![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Manusia-manusia apa yang terpeleset? Jawabannya Rafael Khurana. Zoeya yang berteriak kencang itu bukan karena Rafael mendekatinya dan berhasil masuk ke bathtub. Melainkan ia terpeleset dan terjatuh di lantai alhasil Zoeya yang terkejut berteriak dengan kencang. Bahkan suaranya jauh lebih kencang dibanding tubuh Rafael yang mencium licinnya lantai.
Dengan keluhannya yang nampak kesakitan, Rafael berusaha bangkit berdiri sebab istrinya itu tak ada sedikitpun ingin membantunya, teriakannya saja yang kencang tapi tubuhnya masih mendekam di dalam bathtub. Meskipun ia tahu jika istrinya membantu tubuh aduhai Zoeya tak terselamatkan lebih baik Zoeya memikirkan dirinya dahulu.
"Kau ini tak ada inisiatifnya membantuku berdiri" celetuk Rafael seraya menggosok-gosokkan bokongnya yang terasa nyut-nyutan.
"Mau bantu bagaimana? Aku keluar dari sini dan memperlihatkan tubuhku begitu maksutmu? Lebih baik aku menyelamatkan tubuhku sendiri daripada membantumu" jawab Zoeya memutar bola matanya dengan ekspresi tak merasa bersalah. Wajah tanpa dosanya itu, jadi semakin menjengkelkan di mata Rafael.
"Oh begitu ya, baiklah. Jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan sehelai kain" Rafael mencari jubah mandi ataupun handuk milik Zoeya, ia tak peduli dengan teriakan Zoeya yang memanggil namanya untuk menghentikannya.
Semakin gadis itu berteriak semakin bersemangat Rafael mencarinya. Dan akhirnya jubah mandi milik Zoeya ia temukan dan sudah berada di tangannya.
"Ahaa~ aku menemukannya" ledek Rafael menenteng jubah itu dengan tawa jahatnya.
"JANGAAAN! IYA IYA AKU SALAH TIDAK MEMBANTUMU, KEMBALIKAN!"
"Sowwy menantu kesayangan, jubah mandi ini akan kubawa keluar. Bubyee~" Rafael keluar dari kamar mandi tersebut dengan jubah mandi milik Zoeya di tangannya.
"Rafael!!! Keterlaluan!! Awas kau ya brengsek!!" Pekik Zoeya dengan wajah yang memerah akibat kesal.
Pria itu berniat untuk mandi di bawah saja dan jubah mandi milik Zoeya ia taruh di ranjang agar Zoeya mengambilnya kembali, itupun kalau Zoeya berani. Tapi kini ia terdiam mematung ketika membuka pintu dan melihat wanita yang tak ingin ia temui sudah berada di depannya. Rafael pun hanya memberikan ekspresi dinginnya,
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dengan nada tak suka.
Lusiana terdiam sejenak dan berusaha meraih tangan Rafael tapi tak berhasil karena Rafael menepisnya. Ia pun jadi tertunduk lesu, "Apa kau benar sudah menikah dengan Zoeya?" Tanyanya dengan nada sedih.
Sebenarnya Rafael malas mengobrol dengan wanita ini, tapi kalau tidak ia ladeni Lusiana tak akan pergi dari sini.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Kenapa kau menikahi gadis rendahan itu? Kau bilang kau belum siap memulai hubungan pernikahan saat aku mengajakmu serius, apa maksudnya El?"
Rafael memutar bola matanya malas, seperti ada rasa muak di hatinya. Lusiana ini sudah salah tapi malah menyalahkan orang lain.
"Oh jadi kau mau menyalahkanku karena rencanamu gagal ya? Kalau saja aku bersedia menikahimu pasti kau akan berbohong pada dunia bahwa anak yang kau kandung itu anakku." Cibir Rafael memberikan ekspresi julidnya. Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Lusiana, baru berjalan dua langkah Rafael kembali mundur.
