Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 13 [Dia memiliki kekasih]



Rafael mengakui bahwa ia begitu takjub melihat Zoeya membawakan tehnya. Ia memuji keterampilan sekretarisnya itu.


"Ku akui kau hebat juga, kalau bisa kan kuikut sertakan kau lomba menari hahaha"


Zoeya kembali menoleh menatap datar pria tersebut, ia pun membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan tersebut. Baru saja ia mau membuka pintu Rafael menghentikannya.


"Tunggu.. apa kau bisa berdansa?" Tanyanya, Zoeya menoleh kearahnya bingung. Kenapa juga pria itu bertanya soal dansa.


"Bisa" Jawab Zoeya, masih dengan posisinya di depan pintu ia menunggu apa yang akan dikatakan Rafael.


Pria itu berjalan mendekat sampai berada di belakang Zoeya, gadis itu bisa merasakan hembusan nafas di atas kepalanya, ia terdiam kaku. Tangan Rafael mulai menggenggam punggung tangan Zoeya, lalu ia mengarahkannya ke depan perut gadis itu.


Jadi posisi mereka sekarang seakan sedang berpelukan dari belakang, Rafael mulai menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. Zoeya tahu pria ini sedang mengajaknya berdansa.


"Ada apa dengan pria sableng ini? Apa dia salah makan? atau salah minum obat?" batin Zoeya terheran.


Zoeya pun hanya bisa mengikuti gerakan Rafael, pria itu melepaskan genggaman tangan kiri. Zoeya mengikutinya ia menjauh dengan tangan satunya yang masih berada di genggaman Rafael, kemudian Zoeya berputar dan kembali seperti posisi awal. Rafael mendekatkan wajahnya ke telinga Zoeya, ia akan membisikkan sesuatu. Tapi mereka jadi terkejut karena seseorang membuka pintu.


"El" ucap suara wanita yang membuka pintu itu, ekspresi wajahnya pun sama seperti mereka. Ia tampak terkejut sekali melihat Rafael dan Zoeya. Apalagi dengan posisi mereka saat ini, orang yang melihat pasti akan salah paham.


Zoeya segera melepaskan diri dari Rafael dan menjaga jarak. Sedangkan Rafael bersikap santai, ia mendekati wanita yang nampaknya tertegun disana.


"Kau sudah pulang sayang"


Zoeya terbelalak mendengar kata sayang yang keluar dari mulut pria itu, ia melihat interaksi keduanya dengan ekspresi bingung bercampur kaget. Nampaknya memang dua orang ini adalah pasangan kekasih.


Wanita itu cemberut dengan Rafael yang terlihat membujuknya. Zoeya hanya terdiam di sana, entah mengapa ia merasa di kecewakan lagi. Tapi ia berpikir untuk apa dirinya kecewa? Zoeya larut dalam pikirannya sendiri.


"Zoeya" panggil Rafael dengan nada agak tinggi, karena dari tadi ia sudah memanggil tapi gadis itu diam saja dan tak menjawab.


Zoeya terperanjat saat Rafael memanggilnya begitu, ia pun langsung tersadar dari lamunannya.


"Keluar" titahnya, Zoeya mendongak menatap Rafael kemudian matanya beralih menatap wanita yang di rangkul Rafael.


Wanita itu menatap Zoeya dengan pandangan sinis. Zoeya pun segera keluar dan menutup pintunya, ia duduk di kursinya sesekali melirik ke ruangan itu. Dan tak sengaja mata mereka bertemu, Rafael menatap Zoeya dengan tatapan yang tak bisa di baca.


Sedangkan Zoeya langsung mengalihkan pandangannya,


"kenapa aku begini? Sudah jelas pria seperti dia tak mungkin single kan?"


"Dasar! padahal sudah punya pacar tapi masih menggoda wanita lain, memang para pria itu tak bisa cukup dengan satu wanita. Aku juga bodoh mau saja di pegang-pegang olehnya" gumamnya sendiri. Zoeya menepuk jidatnya pelan, ia pun kembali dengan pekerjaannya. Di saat ia akan memulai pekerjaannya, ia melihat Hansel keluar dari lift.


Zoeya bangkit dari duduknya dan bersiap menyapa Hansel. Mereka saling melempar senyum, "Tuan, selamat siang" sapanya dengan senyuman hangat.


