![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Setelah kejadian awkward itu Zoeya membungkuk sopan pada Tya namun ia langsung buru-buru pergi dari sana dengan langkah yang masih hati-hati.
Tya beralih melirik putranya seakan tatapannya berkata "Apa yang terjadi diantara kalian berdua"
Namun Rafael juga hanya memberikan senyuman canggung, ia memilih untuk pamit dan ikut-ikutan pergi dari sana. Sedangkan Tya yang melihat tingkah kedua anak itu jadi tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar anak-anak muda" gumamnya dan mulai masuk ke ruangan ICU untuk menemani Roma. Bagaimana bisa ia diperbolehkan masuk? Itu karena Tya sudah meminta izin terlebih dahulu pada Dokter yang ia kerahkan khusus Roma. Lagipula ia juga akan memindahkan Roma ke ruangan rawat inap.
Tya melihat kondisi sahabatnya itu sudah mulai membaik, tak sepucat kemarin. Ia akhirnya bisa sedikit lega, tapi Tya agak terkejut dengan tangan Roma yang bergerak. Ini hanya imajinasinya atau memang kenyataan? Tya perlahan mendekat untuk memastikan. Dan benar dugaannya bahwa tangan Roma memang bergerak. Ia pun segera memanggil Dokter dan para medis dengan raut wajah bahagia yang terpancar.
...***...
"Buka mulutmu aaaa" Rafael saat itu tengah menyuapi Zoeya yang sudah kembali ke kamar rawat inapnya. Posisinya ia sudah terduduk di ranjang Zoeya.
"Aku bisa makan sendiri! Letakan itu" ujar Zoeya tak ingin di suapi. Namun pria itu memang keras kepala, Rafael tetap ingin melakukan apa yang ia mau dan mulai memasukkan makanan ke mulut Zoeya dengan sedikit paksaan.
Rasanya Zoeya kesal tapi hanya bisa pasrah disuapi Rafael, setelah berhasil beberapa suap Rafael menurunkan sendoknya dan ekspresinya berubah, seperti ada penyesalan di dalam matanya. "Aku minta maaf padamu Zoey soal kejadian di sungai, sebenarnya aku penasaran sekali apa yang terjadi antara kau dan Lusiana. Tapi kalau kau tak mau membahasnya aku tak akan mengungkitnya lagi"
Zoeya tertunduk diam dengan bibir yang sedikit ia gigit, ia tak ingin memberitahu soal Lusiana pada Rafael. Dirinya tak mau membuat situasi menjadi runyam, yang terpenting sekarang ia pulih dulu. Melihat reaksi Zoeya yang hanya diam, membuat Rafael mengerti bahwa gadis itu memang tidak ingin membicarakannya.
Rafael langsung mengubah suasana, kebetulan perutnya itu berbunyi, menandakan cacing diperutnya menginginkan jatah makan. Rafael memasukkan makanan rumah sakit yang diperuntukkan Zoeya ke dalam mulutnya.
"Kenapa jadi kau yang makan?" Celetuk Zoeya. Pria itu menyengir kuda dengan wajah konyolnya.
"Aku juga lapar" sahutnya seraya memasukkan kembali makanan tersebut ke dalam mulutnya tanpa rasa malu.
Zoeya tersenyum tipis melihat tingkah pria menyebalkan di depannya itu. Dari kecil sampai dewasa tidak ada berubahnya.
"Kau sudah janji padaku akan membawaku melihat Ibuku kan?"
"Iya, makanya kau cepatlah sembuh"
"Aku sudah baik-baik saja, lihat. Bolehkah sekarang saja aku di pulangkan?" Zoeya melakukan gerakan tangan, kaki, dan ia juga menunjukkan gerakan loncat-loncat seperti ingin meyakinkan pria itu bahwa dirinya memang sudah sehat. Pria itu berpikir sejenak, "Yah terserahmu saja, kalau kau merasa sudah sehat kau bisa pulang sekarang"
Zoeya sangat senang mendengarnya, ia pun duduk kembali di ranjangnya dengan wajah yang gembira. Suapan terakhir Rafael berikan pada Zoeya, gadis itu juga membuka mulutnya dengan senang hati. Rafael tersenyum-senyum sendiri melihatnya, "masa dia tidak menyadarinya" batin Rafael.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri" Zoeya merasa aneh dengan tingkah pria dihadapannya ini, sekarang ia tengah berpikir apa yang salah.
Zoeya baru ingat itu kan bekas Rafael sekarang makanannya sudah tertelan dan Zoeya baru menyadarinya. Sekarang ia menatap kesal kearah kedua netra Rafael yang nampaknya sedang menahan tawa. Rafael terkekeh melihat gadis itu jengkel, "Apa? Kenapa memangnya?"
Zoeya membuat ekspresi mau muntah sambil mengelap bibirnya kasar.
"Itukan bekasmu iii kita berciuman secara tidak langsung"
Rafael mengusap dagunya seolah tengah berpikir keras, "Yang kau katakan ada benarnya juga, tapi aku tak masalah"
"Rafael! gila kau ya!"