"Setidaknya Zoeya lebih baik dibanding wanita licik sepertimu, kau bilang dia rendahan? Silahkan berkacalah dulu. Di rumah ini banyak sekali kaca, tapi kusarankan berkacalah di kaca ruangan tengah. Itu lebih cocok untukmu" Lusiana ingat ada kaca di ruangan keluarga yang terpajang sangat besar disana.
Setelah mengatakan itu Rafael menutup pintu kamarnya karena tadi ia lupa dan kembali melangkahkan kakinya menuruni tangga. Lusiana menatap punggung Rafael dengan ekspresi kesal, sekarang pria itu sudah tidak berada di pihaknya. Dan kali ini ia hanya bisa bersandar pada Tama. Meskipun begitu Lusiana masih ingin mencoba mendekati Rafael kembali.
"Dalam waktu singkat tak mungkin kau begitu saja melupakanku Rafael, aku akan membuktikannya nanti" gumamnya sendiri lalu pergi dari sana.
Sementara itu Zoeya yang masih ada di bathtub hanya bisa kebingungan dan frustrasi sendirian.
"Rafael sialan akan kubalas perbuatanmu nanti" gumamnya sendiri sambil memukul-mukul air sabun yang menutupi tubuhnya. Tiba-tiba Zoeya kepikiran bahwa air disini bukan hanya air dingin saja tapi ada juga air hangat. Mungkin ia akan berendam dan menikmati air hangatnya sebentar sambil memikirkan cara keluar dari bathtub.
"Hmm ini nyaman" ucapnya saat hangatnya air menyentuh kulit putihnya. Zoeya menikmatinya sambil memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu Rafael yang sudah rapih kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Namun ia jadi penasaran apa gadis itu sudah keluar dari kamar mandi atau belum.
"Yuhuuu apakah ada orang di dalam sini? Menantu kesayangan?? Halooo? Gadis pembohong??" Panggil Rafael, namun tidak ada sahutan. Pria itu semakin heran, Rafael pun berjalan menuju kamar mandi untuk melihat apakah Zoeya masih berada disana.
Dan betapa terkejutnya ia melihat Zoeya masih berada di bathtub dengan mata yang terpejam, sontak Rafael langsung menghampirinya. Sebelum itu Rafael memejamkan kedua matanya lalu melepaskan jasnya dan menutupi tubuh gadis itu, Rafael mengangkat tubuh Zoeya dan membawanya keluar dari sana.
Pakaiannya jadi basah kembali, pergi ke kantor alhasil tidak jadi. Mau bagaimana lagi, mungkin nanti ia akan datang agak terlambat untuk mengurus istrinya ini. Rafael menaruh tubuh Zoeya di sofa, kalau ia taruh di ranjang nanti kasur jadi basah semua.
Rafael kembali menutupi tubuh Zoeya dengan jubah mandi. Ia berjongkok, lalu menepuk pelan pipi Zoeya agar terbangun.
"Ini orang pingsan? Atau ketiduran?" Batin Rafael mendekatkan wajahnya untuk mengecek, tapi Zoeya sudah keburu membuka matanya. Keduanya sama-sama terkejut melihat wajah satu sama lain.
"Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya kau sudah berangkat kerja?" Tanya Zoeya menatap pria dihadapannya bingung. Masih dengan saling menatap, Rafael agak menjauhkan wajahnya.
"Kupikir kau pingsan tadi" sahut Rafael sambil mengedipkan matanya.
Sebelum wajah tampan dihadapannya ini semakin menjauh Zoeya menaruh kedua tangannya di tengkuk Rafael, membuat pria itu heran dan gugup. Gadis itu tiba-tiba memiliki ide untuk sedikit bermain-main menggoda Rafael. Zoeya tersenyum kecil yang di mana bagi mata Rafael senyuman itu ialah senyuman nakal.
"Apa kau khawatir padaku?" Rafael diam membisu tak berniat menjawab pertanyaan Zoeya yang seperti bisikan itu.
"Jangan-jangan kau mulai jatuh cinta padaku" imbuhnya masih dengan senyumannya.
Rafael melepaskan tangan Zoeya diiringi menelan salivanya.