"Selamat siang nak, kau ini.. kan sudah kubilang tak perlu formal begitu"


Gadis itu menggeleng "Tidak Tuan, disini adalah kantor. Saya akan tetap memanggil anda Tuan. Kalau di luar kantor saya akan memanggil anda Uncle sesuai yang anda mau"


Hansel tertawa kecil ia mengusap lembut kepala Zoeya. "Sesekali main lah ke rumah, Auntymu Tya pasti senang sekali melihatmu"


Gadis itu memberikan senyumannya. Hansel melihat sekitar dan ia sempat melirik ke arah ruangan Rafael. Karena pintu ruangan tersebut kaca, jadi ia bisa melihat putra bungsunya itu sedang apa.


Ia mendapati seorang gadis duduk di pangkuan putranya itu, wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Beraninya putranya itu membawa wanita ke kantornya. Segera ia akan membuka pintu, namun Zoeya mencegahnya.


"Tuan, tolong jangan marah. Tuan Rafael tak bersalah, wanita itu yang datang kesini sendiri" jelas Zoeya, Hansel terdiam sejenak.


"Entah wanita itu yang datang sendiri atau Rafael yang mengundangnya kemari itu tak mengubah bahwa dia bermesraan dengan wanita itu di tempat kerjanya. Aku tak akan membiarkannya" sahut Hansel dengan nada tegas. Ia pun langsung membuka pintu tanpa mengetuknya.


"Rafael!" Teriaknya murka. Zoeya yang mendengar teriakan itu memejamkan matanya, habislah sudah Rafael. Pria itu terkejut dan langsung berdiri tegap ia juga mendorong wanita itu menjauh darinya.


"Memalukan! Apa yang kau lakukan" murkanya, Zoeya langsung masuk ke dalam untuk menengahi.


"Tuan, tolong kendalikan amarah anda" ujar Zoeya menenangkan, Hansel menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu langsung mempersilahkan Hansel untuk duduk terlebih dahulu dan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Hansel menurut dan ia pun duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.


Hansel mulai menginterogasi mereka dengan tatapan tajam.


"Siapa gadis ini?" Tanyanya seraya melirik wanita di samping Rafael.


"Pacarku" Jawab putranya tanpa keraguan.


"Siapa namanya? Dari keluarga mana?" Sambungnya masih dengan tatapan tak ramah.


"Lusiana Edward"


Zoeya menyimak percakapan mereka dengan berdiri di samping Hansel. Sedangkan wanita yang bernama Lusiana itu berdiri di samping Rafael seraya menatap Zoeya dengan tatapan sinis. Zoeya tak sedikitpun takut dengan tatapan dari Lusiana, ia malah mengangkat wajahnya. Dan membalas tatapan Lusiana dingin.


Hansel beralih menatap Lusiana, ia lihat gadis itu dengan seksama dari atas sampai bawah. Lusiana yang merasa di tatap langsung menyunggingkan senyumannya.


"Kau dari Keluarga Edward? Apa pekerjaan mu?" Tanya Hansel.


"Modeling" Jawabnya dengan nada bangga. Mendengar jawaban itu Hansel menyudahinya, ia pun langsung bangkit dari duduknya.


Hansel mendekati putranya dan berbisik.


"Suruh wanita itu pulang, jangan mengganggu di jam kerja. Jika ini terulang lagi aku tak akan mentolerir lagi"


Namun Zoeya menghentikan langkahnya, lagi-lagi ada yang menahan tangannya. Ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. Di belakangnya terlihat wanita yang bernama Lusiana itu menahannya.


"Lepaskan aku" ujar Zoeya, ia merasa kesal sebenarnya tapi ia menahan kejengkelannya.


"Kau yang mengadukan kami?" Tanyanya dengan nada tak ramah.


"Tidak" Jawab Zoeya singkat dan langsung menepis tangan wanita itu dan pergi dari sana.


Sesekali ia melirik kearah ruangan itu yang terlihat Lusiana seperti sedang mengadu pada Rafael soal tangannya. Dari gerak geriknya pun Zoeya bisa tahu bahwa dia sedang memutar balikkan fakta. Ia tak peduli toh dirinya tak salah apapun. Tapi Zoeya lebih penasaran dengan reaksi Rafael, apa yang akan pria itu lakukan pikirnya.


"Pulanglah Lusi, aku masih banyak pekerjaan" ujar Rafael dan duduk kembali di kursinya.


"Tapi aku masih rindu, memangnya kamu ga rindu sama aku? kita tak bertemu sebulan lebih lho"


Pria itu tersenyum hangat dan menggenggam tangan Lusiana untuk mendekat.