Pria itu tertawa jahat, "Lagipula hanya berbagi sendok saja kenapa mesti kesal? Berpikirlah realistis"
"Tapi kan tetap saja, dasar tidak tahu malu" cibir Zoeya dan mulai bangkit dari ranjangnya. Rafael kembali tertawa puas karena berhasil membuat gadis itu kesal, yang berakhir dirinya di lempari sandal oleh Zoeya.
...---...
Di depan lobby rumah sakit, Tama sedang memainkan ponselnya ia menunggu maminya menjemput, ia berniat untuk menjenguk sahabat Maminya. Tama tadi sedikit ada kendala di jalan, jadi ia berangkat tak bersama Tya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan menyapukan pandangannya ke sekelilingnya. Matanya itu tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal. Langsung saja Tama menghampirinya.
"Lulu!" Panggilnya dan menahan tangan seorang wanita. Wanita itu nampak terkejut sekali, "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal. "Seharusnya kan aku yang bertanya padamu, kenapa kau berada disini?"
Wanita itu terdiam membisu ia tak berniat menjawab, ia pun menatap Tama dengan tatapan menelisik. "Kau pun kenapa berada di sini? Bukankah kau di kota C"
Tama mengendurkan genggamannya, kemudian matanya melirik ke arah pergelangan tangan wanita itu.
"Kau memakai gelangnya, aku juga memakainya setiap hari" ujarnya menunjukkan gelang perak yang di pakainya. Sama persis dengan gelang yang terdapat di pergelangan tangan wanita itu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kenapa kau di kota ini?" Tama terlihat sedikit gusar. Akhirnya ia memilih untuk mengatakan saja yang sebenarnya.
"Keluargaku tinggal di kota ini, aku hanya sementara bekerja di Kota C. Maaf aku tak memberitahumu tentang keluarga ku padamu"
Tama memeluknya erat dan mengelus rambut wanita itu perlahan.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Kau kenapa kemari? Apa kau sakit?" Tanya Tama lembut.
Wanita itu menggeleng, raut wajahnya nampak terlihat agak panik namun ia berusaha untuk menutupinya dengan senyuman.
"Tidak, tidak ada apa-apa" sahutnya. Tama merasa aneh melihat wanita yang ternyata kekasihnya itu menjawab pertanyaannya dengan ambigu. Kalau dia tidak sakit lalu untuk apa ke rumah sakit batin Tama curiga.
"Aku pergi dulu" bisiknya pelan dan melenggang pergi.
Tama langsung menghampiri sang Mami, Tya yang masih penasaran itu terus melihat kemana wanita itu pergi.
"Nak siapa perempuan itu?" Tanya Tya penasaran.
"Itu.. hanya teman lamaku Mam, kebetulan tadi kami bertemu" jawab Tama seadanya. Tya ber-Oh ria dan masih melihat 'teman' yang dikatakan Tama tadi mulai memasuki ruangan pemeriksaan kandungan.
Tama pun langsung merangkul Maminya untuk pergi dari sana, "Ayo kita pergi Mam" katanya sambil berjalan.
"Temanmu sedang hamil ya?" Tanya Mami lagi yang langsung membuat Tama terkejut setengah mati.
"Hah? Apa sih Mami ngawur deh" sahut Tama dengan kekehannya.
"Tidak nak, Mami tadi lihat kok dia masuk ke ruangan pemeriksaan kandungan"
Bagai di sambar petir di siang bolong, Tama membelalakkan matanya. Wajahnya terlihat sangat syok, sampai mau jalan pun jadi lemas.
"Kenapa kamu syok begitu? Kaya kamu aja yang hamilin dia" celetuk Tya heran dengan respons Tama. Kali ini omongan Tya sangat menusuk hatinya, sekarang pikirannya kacau. Ia tak bisa berpikir jernih.
"Ayo kita ke ruangan Roma, tadi dia sudah sadar dan sudah Mami pindahkan ke ruangan rawat inapnya untunglah dia sudah membaik, Mami jadi sedikit lega. Mami juga tadi sudah menelefon Rafael, takutnya Zoeya ingin bertemu Ibunya kan. Mami sangat prihatin sekali, disini mereka tidak punya kerabat lagi. Hanya kita yang bisa membantu mereka, makanya keluarga kita akan membantunya. Kau tahu sendiri nak dia juga satu-satunya sahabat Mami, sebisa mungkin kita akan membantunya bertahan untuk hidup lebih lama"
Tama sama sekali tak mendengar perkataan Maminya itu, ia benar-benar ngebleng, banyak sekali pertanyaan di kepalanya sampai rasanya ia jadi pusing sendiri.
Mereka berdua telah sampai di ruangan Roma, Tya segera masuk duluan dan diikuti Tama dibelakangnya. Disana Tya bisa melihat kalau Roma sudah terbangun.
"Roma.. bagaimana kabarmu? Kau merasa lebih baik?" Roma mengangguk pelan kemudian beralih menatap Tama, dari raut wajahnya ia terlihat bertanya-tanya siapa pria itu.
