![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Lusiana terduduk diam bersandar pada kursi di kamarnya, tangannya menggenggam ponselnya sambil ia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh adiknya.
"Papa memberi perintah agar kau segera pulang."
Ketika mendengar itu, wajahnya muram. Ia langsung memutuskan panggilan, jika ia pulang pun tidak ada bedanya dengan menyerahkan nyawa pada sang Papa.
Namun ponselnya kembali bergetar, yang tandanya ada pesan masuk. Lusiana melihat itu pesan dari adiknya, Lucanno.
Perintahnya tidak bisa di tawar. Sebaiknya kau segera pulang jika tidak mau mendapat masalah.
^^^Aku tidak akan pulang.^^^
Aku sudah memperingatkanmu. Jangan salahkan aku, jika terjadi sesuatu.
Lusiana menelan salivanya, sekarang ia bingung harus melakukan apa. Haruskah ia pulang dan menemui Papanya, ataukah ia tetap berada disini bersama Tama. Lusiana kurang tahu apakah Papanya itu menyuruhnya pulang seorang diri ataukah bersama dengan suaminya. Ia pun kembali melihat ponselnya untuk bertanya pada sang adik.
^^^Lucan, aku ingin bertanya^^^
???
^^^Apa Papa sudah tahu bahwa aku dan Tama sudah menikah?^^^
Ya, kalau bisa pulanglah bersamanya.
^^^Baiklah aku akan pulang, tapi aku masih perlu waktu. Bolehkah?^^^
Lusiana menunggu jawaban dari Lucanno tapi tidak kunjung mendapat balasan. Ia jadi frustrasi sendirian karena menunggu jawaban dari sang adik. Sebenarnya adiknya itu niat tidak sih memberikan informasi.
...***...
"Hey, kenapa kau melamun begitu? banyak pikiran?" tegur Arga seraya menepuk bahu Rafael yang sedari tadi hanya melamun padahal kedua temannya berada di sana.
"Daritadi ku perhatikan raut wajahmu ini kecut sekali kelihatannya. Kenapa bro? ceritalah" timpal Lais sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Rafael menyudahi lamunannya lalu melirik Lais sinis, wajah tampannya ini di ejek kecut. Ia jadi merasa tak terima. "Kecut kecut ini wajah! bukan ketiakmu! pemilihan katamu buruk sekali ditelingaku" sahutnya ketus. Kedua temannya itu reflek tertawa mendengarnya.
"Sorry ketiakku wangi, nih cium" Lais mengangkat tangannya tinggi seakan memperlihatkan ketiaknya. Arga mendekat kearah Lais yang tengah berbaring itu, pria itu menggeser kaki Lais dan berhasil duduk di sofa meskipun yang menempel hanya ujung bokongnya saja.
"Geser sedikit lagi" pintanya tapi Lais tak mengindahkannya dan asik sendiri menggali emas di dalam hidungnya. Rafael menatap kedua temannya itu tajam, dua manusia ini entah untuk apa kemari mengganggu dirinya yang tengah bekerja.
"Kalian ini pulang saja sana! aku masih bekerja." usir Rafael seraya menunjuk pintu keluar dengan dagunya.
"Kita bertiga kan sudah lama tak bertemu. Aku ini kangen padamu lho~" sahut Lais memonyongkan bibirnya. Melihat itu ingin rasanya Rafael sentil bibir monyongnya Lais.
"Jijik. Jangan sampai pukulanku ini mendarat di bibirmu ya!" celetuk Arga mewakili isi hati Rafael.
"Makanyaaa carikan aku pacar" rengek Lais menggoyangkan lengan Arga. Entah apa hubungannya situasi ini dengan seorang wanita bagi Lais.
"Bukankah pacarmu sudah banyak? belum puaskah engkau?"
"Bosan. Aku butuh yang berbeda"
Rafael memegang pelipisnya pening. Makhluk yang satu ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
"Oh iya El dimana sekretarismu?" Tanya Lais membuat Rafael langsung memberikan tatapan elangnya.
"Kenapa?" tanya balik Rafael dengan intonasi yang tak ramah.
"Dia menarik lho, sekretarismu buatku saja ya. Daripada kau siksa mulu mending dia bahagia bersamaku"
Rafael memasang wajah galaknya, bahkan sekarang sepertinya ia mulai kesal.
"Oh berani sekali kau mau merebut istri orang"
Arga dan Lais menganga tak percaya, Zoeya sang sekretaris sudah menjadi istri orang? mereka berdua bertanya-tanya dalam hati siapakah pria yang bisa mendapatkan gadis cantik itu.
"Waduh sudah menikah dia? sama siapa? kapan? dimana? kok aku tidak di undang" cerca Lais dengan berbagai pertanyaannya.
"Iya El, masa aku tidak di undang! aku membantu dia juga lho sewaktu di rumah sakit" timpal Arga dengan wajah kecewa.
