![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
"Ya pergi, pergilah sejauh yang kau mau" sahut Rafael enteng sambil menyuapkan camilan ke dalam mulutnya. Zoeya terdiam tak berkata apa-apa.
Di saat itu Roma muncul dengan membawa koper besar, Rafael langsung menyunggingkan senyumnya saat melihat sahabat Maminya.
"Rafael kau disini ya, Aunty tak tau kalian sudah sedekat ini. Padahal baru saja kemarin kalian bertengkar"
Rafael hanya cengengesan, ia lebih tertarik dengan koper itu. "Aunty mau pergi ya?" Tanya Rafael untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Apa Zoeya belum memberitahumu? Kami akan pindah ke kota B sore ini, aku sempat terkejut melihatmu main kemari sendirian. Kupikir aku akan mengabari Mamimu dari telfon saja, tapi kau kemari jadi aku sekalian akan berpamitan dengannya nanti"
Rafael beralih menatap Zoeya, sedangkan gadis itu membuang muka. Kini ia mengerti kenapa Zoeya menanyakan hal itu tadi, dan mereka hanya terdiam satu sama lain. Disana Rafael di ajak makan siang bersama, raganya memang berada di sana tapi pikirannya tidak.
Entahlah makanan itu masuk lewat mulut atau hidung, Rafael larut dalam pikirannya sendiri. Dan sore tiba begitu cepatnya, Rafael masuk ke dalam mobil Zoeya untuk menuju ke rumahnya. Tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di rumah kebesaran Keluarga Khurana.
Di teras rumah terlihat Maminya duduk disana, ternyata ia menunggu putranya itu pulang dari tadi. Segera Rafael turun dan menghampiri sang Mami. "Mamiii" panggilnya seraya berlari kecil menuju pelukan paling hangat dalam hidupnya. Tya akhirnya merasa lega melihat putra tersayangnya itu pulang.
Ia juga cukup terkejut karena yang mengantar Rafael adalah sahabatnya sendiri. "Roma, Zaid, Zoeya. Kalian.. Ya ampun aku sangat berterimakasih sudah mengantar pulang Rafael. Ayo semua masuk ke dalam" sambut Tya ramah disertai senyuman di wajahnya.
Roma menolak halus kemudian ia memeluk sahabatnya itu tiba-tiba yang membuat Tya menjadi bingung. "Roma.. ada apa? Ayo kita masuk" Roma menggeleng pelan tanpa melepaskan dekapannya.
Air matanya mengalir, ia tak bisa menahannya lagi "Tya.. aku akan pergi jauh darimu. Hiduplah dengan baik disini dan berbahagialah selalu"
Tya masih bingung, kemudian ia melepaskan pelukan dari sahabatnya itu.
"Aku tak paham" ucapnya dengan raut wajah kebingungan.
Roma menjelaskan keadaannya pada Tya, dan Tya menjadi pendengar yang baik. Setelah paham Tya kembali memeluk sahabatnya itu begitu erat. Rasanya sesak sekali harus rela membiarkan Roma jauh darinya. Kedua sahabatnya berada jauh dari Tya dengan cara yang berbeda.
"Aku tak bisa mengatakan apapun selain doa untuk keluarga kecilmu. Aku pun sangat berterimakasih karena sudah berada di sisiku dari kita remaja sampai berkeluarga, momen berharga ini tak akan pernah aku lupakan. Jaga dirimu baik-baik disana ya" Tya menyeka air mata Roma dan begitu pula sebaliknya.
Mereka melepaskan pelukan perpisahan itu. Lalu Tya berjalan menuju Zoeya, ia mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan gadis kecil tersebut.
"Anak baik, ini untukmu simpanlah uang ini. Tumbuhlah menjadi cantik dan jadilah sukses di sana ya" Tya mengecup pipi dan kening Zoeya sebagai bentuk perpisahan mereka.
Zoeya menggangguk kecil dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Tya, kemudian tangannya di gandeng sang Ayah untuk masuk kembali ke dalam mobil.
"Zoeya" panggil Rafael untuk pertama kalinya menyebut nama gadis itu. Seketika Zoeya berhenti dan menoleh ke belakang.
"Aku belum meminta maaf padamu, jadi.. maafkan aku soal rambutmu dan permen karet itu" ucap Rafael dengan nada menyesal.
"Aku sudah memaafkanmu"
Mereka terdiam lagi, Rafael pikir itu sudah cukup tapi ia merasa masih ada yang harus dikatakan. Namun Rafael tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Karena keduanya sama-sama terdiam, Zoeya pun berpikir obrolan mereka sudah selesai dan ia akan membuka pintu mobilnya. Tetapi lagi-lagi Rafael menghentikannya.
"Tunggu" Zoeya berbalik lagi menatap Rafael.
"K-k-kita teman?" Ucap Rafael terbata-bata ia penasaran dengan jawaban Zoeya.
Zoeya memberikan senyumannya dan mengangguk.
Rafael tersenyum lebar, ia begitu bahagia "Sungguh? Teman?" Ia menyodorkan jari kelingkingnya seperti membuat janji, gadis itu juga memberikan jari kelingkingnya dan ia menautkannya dengan jari kelingking Rafael.
"Teman"
Dan pertama kalinya mereka saling memberikan senyuman manis dari keduanya untuk pertemanan mereka.
Perpisahan mereka berakhir dengan suatu ikatan pertemanan yang tulus dan tersemat di hati serta jari kelingking mereka. Zoeya pergi dengan menggenggam coklat pemberian Rafael. Rasanya ia tak mau memakannya karna hanya itu satu-satunya kenangan dari temannya Rafael.
Di dalam mobil, ia menangis sambil memeluk coklat itu. Padahal baru 5 menit mobilnya melaju keluar dari pekarangan rumah Rafael tapi ia sudah merasa rindu bermain dengan Rafael. Meskipun kalau bermain yang ada hanya saling mengumpat dan bertengkar, tapi justru pertengkaran itulah hal utama yang membuatnya rindu.
"Hati-hati di jalan Zoey" ucap Rafael sendiri melihat halaman rumahnya sudah kosong tak ada mobil Zoeya.
Zoeya melihat ke arah belakang yang tak ada apa-apa disana hanya ada beberapa pengendara motor di belakang. Ia merasa ada yang memanggilnya tapi tak ada siapapun.
"Ada apa nak?" Tanya Roma yang tak sengaja melihat putrinya itu selalu melihat ke belakang.
"Tidak ada apa-apa Bu" sahutnya lesu tak bersemangat.
"Jangan sedih begitu sayang, nanti kapan-kapan kita bisa berkunjung kemari lagi kok" ucap Zaid menghibur putrinya.
Mata gadis kecil itu berbinar seketika semangatnya kembali lagi. "Sungguh?" Tanyanya senang, dan Zaid pun mengiyakan. Zoeya akhirnya kembali tersenyum, ia memeluk coklat di tangannya. "Hey coklat, nanti aku akan bertemu lagi dengan pemilik mu dan aku akan membawamu juga"