Tya menarik tangan Tama agar lebih mendekat,
"ini Tama, kau ingat? Dia putra sulung ku" Roma kembali mengangguk rasanya ingin sekali Tama dipeluknya dan akhirnya dengan kondisinya yang seperti ini ia hanya bisa memberikan senyumannya. Tama pun membalasnya dengan senyuman sopannya.
"Aunty Roma cepatlah sembuh" ujarnya lembut.
Seperti yang dijanjikan oleh Rafael, hari ini Zoeya sudah diperbolehkan pulang karena dirinya sudah merasa lebih baik dibanding sebelumnya. Dan Rafael juga menepati janjinya soal mempertemukan Zoeya dengan ibunya. Zoeya merasa sangat bahagia, Rafael tak mengingkari janjinya. Kini ia sudah berada di pintu depan ruangan rawat inap Roma.
Ia tak kuasa menahan air matanya, antara sedih dan bahagia karena bisa bertemu ibunya. Perasaannya campur aduk, tiba-tiba Rafael merangkul pundak Zoeya yang membuat Zoeya ikut mendongak menatap pria itu.
"Haduh siapa yang mengiris bawang di depan pintu begini" seloroh pria itu berusaha menghibur Zoeya sambil celingukan seolah mencari pelaku.
Zoeya sedikit terhibur dengan pria itu, senyuman tipis terangkat dari wajah sendunya. "Bodoh" umpat Zoeya dan memukul pelan dada bidang Rafael.
"Cup cup jangan menangis lagi, wajahmu jadi semakin jelek kalau menangis" Zoeya kembali memukulnya agak keras, perkataan Rafael berhasil membuatnya kesal dan air mata naik kembali.
Rafael terkekeh dengan jahilnya dan mereka berdua akhirnya benar-benar masuk ke dalam. Tya yang melihat kedatangan mereka berdua menunjukkan senyum lebarnya, terutama Roma. Setelah melihat kondisi Ibunya, Zoeya kembali meneteskan air matanya. Kali ini benar-benar deras, ia langsung menghampiri sang Ibu dan berlutut di lantai di samping ranjangnya.
"Ibu.. maafkan aku. Aku datang terlambat" katanya sambil menggenggam tangan sang Ibu dan menciuminya lembut. Roma yang melihat itu ikut meneteskan air matanya, ia benar-benar ingin memeluk putri semata wayangnya dengan erat.
"Ibu harus sembuh, ibu harus kembali sehat dan hidup bahagia bersamaku. Aku yakin ibu pasti akan kembali sehat seperti sediakala"
Roma tersenyum tipis, sayangnya ia tak bisa memenuhi keinginan putrinya itu. Ia tahu bahwa penyakitnya ini lambat laun akan merenggut nyawanya. Sudah terlambat, ia mungkin bisa bertahan hidup hanya sampai beberapa bulan saja. Roma tahu persis bagaimana rapuhnya Zoeya, ia sangat tak tega jika harus benar-benar meninggalkan Zoeya sendirian.
"Anakku.. putriku.. ibu tak bisa menemanimu lebih lama"
Mendengar itu Zoeya langsung lemas seketika, sekarang ia terduduk di lantai dengan tubuh yang lunglai. Tama yang memang lebih dekat posisinya dengan sigap menangkap tubuh Zoeya. Takutnya gadis itu pingsan, Tama pun merangkulnya.
Dengan bibir gemetaran, gadis itu menatap Roma sendu.
"Berapa lama lagi Ibu menemaniku"
Roma tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis, ia juga memalingkan wajahnya tak tega melihat putrinya. Tya memberi isyarat kepada Tama untuk membawa Zoeya ke sofa dan Tama menurutinya.
Rafael hanya bisa melihat hal itu dengan ekspresi datar. "Kenapa Mami tak menyuruhku saja?" Batinnya, mengekori di belakang Tama yang sedang memapah Zoeya.
"Tenangkan dirimu Zoeya" Ujar Tama dan menuangkan segelas air yang berada di meja samping sofa. Kemudian ia menyodorkan air tersebut pada Zoeya.
Zoeya menerimanya dan meminumnya tiga tegukan. "Terimakasih" Tama mengangguk.
"Tarik nafas dan buang perlahan. Rileks oke" timpal Rafael ikut-ikutan, yah setidaknya ia berkontribusi untuk membuat gadis itu tenang. Namun caranya itu tidak digubris sama sekali, Zoeya hanya terdiam dengan tatapannya yang terus melihat ke depan. Bukan bermaksud mengabaikan tapi memang gadis itu sedang berpikir perihal Ibunya. Jadi ia kurang mendengarkan suara di sekitarnya.
"Hey kok kau menganggapku tak ada? yang menemanimu semalaman itu aku bukan kakakku halo!" batin Rafael menatap Zoeya kesal. Tama sedikit menoleh kebelakang melirik sang Adik. Ia menyunggingkan senyuman tipis di ujung bibirnya. Rafael yang melihat ekspresi kakaknya seperti itu tentunya memasang wajah sinis juga.
"Kakak bajing ini licik sekali kalau soal wanita" gerutunya dalam hati seraya menatap tengkuk Kakaknya tajam.