Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 19 [Air sungai yang memelukku]



Zoeya yang tengah menikmati semilir angin itu membuka matanya karena ponselnya berdering, ia pun mengambil ponsel dan mengangkat panggilan itu yang tertera nama Ibu disana. Rupanya Ibunya itu menelfonnya, mungkin karena khawatir dengan Zoeya karena ini pun sudah malam. Roma selalu saja khawatir kalau sudah malam begini, maklum namanya juga anak perempuan pasti orang tua selalu was-was takut terjadi apa-apa di jalan.


"Halo Ibu" kata Zoeya dengan nada hangatnya seperti biasa. Namun yang menyahut itu bukan suara ibunya,


"Halo nak Zoeya ini Bu Rt komplek. Maaf ya kalau kurang sopan menelfon dari ponsel ibumu. Tetangga rumah sebelahmu menemukan Bu Roma tergeletak di teras rumah, sebaiknya Zoeya cepat pulang ya Nak" suara wanita yang katanya Bu Rt itu terdengar tenang dan tidak panik. Namun lain dengan reaksi Zoeya.


Tentu saja gadis itu terperanjat kaget, ia sangat panik mendengar kabar Ibunya yang pingsan.


"T-tante tolong jaga Ibuku sampai aku datang, aku akan segera pulang. Kalau kondisi Ibu parah Tante bisa langsung bawa ke rumah sakit ya, aku mohon bantuannya"


Bu Rt yang mendengar permintaan Zoeya langsung mengiyakan dan mematikan panggilannya, gadis itu berniat untuk berpamitan pulang pada Rafael. Namun sayangnya ia di cegah oleh Lusiana yang sudah berdiri di depannya.


Entah sejak kapan Lusiana sudah mengikutinya Zoeya tak mau peduli dan memilih tak menghiraukan kehadiran Lusiana, sekarang di pikirannya hanya ingin cepat-cepat pulang dan menemui Ibunya.


"Mau kemana?" Tanya Lusiana sambil menahan lengan Zoeya. Nampaknya Lusiana tak mendengar apapun saat dirinya sedang bercakap di telefon. Zoeya memutar bola matanya malas dan membuang nafasnya kasar.


"Aku harus pergi! Aku tak ada waktu berbicara denganmu, lepaskan!" Lusiana semakin kencang menggenggam lengan Zoeya, ia bahkan memelintir tangan Zoeya ke belakang tak berniat melepaskan sekretaris kekasihnya itu.


Zoeya sedikit meringis, ia benar-benar tak mengerti apa maksud dari wanita atasannya itu. "Aku harus bertemu Rafael! Ini penting, biarkan aku pergi" ujarnya menatap Lusiana tajam. Lusiana tak ingin kalah dan terus berjalan maju yang otomatis membuat Zoeya berjalan mundur.


"Aku tak peduli apa urusanmu, harusnya kau tahu diri. Kau ini hanya sekretarisnya, kau tak perlu terlalu banyak ikut campur dalam hidupnya. Mengerti!?" Sentaknya.


"Aku menemuinya karena aku punya kepentingan! aku berada di sisinya karena memang ini pekerjaanku. Seharusnya kau tahu betul bagaimana bersikap profesional. Jangan bersikap kekanakan lepaskan aku!"


Lusiana semakin mengeratkan cengkramannya, tatapannya penuh amarah. Rasa cemburu benar-benar membuatnya tak ingin membiarkan Zoeya pergi.


"Kau terlalu banyak bicara! gadis kampungan sepertimu benar-benar terlalu berani melawanku. Mau itu pekerjaanmu! mau itu profesional! aku tak peduli, karena kau membuat Rafaelku lebih memperhatikanmu"


"Karena kehadiran mu! aku tak bisa berdansa dengan Rafael! Karenamu! Papinya tak menyukaiku! Dan karenamu! Rafael tak pernah memberitahu dunia bahwa akulah kekasihnya, dia selalu menyuruhku sembunyi agar tak dilihat Papinya. Kau tahu betapa sakitnya hatiku karena hal ini"


"Saat bersamaku Rafael tak ingin ada orang lain yang melihat kedekatan kami tapi saat dia bersamamu dia berani untuk menunjukkan kepada semua orang bahkan di depan keluarganya bahwa yang selalu berada disisinya adalah dirimu! Kau pikir ini salah siapa?"