"Ka-kau sedang tidak berpakaian jangan seperti ini, dan jangan kegeeran! Siapa juga yang jatuh cinta padamu!" Ucapnya galak lalu bangkit berdiri. Zoeya terkekeh mendengar jawaban galak Rafael, ia pun membetulkan jubah tadi yang hampir merosot ke bawah.
"Gara-gara kau ini! Lihat aku jadi basah lagi. Kalau aku panggil itu menyahut! Jangan diam saja. Aku kan tak tahu kau itu ketiduran atau pingsan" dumel pria itu sambil memalingkan wajahnya, Zoeya bisa melihat telinga Rafael yang jadi memerah karena ulahnya.
"Aku kan ketiduran makanya aku tak dengar panggilanmu"
"Cih, banyak pula alasanmu" balasnya ketus. Padahal alasan Zoeya hanya satu.
Mereka malah jadi saling berseteru. Rafael pun langsung melenggang pergi meninggalkan Zoeya disana. Ia ke ruangan walk in closetnya untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Zoeya ia tertawa kecil melihat Rafael yang berjalan sambil bicara sendiri.
Zoeya pun membenarkan jubahnya dan terduduk diam disana menunggu suaminya selesai berpakaian. Tak selang berapa lama Rafael muncul dengan setelan biru tua, langsung saja istrinya itu menghampirinya dengan berlari kecil. Berhubung dasinya belum di pasang Zoeya menengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu.
Rafael menaikkan satu alisnya heran, apa yang di mau gadis di depannya itu. Tanpa banyak bicara Zoeya langsung menyambar dasi yang di genggam Rafael. Ia mulai memasangkan dasi tersebut sambil berjinjit.
Pria itu menatap tak suka ke arah Zoeya dan langsung melepaskan dasinya. Zoeya memakaikannya lagi, namun dilepaskan kembali oleh Rafael. Hal itu terjadi berulang kali, perbuatan pria dihadapannya ini tentunya benar-benar membuat Zoeya kesal.
Rafael juga nampak tak peduli dan memilih membuang sembarang dasinya tadi. Alhasil ia berangkat ke kantor tanpa memakai dasi.
Zoeya memilih setelan kerjanya, blouse warna denim serta rok putih di bawah lutut menjadi pilihannya. Hari ini ia ingin kembali bekerja, rambut panjangnya yang terurai ia ikat kuda. Ia juga make-up tipis-tipis agar wajahnya terlihat lebih fresh, setelah selesai Zoeya pun mengambil tasnya. Tapi ekor matanya melihat dasi Rafael berada di lantai tepat di bawah ranjang.
"Hmm kau membuangnya" batinnya, gadis itu memungutnya kemudian ia lipat dan Zoeya masukkan kedalam tasnya. Zoeya meninggalkan kamarnya dan mulai menuruni tangga. Di bawah ia pamit pada Tya dan juga Cadh Bibi untuk bekerja.
Zoeya kesana diantar oleh sopir keluarga Khurana atas perintah Mami Tya. Mau menolak juga tidak enak, jadi Zoeya hanya bisa menerimanya meskipun sedikit terpaksa. Beginilah rasanya jadi menantu orang kaya, Zoeya bersyukur tapi juga agak sedih karena tidak bisa sebebas dulu.
Padahal sebelum menikah dengan Rafael, gadis itu bisa pulang pergi bersama Abang ojol. Menikmati angin semilir dan polusi perkotaan. Jiwa sobat misqueen nya masih terkejut dengan perubahan kehidupan.
Tak perlu waktu lama Zoeya sampai di perusahaan. Perusahaan terlihat ramai orang berlalu lalang, apa mungkin ini sudah jam makan siang? tapi setahunya ini masih jam kerja. Zoeya memperhatikan sekitar, Abang cilok di depan jalan juga ramai pembeli.
Tapi Zoeya tak peduli, karena tujuannya kemarikan untuk bekerja bukan untuk makan cilok. Untuk apa dirinya malah memperhatikan Abang cilok yang dikerumuni pembeli. Zoeya memang ada-ada saja.
