Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 12 [Membujuknya]



Zoeya ternyata kembali ke kantor, sekarang ia berada di toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena kopi. Ia sangat kesal sekali. Padahal ia mengira Rafael sudah berubah, tapi ternyata tidak.


Pria itu masih sama seperti saat mereka kecil dan sekarang kelakuannya benar-benar lebih parah. Zoeya merasa kecewa dengan ekspektasinya sendiri, kecewa karena percaya dengan Rafael. Tanpa sadar Zoeya meneteskan air matanya, ia menangis tanpa suara di dalam sana. Menumpahkan semua rasa sedihnya, ia berekspektasi bahwa Rafael akan mengajaknya makan siang tapi ternyata malah dijadikan tumbal.


Perutnya sudah keroncongan, antara mau tertawa atau sedih. Bisa-bisanya ia masih memikirkan rasa lapar disaat sedih begini. Ataukah ia menangis karena kelaparan? Zoeya juga tak mengerti sebenarnya yang ditangisi olehnya itu apa, ia menangis karena tak jadi diajak makan? atau dirinya menangis karena kecewa? Yah apapun alasannya ia mau bersedih dahulu meskipun tak mengerti penyebabnya yang mana.


Setelah merasa lebih baik Zoeya segera menghapus air matanya dan membasuh wajahnya.


"It's oke Zoeya, ini hanyalah masalah kecil kau tak perlu menangisinya. Semangat Zoeya tersenyumlah" ucapnya memberi kekuatan untuk dirinya sendiri, ia memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya.


Setelah merasa tenang, Zoeya pun keluar dari kamar mandi dan kembali bekerja meskipun tuannya belum kembali. Ia tak peduli. Entah Rafael kembali atau tidak, yang lebih penting adalah ia menyelesaikan tugasnya dan segera pulang.


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Zoeya mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pulang. Lalu ia melirik sekilas ruangan Rafael yang kosong karena sang empunya ruangan belum juga kembali dan nampaknya ruangan tersebut berantakan. Ia pun permisi untuk masuk meskipun tidak ada orang.


Zoeya membereskan meja yang nampak berantakan itu, setelah semua beres gadis itu baru sadar bahwa ruangan tersebut kotor sekali. Sampah dimana-mana, kemeja, jasnya juga tergeletak di lantai begitu saja.


"Dasar pemalas, anak manja. Entah bagaimana bisa dia bekerja dengan ruangan yang seperti kandang sapi begini"


Zoeya pun membersihkan ruangan itu dengan telaten sampai semuanya rapih dan bersih. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya. "Sempurna" ucapnya bangga dengan dirinya sendiri. Zoeya pun mengambil tasnya untuk segera pulang.


Tetapi sebelum ia membuka pintu, Rafael sudah membukanya duluan. Mereka saling menatap beberapa detik yang berakhir Zoeya memalingkan wajahnya. Ia masih kesal dengan Rafael siang hari tadi. Pria itu mengusap tengkuknya canggung.


"Zoey" panggilnya, gadis itu masih tak mau menatap dan ia melangkah keluar. Tapi Rafael menahannya. "Zoeya dengarkan aku"


Gadis itu tak mau mendengarkan apapun, ia berusaha melepaskan genggaman Rafael.


"Zoey dengarkan aku dulu"


Gadis itu menyerah dan menatap kedua netra Rafael dengan tatapan kesal.


"Mau mu apa sih? Apa lagi rencanamu hah?" ujar Zoeya lantang, untung saja ini sudah jam pulang jadi tak ada yang mendengar teriakannya yang tak sopan pada atasan mereka. Apalagi ia baru hari ini bekerja, entah apa jadinya jika ada yang melihat situasi ini.


"Maafkan aku, aku salah. Harusnya aku memberitahumu dulu soal rencana itu, aku akan mengganti bajumu yang terkena kopi tadi"


Zoeya tertawa mengejek mendengar penjelasan pria dihadapannya.


"Tak semua hal bisa kau ganti Tuan Rafael" ucapnya menatap Rafael dingin.


Zoeya mendekatkan dirinya hingga jarak antara mereka hanya beberapa senti.


"Kau mungkin bisa mengganti bajunya tapi kau tidak bisa mengganti sebuah keistimewaan yang dimiliki baju ini bagi seseorang." matanya berkaca-kaca dalam sorot matanya yang tajam, Rafael yang melihat itu hanya bisa terdiam menyesali perbuatannya.


Zoeya melepas paksa genggaman Rafael dengan sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas. Rafael membiarkannya, ia tahu Zoeya masih marah padanya. Ia belum mau memaafkannya jadi Rafael memakluminya dan membiarkan gadis itu pergi.


