![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Angin malam hari ini lumayan kencang, penghuni vila yang berada di kelilingi hutan tentunya lebih dapat merasakan betapa kuatnya angin disekitaran. Pepohonan rindang pun bagai ingin tumbang di buatnya apalagi tumbuh-tumbuhan kecil yang tak sekokoh pepohonan.
Saat ini Zoeya terduduk di kursi yang berada di balkon. Rambutnya yang panjang tergerai bebas, dress panjang berwarna putih yang ia kenakan berayun-ayun kala angin berhembus.Gadis itu memeluk lututnya, bibirnya yang tipis menggumamkan sesuatu dengan sorot matanya yang menatap ke atas.Mungkin saja jika seseorang melihatnya kala itu pasti mengiranya sang kuntilanak penunggu vila.
Begitu kencangnya angin malam hari ini hingga Rafael yang berada di dalam kamar pun dapat merasakan semriwing-semriwingan udara dari luar. Bagaimana tidak?pintunya saja terbuka lebar, tentu saja banyak mengundang udara dingin untuk bertamu ke dalam.
"Yaampun,gadis itu sedang apa sih di luar?apa dia tidak kedinginan di sana" katanya seraya mengusap-usap bahunya karena udara dingin membuatnya merinding. Kemudian ia berniat untuk menghampiri gadis yang terduduk di balkon itu.
"Hey ayo masuk.Sudah malam,anginnya kencang" ujar Rafael mencolek pelan pundak sang istri.
Zoeya meresponnya dengan cemberut karena masih ingin berada di sini sedikit lebih lama. Tapi yang dikatakan suaminya memang benar,anginnya jadi semakin kencang seolah akan terjadi badai. Rafael yang tidak sabaran itu langsung menarik lengan Zoeya untuk segera bangkit. Alhasil gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan sang suami menariknya masuk ke dalam.
Tak lupa Rafael menutup pintu pembatas kamar dan balkon,ia juga menutupnya dengan tirai tebal yang menjuntai sampai ke lantai.Sekarang Zoeya mendudukkan dirinya di tepi ranjang sesekali matanya melirik pria yang menjadi suaminya itu tengah menutup tirai.
Entah kenapa rasanya setelah pulang dari pantai mereka berdua jadi terasa canggung sekali. Rafael yang daritadi merasa diperhatikan jadi salah tingkah sendiri. Ia mengusap tengkuknya sebelum membalikkan tubuhnya.
Karena suasana semakin canggung,tanpa pikir panjang Rafael jadi ingin keluar dari kamar ini.
"K-kau tidurlah di sini,a-aku tidur di luar saja" ucapnya terbata-bata.Zoeya mengerutkan keningnya heran dengan bibir tipisnya yang sedikit terangkat.
"Kenapa?tidur saja di sebelahku" sahut Zoeya yang merasa heran dengan kelakuan Rafael yang tiba-tiba aneh.
Mendengar jawaban Zoeya yang seperti itu, Rafael entah mengapa jadi kikuk. Bicaranya juga jadi gagap,telinganya pun jadi memerah.
"Tidak, tidak apa-apa aku hanya..ah anu..aku hanya ingin tidur di bawah" jawabnya gagap seketika.
"Kau aneh sekali El, apa kau sedang malu?" tanya Zoeya spontan yang membuat Rafael jadi semakin salah tingkah.
"Tidak, siapa yang malu? untuk apa aku malu?" sahutnya dan buru-buru duduk di ranjang. Zoeya hanya bisa terkekeh melihat Rafael yang kini sudah berbaring di sebelahnya sambil menyelimuti setengah tubuhnya.Mereka berdua saling diam kembali beberapa menit.
"Emm Zoey,apa kulit kakimu memang kasar begini?" celetuk Rafael ketika telapak kakinya menyentuh sesuatu yang ia pikir kaki Zoeya.
Gadis itu meresponnya dengan menatap bingung, kakinya saja baru ia naikkan ke ranjang. Melihat kaki Zoeya yang tak berada di dalam selimut lantas pria itu langsung membuka selimutnya.
Aaaa! keduanya menjerit serempak kala melihat seekor ular berada di atas ranjang mereka.
"Rafael ada ular!!" teriak Zoeya memeluk Rafael begitupun dengan Rafael yang memeluk Zoeya erat.