Gadis itu mulai memasuki perusahaan, bisa ia rasakan orang-orang memperhatikannya sedemikian rupa sehingga kepalanya sampai berbalik kebelakang hanya untuk melihat Zoeya berjalan. Apakah antek-antek Rafael ini baru menyadari kecantikan sang Dewi. Zoeya jadi terheran-heran dalam hati.
Ia mulai menaiki lift, sendirian. Tidak ada orang lain, setiap liftnya berhenti pun orang-orang yang tadinya ingin masuk ke dalam lift malah mengurungkan niatnya ketika melihat Zoeya disana.
"Apa-apaan ini? sebegitu segankah mereka satu lift bersamaku?" gumam Zoeya dengan wajah kebingungan.
Zoeya pun sampai di lantai tempat ia bekerja. Tapi yang aneh mejanya kok tidak ada. Pergi kemana mejanya selama beberapa hari ini Zoeya tidak bekerja, tidak mungkin kan mejanya itu jalan sendiri. Ruangan manager juga berganti dengan ruang Ceo, bukankah ini ruangan Rafael? pikir Zoeya bingung. Karena Zoeya penasaran ia pun memilih memastikannya.
Gadis itu mulai mengetuk pintu, dan terdapat sahutan suara yang ia kenal dari dalam. Langsung saja Zoeya masuk. Mata keduanya saling bertemu.
"Oho~ gadis pembohong~ apa kabar? untuk apa kemari?" sambut Rafael dengan senyuman riangnya.
"Lho?? kau? jadi Ceo? hah? sejak kapan?" kelihatannya Zoeya masih syok sampai membuat ekspresi tidak percaya. Rafael bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekat ke arah Zoeya.
"Betul sekali, aku naik jabatan dan tada~ aku disini. Semua karyawan aku bebaskan sampai jam makan siang nanti untuk memberi mereka sedikit hadiah atas naiknya jabatanku. Tapi sayang sekali nona Zoeya, sekretaris bernama Zoeya Larassati tidak ada disini bagaimana ya, dia tidak bisa ikut atas hadiah berhargaku ini. Kenapa ya? kau pasti bertanya-tanya itu karena aku sudah memecatnya. Aku sudah tidak butuh seorang sekretaris"
"Apa maksudnya? dasar aneh, aku masih bekerja disini. Papi tak memecatku" jawab Zoeya dengan berani, karena Hansel pun beberapa waktu lalu menyuruhnya untuk bekerja ke kantor.
"Yah aku tak peduli sih, yang terpenting surat pemecatanmu ada disini. Silahkan ambil, dan silahkan pulang~" dengan nada ramah Rafael menyunggingkan senyumannya. Ia menyodorkan secarik surat untuk diberikan kepada Zoeya.
Zoeya menyambar surat tersebut dan ia baca, mulutnya ternganga tak percaya. Dirinya benar-benar di phk, akibat ulah manusia jabingan di depannya ini.
"Kau! ini!" Zoeya tak bisa mengatakan apapun selain memelototi pria di depannya.
Dan lebih mengesalkannya Rafael mengangkat bahunya dengan wajah tanpa dosa dan memberikan senyuman puasnya.
"Zoeya Larassati Khurana, hari ini aku memecatmu dari pekerjaanmu bisa saja besok aku memecatmu dari kehidupanku. Jadi berhati-hatilah, aku bisa kapan saja mengusirmu dalam hidupku. Akan kubuat kau menyesali pilihanmu sendiri karena telah menikah denganku"
Netra keduanya saling menatap bagai ada listrik dari kedua mata mereka yang menyambar.
"Aku akan mengadukan perbuatanmu pada Papi, kau memecatku tanpa alasan. Benar-benar tidak profesional" cibir Zoeya, tapi Rafael terlihat santai saja menanggapinya bahkan ia tertawa seakan ancaman Zoeya tak berarti apa-apa baginya.