"Sengaja, karena mendadak" jawab Rafael seadanya.
"Serius? siapa sih suaminya? kasihan sekali dia menikah mendadak, pasti dijodohkan karena hutang ya? Sudah pasti suaminya itu om-om gendut, jelek, bau kambing" ujar Lais memperlihatkan raut wajah yang menyedihkan seakan ia turut prihatin perihal pernikahan Zoeya.
Rafael yang mendengar itu memicingkan matanya, Lais ini secara tersirat seperti menghinanya.
"Mulutmu ini ingin sekali ku kepang" sahut Rafael kesal.
"Lah yang ku katakan benar kan? biasanya yang menikah mendadak karena hutang itu suaminya jelek, dompet tebel, perutnya pun ikut menebal, suka korupsi, brengsek, bajingan yah semua keburukan ada padanya. Kau ini seperti tidak tahu saja" ujarnya dengan kekehan seakan ia tahu segalanya.
Entah mengapa semakin di dengar sepertinya Rafael semakin terhina. Entah Lais ini belajar darimana, bisa Rafael tebak Lais adalah korban sinetron.
"Sok tahu sekali kau! dia bukan menikah karena hutang. Suaminya tampan kok, cerdas, berkharisma, dia pria yang baik hati dan tidak sombong, tidak brengsek juga"
Nampak dari raut wajah Lais dan Arga tidak begitu percaya. Kenapa juga Rafael memuji suami sekretarisnya seperti itu, mereka jadi curiga.
"Baiklah, aku bosan. Mari kita main truth or dare" Lais mengerlingkan matanya pada Arga memberi isyarat.
"Yaaa mari kita main itu, sudah lama sekali kan. Ayo El gabung"
Rafael mengangguk pelan dan membiarkan teman-temannya itu bermain sembari ia membaca beberapa dokumen. Rafael tidak tahu saja dirinya sedang dibohongi oleh dua teman laknatnya yang memiliki rencana.
"Yahaha! Rafael kena! ayo pilih truth or dare" ucap Lais menunjuk Rafael, padahal ia tak melakukan apapun untuk memulai permainan. Rafael masih sibuk membaca, meskipun begitu Rafael masih mendengarkan teman-temannya dan ia memilih truth.
Rafael hanya memberikan anggukan yang berarti dirinya setuju dan masih tak lepas dari dokumennya.
"Oke siap? ini satu pertanyaan dan harus di jawab cepat" Arga memberi aba-aba. Pria itu kembali mengangguk mantap.
"Siapa nama istrimu?"
"Zoeya"
Lagi-lagi Lais dan Arga ternganga bersamaan. Sebenarnya mereka sudah curiga dengan sahutan Rafael yang memuji suami sekretarisnya padahal dia bukanlah tipe orang yang akan memuji ketampanan orang lain selain ketampanannya sendiri.
Rafael yang menyadari ada yang salah dengan pertanyaan tadi langsung menghentikan kegiatannya dan menatap teman-temannya dengan wajah panik.
"Bukan, mak-maksudku–" Rafael gelagapan.
"Wah inikah maksudmu? berkhianat kau pada kami. Selama ini kami menganggapmu seperti saudara sendiri, tapi lihat apa yang kau lakukan pada kami? Memberitahu saja tidak! apalagi mengundang kami" ujar Lais menunjukkan kekecewaannya.
Rafael menggaruk kepalanya, ia jadi pusing harus memberitahu mulai darimana. Tapi kawan-kawannya itu malah bangkit dan kelihatannya akan pergi dari ruangannya.
"Tunggu dulu, dengarkan ak–"
"Kecewa berat! cukup tau. Ayo Arga kita pergi" Lais menarik lengan Arga untuk keluar dari sana.
Mereka berdua merajuk sudah seperti wanita saja. Rafael yang malas untuk mengejar itu lebih baik membiarkan mereka pergi saja, ia juga jadi lega karena tidak ada yang mengganggunya. Tapi tiba-tiba pintu ruangannya kembali terbuka.
"Kok kami tidak dikejar sih?" Tanya Lais yang tiba-tiba memunculkan kepalanya.
"Malas ah lebay kalian berdua, pulang sana!" usir Rafael mengibaskan tangannya. Kewarasannya sudah menipis, setipis tisu karena ulah teman-teman anehnya ini.
"Oh gitu? fine, Ayo pergi Arga kali ini betulan!"
Arga yang memang sudah menunggu Lais hanya bisa mendengus pasrah, ia lelah sebenarnya dengan kelakuan manusia satu ini. Kemudian Lais berbalik badan tapi ia merasa seperti ada yang menarik bajunya.
"Lepaskan aku El! kau kan yang mengusir kami untuk pulang. Sudahlah aku sudah kecewa berat padamu" ujarnya masih terus menatap ke depan tanpa ingin menoleh.
Arga menutup mulutnya rapat-rapat, ia mulai mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen dramatis ini.
