Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 33 [Kalian semua mengkhianatiku]



"Kak Tama? Lusiana??" Keduanya sama-sama terkejut melihat pemandangan apa yang terjadi dihadapannya. Rafael dan Zoeya melihat Lusiana mengenakan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya.


Sedangkan Lusiana yang memang belum mengetahui Rafael sudah menikah, ikut terkejut dengan keberadaan Zoeya yang tengah memeluk lengan Rafael dengan pakaian santai seperti sedang di rumah sendiri, bukan seperti seorang sekretaris.


"Kalian???" Rafael bertanya dengan wajah yang kebingungan.


"Ya, kami sudah menikah. Sekarang Lusiana juga bagian dari keluarga ini" ujar Tama sambil menggenggam tangan Lusiana erat. Seakan ia sudah siap menerima apa yang akan Adiknya itu lakukan atau Papinya lakukan, mungkin ia akan di usir atau kembali di tampar.


Namun perkiraannya salah, Rafael melengos dan pergi begitu saja menaiki tangga. Zoeya jadi kebingungan melihat suaminya itu pergi, ia menatap kedua orang di hadapannya itu sambil tersenyum canggung. Kemudian dirinya juga ikut menyusul Rafael.


Hansel dan Tya menatap Tama dari kejauhan juga tak melakukan apapun, dari kelihatannya mereka sudah menikah yasudah mau bagaimana lagi. Hansel pun kembali ke kamarnya tak mau menyambut kedatangan putranya, kecuali Tya.


Tya menghampiri Tama dan Lusiana yang masih terdiam di depan pintu masuk. Tya berusaha untuk memberikan senyumnya walaupun di dalam hatinya pun berat sekali putranya menikah karena tak mendapat restu dan berakhir kawin lari.


"Masuklah nak, diluar dingin" mendengar kalimat yang lembut itu keluar dari mulut Maminya, Tama langsung memeluk wanita yang melahirkannya itu diiringi tangisannya. Ia pikir di rumah ini tidak ada yang mau menerimanya. Di sela isak tangisnya Tama meminta maaf berkali-kali pada sang Mami atas perbuatannya.


Yang namanya seorang ibu pasti akan selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya, ia lebih dulu yang membuka tangannya dan memaafkannya sebelum orang lain. Tya juga jadi ikut menangis, ia mengelus kepala putranya dengan sayang.


"Sudah tidak apa-apa, ayo masuk ajak istrimu juga" Tama melepaskan pelukannya dan mengangguk pelan.


Sebelum pergi Tya sempat memberikan senyumannya pada Lusiana, dan Lusiana juga membalasnya dengan tersenyum juga. Bersama dengan uluran tangan dari Tama, Lusiana mulai melangkahkan kakinya memasuki kediaman keluarga Khurana.


...---...


"Hey! Rafael! kau ini kenapa sih?"


"Berisik" sahut Rafael dengan nada kesal sambil berjalan ke arah sebuah lukisan dinding yang begitu besar. Tapi ketahuilah sebelum itu Rafael sudah mengacak-ngacak almarinya seperti sedang mencari sesuatu namun tak ketemu jua apa yang dicarinya.


Karena hal itu ia kesal setengah mati seperti orang yang kesetanan. Entah apa yang dicarinya sampai Zoeya pun heran. Dan berakhirlah sekarang Rafael berdiri di depan lukisan dinding tersebut.


"Apa yang dia lakukan" gumam Zoeya. Pria itu membuka lukisan bagai sebuah pintu, Zoeya tercengang melihatnya. Lukisan bukan sembarang lukisan.


Ternyata di kamar ini memiliki ruangan rahasia, Rafael masuk ke dalam melewati lorong gelap. Begitupun dengan Zoeya yang mengekori di belakang, ia membuntuti Rafael dan tak lupa untuk menutup kembali pintunya. Saat berbalik badan Rafael sudah tidak ada disana, hilang begitu saja seperti tertelan dalam gelapnya lorong. Terpaksalah Zoeya harus mencarinya di tengah kegelapan itu.