"Aku juga tau itu ular" sahutnya sambil terus menjauh.
"Kalau kau tau kenapa kau diam saja, cepat usir dia" suruh Zoeya menarik-narik baju Rafael supaya pria itu menurutinya.
"a-aku? kau saja yang usir, kau kan anak hutan" jawab Rafael yang tiba-tiba teringat saat Zoeya berteriak seperti tarzan sore tadi.
"Kau ini mengusir kecoak tidak bisa, ular juga tidak bisa. Dasar tidak berguna" omelnya, kali ini Zoeya benar-benar kesal dan ketakutan tapi ia pun terpaksa turun tangan langsung demi keselamatan mereka sebab pria di sampingnya ini malah bersembunyi dibelakangnya.
Sebelum mengeluarkan jurus mengusir ular, gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Huss huss ular pergi sana" usirnya seperti mengusir seekor kucing. Rafael yang melihat tingkah Zoeya jadi ikut geram.
"Itu ular bukan suamimu, kau pikir setelah mengusir seperti itu dia akan menurut padamu" tukasnya dan mendapat lirikan sinis dari sang istri.
"Lihat dan perhatikan aku, ini cara yang benar mengusirnya" gadis itu memutar bola matanya malas,tapi juga tetap memperhatikan apa yang akan suaminya itu lakukan.
kini posisi Rafael berpindah jadi di depan,dan ia malah melakukan gerakan seruling sambil bersenandung layaknya alunan musik yang akan membuat ular tersebut melungkat-lungket seperti di film-film.
"Bukankah itu cara paling tidak masuk akal" ujar Zoeya dengan wajah datar.
"Sssttt dia sedang menikmati alunan musikku, percayalah setelah ini dia akan pergi" bisik Rafael kemudian melanjutkan senandungannya seraya bangkit dari ranjang.
Tetap saja apa yang dilakukan mereka berdua sia-sia, keduanya tidak ada yang berhasil mengusir sang ular. Justru ular tersebut maju mendekat mendekati Zoeya yang masih terduduk di ranjang. Reflek Zoeya pun melompat ke pelukan Rafael.
Untung saja Rafael cepat tangkap dan kini ia tak bisa melakukan apapun dengan Zoeya yang sudah gelantungan di lehernya itu. Mungkin ular pun jadi kebingungan dengan dua pasutri tak jelas ini,ia pun memilih minggat sendiri daripada harus diusir oleh salah satu dari mereka.
Seakan ular tersebut tahu pintunya di tutup ia pun jadi terdiam di depan pintu. Rafael dan Zoeya melongo dibuat takjub oleh ular tersebut.
"Apa dia sedang menunggu kita untuk membuka pintunya?" tanya Rafael dan mendapat anggukan kepala dari sang istri.
"Apa aku juga yang harus membuka pintunya agar ular itu bisa pulang?" Zoeya kembali mengangguk-angguk menanggapi pria ini.
"Baiklah" ucapnya lalu berjalan mendekati pintu antara kamar dan balkonnya perlahan-lahan. Zoeya yang masih dalam gendongan Rafael hanya bisa mendengus kesal karena pria ini begitu lamban.
"Hey cepatlah, dia sudah menunggu lama"
"Sabar! aku ini sedang mengumpulkan keberanian" jawab Rafael yang ekspresinya antara berani dan takut.
"Ah kau ini lama sekali, sudahlah biar aku saja" Zoeya turun dari gendongan Rafael dan kini ia membuka tirainya lebar-lebar.
Setelahnya Rafael yang membuka pintunya. Saat pintu terbuka ular tersebut langsung berjalan menggunakan perutnya keluar dari kamar.
"Hais gadis ini sudah gila. Apa begitu salam perpisahannya dengan ular" gerutu Rafael pelan yang berada di belakang Zoeya.
"Aku memang gila,daripada kau tidak berguna" sindir Zoeya saat ia membalikkan badannya dan bertatapan mata dengan Rafael.
"Oh halooo aku yang membuka pintunya karena akulah ular itu keluar"
"Cih,kau saja takut-takut saat membukanya tadi"
"Hey berkacalah, apa kau tidak ingat tadi minta gendong pada siapa?"
