Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 46 [Mimpi]



Lusiana tertegun, ia tak menyangka Lucanno adiknya melakukan hal keji itu demi memfitnahnya. Ia sama sekali tak mengerti jalan pikir dari Papahnya dan adiknya itu.


"Aku tak paham kenapa kalian melakukannya." Lusiana memberikan sorot mata dingin pada sang adik.


"Kau memang tak perlu memahami kami kak, sudah kan? Aku pergi ya" katanya dan bangkit dari duduknya, Lucanno pun melenggang pergi dari kamar Lusiana dengan tangan yang sudah ia masukkan ke dalam sakunya.


...---...


Cinta ya..


Aku tak mengerti definisi cinta itu seperti apa


Sedari aku remaja, aku belum pernah sekalipun merasakan keromantisan


Tapi apakah perasaan yang menggelitik ini adalah cinta?


Rasanya seperti ada kupu-kupu di perutku, tapi terkadang aku juga jadi mulas.


Bukan ingin berak, hanya mulas saja kalau di dekat dia.


Hmm Rafael? Cinta? Tidak mungkin.


Tangannya yang lentik baru saja menghentikan kegiatannya barusan. Rupanya Zoeya tengah menulis curhatan kecilnya di note ponsel. Sudah dua jam dirinya berusaha untuk tertidur, namun pikirannya belum ingin ke alam mimpi.


Lain halnya dengan Rafael yang sudah ngorok brutal di sofa sana. Suaranya begitu bising menambah dukungan agar Zoeya tetap terjaga.


"Buku diaryku sudah tentu habis terbakar. Aku ingin beli lagi" gumam Zoeya sendiri seraya menarik selimutnya untuk menutupi kepalanya. Udaranya semakin dingin, bahkan suara gemuruh pun mulai bersahutan.


Gadis itu membuka kembali selimutnya, sekadar memeriksa apakah pria itu masih tertidur pulas. Zoeya memposisikan tubuhnya untuk duduk karena suara guntur yang kencang mengagetkannya. Perlahan tapi pasti air hujan turun mengguyuri bumi.


Tak tanggung-tanggung mereka membawa kawan-kawannya untuk memeriahkan derasnya hujan ini. Kilatan petir pun turut hadir di buntuti suara guntur yang menggelegar. Zoeya menutup telinganya seraya memejamkan matanya ketakutan.


"Semoga jangan mati listrik, Ya Tuhan tolonglah aku" batin gadis itu sambil mengatupkan kedua tangannya. Sayangnya doanya tidak diijabah, seperkian detik ketakutan yang di rasakan Zoeya muncul tanpa aba-aba. Listrik padam seketika dan langsung membuatnya menjerit keras karena terkejut. Teriakan Zoeya yang tak kalah menggelegar dari gemuruh itu langsung bisa membuat Rafael bangun dari alam mimpinya.


Rafael ikut terkejut kala melihat sekelilingnya sudah gelap gulita ditemani suara hujan yang begitu derasnya. Pria itu buru-buru bangkit dari sofa dan menghampiri Zoeya yang terlihat sangat ketakutan. Sontak Rafael langsung mendekapnya erat untuk memberikan rasa aman padanya.


"Ssshh gapapa aku di sini" ucapnya menenangkan Zoeya, bisa ia rasakan betapa gemetarnya tubuh gadis ini dalam pelukannya.


"Aku takut.. hiks ibu.." gumam gadis itu yang sudah berderai air mata. Rafael tak bisa melakukan apapun selain menenangkan Zoeya dengan mengelus lembut rambut panjangnya. Istrinya itu pasti sangat trauma dengan listrik yang padam karena kematian Roma.


"Aku ada di sini, jangan khawatir lagi oke? Ayo tidurlah lagi" ujar Rafael berniat membaringkan tubuh Zoeya, namun istrinya itu menolak dan tetap memeluknya erat. Kejadian-kejadian malam naas itu kembali teringat lagi olehnya, ingatannya mulai tumpang tindih dengan ingatan masa kecilnya.


"Ra-rafael kepalaku.. ughhh" Zoeya memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Pandangannya mulai berkunang-kunang.


"Ada apa? Ada apa denganmu Zoey?" Rafael tampak begitu panik, gadis itu tak menjawab apa-apa selain meringis kesakitan.


"Apa kepalamu sakit? Sini aku pijatkan" Rafael mengarahkan Zoeya untuk merebahkan kepalanya di pangkuannya. Tangannya itu mulai memijat lembut pelipis Zoeya.


"Jangan memikirkan kejadian itu lagi. Pikirkan saja kenangan yang baik" ucap pria tersebut dengan nada yang terdengar khawatir.


"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya Rafael sembari menundukkan kepalanya. Gadis itu hanya menggeleng pelan, mereka berdua malah jadi saling pandang beberapa menit.


"Zoeya maaf" kata Rafael yang membuat gadis itu tersadar dan langsung membuang wajahnya. Zoeya langsung bangkit membelakangi Rafael.


"Untuk apa kau minta maaf?" Tanya gadis itu dan mempertajam pendengarannya.


"Karena a-aku.. sudah kelewat batas" sahut Rafael dengan suara pelan. Alhasil Zoeya jadi kesal kembali, pria ini sebenarnya niat tidak sih meminta maaf.


Lantas Zoeya menghadapkan tubuhnya tepat di depan Rafael. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu" jawab gadis itu ketus. "Kau harus memaafkanku!" Rafael nampak memaksa dengan tangannya yang sudah memegang pundak Zoeya. Gadis itu jadi terkaget mendapati Rafael jadi brutal begini.


"Kau ini kenapa sih El?"


