Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 17 [Tamu ilegal]



Tama tersenyum simpul kemudian beralih menatap Zoeya sambil tersenyum hangat. Sontak Rafael langsung menarik tangan Zoeya untuk berdiri di belakangnya.


"Sampai bertemu lagi" ucap Tama pada Zoeya diiringi senyum smirknya dan lambaian tangan. Tampak dari raut wajah Rafael begitu kesal melihat sang Kakak.


Ia pun langsung menarik Zoeya untuk masuk ke kamarnya sambil mengoceh. "Kau pikir kau bisa bersantai hah? Aku sudah menunggumu dari tadi" omelnya sembari menyeret Zoeya.


Zoeya hanya bisa diam dengan memanyunkan bibirnya, harusnya saat mengecek tadi dirinya tak perlu masuk. Ia pun melihat sekelilingnya nampak kamar yang hampir sama seperti kamar yang tadi ia masuki, bedanya kamar yang ini lebih berantakan. Ia celingukan mencari keberadaan Rafael, padahal tadi kan dirinya di seret kemari tapi Rafael malah menghilang begitu saja setelah melepaskan tangannya.


Ia pun berjalan-jalan mencari Rafael dan gadis itu mulai memasuki walk in closet. Nampak di sana Rafael tengah melepaskan jubah mandinya dan hanya menyisakan boxernya saja.


"HEY K-KENAPA KAU KEMARI" Teriak suara kejantanan Rafael, ia buru-buru memakai jubah mandinya lagi. Zoeya mengerjapkan matanya menatap Rafael bingung, karena daritadi matanya sibuk menatap keindahan kamar ini jadi ia tak melihat apapun.


"Dasar gadis mesum" tuding Rafael.


Zoeya mengerutkan keningnya, "Aku? Aku tak melihat apapun" jawabnya polos.


Rafael mendengus kesal, "Ah sudahlah sana keluar" usir Rafael sambil mengkibaskan tangannya.


Zoeya tambah bingung, sebenarnya dirinya disuruh kemari itu untuk apa. "Tujuanmu menyuruhku kemari untuk apa?" Tanya Zoeya pada pria di hadapannya itu.


"Oh iya juga, aku menyuruhmu kesini untuk apa ya? Yasudah carikan saja kemeja dan jas untukku kalau kau mau sekalian dengan jam tangan dan dasinya, aku akan mengambil sesuatu dulu" titahnya kemudian Rafael pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Zoeya sendirian di sana.


Gadis itu mulai memperhatikan setiap benda yang berada di sana, sangat elegan. Ia benar-benar terkesima dibuatnya.


"Haduh dasar mata miskin, ayolah berhenti mengagumi dan lakukan pekerjaan!" Zoeya mengucek matanya lalu mulai mengambil kemeja dan jas yang menurutnya cocok dipakai Rafael.


Ia memilihkan jas slimfit berwarna grey dengan kemeja putih disertai dengan dasi yang senada.


"Sudah selesai?" Ujar Rafael dengan membawa sebuah kotak di tangannya. Ia pun membuka kotak tersebut dan menyerahkannya pada Zoeya.


Gadis itu menerima kotaknya bingung, "pakailah gaun itu untuk ke pesta" jelas Rafael lalu ia mengambil pakaian yang tadi sudah di pilihkan oleh sekretarisnya itu. Zoeya bergeming tatapannya menatap gaun itu dengan ragu.


"Dipakai! Kau tak dengar perintahku?"


"Kenapa harus kupakai? Aku sudah memakai gaunku yang ini" sahut Zoeya seraya melirik gaun yang ia kenakan.


"Aku mau kau memakai apa yang kuberikan, sana bersiap di kamar mandi"


Zoeya menggeleng cepat "Tidak bisa, ini terlalu mahal"


"Kau tinggal pakai saja apa susahnya, kau pun tak kusuruh untuk membayarnya kan?"


Gadis itu kembali terdiam, Rafael ada benarnya juga tapi gaun tersebut terlihat mahal. Zoeya jadi takut untuk memakainya. Kenapa juga pria ini repot-repot memberikannya gaun. Kesabaran Rafael yang hanya setipis tisu itu langsung menyeret Zoeya ke kamar mandi lalu menutup pintunya.


"Jangan keluar sebelum kau memakai gaun itu!"