Zoeya berjalan perlahan dan tak jauh ia melihat cahaya temaram di depannya. Sembari berjalan kesana pandangan matanya terus melihat sekeliling, rasanya pengap karena lorong itu tak seberapa luas. Akhirnya Zoeya sampai di depan pintu, ia membukanya perlahan. Rasanya sudah seperti film horor saja, Zoeya jadi waspada takutnya ia membuka pintu tiba-tiba ada jumscare tepat di wajahnya.


Pemikiran Zoeya ternyata tidak benar, tidak ada hal menyeramkan disana. Pandangannya tersapu ke dalam ruangan di balik pintu tersebut, terdapat ranjang di sana dan juga minibar. Gadis itu mulai memasuki ruangan yang terlihat tidak ada orang disana, ia mulai mencari keberadaan Rafael dengan menelusuri ruangan aneh itu. Zoeya melihat di meja sana ada banyak sekali arak dan minuman beralkohol lainnya.


Zoeya menutupi hidungnya dengan ekspresi tidak suka, bau alkohol yang begitu menyengat menusuk cuping hidungnya. Yah ia tidak heran lagi jika manusia seperti Rafael ini memiliki koleksi minuman memabukkan seperti ini, tapi pertanyaannya kemana suaminya itu. Bukankah seharusnya ia sudah berada disini lalu dimana ia sekarang? Apakah ada ruangan lain selain ruangan ini?


Zoeya membalikkan badannya berniat untuk mencari Rafael kembali namun saat tubuhnya berbalik gadis itu kaget setengah mati karena pria yang ia cari kini berada di hadapannya dengan tatapan sayu. Bagaikan ia habis melihat penampakan, Zoeya reflek menampar pipi Rafael.


Setelah sadar pria itu benar-benar suaminya, Zoeya pun mendekati Rafael dengan perasaan bersalah. "Aduh maaf ya tanganku terpeleset, tidak sengaja. Lagian kau mengagetkan saja tiba-tiba muncul di belakangku. Maaf ya" Suaminya itu hanya menatap Zoeya dengan tatapan kosong seperti tak ada apapun yang terjadi.


Melihat sorot mata seperti itu tentu saja lebih menyeramkan daripada melihat hantu.


"Halo~ kau kesurupan kah?" Tanya Zoeya melambaikan tangannya, sekarang ia takut suaminya itu dirasuki oleh hantu di ruangan ini. Rafael tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Zoeya erat, sorot matanya kian berubah.


"Betulan kesurupan dia" batin Zoeya dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


Gadis itu berusaha untuk melepaskan cengkraman dari Rafael yang terasa sakit, lagi-lagi suaminya itu kumat untuk menyiksanya. Lebih tepatnya sepertinya ini yang merasuki adalah setannya Rafael sendiri. Zoeya memberanikan diri untuk menatap netra pria ini, ada kesedihan dan juga kebencian di dalamnya. Aroma alkohol juga tercium dari tubuhnya, Zoeya menebak ini bukanlah kesurupan melainkan Rafael yang tengah mabuk.


"Kau mabuk" kata Zoeya masih berusaha melepaskan tangannya. Kali ini ia dilepaskan tapi hanya beberapa detik Rafael kembali memelintir tangan Zoeya ke belakang hingga tubuh mereka tak ada jarak sedikitpun.


Rafael yang seperti ini lebih menakutkan dibanding orang yang kesurupan bagi Zoeya apalagi sekarang ia berjalan maju dan reflek gadis itu mundur kebelakang. Rasanya ia dejavu dengan situasi ini, dan lagi-lagi Zoeya dihempaskan ke ranjang begitu saja.


"Kau menamparku? berani sekali kau menamparku!! siapa kau sampai berani menamparku? asal kau tahu gadis pembohong, seharusnya yang ditampar adalah kau!"


"Dalam semalam kau membuat hidupku menjadi terbalik! Dalam sehari kalian semua mengkhianatiku, entah itu Kau! Ataupun Kakakku!"


"Dan tadi aku melihat mantanku yang baru putus beberapa hari lalu sekarang berdiri di samping Kakakku sebagai Kakak iparku, bukankah kehidupan ini begitu konyol" sambungnya dengan nada kecewa.


Rafael berjalan sempoyongan mengambil arak di meja, kemudian ia menenggak habis sebotol arak tersebut dan membantingnya ke lantai. Zoeya menutup telinganya saat itu, takut tapi juga tak bisa pergi begitu saja.


