmu" Rafael masih tertawa ia seperti tidak peduli dengan kesulitan Zoeya. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Rafael, ia membesarkan pupil matanya dan tersenyum lebar melihat pantai indah berada di depan matanya. Pemandangan sore hari terbaik, mungkin Zoeya pun akan menjadikan tempat ini adalah favoritnya.


"Rafael lihat! airnya cantik sekali" gadis itu berlari lagi lebih dekat dengan air laut yang begitu jernihnya berwarna hijau kebiruan. Di pesisir pantai itu Zoeya berlarian, rambutnya yang panjang berterbangan mengikuti arah angin. Senyumannya yang riang tergambar jelas di wajah cantiknya.


Rafael terdiam sejenak melihat sosok Zoeya yang berbeda, ceria, cantik, periang. Sangat berbeda dengan Zoeya yang beberapa hari ini menemani kesehariannya murung, jarang tersenyum, putus asa. Tanpa sadar pria itu ikut tersenyum melihat kegembiraan istrinya.


Selama ini Rafael menganggap Zoeya adalah perusak kehidupannya, pembohong dan penghancur dalam pertemanan mereka. Tapi ia juga berpikir kenapa dirinya takut sekali jika gadis itu terluka atau terkena marabahaya. Bukankah seharusnya ia senang jika seseorang yang ia benci terluka, mengapa ini sebaliknya?


"Rafael ayo kemari" panggil Zoeya dengan senyuman lebarnya. Rafael yang sedang melamun itu tak mendengarkan sedikitpun panggilan dari Zoeya.


"Rafael Khuranaaa" teriak Zoeya, Rafael pun tersadar karena teriakan gadis itu. Ia melihat Zoeya melambaikan tangan padanya.


"Ayo kemariii" teriaknya lagi.


Rafael tersenyum simpul dan berlari kecil menghampiri sang istri. Saat jarak antara mereka semakin dekat gadis itu malah berlari menjauh dari Rafael sambil tertawa.


"Rupanya kau masih ingin main kejar-kejaran" ucap Rafael lalu mengejar Zoeya. Semakin Rafael dekat Zoeya pun semakin berlari menjauh dengan tawanya yang renyah, Rafael jadi ikut tertawa mendengarnya.


Mereka berdua seperti kembali menjadi anak kecil lagi, dan berakhir dengan Zoeya yang di tangkap Rafael. Tubuh Zoeya diangkat dan melayang karena diputar-putar oleh Rafael.


"Tertangkap kau, tepati perkataanmu yang akan menggendongku" bisik Rafael di telinga Zoeya sembari menurunkan gadis itu.


"Baiklah ayo naik" Zoeya sedikit membungkuk, ia sendiri juga penasaran apakah dirinya bisa menggendong Rafael.


Rafael tersenyum tipis, ia sendiri tahu bahwa Zoeya tidak mungkin kuat menggendongnya. Ia memiliki rencananya sendiri. Pria itu mengangkat tubuh Zoeya dengan mudahnya dan tentunya Zoeya kaget bukan main tiba-tiba tubuhnya kembali melayang.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya. Rafael tersenyum jahil dan melirik ke arah air laut.


"Yang kalah harus di ceburkan" ujarnya dan berjalan maju.


"Tidak mau! aku tak mau basah, turunkan aku!" Zoeya memberontak dan memukuli dada Rafael.


Karena Zoeya terus memberontak, Rafael pun langsung menceburkan Zoeya ke air tapi sayangnya gadis itu menarik bajunya dengan kuat yang membuat Rafael juga ikut tercebur dan basah. Mereka berdua muncul ke permukaan bersamaan dengan posisi Zoeya yang masih menggenggam kuat baju Rafael. Pria itu mengusap wajahnya sesekali terbatuk karena air laut masuk ke mulutnya,


"Kau benar-benar curang" ujarnya dan disambut gelakan tawa Zoeya yang begitu puas.


"Jangan tertawa! padahal aku yang menang tapi aku malah ikut tercebur bersamamu"


"Hihihi, terima kasih suamiku. Deritaku harus juga jadi deritamu"