![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Rafael sampai di kediamannya, ia melihat semuanya sudah bersih dan kembali seperti sedia kala. Namun tidak ada orang sama sekali, senyap, hanya ada suara jam dinding saking sunyinya di sana. Ia menduga bahwa pelayan di rumahnya mungkin diberi cuti oleh Papinya.
Rafael tak terlalu mengambil pusing, ia tetap melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan badannya dan berganti pakaian. Saat ia membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat Papi berada di kamarnya.
"Pa-papi" ucap Rafael terbata. Hansel menoleh ke belakang melihat putra bungsunya tertegun di depan pintu.
"Habislah! Tamatlah riwayatku" batin Rafael yang sudah pasrah, ia tetap berdiam diri disana. Ia tak mau melangkah mendekati Papinya.
"Kenapa kau diam saja disana? Kemarilah" titah Hansel dengan suara beratnya. Kala itu yang Rafael rasakan seakan ia mendengar perintah dari seorang Baginda raja, Rafael pun langsung menurutinya.
Hansel tersenyum pada putranya, ia juga mengelus pelan pundak Rafael.
"Putraku.. sudah tumbuh dewasa secepat ini serta menjadi kebanggaan keluarga Khurana. Aku selalu memimpikan bahwa suatu hari nanti kau akan lebih bersinar dengan tetap menjaga kehormatan keluarga ini"
"Tapi kini aku pun sadar semakin kau dewasa, semakin kau terbang tinggi. Kau bisa memilih pasanganmu sendiri, kau bisa menentukan hidupmu."
Rafael tak mengerti kenapa Papinya tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Apa maksudnya Pi?"
Hansel hanya memberikan senyumannya yang Rafael tak mengerti apa maksud senyuman itu.
"Aku ingin putraku Rafael naik jabatan. Kau akan menjadi CEO di perusahaan"
Rafael membuka matanya lebar-lebar serta senyuman bahagia terlukis di wajah tampannya, ia tak menyangka Papinya itu akan menaikkan jabatannya.
"Really!? Wahh Papi i love you" kata Rafael seraya memeluk Papinya. Hansel ikut bahagia melihatnya, putranya itu memang layak menerimanya. Rafael sudah bekerja keras selama ini.
"Papi ingin kamu bersinar seperti Kakakmu, aku tahu sekali kemampuanmu"
Deg.. seketika Rafael teringat perannya. Ekspresinya berubah, beberapa detik yang lalu ia sangat gembira sekarang senyuman itu hilang berganti dengan wajah yang datar. Rafael melepaskan pelukannya, ia sedikit terpaksa menyunggingkan senyumnya agar Hansel tak curiga.
"Papi.. aku sangat sangat sangat senang sekali. Tapi setelah kupikirkan sepertinya aku belum terlalu siap, aku akan menerima jabatan itu nanti. Bolehkah?"
Hansel sedikit kecewa mendengarnya tapi ia juga harus menghormati keinginan putranya, Hansel pun menganggukkan kepalanya yang berarti ia menyetujui permintaan Rafael.
"Thank you Papi~" ucap Rafael manja yang membuat Hansel tersenyum geli. Hansel menepuk pelan pundak Rafael dan akan melangkahkan kakinya keluar dari kamar putranya. Tapi sebelum itu, Rafael memanggil Papinya kembali karena penasaran kenapa Papinya berada di kamarnya.
"Tunggu sebentar Papi"
Hansel berhenti dan menoleh kembali ke belakang, tangannya yang masuk ke dalam saku celana dan masih berdiri tegak merupakan gaya khas sang Papi.
"Sebenarnya Papi ke kamarku untuk apa?" Tanyanya hati-hati.
"Hanya membersihkan sampah yang tak seharusnya ada" sahutnya dengan senyumannya yang tak bisa ditebak, kemudian Hansel pergi begitu saja. Rafael semakin dibuat kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari berpikir tentang sampah apa yang dibuang Hansel.
Ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Rafael memakai pakaian santainya. T-shirt berwarna putih dengan celana pendek di bawah lutut berwarna coklat muda. Rafael juga mengambil beberapa dokumen di meja kerjanya.
Tiba-tiba Papinya itu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu, Rafael kembali bertanya-tanya kenapa Papinya kemari lagi.
"Ada apa Pi?" Tanyanya.
"El apa kau bisa ke kantor cabang di daerah selatan. Ada beberapa masalah di sana"
"Sekarang?"
Papinya itu mengiyakan.