"Aku tak bahagia! Aku ingin bebas!" Pekiknya berjalan mendekat menuju Zoeya yang terduduk di ranjang.


"Aku melakukan ini, aku melakukan itu semuanya salah! aku berhubungan dengan ini salah! aku berhubungan dengan itu salah! Aku sudah berusaha menuruti Kakakku, tapi apa yang dia lakukan padaku! Aku belum siap memulai hubungan salah! tidak ada yang mengerti diriku"


Semakin Rafael mendekat ia bisa melihat betapa menyedihkannya pria itu, Zoeya baru sadar Rafael mabuk sambil menangis. Zoeya menatap sorot mata itu ikut sedih melihatnya. Meskipun ia takut tapi Zoeya berusaha untuk meraih wajah Rafael yang sudah basah oleh air mata.


Bisa ia cium bau alkohol yang begitu menyengat dari nafas pria di hadapannya. Zoeya menopang wajah Rafael dengan kedua tangannya, mata mereka saling menatap.


Apa sebegitu sedihnya Rafael bersama dengannya? Apakah terlalu menyakitkan menjalani kehidupan bersamanya? Pikir Zoeya. Gadis itu terdiam beberapa saat.


"Apa kau segitu bencinya denganku?" Tanya Zoeya menatap netra Rafael menunggu jawabannya.


"Aku membencimu sangat membencimu" ucap Rafael dengan nada rendah dan ia mulai kehilangan kesadarannya di pelukan Zoeya. Zoeya tak bisa bergerak dan hanya membiarkan Rafael bersandar di tubuhnya. Entah suaminya itu sudah meminum berapa botol.


Kini dalam pikirannya hanya terfikir apa yang harus dirinya itu lakukan. Gadis itu mulai merebahkan tubuh Rafael di ranjang, ia juga melepaskan sepatunya serta menyelimutinya.


"Tidurlah Rafael Khurana, mungkin karena kedatangan masa lalumu yang tiba-tiba membuat emosimu kembali tidak stabil. Kali ini aku akan memakluminya" gumam Zoeya sendiri seraya melihat suaminya yang sudah tertidur pulas.


Zoeya membersihkan ruangan yang berantakan itu, pecahan botol kaca juga ia yang membersihkan sampai jari telunjuknya tergores kepingannya. Zoeya memasukkan jarinya kedalam mulutnya untuk menghentikan pendarahannya, kemudian ia melanjutkan membersihkannya.


Setelah merasa sudah bersih kembali, Zoeya meninggalkan ruangan dan membiarkan Rafael tidur di ruangan tersebut. Tak lupa ia juga menutup pintunya alias membetulkan posisi awal lukisan tersebut. Ia memandang sekeliling yang terasa damai sekarang karena tidak ada Rafael.


Zoeya lompat-lompat bahagia seperti anak kecil akhirnya kamar mewah ini ia kuasai sepenuhnya. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengubah kamar ini seperti keinginannya. Zoeya mulai mengganti semua foto dikamarnya dengan foto pernikahan mereka. Ia juga membereskan semua yang berantakan akibat ulah Rafael. Setelah bersih sempurna Zoeya kembali melihat potret dirinya dan Rafael di dinding.


Meskipun disana tak ada senyum diantara mereka tapi Zoeya ingin memajangnya di sana. Perlahan ia akan mengubah pria keras kepala ini untuk menerima hubungan baru mereka. Zoeya ingin merubah sifat buruk Rafael menjadi lebih baik.


Dalam hati Zoeya pun ia tak tahu apakah ia sendiri bisa belajar mencintai Rafael, tapi misi utamanya adalah ia ingin memperbaiki hubungan mereka meskipun kembali diawali dengan berteman. Zoeya tersenyum kecil di depan foto pernikahannya yang sudah menggantung di dinding. Malam ini Zoeya bisa tidur nyenyak di ranjang.


Pagi hari tiba begitu cepatnya, Zoeya yang masih meringkuk di dalam selimut dikejutkan dengan seseorang yang menekan jempol kakinya. Ia pun jadi terbangun walaupun nyawa belum terkumpul, Zoeya mengucek matanya seraya menggeliat. Samar-samar matanya mulai melihat wajah buram pria, semakin ia membuka matanya maka semakin jelas pula siapa pria itu.


