Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 25 [Janji pertemanan kedua kalinya]



Rafael dan Zoeya memilih untuk masuk kembali ke dalam karena hari semakin terik. Zoeya berjalan lebih dulu sedangkan Rafael dibelakangnya. Mereka berdua kalut dengan pikiran masing-masing. Saat mereka berdua tiba di depan pintu ruangan Roma, Rafael menghentikan Zoeya dengan meraih tangannya.


"Zoey, tunggu dulu" katanya, Zoeya menatap pria itu bingung. Mereka berdua saling tatap beberapa detik dan Rafael langsung melepaskan genggamannya. Mereka berdua sempat canggung beberapa saat, untungnya Rafael langsung memecahkan suasana.


"Zoey aku tak akan ikut masuk" Zoeya semakin mengerutkan keningnya, Rafael tahu gadis itu tengah bertanya-tanya.


"Aku tahu kau sudah menentukan pilihanmu untuk bersama Kak Tama kan?kau tidak mungkin memilihku dan aku pun tidak ingin kau memilihku. Aku hanya ingin kau berjanji padaku" Rafael menunduk untuk beberapa saat, gadis itu menantikan apa lagi yang akan di katakan pria di hadapannya ini.


Kedua netra Rafael mulai menatap mata Zoeya, raut wajahnya serius namun Zoeya bisa merasakan ketulusan di dalam mata itu seperti saat dulu mereka akan berpisah dan membuat janji pertemanan.


"Zoeya aku mau kau berjanji sekali lagi untuk pertemanan kita. Jangan pernah memilihku apapun yang terjadi, situasi bisa saja berbalik misalnya Kakakku yang tak setuju dengan pernikahan kalian. Aku tak tahu apa yang dipikirkan kakakku, maka dari itu aku hanya ingin mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja terjadi"


"Jika saja memang rencana orang tua kita tidak berjalan lancar dan kau memang ingin sekali memenuhi permintaan Ibumu. Aku akan tetap membantumu menemukan calon yang terbaik untuk menjadi suamimu. Kau tahu kan aku punya banyak teman yang ku kenal"


Zoeya tersenyum simpul mendengarnya, Zoeya tahu Rafael akan terus membantunya.


"Aku tahu, terimakasih El"


Rafael ikut tersenyum, sekarang ia menyodorkan jari kelingkingnya di depan Zoeya persis seperti dulu saat usianya 10 tahun.


"Mari kita membuat janji pertemanan yang kedua kalinya. Aku pun akan berjanji padamu mulai sekarang tidak akan membuatmu kesal dan mengganggumu lagi"


Gadis itu terkekeh geli, apakah bisa pria ini benar-benar tak akan pernah membuatnya kesal lagi.


Dan akhirnya Zoeya pun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rafael, mereka jadi merasa dejavu karena pernah melakukan hal ini juga beberapa tahun yang lalu.


"Aku berjanji padamu, kau akan tetap menjadi temanku, teman kerjaku, teman kecilku dan tak lebih dari itu"


Untuk kedua kalinya mereka terlihat akur dan saling melemparkan senyum manis dari keduanya.


Kemudian mereka berdua saling melepaskan jari kelingkingnya, Rafael terlihat sangat lega setelah kesepakatan yang mereka lakukan. Nampak sekali dari raut wajahnya yang terus menampilkan senyuman yang terukir di ujung bibirnya.


"Maaf ya Zoey aku tak ikut masuk. Aku titip salam pada Aunty Roma ya, aku mau pulang ke rumah sebentar. Mungkin nanti sore atau malam aku akan kemari lagi nanti"


"Apakah ada pekerjaan yang penting El? Perlukah aku ikut?" Tanyanya, Zoeya juga baru sadar hari ini Rafael bolos kerja. Takutnya memang ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda, dirinya itu pun merasa sedikit bersalah karena merepotkan atasannya. Rafael merespon dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak kok, aku hanya ingin melihat kondisi rumah saja. Kau tenang saja tidak ada tugas yang darurat. Kau temani saja Ibumu oke? Aku pergi dulu ya" pria itu mengacak pelan rambut Zoeya.