"Rafael lepaskan!! Hey Arga suruh Rafael melepaskan genggamannya di bajuku" titahnya pada Arga yang masih berusaha menahan tawanya.
Rafael melihat Lais masih berdiri di depan pintu entah kenapa temannya itu. Ia melihat ada baju yang menyelip, jadi Rafael berpikir mungkin Lais tengah kesulitan melepaskannya. Ia pun langsung membuka pintunya untuk menolong Lais.
Ketika Rafael membuka pintu dan memperlihatkan wajahnya. Lais jadi terkejut diiringi gelakan tawa Arga yang tak bisa ia tahan lagi, rupanya dari tadi yang menahan Lais adalah si pintu. Arga tertawa terpingkal-pingkal sampai terkentut-kentut, untung momen dramatis tadi sudah ia rekam.
"Arga sialan!!" umpat Lais yang wajahnya sudah memerah antara kesal dan juga malu. Rafael menatap kedua temannya bingung, ia tak tahu apa yang ditertawakan oleh Arga. Mungkin kalau Arga beritahu rekamannya itu pasti Rafael pun ikut tertawa terpingkal-pingkal juga.
Mungkin jika dikantor ada makhluk random seperti mereka tapi kalau di kediaman Khurana coba tebak ada siapa?
"Mamiii aku habis beli makanan bersama Cadh Bibi. Mami mau coba tidak?"
"Makanan apa itu nak?" Tanya Tya ketika melihat menantunya menenteng sebuah plastik yang berisikan entah bungkusan apa.
Zoeya pun langsung mengambil piring di dapur sedangkan Tya menunggu Zoeya di meja makan.
"Ini Mami aku beli nasi kucing" nampak Tya terkejut sekali mendengarnya kala Zoeya sudah berada di sampingnya seraya membawa piring.
"Astaga Zoeya apa katamu kucing? Ya Tuhankuuu, siapa yang menjualnya? Jahat sekali hatinya"
Zoeya mengedipkan matanya beberapa kali karena tak mengerti mengapa Tya bereaksi seperti itu.
"Enak lho Mam, kenapa begitu? penjualnya ramah sekali kok tadi dia tidak jahat" sahut Zoeya sambil memberikan jempolnya menyengir kuda.
Tapi sesaat kemudian Zoeya baru mengerti apa yang dimaksud oleh Tya. Ia pun menghilangkan senyumannya.
"Mami sebenarnya ini nasi kucing yang seperti ini" Zoeya mulai membuka bungkusan tersebut dan Tya malah membuang mukanya, ia tidak sanggup.
"Mami lihat dulu! ini nasi biasa tak ada kucingnya" Zoeya memiringkan kepala Tya untuk membiarkannya melihat bungkusan nasi tersebut. Tya menelisik makanan yang dibawa Zoeya dengan tatapan tajam.
"Benar ini tidak ada daging kucingnya?" tanya Tya polos.
"Ya tidak lah! Mami ada-ada saja."
Akhirnya Tya bisa bernafas lega, untung saja ia tidak jadi lapor polisi.
"Mami ini sudah menjadi orang kaya jadi lupa dengan makanan rakyat biasa" celetuk Zoeya sambil memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya, mertuanya itu memberikan ekspresi sendunya.
"Iya Mami sudah lupa nih padahal dulunya dari kalangan rakyat jelata. Ayo Zoeya ajarkan Mami jadi rakyat jelata"
Zoeya tersenyum sumringah, "Wah boleh sekali, siap kita menjalankan misi sebagai rakyat jelata" Tya jadi sangat bersemangat untuk menantikan hal apa lagi yang akan Zoeya bawa.
"Mami tidak mau coba? ini enak lho, oh iya dimana Cadh Bibi cepat sekali dia menghilang"
"Paling Cadh Bibi di paviliun. Kau makan saja dulu" Zoeya mengangguk kecil menanggapinya.
Beberapa saat kemudian Tya dan Zoeya sudah mengisi perutnya. Mereka berdua memiliki rencana lain lagi yaitu mengunjungi Roma, Tya sendiri yang memantaunya itu mengatakan bahwa Roma baik-baik saja karena melakukan terapi. Ia akan melakukan apapun demi sahabatnya untuk bertahan hidup.
Zoeya langsung memeluk Tya dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih. Tya juga mengusap kepala Zoeya lembut, rasanya Tya seperti memiliki seorang putri sekarang. Dulu ia sangat menginginkan memiliki anak perempuan dan saat ini mimpinya terwujud meskipun lewat menantunya.
Lusiana yang tak sengaja melihat pemandangan mertua dan menantu itu jadi iri dengki, ia tampak tak senang.
"Harusnya aku yang dimanja! bukan gadis itu! padahal aku sedang mengandung cucu pertama Keluarga ini, tapi orang-orang disini malah mengabaikanku. Sialan!"