Dan ternyata Hansel yang berada di sana, Ayah mertuanya itu duduk di pinggir ranjang sambil tersenyum hangat.


"Lho Papi?? ada apa Pi" ujar Zoeya dengan suara seraknya.


"Putriku yang cantik ini tidur jam berapa sih sampai jam segini masih meringkuk di dalam selimut" ujar Hansel menekan kembali jempol kaki Zoeya, membuat gadis itu menyembunyikan kakinya ke dalam selimut lagi.


"Dimana suamimu nak? Aku ingin berangkat kerja bersama. Apakah dia sedang bersiap-siap?"


Zoeya loading sebentar sebelum menjawab, ia kembali mengingat-ingat kejadian semalam dan sekarang ia ingat dimana Rafael berada.


"Waduh bagaimana ini" batin Zoeya panik. Namun di depan Hansel ia memberikan ekspresi tenangnya.


"Papi, Rafael masih bersiap-siap sepertinya. Dia kalau mandi sangat lama ada ritualnya tersendiri, Papi berangkatlah terlebih dahulu nanti dia akan menyusul" ujar gadis itu memberi alasan.


Raut wajah Hansel nampak sedikit kecewa namun ia menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan menantunya.


"Yasudah kalau begitu, padahal aku sudah lama tidak berangkat bareng bersamanya. Tapi tidak apa, mungkin di hari lain saja"


Zoeya pun menunjukkan ekspresi bersalahnya karena membohongi Hansel, dirinya tidak punya pilihan lain.


"Maaf Papi" ujarnya.


"Tidak apa-apa nak, aku berangkat duluan ya. Ingatkan dia agar tidak terlambat bekerja, kalau kau ingin kembali bekerja juga datang saja. Perusahaan akan selalu menyambutmu" Zoeya mengangguk kecil, Ayah mertuanya itu mengelus kepala Zoeya lembut kemudian melangkahkan kakinya keluar dari sana.


Zoeya jadi merasa sangat bersalah, perlakuan Hansel sudah seperti ayahnya Zaid dulu. Kasih sayang yang diberikan seperti Zoeya adalah putri Hansel sendiri, mungkin beginilah rasanya jika Zaid masih hidup ia pun akan memperlakukannya sama seperti apa yang Hansel lakukan.


"gara-gara Rafael aku harus berbohong pada Papi yang begitu baik padaku. Huhu entah siapa lagi yang akan kudustai untuk menutupi tingkah laku pria itu" batin Zoeya tertekan, ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi dengan lesu tak bersemangat.


Rafael terbangun, kepalanya pusing sekali seperti akan pecah sebentar lagi. Ia tak ingat apapun apa yang terjadi semalam. Terakhir kali Rafael ingat ia menenggak alkohol dengan kadar tinggi.


Rafael berjalan sempoyongan keluar dari ruangan tersebut sambil memegang kepalanya.


"alkohol sialan" umpatnya. Dan untunglah Rafael berhasil keluar dari ruangan rahasianya itu.


Rafael langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga menjernihkan pikirannya, ia membuka pintunya dengan keras. Rafael lupa bahwa dikamar ini tidak hanya dirinya yang tinggal tapi juga ada Zoeya. Gadis itu menjerit kaget karena kedatangan Rafael yang membuka pintu kamar mandi.


"Brengsek mesum! keluar sanaaa" pekik Zoeya yang berada di bathtub dan langsung menenggelamkan tubuhnya kedalam air menyisakan kepalanya saja.


"Wanita ini berisik sekali pagi-pagi. Kau yang keluar sana! aku mau mandi" usir Rafael mengibaskan tangannya seperti sedang mengusir kucing.


"Gila kau ya! kau suruh aku keluar dengan kondisi seperti ini"


Masih dengan memegang kepalanya, Rafael jadi semakin pusing karena Zoeya teriak-teriak begini.


"Yasudah kalau tidak mau, kita mandi saja bersama" ujarnya dan mulai mendekat kearah bathtub.


"AAAAAAAAAAAA!!!"