"Aku juga tak tau, aku tak mengerti kenapa aku begini. Makanya maafkan aku okey?" Zoeya tak bisa melakukan apapun selain menatap Rafael keheranan. Setelah mengatakan itu, Rafael menunduk diam. Ia juga mulai menaruh kepalanya di pundak Zoeya seolah pria itu membutuhkan sandaran.


"Aku tak tau ada apa denganku, setelah melihat kau tergeletak di antara kobaran api rasanya jantungku berhenti berdetak. Dan saat aku melihatmu akan lompat dari jendela rasanya hidupku pun akan tamat. Aku jadi takut kalau meninggalkanmu sendirian dan kau melakukan hal yang berbahaya. Tolong jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi Zoey" jelasnya dengan sungguh-sungguh, kini pria itu terlihat seperti anak kucing yang tengah ketakutan.


Zoeya akhirnya tahu mengapa akhir-akhir ini Rafael banyak berubah perilakunya, sempat terbersit bahwa semua kekhawatiran Rafael adalah cinta. Tapi Zoeya juga berpikir Rafael trauma karena kejadian beberapa waktu lalu. Rafael sendiri saja tidak tahu perasaan seperti apa itu apalagi Zoeya yang tidak tahu apa yang dirasakan Rafael.


Gadis itu pun mengelus kepala Rafael untuk menenangkannya. Padahal dirinya sendiri takut karena kegelapan tapi entah mengapa ia merasa Rafael lebih ketakutan dibanding dirinya. Semalaman hujan lebat terus mengguyuri bumi kala itu, sebagai saksi bisu antara dua insan yang saling berpelukan untuk mencari kehangatan.


Zoeya pun sudah mulai mengantuk, matanya yang seketika berat tak bisa melakukan apapun selain merem melek saja. Dalam setengah sadar itu Zoeya memimpikan gadis kecil ringkih dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Zoeya sendiri turut merasakan sakitnya yang amat luar biasa, padahal ia dalam alam bawah sadar.


"Zoe~ jangan takut masih ada Bunda di sini" bisik suara seorang wanita, Zoeya merasa asing namun entah mengapa ia seperti sangat menyukai suara bisikan tersebut.


"Putriku yang cantik~ kemari aku kepangkan rambutmu" ucapnya lagi penuh lemah lembut. Gadis kecil di dalam mimpinya itu menghamburkan dirinya kepelukan sang wanita. Tubuhnya yang lebam dengan beberapa luka gores seolah tak terasa lagi sakitnya kala melihat gadis kecil ringkih tersenyum lebar.


Matanya yang berbinar-binar disertai senyuman polosnya entah mengapa membuat wanita tersebut menangis terisak. Ia peluk erat tubuh ringkih bocah malang itu, sesekali ia kecup kedua pipinya dengan sayang. Zoeya dapat merasakan betapa sayangnya wanita itu pada sang gadis kecil.


"Bunda kenapa?" Tanyanya polos dan mendapat respon gelengan kepala dari wanita yang di panggilnya Bunda. Rasanya Zoeya ikut terbawa arus melihat interaksi keduanya namun sayangnya dalam mimpi itu ia tidak bisa melakukan apapun selain menjadi penonton.


Latar tempatnya berdiri kini telah berubah, tiba-tiba saja Zoeya dapat menyaksikan seolah berada di balik layar mengapa gadis kecil tadi bisa memiliki luka lebam. Jawabannya adalah seorang pria memukulinya dengan sebuah rotan tanpa ampun, tatapannya dipenuhi kebencian yang amat sangat jelas terlihat.


Melihat kondisi gadis kecil yang sudah tak berdaya itu rasanya Zoeya ingin sekali menolongnya, hatinya ikut tercabik kala melihat tubuh kecil terbaring meringkuk seakan melindungi dirinya meskipun hal yang dilakukan sia-sia.


Zoeya dapat merasakan perih, sedih, dan sakit tepat dengan luka-luka yang diterima gadis kecil itu. Namun ia tak bisa melakukan apapun sama seperti keadaan bocah kecil tersebut. Ia hanya bisa menangis dengan harapan pria jahat itu berhenti memukulinya.


"APA YANG KAU LAKUKAN!! JANGAN SAKITI ANAKKU" Teriak wanita tadi marah, bahkan tak segan melayangkan bogem mentah pada pria jahat yang menganiaya seorang anak kecil. Keadaan menjadi tak terkendali saat wanita dan pria tersebut saling melayangkan pukulannya.


Entah kenapa Zoeya sakit hati sekali melihat pertengkaran keduanya. Ia frustrasi sendiri karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk membantu. Berkali-kali ia berusaha teriak, namun tetap saja seolah mereka semua tidak mendengar teriakannya. Kali ini Zoeya ingin mencoba lagi berteriak, tapi bukannya orang-orang tadi mendengar melainkan Zoeya membuka matanya dan mimpinya langsung buyar seketika.


Nafasnya tersengal, keringat dingin mengucur dari pelipisnya, mimpi yang terasa begitu nyata masih terngiang-ngiang dalam pikiran. Bahkan nampaknya pakaian tidur yang ia kenakan sudah basah karena keringatnya. Zoeya melirik Rafael yang masih berada di sampingnya rupanya ia sudah tertidur pulas.


Zoeya menghela nafas panjang, antara lega dan bingung dengan mimpinya barusan. Bagaimana bisa ini hanya mimpi biasa, terpikir olehnya bahwa ini bukan sekadar mimpi melainkan ada sesuatu dibaliknya yang belum ia ketahui.


"Siapa mereka semua? Kenapa aku merasa ada kaitannya denganku?"