"Kalau pekerjaan ku sudah selesai, aku akan mengajakmu jalan-jalan" Lusiana begitu gembira mendengar Rafael akan mengajaknya jalan-jalan wajahnya berseri-seri.


"Sungguh? Kita jalan-jalan? Ke Eropa? Swiss?" Tanyanya antusias.


"Ya ya ya kemanapun kau mau"


Lusiana melompat-lompat kecil, ia sangat senang.


"Aaaa thank you baby, i love you so much" ia mengecup singkat pipi Rafael, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu.


"Bye sayang, aku tunggu telfon mu ya"


Rafael memberikan senyumnya dan mengangguk.


Setelah Lusiana menutup pintu, pandangannya reflek melihat Zoeya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa maksudnya Lusiana mengibaskan rambutnya di depan Zoeya lalu berjalan seakan ia sedang catwalk dengan ekspresi congkaknya.


"Dia pikir ini panggung catwalk?" Gumam Zoeya seraya melihat Lusiana yang tengah berjalan keluar dari kantor.


"Hey" panggil suara berat. Zoeya menoleh dan dirinya terkejut karena Rafael sudah berdiri di depan mejanya.


"Haiss bikin kaget saja"


"Sedang melihat apa?" Tanyanya lalu melihat ke arah yang tadi Zoeya lihat.


"Bukan apa-apa" Zoeya memalingkan wajahnya dan tak menghiraukan kehadiran Rafael.


"Kenapa wajahmu kecut begitu? Kau sedang kesal? marah? atau kau cemb–"


Zoeya langsung menatap tajam yang membuat Rafael langsung menghentikan ucapannya, dengan wajah jahilnya ia menaikan satu alisnya seperti meminta penjelasan dari tatapan tajam itu.


"Oh halo.. siapa yang cemburu? Aku? Sorry to say u're not my type, kamu tak sebagus itu! untuk apa aku cemburu"


Pria itu mengangguk-angguk mengerti dengan wajah menahan tawa.


"Tapi... Aku tak bilang cemburu, aku juga tak mau tahu aku tipe mu atau bukan. Kenapa kau memberitahuku?"


Gadis itu berpikir kembali, yang dikatakan pria ini benar juga. Dia pun sadar bahwa Rafael sedang mengerjainya.


"K-kau menjebakku agar mengatakan itu kan, memangnya kau mau mengatakan apa kalau bukan cemburu"


Rafael memegang dagunya seakan ia sedang berpikir.


"eumm.. cemberut"


sekarang Zoeya kesal sekali sampai wajahnya memerah.


"GA NYAMBUNG! Tolong sehari saja bisa tidak jangan membuatku kesal"


Rafael terkekeh, "Menurutku nyambung saja, kau langsung memotong pertanyaanku dengan tatapanmu. Jadi siapa yang salah?"


"Kau kan bisa lanjut bicara tak perlu berhenti dan menaikkan alismu. Aku tahu kau mengerjaiku, makanya kau sengaja kan agar aku salah paham"


"Kau yang salah paham kenapa kau menyalahkanku? jadi kau beneran cemburu?" Zoeya memelototi pria itu, benar-benar sekarang ia ingin sekali memukul Rafael dengan sepatu pantofelnya.


"Tidak"


Pria itu tersenyum tipis, ia suka sekali melihat wajah Zoeya memerah karena dibuat kesal.


"Dari kamus bahasa wanita yang ku pelajari biasanya jika wanita mengatakan tidak itu berarti iya" jelas Rafael.


Zoeya tersenyum remeh,


"Bukan! bahasa wanita itu banyak. Kau bukan wanita jadi tidak akan mengerti, ku beri tahu pelajaran tambahan di kamusmu. Jika wanita mengatakan iya bisa berarti iya, tapi bisa juga tidak. Dan tidak berarti iya, tapi tidak juga bisa berarti tidak. Dan ada juga iya bisa berarti tidak atau iya, Tidak bisa berarti iya atau tidak"


Rafael yang mendengar penjelasan Zoeya jadi pusing sendiri, kenapa juga wanita bisa seribet ini pikirnya. "Kalian memang makhluk yang tidak mudah dimengerti. Ah sudahlah aku menyerah" Pria itu memilih untuk kembali saja ke ruangannya. Zoeya tertawa sangat puas, akhirnya ia bisa memenangkan perdebatan ini dan mengalahkan Rafael.