Gadis itu hanya bisa mendengus pasrah, Pria itu sangat keras kepala. Zoeya pun memakai gaun tersebut dengan terpaksa. Ketika gaun bergradasi putih dan grey itu melekat pada tubuhnya. Zoeya menyukainya.


Sangat cantik dan anggun, tapi bolehkah dirinya menerima semua hal ini?


Kini Zoeya dan Rafael sudah siap untuk pergi ke pesta. Mereka berdua nampak serasi saat bersebelahan. Dalam perjalanan ini mereka berdua menaiki mobil yang sudah Hansel atur. Kalau saja Hansel membebaskan Rafael untuk datang sesukanya, mungkin ia akan menaiki motor kesayangannya dan membuat gadis itu duduk kembali di jok belakangnya.


"Kau sudah make-up?" Tanya Rafael karena ia merasa wajah sekretarisnya itu terlihat polosan saja.


"Aku sudah make-up kok, ini aku buat terlihat natural" jawabnya santai.


"Dasar gadis payah, apa kau tidak peduli dengan penampilanmu? Kita ini mau ke pesta, coba kulihat di tasmu kau membawa apa"


Gadis itu menyerahkan tasnya pada Rafael, langsung saja pria itu memeriksanya dan ia pun menemukan liptint milik Zoeya.


"Setidaknya ini lumayan bisa membantu" batinnya, ia pun memerintahkan Zoeya untuk duduk lebih dekat dengannya.


"Kemari, akan kuperbaiki riasanmu"


Gadis itu menatap heran namun tetap ia menuruti perintah Rafael.


"Memangnya kau bisa?" Tanyanya meragukan pria di hadapannya. Rafael tak menjawab karena sibuk mengoleskan sedikit liptint di kedua pipi Zoeya.


"Benda ini bisa sebagai perona pipi, tinggal di tap tap saja dan di ratakan"


Zoeya yang mendengar penuturan Rafael jadi tertawa, tidak ia sangka atasannya itu pintar juga dalam bidang riasan.


"Kenapa kau tertawa?" Tanyanya heran.


"Bukan apa-apa" sahut Zoeya berusaha membungkam mulutnya dan mencoba melakukan apa yang tadi Rafael sampaikan.


Mobil mereka pun berhenti di sebuah bangunan hotel. Saat mereka membuka pintunya, pijakan mereka sudah berada di atas karpet merah yang mewah. Rafael mulai melangkahkan kakinya, ia mengangkat wajahnya menunjukkan wibawanya. Sedangkan Zoeya berada di belakang Rafael.


Saat mereka berdua telah memasuki aula pesta, semua mata tertuju kearah mereka. Bahkan ada pula yang langsung menyapa Rafael untuk sekedar basa-basi ataupun untuk menjilat.


Dari kejauhan Zoeya melihat Tya dan Hansel tengah berbincang dengan para tetamu. Rafael yang melihat hal itu juga langsung mau menghampirinya tapi di tengah jalan mereka di cegah oleh seorang wanita. Yang ternyata ia Lusiana.


"Lusi kau disini?" Tanya Rafael nampak terkejut dengan keberadaan kekasihnya.


"Iya, aku disini. Surprise! Kau suka?"


Rafael tersenyum canggung dan mengusap tengkuknya seraya melirik ke arah Zoeya. Zoeya yang dilirik Rafael pun jadi tak paham, kenapa pria itu meliriknya.


"Tapi.. bagaimana bisa?" Tanya Rafael lagi penasaran, karena tak mungkin Papinya yang sangat galak itu mengundang Lusiana dengan senang hati. Ia menduga bahwa kekasihnya itu pasti menjadi tamu ilegal.


"Bisa dong! Aku meminta ayahku untuk memalsukan undangan dan ta~da~ aku disini" jawab Lusiana enteng dengan wajahnya yang gembira. Rafael tersenyum kecut dan mengelap keringatnya.


Rafael memberi isyarat pada Zoeya untuk menemui kedua orang tuanya dulu tanpa dirinya. Dengan wajah yang agak terpaksa ia pun mengangguk pelan dan menuruti perintah.


Zoeya membiarkan Tuannya itu bersama dengan kekasihnya dan melangkah menuju Hansel dan Tya.