"Meskipun begitu aku tetap berani mendekati ularnya dan membuka tirai" Rafael tertawa mengejek menanggapinya.Sedangkan Zoeya sudah kesal sekali sampai wajahnya memerah.
"Jangan tertawa berlebihan,kau pun tidak sebagus itu. Apa kau ingat dulu saat kita salah paham dengan preman,yaampun saat itu pun kau payah sekali"
"Mengusir preman tidak bisa, mengusir kecoak juga tidak bisa.Heuuh payah" imbuhnya dengan ekspresi mengejek. Rafael pun jadi merasa terhina karena perkataan Zoeya sangat jleb sekali di hati.
Karena kesal Rafael jadi memiliki ide jahil untuk membuat gadis ini membungkam mulutnya.
"Hey Zoeya" panggilnya dan mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Apa?" jawab gadis itu judes.
"Ularnya di belakangmu!!!"
"Huwaaaaa mana? mana?" Zoeya kembali minta gendong pada Rafael dan celingukan mencari keberadaan sang ular yang dimaksud.
"AHAHAHAHAHAH" Rafael tergelak puas melihat ekspresi gadis itu yang ketakutan lagi.
Apalagi sekarang Zoeya sudah nemplok dengannya, semakin membuat ia puas karena berhasil mengerjai gadis ini.Lantas Zoeya langsung turun dan memukuli Rafael yang sangat menyebalkan di matanya.
"AHAHAH ampun ampun" Rafael masih terus menghindari amukan Zoeya yang memukulnya membabi buta. Mereka berdua malah seperti anak kecil yang main kejar-kejaran di kamar.
"Aku akan menangkapmu!" teriak Zoeya yang sudah kesal setengah mati.
Sedangkan Rafael masih tertawa sesekali ia menjulurkan lidahnya mengejek.
"Wleee penakut! tangkap aku kalau bisa" Rafael kembali berlari menjauh dari Zoeya. Tapi sayang tangan Zoeya dapat meraih baju Rafael dan ia langsung menarik pria itu.
"Kena kau!" ucapnya dan tubuh Zoeya oleng. Keduanya sama-sama jatuh terbaring di lantai,untung saja Rafael jatuh tidak menimpa gadis itu.
"Fiuhh untung saja aku jatuh di sampingmu" katanya sambil menoleh ke arah Zoeya yang berada di sampingnya.
"Memangnya kenapa?" tanya gadis itu ikut menoleh menatap wajah tampan pria di sampingnya.
"Kalau tadi aku jatuh menindihmu maka sekarang sudah jadi Zoeya geprek" gadis itu terkekeh geli mendengar selorohan suaminya.
"Rafael Khurana urusan kita belum selesai,jangan mengajakku bercanda" gadis itu bangkit dan beralih menindih tubuh Rafael. Sekarang posisi mereka berdua Zoeya berada di atas dan Rafael di bawah.Dengan santainya gadis itu menduduki perut six packnya Rafael.
"Oho~ apakah ini urusan kita yang belum selesai?" ucap Rafael menaik turunkan alisnya.
"Tentu saja,aku akan memberi hukuman padamu"
"Hukuman apa itu nona?"
"Hukuman..menggelitik mu" Zoeya menggelitiki perut Rafael tapi reaksi Rafael justru biasa saja.
"Aku tidak gelian" katanya santai dan membiarkan gadis di atasnya itu melakukan apa yang ia inginkan.
"Semua orang punya titik geli" sahut Zoeya dan beralih menyentuh leher Rafael, benar saja pria itu langsung plungkat-plungket kegelian.
"Nah kena kau!" ucapnya dengan tertawa jahat, Rafael pun berkali-kali minta ampun agar gadis itu menghentikannya.
"Zoeya ampun wahahah Zoeya hentikan"
"Tidak mau"
"Zoeya hentikan, kalau tidak.."
"Ahahaha kalau tidak apa?"
"Kalau tidak.."
Dalam sekejap Rafael mengubah posisi mereka,Zoeya berada di bawah dan Rafael di atas.
"kalau tidak..aku akan membuatmu menyesal" Kali ini Rafael membalas sama seperti apa yang gadis itu lakukan, bedanya ia menyentuh leher Zoeya bukan dengan tangannya melainkan menggunakan bibirnya.