Rafael terdiam sejenak memikirkannya. Jika dirinya sekarang pergi ke sana lalu bagaimana dengan Zoeya. Entah mengapa dipikirannya hanya ada Zoeya, dan juga Rafael tadi bilang pada gadis itu akan datang nanti malam.
"Maaf Papi.. aku tidak bisa. Aku malam ini sudah ada janji"
"Yasudah kalau begitu, Papi akan menelfon Kakakmu saja dan menyuruhnya ke sana"
"Iya Papi, maaf" ucap Rafael sedikit bersalah. Hansel memberikan senyumnya seakan mengatakan tidak apa-apa kemudian ia keluar dari kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam sesuai apa yang tadi ia katakan pada Zoeya, Rafael berangkat ke rumah sakit sambil membawa tentengan buah-buahan untuk Roma serta makanan untuk Zoeya dan Maminya. Takutnya mereka belum makan. Rafael juga membawakan beberapa pakaian untuk gadis itu kenakan.
Setelah di perjalanan beberapa menit dan ia sampai di ruangan rawat inap, Rafael diberitahu bahwa Roma berada di ruang ICU lagi karena kondisinya yang memerlukan ventilator. Rafael jadi ikut khawatir mendengar cerita ini dari Maminya.
"Zoey, makanlah dulu" ujarnya dan duduk di samping Zoeya. Gadis itu hanya menggeleng.
Rafael lirik-lirikan dengan Tya, pria itu memberi isyarat agar Maminya mau membujuk Zoeya. Namun Tya juga sama halnya memberi isyarat pada Rafael bahwa dia saja yang membujuknya. Pria itu menelan salivanya bersiap mengeluarkan jurusnya untuk membujuk gadis di sampingnya.
Tapi Zoeya sudah keburu menatapnya dan menyambar makanan di tangannya. Ia mulai menyuapinya ke dalam mulutnya tanpa dibujuk ataupun di suruh Rafael. Melihat hal itu Rafael tersenyum lebar, dirinya jadi tak perlu repot-repot kalau begini.
Tiba-tiba muncul perawat yang memberitahukan kondisi Roma yang terus memanggil-manggil nama Zoeya dan ternyata Roma sudah diperbolehkan untuk dijenguk, tetapi yang boleh masuk hanya satu orang saja. Zoeya diperbolehkan menjenguk ibunya, ia pun dengan senang hati untuk masuk ke sana sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku disana.
Setelah ia masuk dan melihat kondisi Ibundanya lagi-lagi rasanya Zoeya hampir mati, lagi-lagi ia harus melihat ibunya di ambang kematian ini. Hatinya sakit, sakit sekali. Seolah takdir belum puas memberikan luka saat kepergian ayahnya sekarang ia harus melihat ibunya juga terbaring tak berdaya disana. Anak mana yang tak sedih melihat Ibunya dipasangkan alat-alat yang membuatnya untuk tetap hidup.
Kalau Zoeya bisa, ia ingin sekali menggantikan posisinya dengan Ibunya. Gadis itu meraih tangan Roma, ia mengusapnya perlahan.
"Ibu bertahanlah sedikit lagi, aku mohon" ucapnya sendu. Roma yang memang sudah sadar hanya bisa diam dan mendengarkan putrinya. Ia juga berharap dirinya bisa bertahan sebentar lagi, namun sepertinya kondisi tidak mendukung keinginannya.
"Ibu.. aku sudah memutuskan untuk memenuhi keinginan ibu kan? Apa ibu tidak ingin melihat putri ibu menikah? Apa ibu mau meninggalkanku sekarang?"
Roma meneteskan air matanya, dirinya itu benar-benar tak tega melihat putrinya begitu putus asa. Hati Roma juga ikut sakit mendengar perkataan Zoeya.
"A-aku sudah memilih calon suamiku, aku sudah memilihnya. Saat aku kecil ibu bilang akan ada pangeran yang akan menjemput putri ibu ini. Aku tak tahu dia pangeranku atau bukan, tapi aku memilihnya karena dia adalah pria yang baik. Apa ibu tidak mau melihat putrimu ini menikah dengannya?"
"Apa ibu benar-benar tak mau melihatku memakai gaun pengantin yang cantik"
Roma semakin banjir dengan air mata, kini ia membuang wajahnya karena tak sanggup lagi melihat putrinya.
"Ibu tahu.. pria itu adalah Rafael, seperti yang Ibu inginkan. Rafael, putranya Aunty Tya. Ibu akan berbesanan dengannya. Apa ibu tak mau merayakannya bersama Aunty Tya?"