Zoeya pun mengangguk kecil diiringi senyumnya, Rafael pun ikut tersenyum lalu ia pergi dengan langkahnya yang lebar keluar dari rumah sakit itu. Zoeya masih menatap punggung Rafael yang menjauh pergi, ia terus berdiri di sana sampai tubuh Rafael benar-benar menghilang dari pandangan matanya.


Baru saja ia akan masuk ke dalam kamar Ibunya, tiba-tiba Tama muncul entah darimana dan meraih tangannya. Sontak Zoeya menghentikan niatnya untuk membuka pintu dan beralih menatap Tama.


"Ada yang mau kubicarakan denganmu" ujar Tama dengan wajah serius. Zoeya menunjukan ekspresi kebingungannya namun ia mengikuti saja ditarik oleh Tama, entah ia mau dibawa kemana.


Mereka sampai di sebuah lorong yang terlihat sepi, lorong itu terlihat jarang dilewati orang atau bahkan para medis di sana, cahaya di sana hanya menyisakan lampu remang-remang di atas langit-langit rumah sakit. Mungkin saja ini lorong menuju ke gudang, entahlah Zoeya tak tahu. Hanya saja suasana disana terlihat sedikit menyeramkan. Tapi pria di hadapannya ini lebih seram di banding lorongnya, Zoeya merasa agak takut.


"Ada apa Kak?" Ucapnya sopan tak ingin basa-basi.


Tama melepaskan tangannya dan ia mulai mempersiapkan dirinya untuk memberitahu sesuatu.


"Sebelumnya maaf, aku sudah mendengar semua percakapanmu dan Rafael. Dan aku pun tahu siapa yang akan kau pilih"


Zoeya tersenyum tipis, yah kalau Tama tahu ia tak masalah. Zoeya merasa Tama adalah pria yang baik dan kalau menjadi suaminya pun itu bukanlah keputusan yang buruk. Baru saja Zoeya akan berbicara dan menjelaskannya, namun langsung disela oleh Tama.


"Jangan pilih aku" katanya dengan serius.


Dugaan yang dikatakan Rafael benar terjadi, Kakaknya tidak setuju. Tapi apa alasannya batin Zoeya, pikirannya mulai menduga-duga. Mungkinkah Tama sudah memiliki kekasih? atau karena hal lain.


"Maaf bukannya aku menganggapmu tidak pantas, aku memiliki alasan sendiri mengapa aku tak bisa menikahimu"


Sekarang Zoeya terdiam, tak tahu mau berkata apa selain mendengarkan ucapan Tama sampai selesai.


"Menurutku kau lebih baik memilih Rafael saja,Ibumu dan Mamiku kan ingin salah satu di antara kami yang menjadi calonmu. Jika kau mencari pria lain itu akan membuat mereka sedih, apalagi kau menikah dengan orang asing mereka pasti semakin khawatir denganmu"


Zoeya berpikir yang di katakan Tama memang ada benarnya tapi ia juga bingung karena sudah membuat janji dengan Rafael.


"Zoeya pikirkanlah baik-baik, kalian kan sudah dekat dari kecil. Dibanding denganku kau lebih sering bermain dengannya, kau pun tahu bagaimana sikapnya, bukankah Rafael adalah pilihan yang tepat"


Gadis itu masih diam, ia tak tahu menanggapi perkataan Tama harus bagaimana. Pikirannya masih terus terngiang soal perjanjiannya, namun yang di katakan Tama juga tak salah.


"Kau menyuruhku untuk memilih Adikmu karena dia adalah calon yang tepat katamu, mengapa calon yang tepat itu bukan dirimu sendiri?" Tanya Zoeya yang memang daritadi penasaran kenapa pria dihadapannya ini menolaknya.


"Tidak bisa Zoey! Sungguh. Aku tidak bisa menikahimu" ucapnya serius, namun Zoeya bisa melihat seperti ada sedikit rasa takut dari pria di hadapannya ini.