"Hey menantu kesayangan, pemecatanmu ini tentu saja sudah aku diskusikan dengan Papiku. Kau pikir aku begitu ceroboh? justru karena Papi mendukungku makanya dia setuju kau angkat kaki dari perusahaan ini"
Zoeya terdiam, ia merasa Hansel bukan seseorang yang akan mendukung kelakuan putranya ini untuk mengusirnya. Gadis itu berpikir mungkin Hansel memiliki alasannya sendiri saat setuju untuk memberhentikannya bekerja. Zoeya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Baiklah dengar ini Rafael Khurana. Tak masalah jika hal ini termasuk keputusan dari Papi tapi ingatlah satu hal, aku akan bertahan sampai akhir! akan kubuat kau bertekuk lutut padaku. Mungkin hari ini kau berhasil tapi tidak untuk lain kali. Lakukan sesuka hatimu untuk mengusirku dalam hidupmu, itupun jika kau mampu"
Zoeya tersenyum tipis, ia merogoh tasnya untuk mengambil dasi Rafael yang tadi dibuang di lantai. Zoeya memasangkannya kembali. Sempat Rafael kebingungan sesaat namun ia tak memberontak dan membiarkan Zoeya memasangkan dasinya.
Sekarang Rafael terlihat lebih rapih, Zoeya menepuk pelan dada kekar pria itu.
"Baiklah, kau memecatku maka aku akan pulang. Aku terima, bekerjalah baik-baik tanpa diriku oke? Bye aku akan pulang"
Gadis itu tersenyum manis sebelum keluar dari ruangan suaminya. Bisa ia lihat raut wajah Rafael yang kebingungan.
"Aku memecatnya dan dia senang? bukankah wanita ini aneh" gumam Rafael sendiri ketika Zoeya sudah hilang dari pandangan matanya.
Dari lantai atas sampai lantai bawah Zoeya masih saja terus diperhatikan, mau marah pun marah ke siapa. Semua ini kan karena ulah suaminya. Lama-lama ia jadi merasa tidak nyaman, bahkan saat dirinya sedang menunggu jemputan pun masih saja jadi pusat perhatian.
"Woi apasih yang kalian lihat? jangan menatapku! norak sekali kalian tak pernah melihat gadis cantik sepertiku"
Zoeya berteriak begitu di dalam hatinya, tapi yang sebenarnya ia berlagak pura-pura tidak tahu saja malas menegur para antek-anteknya Rafael. Tak lama jemputannya itu tiba dan langsung saja ia masuk ke dalam untuk menghindari pandangan orang-orang.
"Kau lihat tidak? dia naik mobil mewah. Jangan-jangan rumor yang beredar benar bahwa sekretaris Tuan Rafael sudah dinikahi oleh Kakek tua kaya raya" bisik seorang gadis berambut ikal pada temannya. Mereka melihat mobil yang dinaiki oleh Zoeya melaju keluar dari latar perusahaan.
"Iyakan, kataku juga apa! untung saja Tuan Rafael sudah memecatnya. Aku lega karena tak ada wanita yang menempel-nempel lagi pada pria idamanku" imbuh teman sebelahnya dengan bibir merah yang cetar membahana.
"Mimpimu ketinggian, bangun cepat tugas menanti di mejamu" gadis berambut ikal itu menoyor kepala temannya.
"Sialan kau! namanya juga berharap tidak ada salahnya." Mereka berdua pun menaiki lift masih dengan perbincangan tentang rumor Zoeya sang sekretaris.
.........
Dalam sebuah ruangan yang gelap terduduk pria paruh baya di kursi kebesarannya sambil menaruh kakinya di meja. ia menyilangkannya menambah kesan yang berkuasa adalah dirinya. Di tangan kanannya terdapat korek api Zippo yang ia mainkan tutupnya.
"Lucanno! hubungi Kakakmu dan suami barunya untuk segera pulang!" ujarnya dengan suara berat sambil menunjuk pemuda yang berdiri di depan mejanya. Pemuda tampan berambut kecoklatan itu mengangguk pelan. Matanya yang sayu hanya menatap dingin layar ponselnya untuk mencari satu nama yaitu Lusiana.