Zoeya menautkan alisnya ia menatap Lusiana bingung, menurutnya alasan Lusiana tidak begitu masuk akal dan sangat konyol. Zoeya tak pernah melakukan apapun, kenapa wanita ini membencinya sampai seperti itu. Ia merasa sia-sia saja berdebat dengan wanita yang dilanda cemburu, "Yang terjadi padamu tidak ada hubungannya denganku! lepaskan aku sialan!" teriak Zoeya geram dan meronta sekuat tenaga.


Saat itu tubuh Zoeya tak bisa menjaga keseimbangannya dan membuat dirinya tak sengaja terpeleset, Lusiana yang ikut terkejut malah melepaskan tangannya dari Zoeya dan membuat gadis itu tercebur ke sungai yang arusnya lumayan deras. Suara air sungai yang riuh seperti ada benda yang terjatuh itu sontak membuat para tamu pesta jadi penasaran apa yang terjadi di dekat sungai itu. Beberapa dari mereka ada yang keluar namun mereka lebih memilih melihat dari kejauhan saja, dan ada juga yang tak terlalu memperdulikan.


Kebetulan Lais yang saat itu tengah mengambil minuman jadi ikut penasaran dengan suara itu. Mungkin hanya Lais lah yang paling berani untuk benar-benar keluar gerbang dan berjalan ke arah sungai yang tak terlalu jauh dari kediaman itu. Ketika Lais sudah dekat ia mendapati Lusiana dengan wajah pucat pasi dan diam mematung.


"Hey Lusi ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Lais, lalu melihat kearah air sungai.


"Apa ada seseorang yang tercebur?" Sambungnya lagi.


Lusiana masih diam membisu dengan wajahnya yang pucat, Lais pun langsung mengerti bahwa pasti ada yang tak beres. Lais jadi bingung dengan situasi karena Lusiana tak mau menjawab apapun, kemudian matanya itu tak sengaja melirik ke bawah dan menemukan sebuah ponsel tergeletak tak jauh dari Lusiana. Ponsel itu retak namun terlihat masih bisa di gunakan. Ia pun memungutnya.


Lais memeriksanya, saat itu Rafael muncul dan melihat sekeliling dengan wajah bingung.


"Apa yang terjadi Lais? Aku mendengar suara dari arah sini" Tanyanya pada Lais, Lais hanya merespon dengan melirik Lusiana. Sontak Rafael pun beralih melirik kekasihnya itu kebingungan.


"Kenapa wajahmu pucat? Kau habis lihat hantu?"


Lais menggeleng pelan, dan memberitahu dugaannya bahwa sepertinya ada seseorang yang tercebur ke sungai. Ia juga tak ragu untuk memberikan ponsel yang ia temui kepada Rafael yang membuat tubuh pria itu seketika membeku. Ia tahu sekali siapa pemilik ponsel ini. "Zoeya" gumamnya pelan seraya menatap air sungai dengan arus yang tak bersahabat.


Zoeya POV


Ketika tubuh ini terjatuh dan masuk ke dalam air, aku merasa semuanya tak bisa kugerakkan. Tanganku, kakiku, kepalaku. Seluruh tubuhku seakan ingin aku terus dan terus tenggelam. Tubuhku di tarik begitu lekas oleh arus, air yang terasa dingin lambat laun menjadi hangat seolah ia tengah memelukku. Seolah aku bagian dari sungai ini. Aku tak mengerti kenapa tubuhku menolak untuk menyelamatkan diri.


Hening, begitu sunyi, begitu sepi. Sekelebatan bayangan seseorang mulai bermunculan. Seorang wanita, pria, dan seorang gadis kecil. Entah siapa mereka, aku tak mengenalinya. Lalu muncul lagi wajah wanita itu memeluk gadis kecil yang ketakutan. Aku bisa melihat ada banyak lebam di tubuh bocah itu. Kasihan sekali.


Kupikir mungkinkah ini ilusi di penghujung akhir hidupku? Kelebatan-kelebatan semua orang-orang yang tak kenal itu seolah film yang terus diputar berulang-ulang. Rasanya kepalaku sakit, sangat sakit. Siapapun tolong aku, aku tidak boleh mati. Ibuku membutuhkanku.