Jawaban menggantung dari Tama semakin membuat Zoeya penasaran, kenapa reaksinya begitu? Kenapa dia terlihat takut pikir Zoeya. Ia curiga seperti ada yang di sembunyikan dari Tama.


"Alangkah baiknya kalau kau menceritakan alasanmu tak menyetujuinya. Agar aku bisa mengerti"


Dengan tertunduk lesu, Tama memutuskan untuk menceritakan situasinya pada Zoeya. Ia terus saja membuang pandangannya agar tak melihat netra gadis di depannya.


"Berjanjilah jangan beritahu siapapun sebelum aku mengambil keputusan"


meskipun ia masih bingung, Zoeya tetap menurut dan mengangguk setuju. Tama mengusap wajahnya kasar dan menghembuskan nafasnya sebelum bercerita.


"Aku.. membuat pacarku hamil" Gadis itu membuka matanya lebar, ia tak percaya.


"Dia seorang model, aku bertemu dengannya beberapa bulan lalu saat aku di kota C dan dia juga berada di kota tersebut karena pekerjaannya." sambungnya lagi.


Zoeya cukup tercengang mendengar pengakuannya. Ia sama sekali tak menyangka Tama si pria kalem ini membuat pacarnya berbadan dua. Entah mengapa ia jadi sedikit kecewa, memang benar apa kata pepatah bahwa kita tidak bisa menilai buku dari covernya saja.


"Kak Tama.. kau benar-benar melakukan kesalahan yang fatal"


Tama semakin menunduk lesu, ia sadar bahwa perihal ini akan menjadi masalah besar bagi keluarganya nanti.


"Aku tahu.. aku salah. Aku ingin memperbaikinya, maka dari itu jangan pilih aku Zoeya"


Zoeya mendengus, ia benar-benar tak bisa berbuat apapun selain menuruti Tama.


"Aku tak bisa mengatakan apapun lagi padamu, baiklah jika itu yang mau kau lakukan. Maka aku tidak akan memilih kau ataupun Rafael"


Jawaban Zoeya sedikit membuat Tama kecewa karena Rafael pun tidak dipilih gadis itu, namun di sisi lain Tama juga merasa lega karena Zoeya tak jadi memilihnya. Zoeya menatap langit-langit lorong itu, tatapannya sendu.


"Aku akan mencari cara lain nanti" ucapnya pelan lalu ia pamit untuk kembali ke kamar inap sang Ibu. Tama pun mengizinkannya pergi dengan sedikit berat hati.


Jarak lorong yang di tempuh Zoeya tak seberapa jauh dari ruang rawat inap Roma, dalam perjalanan itu Zoeya nampak masih memikirkan perkataan Tama sampai ia tidak sadar bahwa sudah terlewat dari kamar Roma. Gadis itu membuyarkan lamunannya dan kemudian melihat sekeliling. Ia menepuk jidatnya pelan, dan berputar balik menuju kamar Ibundanya.


Zoeya mulai masuk ke dalam dan mendapati ada Dokter serta beberapa perawat yang tengah mengelilingi ranjang Ibunya. Matanya beralih melirik ke sofa yang ternyata Tya duduk disana dengan raut yang cemas. Segera Zoeya menghampirinya.


"Aunty.. Ibu kenapa?" Tanyanya dengan nada khawatir, Tya bangkit dari duduknya dan meraih tangan Zoeya untuk duduk di sebelahnya.


"Ibumu tadi ngedrop setelah terapi, sekarang dokter sedang menanganinya. Jangan khawatir nak, Ibumu akan baik-baik saja"


Tya mendekap Zoeya untuk menenangkan gadis itu. Dengan pelukan yang diberikan Tya memang dirinya jadi lebih tenang tapi ia tetap saja khawatir takut terjadi sesuatu pada Ibunya, apalagi memang ibunya tidak bisa hidup lama. Sekarang di kepalanya mulai terngiang kembali perkataan Tama beberapa waktu lalu.


"Apakah aku memang harus memilih Rafael?" Batin Zoeya dilema antara perjanjian pertemanannya atau keadaan yang menyudutkan dirinya.