![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Kala itu matahari terbenam, langitnya yang berwarna jingga begitu indahnya dalam pandangan mata. Rafael dan Zoeya menikmati pemandangan luar biasa itu meskipun keduanya basah kuyup.
"Yuk pulang, dingin" ajak Rafael sambil menyilangkan kedua tangannya, ia juga mengusap-usap telapak tangannya kala merasakan hembusan angin semriwing yang membuat bulu keteknya berdiri. Zoeya mengangguk kecil mengiyakan ajakan Rafael. Lagipula mereka berdua sudah cukup bermain untuk hari ini.
Keduanya pun jalan beriringan ke arah jalan setapak tadi yang mereka lalui, saat memasuki hutan Zoeya seketika merinding dan juga agak takut karena suasana sudah mulai gelap ditambah mereka berdua basah kedinginan. Saking dinginnya gadis itu menempel pada Rafael, kini tidak ada jarak antara mereka. Rafael sendiri melirik sekilas kearah Zoeya kemudian menatap kembali ke depan.
"Dingin ya?" gadis itu mengangguk dengan tubuh yang sudah menggigil. Melihat itu Rafael jadi khawatir Zoeya sakit.
"Peluk saja lenganku, sebentar lagi kita sampai" ucapnya. Zoeya mendongak untuk melihat ekspresi Rafael namun pria itu malah berekspresi biasa saja dan datar, karena Rafael sendiri tampak tak keberatan, Zoeya memberanikan diri memeluk lengan kekar pria itu.
Sedikit keras mungkin karena pria ini suka berolahraga tapi terasa nyaman, entah mengapa rasa takut tadi langsung menghilang. Apa berada di dekat pria ini membuatnya merasa aman? Zoeya sendiri tak tahu kenapa ia merasa seperti itu. Beberapa saat mereka berdua sampai di vila dan hari sudah gelap, Rafael menutup pintu belakang dan juga menguncinya.
Karena mereka berdua basah kuyup jadi harus mandi lagi. Rafael di kamar mandi bawah sedangkan Zoeya di kamar mandi atas. Mereka pun berpisah tanpa obrolan lagi karena suasana jadi terasa canggung sekali. Dalam kamar mandi mereka merenungkan kejadian hari ini.
"Harusnya tadi aku tidak usah memeluk lengannya, dasar Zoeya bodoh" batin Zoeya sambil merutuki dirinya sendiri sesekali ia memukul pelan tembok kamar mandi. Sedangkan di sisi lain Rafael juga sedang berada di bawah shower merasakan air hangat yang mengalir dari kepala sampai ujung kaki.
"Apa seharusnya tadi aku memeluknya? aku juga kan kedinginan" batin Rafael yang berbanding terbalik dengan kebatinan Zoeya.
"Tapi hari ini dia sangat manis" batin mereka berdua serempak meskipun di tempat yang berbeda. Tanpa sadar wajah Zoeya merona, pipinya terasa panas.
"Haduh apasih yang aku pikirkan" ujarnya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya. Begitupun dengan Rafael yang telinganya memerah, ia langsung buru-buru menyalakan air dingin untuk mendinginkan kepalanya.
Setelah puas mereview kejadian-kejadian tadi, Zoeya pun akhirnya selesai membersihkan dirinya. Dan rupanya di kamar sudah ada Rafael yang terbaring di ranjang sibuk dengan ponsel genggamnya. "Cepat sekali dia mandi" gumam gadis itu sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Alih-alih fokus pada layar ponselnya sekarang Rafael mencuri-curi pandang sesekali ia memperhatikan wajah Zoeya yang entah kenapa semakin menarik baginya. Zoeya memang cantik sedari dulu, matanya yang terkesan sayu namun tajam, bibirnya yang tipis, dan hidungnya yang mancung.
Dulu saat pertama kali bertemu, dirinya memang sedikit tertarik dengan Zoeya, makanya saat kerja Rafael senang menggoda Zoeya. Tanpa sadar Rafael tersenyum, bibirnya tergerak sendiri begitu saja.
"Cantik" gumamnya memuji Zoeya. Karena Zoeya tidaklah budeg dan masih bisa mendengar meskipun samar karena Rafael bergumam, ia pun langsung menoleh ke arah sang sumbernya.
"Apa kau bilang?" tanya Zoeya dengan wajah heran.
"Hah? aku tidak bilang apa-apa" sahutnya yang memang tak sadar tadi mengucapkan apa saat melamun.
"Aku mendengar kau bergumam" kata Zoeya dan Rafael membuang wajahnya, sepertinya ia mengatakan sesuatu yang ada di otaknya. Ia pun memukul pelan bibirnya yang tidak bisa dikontrol itu.
Zoeya menautkan kedua alisnya tanda ia heran dengan kelakuan sang suami. Karena Rafael tak mau menjawab, ia pun membiarkannya. Zoeya lanjut mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Rafael terus memperhatikan setiap gerakan gadis itu, matanya seakan tak ingin melepaskan pandangannya. Zoeya yang sudah selesai pun melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.
"Kau mau makan malam?" tanya Zoeya dan mendapat anggukan dari sang suami.
"Baiklah aku panaskan lauknya dulu" gadis itu berjalan keluar dari kamar.