Dan akhirnya tubuhku berdebam dengan batu. Aku tak tahu ini di dasar sungai? atau di pinggir sungai? Aku tak mengingat apapun kecuali rasa sakit di tubuh dan kepalaku. Samar-samar aku mendengar suara seseorang.


"Zoeya anakku kau harus hidup dengan baik, kau adalah keberuntungan. Kau gadisku yang pemberani jangan pernah takut pada dunia, meskipun dunia begitu jahat padamu. Ibumu akan selalu bersamamu"


"Panggilkan ambulans!!" Teriak Rafael memberi perintah, ia mendekap tubuh dingin nan pucat Zoeya dengan erat, ia juga menyelimuti Zoeya dengan jasnya meskipun akhirnya jasnya ikut basah juga. Segera Zoeya ia bopong untuk menuju ke tempat yang hangat.


Ternyata selama Zoeya tenggelam, Rafael terus mencari keberadaannya dengan memerintahkan semua teman lelakinya dan juga para pelayan pria di kediamannya untuk mencari di sepanjang sungai itu. Hampir sejam lebih mereka semua menyusuri sungai, Rafael sengaja tak meminta bantuan polisi. Toh para tamu ini sudah cukup ia gunakan dulu untuk berusaha, kalau mereka semua sudah menyerah baru Rafael menghubungi pihak yang dapat membantu pencarian.


Dari raut wajahnya pria itu terlihat begitu khawatir, sesekali ia menggosokkan tangan Zoeya yang dingin. Ia pun melakukan pertolongan pertama yaitu dengan melakukan tindakan CPR atau resusitasi jantung paru pada Zoeya.


Akhirnya Zoeya bereaksi dengan mengeluarkan air yang tertelan itu. Melihat Zoeya bereaksi memuntahkannya membuat semua orang yang disana jadi lega sekali terutama Rafael ia sangat lega sampai tanpa sadar mencium tangan Zoeya seperti seorang suami yang khawatir dengan istrinya.


Lusiana yang melihat pemandangan itu membuang wajahnya kesal dan memutuskan pergi dari sana dengan langkah lebar. Lais yang ditabraknya itu jadi terheran, "Dasar wanita aneh, main tabrak tabrak aja. Dia pikir aku ini makhluk halus yang bisa dia tembus" batin Lais sambil menggosok-gosok lengannya yang tadi di tabrak.


"Ael itu ambulans nya udah dateng, ini jadi di bawa ke rumah sakit tidak?" ujar Arga yang muncul dengan nafas ngos-ngosan, wajar saja ia berlari dari gerbang sampai ke ruang tamu dengan jarak yang begitu jauh.


"Tunggu dulu El, bukankah kita semua memiliki mobil. Kenapa kita tidak langsung saja naik mobil menuju rumah sakit dan tak perlu menunggu ambulans" celetuk Lais yang memang baru kepikiran.


Rafael juga setuju dengan Lais, kenapa dirinya itu bisa lupa bahwa ia memiliki mobil bahkan semua tamu ini datang dengan mobil mewah mereka. Kenapa semua orang disini malah mendadak lupa bahwa mereka semua orang kaya.


"Dasar kalian semua payah! Kita kan jadi membuang waktu, kenapa baru kepikiran setelah ambulansnya datang" dumelnya meneriaki semua orang.


Sedangkan Lais dan Arga sudah tak bisa menahan ngakak, saking paniknya semua orang tiba-tiba jadi pikun dan bodoh berjamaah. "Yah sudah terlanjur, yasudah kita naik ambulans saja" ujar Rafael dan membopong Zoeya kembali.


Dan akhirnya Zoeya masuk ke dalam Ambulans dibantu oleh dua orang medis dengan Rafael yang ikut di dalamnya. Lais dan Arga juga malah ikut-ikutan masuk yang membuat Rafael frustrasi.


"Kenapa kalian ikut masuk? Keluar sana! Jaga rumahku" usir Rafael.


"Lho? Tapi kami mau ikut" rengek Lais sambil menggoyangkan lengan Rafael.