"Tuan Nyonya Khurana, selamat atas keberhasilan pembangunan hotel baru anda" sapa Zoeya ramah, Hansel dan Tya pun menyambut sapaan Zoeya dengan senyuman hangat.


"Terimakasih, tapi sebetulnya acara ini untuk kepulangannya Tama tapi yang Zoeya katakan juga tidak salah kami membuat acara ini jadi sekaligus"


"Ah begitu, maafkan saya yang tidak mengetahuinya"


"Hais anak ini, Zoeya ini kan di luar kantor kau sudah berjanji akan memanggilku Uncle kan?" ujar Hansel mengingat obrolan mereka beberapa waktu lalu.


Zoeya mengangguk sopan,


"Baik Uncle, sekali lagi selamat" Tya tersenyum dan memeluk Zoeya, begitu pun dengan Hansel.


"Oh iya kemana Rafael? tadi aku lihat kalian berdua datang bersama" Tanya Tya sambil celingukan mencari putra bungsunya.


"Emm Rafael sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya sebentar, jika sudah selesai dia akan menyusul kemari"


Untungnya Hansel dan Tya mempercayai alasan Zoeya dan memilih membiarkan putranya, toh mereka juga sudah melihat Rafael tadi. Yang terpenting anak itu hadir.


Zoeya akhirnya bisa bernafas lega, kalau saja dirinya itu tidak berbaik hati maka ia pasti akan beberkan soal kedatangan tamu ilegal tersebut. Hansel mengajaknya untuk menemui Tama yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Zoeya pun mengikuti Hansel di belakang bersama dengan Tya yang mengajaknya mengobrol ringan.


"Tama, perkenalkan ini Zoeya. Sekretaris Rafael sekaligus anak sahabat Mamimu" ujar Hansel memperkenalkan Zoeya.


Tama dan Zoeya pun berjabat tangan dan saling memberikan senyuman.


"Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya Papi" ucap Tama seraya melirik Zoeya.


"Oh begitu, bagus sekali jika kalian sudah saling mengenal. Silahkan kalian berdua mengobrol dulu, aku dan Mamimu ada hal penting sebentar"


Tama mengangguk pelan, Hansel dan Tya pun meninggalkan mereka berdua. Zoeya merasa canggung berada di sana, mereka berdua sama-sama terdiam. Sedangkan di tempat lain, Rafael masih berurusan dengan Lusiana.


"Sayang tolonglah pergi dari sini, aku sudah mempersiapkan pestaku sendiri. Kita akan pergi bersama-sama nanti, ayolah jangan mempersulitku. Kalau sampai Papi tahu aku pasti akan dihajarnya" bujuk Rafael buru-buru sembari melihat sekitar takutnya ada yang melihatnya.


Lusiana hanya cemberut mendengar permohonan Rafael. Ia pun akhirnya setuju dengan wajah terpaksa.


"Baiklah aku tak akan ke pesta itu, tapi aku akan menunggumu ya. Emm tapi.. aku sembunyi dimana agar tidak ketahuan?"


Rafael mengacak rambutnya frustasi, "Terserah, mau di semak-semak, kolong jembatan, atau bahkan lubang ular. Yang terpenting kau tidak dilihat oleh Papiku oke? Aku harus pergi, kau harus sembunyi ingat ya. Bye"


Dan Rafael pergi begitu saja meninggalkan Lusiana sendirian di sana. Ia memasuki aula pesta itu dan celingukan mencari sekretarisnya, dari kejauhan nampak gadis itu tengah mengobrol dengan Kakaknya diiringi senyum dan tawa. Rafael yang melihat itu keheranan, kenapa bisa Zoeya bersama Kakaknya kan tadi ia menyuruh Zoeya menemui Papi dan Maminya bukan Tama.


"Zoeya" panggil Rafael, gadis itu pun langsung menoleh kearah yang memanggilnya. Zoeya berpamitan pada Tama dan pergi menghampiri Rafael disana. Dengan ekspresi yang terlihat kesal Rafael langsung menarik tangan Zoeya dan menaruhnya di lengannya.


Gadis itu kebingungan, kenapa Rafael menaruh tangannya di lengannya. Bukankah ini berlebihan? Batinnya heran.


"Kenapa kau menggandengku?" Tanya Zoeya dan pria itu tak ada niat untuk menjawab. Tiba-tiba lampu dimatikan dan alunan musik mulai terdengar.


