![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Gadis itu terkejut melihat genggaman tangannya dilepas kasar Rafael dan dirinya terhempas ke belakang. Untungnya ada seseorang yang menahannya agar tidak jatuh ia melihat di sampingnya sudah ada sesosok pria yang tidak ia kenal. Pria itu tersenyum ke arahnya dengan senyuman canggung. Zoeya segera menjauh dari Pria tersebut dan menatap Rafael seperti ia mencari kejelasan atas situasi ini, ia tak mengerti kenapa Rafael melakukan hal itu.
"Jangan takut Zoey dia adalah temanku, ikutlah dengannya ini misi pertamamu. Semoga berhasil" ucap Rafael enteng dan dia pun pergi menuju meja yang berada di dekat sana.
"Apa-apaan ini? misi apa?" batin Zoeya ia masih menatap Rafael bingung, apa maksud dengan 'misi pertamamu' disini.
Lais dan Zoeya pun berjalan menuju meja yang berada di dekat jendela, dalam perjalanan itu Lais mengajaknya mengobrol ringan atas apa yang terjadi.
Zoeya yang masih kebingungan itu terkadang ia melirik ke belakang melihat ke arah Rafael.
"Namamu Zoeya kan? apa kau belum diberitahu tentang rencana ini oleh Rafael?" tanya Lais memulai percakapan. Respon gadis itu hanya menggeleng.
Lais mengusap wajahnya kasar kalaupun ia menjelaskan waktunya tak akan sempat, bagaimana bisa Rafael itu tak memberitahu gadis malang ini yang sudah seperti tumbal. Lais pun mengutuk sahabatnya itu karena keterlaluan. "Dasar bodoh" umpat Lais seraya melirik ke belakang. Rafael yang di lirik begitu pun langsung pura-pura tidak melihat.
Lais pun memilih untuk memberitahu apa yang harus Zoeya lakukan saja saat tiba di meja tersebut.
"Maaf aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, aku ingin minta tolong padamu kalau sampai di meja itu kita bergandengan tangan atau kau memeluk lenganku"
Zoeya menautkan alisnya dan menatap sinis pada Lais.
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan nada tak suka. Mereka hampir mendekati meja tersebut,
"Ini sandiwara" bisik Lais dan langsung menggenggam tangan Zoeya erat.
"Sudah kukatakan padamu tapi kau tak percaya. Lihat siapa yang kubawa" ujar Lais pada seorang wanita yang duduk di meja tersebut. Dan wanita itu menoleh lalu menatap mereka dengan tatapan tajam, apalagi saat ia menatap Zoeya.
"Sudah kubilang aku punya pacar, jangan ganggu hidupku lagi dan batalkan perjodohan itu. Bilang pada kedua orang tuamu Lais Leonard sudah sold out" ujar Lais berbangga diri, ia beralih menatap Zoeya dengan tatapan penuh cinta.
Plakk sebuah tamparan mendarat di pipi Lais. Zoeya yang melihat itu membelalakkan matanya, yah dirinya itu tidak perlu terkejut lagi karena ia sempat memperkirakan bahwa kejadian seperti ini pasti akan terjadi.
"Dasar brengsek! Kau duluan yang merayuku lalu saat aku serius kau membuangku?" ujar wanita itu marah.
Zoeya tersenyum tipis, melihat Lais di tampar begitu ia merasa sedikit puas. Wanita itu beralih menatap Zoeya masih dengan tatapan yang penuh amarah, ia mengambil secangkir kopi yang berada di mejanya tadi dan di lemparkannya ke arah Zoeya.
Gadis itu terperanjat kaget dan melihat bajunya kotor karena kopi tersebut. Begitupun dengan Lais yang terkejut dan juga Rafael yang reflek berdiri dari tempat duduknya, mereka berdua tak memperkirakan wanita itu akan berani menyiram Zoeya.
"Oh sial! Matilah dia" batin Rafael khawatir dengan wanita yang menyiram Zoeya. Ia tahu bahwa Zoeya tidak akan diam saja, bokongnya saja bisa melekat dengan kursi karena gadis itu tidak terima. Apalagi wanita ini yang menyiram kopi panas.
Tapi kalau dilihat dari kenyataannya, Zoeya tidak salah apapun. Daritadi ia sudah menahan kesal, kecewa, amarah pada Rafael yang membuat rencana seperti ini tanpa persetujuannya dan sekarang ia tak bisa hanya berdiam diri saja. Apalagi baju yang ia kenakan adalah hadiah dari mendiang Ayahnya.
Gadis itu menatap sekelilingnya, ia melihat ada secangkir kopi panas di meja depan. Segera ia berjalan beberapa langkah mengambilnya,
"Nona saya izin mengambil kopimu, nanti saya gantikan ya" izin Zoeya pada pemilik kopi, untungnya pemilik kopi mengizinkan dan langsung saja gadis itu berbalik lalu menyiramkannya ke baju wanita itu.
"Aaw panas" jeritnya sambil mengibaskan bajunya lalu mengangkat wajahnya menatap Zoeya.
"Kopi panas di balas kopi panas. Aku tak suka jika hanya aku yang menerima kopi darimu, jadi kuberikan juga kopi untukmu. Sekarang tak ada hutang lagi di antara kita"
"Beraninya kau–"
Zoeya membisikkan sesuatu pada wanita tersebut dan mencengkeram erat pergelangan tangannya ke belakang.
"Berhentilah membuat keributan di tempat umum, kalau kau masih tak terima orang bernama Lais itu memiliki kekasih aku juga masih bisa meladenimu. Tak perlu waktu lama untuk mematahkan tangan dalam genggaman ku ini" Wanita itu meronta ingin dilepaskan sampai matanya berkaca-kaca.
Zoeya yang melihat itu mengendurkan cengkramannya dan segera wanita itu menjauh dari Zoeya, ia keluar dengan memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit. Rafael melihat tangan wanita yang baru saja keluar itu dengan tatapan iba, langsung saja ia menghampiri Lais dan Zoeya.
Lais terlihat masih syok dengan apa yang di lakukan Zoeya,
"Wah sudah selesai sandiwara nya?" ucap Rafael kemudian ia memberikan jas nya untuk di pakai gadis itu. Namun Zoeya menepisnya kemudian ia berjalan kearah meja sang pemilik kopi yang ia pinjam. Zoeya memberikan beberapa uang lembar sebagai gantinya dan ia juga meminta maaf serta berterimakasih. Lalu gadis itu keluar begitu saja dari sana, ia memberhentikan sebuah taxi dan langsung pergi.
Lais dan Rafael saling bertatapan, mereka kagum dengan cara Zoeya membuat wanita itu pergi.
"Dia gadis yang ganas, sangat liar" ujar Lais dengan tatapan takjub. Sedangkan Rafael berkacak pinggang dan mengusap wajahnya kasar.
"Dia marah pada kita berdua, tapi kurasa dia lebih marah padaku. Aku tak tahu cara membujuknya, sekarang kau yang harus membantuku"
Mereka berdua keluar dari sana dengan Lais yang memegangi pipinya yang masih terasa kebas.
"Kau rayu saja dia, wanita kan gampang luluh dengan wajahmu ini"
Rafael berdecak, saran Lais itu tak akan mempan. "Kau tak mengenalnya, gadis itu berbeda dari gadis-gadis kebanyakan"
"Lalu harus bagaimana?" Sahut Lais ikutan bingung. Rafael memutar otaknya ia berpikir apa yang harus ia lakukan tapi pikirannya tidak bisa berpikir, yah dia masih tak tahu harus membujuk gadis itu bagaimana.