Setelah kepergian sekretarisnya itu, Rafael mengusap wajahnya kasar dan duduk di kursi kebesarannya. Ia melihat mejanya keheranan karena sudah rapih padahal tadi ia tak membereskan apapun, lalu ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Terlihat bersih tak seperti biasanya, tanpa sadar bibirnya tersenyum. Ia memejamkan matanya masih dengan senyumannya.


...***...


Sudah hampir seminggu lebih Zoeya bekerja sebagai sekretaris Rafael, semuanya berjalan lancar. Gadis itu menikmati pekerjaannya, meskipun ada sedikit pengganggu. Tak lain dan tak bukan Rafael Khurana, ialah pengganggunya. Zoeya tahu kenapa Pria itu melakukannya karena ia sudah kehabisan akal untuk membujuk dirinya makanya Rafael melakukan sesuatu yang bisa membuat Zoeya kesal atau bahkan kesulitan.


Benar-benar sangat menyebalkan, setiap hari ia diperintahkan dengan pekerjaan yang tak masuk akal. Kekanakan begitulah gerutu Zoeya saat mendapat perintah tak jelas dari atasannya itu. Ia sangat hafal kapan Rafael akan memerintah, pokoknya setiap ia beristirahat pria itu tak akan membiarkan Zoeya santai.


Gadis itu menghitung dari angka 1 sampai 5, karena biasanya inilah waktunya Rafael menyuruhnya melakukan hal aneh seperti beberapa hari terakhir.


"Satu.. dua.. tiga.."


"Empat.."


"Li.." hitungannya terhenti.


"Zoeyaa" panggil Rafael.


Gadis itu memutar bola matanya malas.


"aku bahkan belum selesai berhitung" gerutunya seraya memasuki ruangan. Rafael pun tersenyum lebar melihat gadis itu berekspresi datar seperti mengatakan muak aku sudah muak. Pria jahil itu sangat menikmatinya.


"Tolong buatkan aku teh tapi saat membawakan ke arahku kau harus menari ya" titahnya yang membuat Zoeya menautkan kedua alisnya.


"Oh iya akhir-akhir ini wajahmu cemberut terus, aku ini sangat tak suka melihat orang yang melakukan pekerjaan dengan cemberut. Seperti tidak ada semangat bekerja, nah maka dari itu sekalian juga kau menari sambil tersenyum, bagaimana?" sambungnya lagi.


Zoeya membelalakan matanya, benar-benar ia tak mengerti apa mau pria ini.


"Kau pikir siapa yang membuatku cemberut akhir-akhir ini kalau bukan dirimu" batin Zoeya kesal. Rafael masih dengan senyumannya menatap gadis itu seakan menunggu.


Zoeya menenangkan dirinya lalu memberikan senyuman tak ikhlas dan keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Pria itu tertawa melihat tingkah Zoeya,


"Mengganggumu memang menyenangkan" gumamnya, beberapa menit Rafael menunggu akhirnya sekretarisnya itu muncul dengan secangkir teh yang ia bawa.


Saat mulai melangkahkan kakinya menuju Rafael, Zoeya memutarkan tubuhnya, kakinya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri diikuti dengan tubuhnya. Bibirnya tersenyum lebar dengan tatapannya menuju Rafael tak sedikitpun ia takut teh nya terjatuh, meskipun adanya gerakan yang ia lakukan.


Terkadang ia membuat gerakan seperti menembak Rafael. Dan Rafael cukup terhibur dengan gerakan itu, ia jadi ikut tersenyum lebar sampai terlihat giginya yang rapih. Akhirnya drama menari membawa teh pun selesai karena tehnya sudah mendarat di meja Rafael dengan selamat tanpa tumpah sedikitpun.


Ekspresi Zoeya langsung berubah drastis, dari yang tadinya ia tersenyum manis sekarang menjadi datar bahkan sepertinya terlihat jengkel.


"Jangan salah paham! itu tadi simulasi gerakan membunuhmu bukan merayumu" ketus Zoeya dan membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan itu.


Rafael memainkan pulpennya, ia sangat suka wanita yang jual mahal begini. Dibanding harus susah payah mengeluarkan kata-kata rayuan seperti yang ia lakukan untuk gadis lain, Rafael menemukan perbedaan saat bersama Zoeya. Tak ada kata rayuan, hanya ada umpatan satu sama lain. Tapi itu yang membuatnya menyukai interaksi saat bersamanya.


"Entah itu gerakan membunuh atau merayu yang terpenting aku suka, kalau pun itu gerakan membunuh aku akan mati dengan sukarela" goda Rafael sambil tersenyum jahil. Gadis itu terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke belakang. Sudah cukup, Zoeya tak mau terperdaya oleh Rafael sang siluman buaya.