Lagi-lagi Rafael jadi gelisah ketika membiarkan gadis itu sendirian. Pesan dari dokter Meghan dan juga kejadian naas kemarin membuatnya berpikir bisa saja Zoeya melakukan sesuatu yang berbahaya atau ia tertimpa marabahaya. Karena musibah tidak pernah ada notifikasinya.
Ia pun langsung bangkit dan berlari menyusul istrinya ke dapur. Zoeya yang sudah di dapur dan akan menyalakan kompor di kejutkan dengan kedatangan Rafael yang berlari kearahnya, pria itu langsung mendorong Zoeya menjauh dari kompor.
Rafael tak menggubris ocehan istrinya itu, ia malah sibuk memeriksa tabung gas, selangnya, dan juga kompornya. Setelah dirasa aman, Rafael mempersilahkan kembali Zoeya untuk menyalakan api.
"Apa-apaan sih kau ini, tidak ada masalah kok. Kenapa kau jadi berlebihan begini"
"Aku hanya mengecek kembali, takutnya ada masalah" sahutnya enteng.
Gadis itu mendengus pasrah, terserah suaminya itu mau melakukan apa. Sekarang ia mulai memanaskan lauknya sembari mengambilkan nasi untuk sang suami. Rafael sendiri bersandar pada meja pantry dapur sambil terus menatap Zoeya.
"Zoey apa kau masih ingin menyerah dengan hidupmu? apa tidak ada sesuatu yang berharga bagimu di dunia ini" Rafael memulai obrolan mengungkit hal-hal yang bisa di bilang agak sensitif. Lirikan mata Zoeya beralih padanya, tak ada marah ataupun tatapan tajam dari gadis itu.
Justru Zoeya nampak tengah berpikir tentang apa yang suaminya itu bahas. "Entahlah, aku rasa tidak ada lagi yang berharga bagiku. Ayahku tiada, Ibuku juga tiada"
"Tapi kau hidup Zoey. Setidaknya hiduplah demi dirimu sendiri, kalau dipikir-pikir tidak ada yang lebih berharga dibanding diri sendiri" tutur Rafael dan hanya mendapat balasan senyuman tipis dari sang istri.
"Kenapa reaksimu begitu? benarkan apa yang kubilang? jika kau tidak sayang pada dirimu maka kemari berikan organ tubuhmu akan kujual semuanya ke pasar gelap" Zoeya tertawa mendengar selorohan suaminya itu, jahat sekali pikiran Rafael yang ingin menjual organ istrinya sendiri.
"Tertawalah seperti ini setiap hari. Aku lebih baik melihat kau tertawa ataupun kesal dibanding harus melihat dirimu murung dengan tatapan kosong"
Seketika Zoeya menghentikan tawanya, dan menatap pria itu keheranan.
"Rafael aku bingung padamu, beberapa bulan yang lalu kau menggebu-gebu ingin mengusirku dari hidupmu. Hari itu aku memutuskan akan pergi selamanya, aku ingin menuruti keinginanmu. Tapi kau malah mencegahku, sebenarnya apa mau mu?" tanya Zoeya dengan nada rendah, seperti seseorang yang lelah.
"Tapi aku tak ingin kau mati. Aku ingin mengusirmu bukan berarti kau harus pergi dari dunia ini." jawab Rafael menatap Zoeya lekat.
"Lihat betapa menyedihkannya aku, suamiku ingin mengusirku tapi ketika aku ingin menghilang saja dari dunia, suamiku tak membiarkannya, bukankah kau sangat egois Rafael?" ujarnya balik menatap suaminya itu dengan nada sendu.
Mendengar perkataan Zoeya, Rafael jadi tertunduk diam. Ia merasa bersalah karena pernah melontarkan kata-kata jahat seperti itu. Zoeya pun memilih melanjutkan pekerjaannya ia menaruh makanan yang tadi ia panaskan di atas meja makan dan membiarkan Rafael yang termenung di sana.
"Maaf" satu kata yang berhasil terucap dari mulut pria itu.Rupanya ia tadi mengekori Zoeya dan kini dirinya sudah berada di samping sang istri.
"Coba ulangi lagi" pinta Zoeya. Alih-alih menurutinya Rafael lebih memilih duduk dan memakan hidangan yang ada di meja.
"Aku tak akan mengatakannya lagi" sahutnya dengan mulut yang penuh.Zoeya menduduki kursi di samping Rafael,ia menopang dagunya dan menatap lekat.
"Ayolah aku ingin mendengarnya lebih jelas,ayo katakan lagi" pintanya lagi sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
Melihat tingkah Zoeya yang seperti itu sontak membuat Rafael jadi tersedak. Ia buru-buru meminum air di gelasnya. Rafael seperti terkena serangan jantung karena tiba-tiba Zoeya bertingkah imut begitu.
"Kenapa telingamu memerah?" celetuk Zoeya saat melihat telinga sang suami.
"A-aku sudah selesai" Rafael bangkit berdiri dan buru-buru pergi dari sana.
"Padahal baru makan beberapa suap, kenapa buru-buru begitu. Apa dia sedang diet" gumamnya sambil melihat Rafael yang sudah menaiki tangga sambil mengelus dagunya ala Pak kyai. Padahal pria itu tidak memiliki jenggot sama sekali.