"Jangan bikin susah! Sana keluar! Atau aku lempar kalian berdua" ancamnya kesal, ingin rasanya Rafael mengobrak-abrik dunia saking kesalnya. Gadis itu menggeliat pelan, tidak ada yang menyadarinya karena Rafael dan Lais sibuk bertengkar. Bahkan supir ambulansnya pun malah sedang di manja oleh Arga. Maksudnya sedang diberikan minum kopi agar tidak ngantuk saat perjalanan.


"I-ibu" gumam Zoeya lirih, karena badannya masih lemas. Rafael pun langsung menoleh kearah Zoeya yang tengah berbaring. Ia langsung mendekatkan dirinya,


"Zoeya kau sudah sadar?" Rafael menggenggam tangan Zoeya erat.


"Kau sih berisik banget, kan pasiennya jadi sadar" celetuk Lais menyalahkan Rafael.


"Bukankah bagus jika pasien sudah sadar?" Sahut supir ambulans ikut-ikutan.


"Lho iya juga, yasudah kita tak jadi ke rumah sakit. Ayo El turun angkat Zoeya lagi" suruh Lais enteng dan turun duluan dari mobil itu. Ia tak mengerti saja bagaimana harus membopong tubuh seorang gadis lari kesana-kemari dalam rumahnya yang begitu luas. Rafael sudah seperti olahraga lari sambil angkat beban.


"Jadi ini kalian mempermainkan saya?" Celetuk supir ambulans dengan ekspresi merajuk. Rafael menggeleng, dirinya memang tak berniat menuruti Lais. Ia ingin Zoeya di periksa di rumah sakit takutnya ada sakit yang tidak ia ketahui.


"Jalan saja Pak, saya tetap mau ke rumah sakit" jawab Rafael. Dan supir pun menurutinya. Pintu Ambulans ia tutup dan mobil itu melaju dengan sirene nya.


"Hey kok kalian berangkat, aku kan mau ikut" teriak Lais yang berada di gerbang, Arga yang ternyata masih di dalam Ambulans itu menjulurkan lidahnya meledek Lais karena ia di izinkan Rafael ikut, yah meskipun Rafael terpaksa mengiyakan karena tak mau menunda lagi.


"Sialan dasar pilih kasih, aku juga mau ikut" Lais hanya bisa gigit jari melihat ambulans itu sudah melaju kencang menuju jalan raya.


Di dalam mobil itu Rafael masih menggosokkan tangannya dengan tangan Zoeya untuk menyalurkan kehangatan. Ia jadi merasa bersalah dengan sekretarisnya itu karena perbuatan Lusiana. Untuk kedua kalinya dirinya menemukan Zoeya tergeletak di pinggiran sungai. Yang pertama di saat mereka kecil dan yang kedua kejadian sekarang.


Zoeya membuka matanya perlahan dan ia dapat melihat wajah Rafael samar-samar berada di dekatnya. Ia masih teringat soal Ibunya dan pesan dari Tante yang menelfonnya untuk segera pulang.


"T-tolong ibuku" ucap Zoeya yang terdengar seperti bisikan. Rafael mendekatkan telinganya untuk mendengar lebih jelas apa yang ingin di sampaikan gadis itu.


"Tolong ibuku" ucapnya sekali lagi. Rafael merogoh ponsel Zoeya yang ia bawa di kantongnya.


"Kau mau aku menelfon ibumu?"


Gadis itu menggeleng pelan, baru saja ia akan mengucapkan sesuatu tapi lagi-lagi kepalanya sakit. Sangat sakit. Kelebatan-kelebatan semua bayangan muncul lagi. Terutama bayangan gadis kecil yang berpelukan bersama wanita di mobil dengan wajah mereka yang ketakutan, Zoeya tak mengerti apa maksud kelebatan semua ini.


Aaargh erang Zoeya memegangi kepalanya yang terasa seperti akan meledak. Rafael yang melihat itu semakin khawatir dengan kondisi Zoeya, untunglah Rafael mengambil tindakan yang tepat untuk membawa Zoeya ke rumah sakit. Sebisa mungkin ia menenangkan gadis itu dengan mengelus kepala Zoeya.


"Bertahanlah Zoey, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"