Kali ini tangisan Roma antara ia sedih namun juga bahagia mendengar calon suami putrinya tak lain dan tak bukan adalah Rafael. Ia sangat berharap Rafael bisa menjaga Zoeya dan melindunginya.
Sekarang Roma menatap ke arah Zoeya lekat-lekat.
Zoeya lebih mendekat untuk mendengarkan apa yang ingin Ibunya itu sampaikan. "Ra-rafael" ucapnya dengan suara lemah.
"Ibu tidak perlu bicara,ibu masih lemah begini. Apa ibu mau bertemu Rafael?Jika iya kedipkan mata ibu sekali, jika tidak ibu diam saja" Roma mengedipkan matanya sekali yang berarti ia ingin bertemu Rafael.
"Baiklah, ibu tunggu sebentar" gadis itu menyeka air matanya.
Zoeya keluar dari sana, ia melihat Rafael dan Tya masih menunggu di luar. Langsung saja Zoeya menghampirinya.
"El.. ibu ingin bertemu denganmu" Zoeya tak berani menatap mata Rafael, sebentar lagi Rafael akan mengetahui bahwa dirinya sudah mengingkari janji mereka. Zoeya tak punya pilihan lain, selain memilih Rafael sebagai calon suaminya.
Rafael mengangguk mengerti, ia pun masuk ke ruangan tersebut dengan aturan-aturan yang harus di taati. Ia tak membawa handphonenya dan menitipkannya pada Zoeya. Sekarang yang menunggu di luar adalah Zoeya dan Tya.
Rafael mulai masuk ke dalam, nampak di sana ada Roma yang terbaring lemah. Rafael turut sedih melihatnya, ia pun mendekati Roma perlahan. Ia juga tak ragu untuk meraih tangan Roma.
"Aunty aku disini" sapanya tersenyum hangat.Dari matanya yang berbinar-binar, Roma tampak senang sekali dengan kedatangan Rafael.
"Te-terimakasih s-sudah mau menjaga Zoeya" Rafael masih belum mengerti apa maksud dari Roma, tapi ia tetap mengangguk kecil meresponnya.
"Itu bukan apa-apa Aunty, tentu saja aku akan menjaganya" sahutnya sopan.
"Zoeya bi-bilang dia memilihmu, terimakasih nak sekali la-lagi"
Rafael sangat terkejut mendengarnya, kilas balik soal perjanjiannya. Pertemuannya tadi bersama Zoeya mulai berkelebatan di kepalanya. Mengapa? Mengapa Zoeya melakukan ini? Mengapa Zoeya memilihnya?
"Aku hanya ingin berterimakasih padamu. Tolong jaga putriku dengan baik" pintanya sambil mengusap pelan tangan Rafael. Pria itu tersenyum paksa, ia masih syok dan tak menyangka dengan kenyataan bahwa Zoeya mengingkari janji pertemanan mereka. Perasaannya campur aduk, kecewa, sedih, amarah semua menjadi satu.
Daripada ia terus berada di sini dan tak bisa mengontrol emosinya, Rafael pun berpamitan untuk keluar dari ruangan. Roma mengizinkannya dan membiarkan Rafael pergi. Saat tubuhnya sudah membelakangi Roma, seketika ekspresinya berubah.
Sorot matanya berkaca-kaca bercampur amarah menyatakan betapa kecewanya Rafael, kalau Roma sudah mengatakan hal seperti itu. Bagaimana bisa dirinya mengelak dan mengatakan hal buruk soal putri yang sangat dicintainya. Apalagi Roma sakit parah, ia masih punya hati nurani untuk tidak mengatakan hal sebenarnya.
Rafael menutup pintu ruangan itu hati-hati, ia melihat Maminya dan Zoeya masih menunggunya di sana.
"Nak.."
"Aku lelah Mam, aku ingin pulang saja" sela Rafael ketika Maminya memanggilnya. Tya terdiam sejenak dan akhirnya mengizinkan Rafael pulang. Pria itu berpamitan pada Maminya dan langsung melengos seperti menganggap Zoeya tak ada di sana.
"Nak, bawalah Zoeya pergi juga bersamamu" titah Tya seraya memegang pergelangan tangan putranya, namun Rafael menolaknya dengan beralasan bahwa ia kemari membawa motor Kawasaki nya yang memang tak bisa untuk 2 orang. Tya terlihat agak kecewa, tapi ia juga bisa apa kalau begitu. Dan akhirnya Rafael pergi tanpa melirik sedikitpun kearah Zoeya. Melihat saja ia tak ingin apalagi membawanya pulang.