"Kedatanganku ternyata tepat waktu, ayo kita berdansa" ucap Rafael pelan dan mulai menaruh tangannya di pinggang Zoeya. Dan tangan Zoeya di arahkan pada pundak pria itu. Gadis itu hanya bisa mengikuti gerakan Rafael dan alunan musiknya, meskipun ia masih heran dengan tingkah pria di hadapannya ini.


"Kenapa kau tadi mengobrol dengan kakakku" Tanya Rafael bisik-bisik.


"Karena dia mengajakku mengobrol"


"Sejak kapan kalian dekat?"


"Baru-baru ini"


Rafael mengangguk mengerti, ia mulai mengubah gerakan dan membuat gadis itu berputar.


"Sangat bagus sekali" ujarnya dengan nada penuh penekanan. Ia terus membuat Zoeya berputar sampai hampir terjatuh dan Rafael menahannya. Kini mereka berdua saling beradu tatap.


"Jangan dekat-dekat dengannya lagi!"


"Kenapa jangan?" tanya Zoeya mengerutkan keningnya.


"Pokoknya jangan!" jawab Rafael semakin mendekatkan wajah mereka.


"Kenapa? alasanmu saja tak jelas bagaimana bisa aku menuruti perintahmu"


Rafael memalingkan wajahnya, ia langsung menegakkan kembali tubuh Zoeya dan menyudahi dansa itu.


"Aku sudah selesai absen wajah disini, sekarang ayo kita pergi" ajaknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari aula. Gadis itu kembali dibuat tak mengerti dengan sikap Rafael, entah apa maunya. Dirinya yang hanya seorang bawahannya hanya bisa menuruti saja.


Di luar hotel Rafael menelfon supirnya tadi yang mengantar mereka kemari, ia dan Zoeya pun menunggu mobil mereka sampai. Tak di sangka ternyata Lusiana sudah berada di samping Rafael dan memegang lengan pria itu. Rafael sempat terkejut, karena kedatangan Lusiana yang tiba-tiba. Tapi ia membiarkannya dan menganggap tak ada yang terjadi.


"Bukankah seharusnya kita berdua saja yang pergi El" celetuk Lusiana melirik sekilas Zoeya yang berdiri di belakang Rafael.


"Sekretarisku juga ikut, karena aku berangkat bersamanya dan pulang pun harus bersamanya. Tak mungkin aku meninggalkan dia sendirian di sini" jawab Rafael tegas, ia tahu maksud perkataan Lusiana yang secara tersirat mengusir Zoeya.


Lusiana pun menutup mulutnya, ia kesal karena lagi-lagi Zoeya berada di antara dirinya dan Rafael. Ia tak mengerti mengapa kekasihnya itu menganggap sekretarisnya begitu penting. Sedangkan kini raut wajah Zoeya begitu malas melihat kedua pasangan di depannya itu. Dirinya pun muak sekali karena lagi-lagi menjadi nyamuk. Lebih baik ia pura-pura saja tak melihat.


Mobil milik Rafael akhirnya tiba, kini pria itu bingung harus menempatkan tempat duduk mereka bagaimana. Dirinya yang di belakang bersama Lusiana atau Zoeya? Karna sangat tidak mungkin semisal dirinya duduk di depan bersama supir dan kedua wanita ini duduk di belakang.


Bisa-bisa mereka berdua jadi jambak-jambakan, bersilat lidah, tampar-tamparan, atau bahkan bunuh-bunuhan. Yah pokoknya jangan sampai mereka berdua duduk berdampingan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia mengambil keputusan.


Rafael duduk di belakang bersama Lusiana, dan Zoeya duduk di depan. Itulah keputusannya dan untungnya mereka berdua menerima dengan gembira, lebih tepatnya Lusiana yang gembira karena Zoeya tak terlalu mengambil pusing soal tempat duduk. Bahkan semisal Rafael menempatkannya duduk di samping Lusiana ia pun tetap menerima juga. Meskipun mungkin akan ada adegan dramatis dari Lusiana, apalagi kalau ada adegan action seperti bergulat dibelakang mungkin Zoeya akan lebih suka karena sudah lama ia tak berlatih bela diri dan Lusiana adalah lawan yang cocok untuk ia banting.