Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 50 [Kata terakhir] End S1



"Ya, ada apa?"


"Apa katamu? Milan!?"


"Cepat kau ke sana segera! Aku akan menyusul. Pastikan tidak ada orang lain selain orang-orang kita"


Pria paruh baya itu menutup panggilannya setelah memberikan perintah. Tangannya yang kekar serta terdapat keriput itu meraih puntung rokok yang tadi sudah ia hisap. "Lucanno putraku, aku punya tugas untukmu" ia meminta putranya untuk mendekat kepada nya, kemudian ia bisikkan perihal tugas yang ia perintahkan.


Lucanno manggut-manggut mengerti setelah ia tahu tugasnya easy peasy baginya. Pria berambut kecoklatan itu pun melenggang pergi dari ruangan sang ayah untuk melakukan apa yang diperintahkan nya.




Di dalam ruangan kerjanya Rafael duduk di kursi kebesarannya mengerjakan pekerjaannya yang mendesak sebelum pergi ke Milan. Manik matanya yang indah selalu terfokus pada layar laptopnya dengan jari jemarinya yang lincah terus mengetikkan kata demi kata.


Raut wajahnya terlihat sangat serius, terkadang dahinya mengernyit kala mendapati ada sesuatu yang salah.


"Apa-apaan ini!?" gumamnya dengan nada kesal. Rafael baru saja mendapatkan informasi mengenai seseorang yang akan ia temui di Milan.


Rafael ingin terfokus kembali pada pekerjaannya namun sudut matanya menangkap sosok Zoeya yang membuka pintu ruangan sembari membawa cangkir yang entah terisi oleh apa. Lantas Rafael pun menghentikan kegiatannya dan menatap sang istri yang berjalan ke arahnya.


Hanya ada satu kata yang terdapat dalam otaknya dan berhasil membuyarkan kefokusannya yaitu betapa cantik istrinya. Bahkan jika Zoeya mengenakan kain gembel pun pasti terlihat cantik di matanya.


"Ini aku bawakan teh hijau untukmu" Zoeya menaruh cangkir berisi teh yang tadi ia bawa. Rafael langsung mengalihkan pandangannya ke arah cangkir tersebut.


Ekspresinya kian berubah menjadi heran, setahunya Mami Tya tidak pernah membeli teh hijau karena Papi tidak menyukainya, jadi jarang sekali Mami membeli produk teh hijau. Apa mungkin baru-baru ini Maminya itu membelinya.


"Teh hijau? Apakah Mami yang membelinya?" tanya Rafael. Zoeya menggeleng pelan meresponnya.


"Lalu siapa yang membeli ini? Apa Cadh Bibi?" Lagi-lagi gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Putranya Cadh Bibi, dia membawakan teh hijau untukmu. Jadi sekalian saja ku buatkan karena kau sedang bekerja" jelas Zoeya, Rafael langsung mengingat-ingat perihal putra Cadh Bibi yang jarang ia temui.


Memori ingatannya mulai terbuka, Rafael teringat dengan seorang pria yang mengobati luka-lukanya pasca kejadian naas hari itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang dokter sekaligus putranya Cadh Bibi, yang bernama Luno.


"Oalah.. Ya ya aku tau orangnya. Untuk apa dia kemari? Bukankah dia tengah sibuk jika di hari kerja seperti ini?" Zoeya mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu-menahu tentang alasan putra Cadh bibi yang berkunjung kemari.


"Tapi.. dia menitipkan beberapa obat untuk lukamu. Mungkin dia kemari untuk memberikan itu" timpal Zoeya yang teringat pria tersebut menitipkan obat untuk suaminya.


"Apakah lukamu karena kejadian hari itu?" tanya Zoeya hati-hati, Rafael pun mengiyakan saja toh memang benar itu kenyataannya. Pria itu beralih ke layar laptopnya melanjutkan pekerjaannya tadi.


Dari raut wajah Zoeya sebenarnya ia terlihat khawatir. Namun dirinya pun tidak bisa melakukan apapun selain menatap sayu Rafael yang tengah bekerja itu. Besok hari ia sudah tak bisa melihat pria ini dalam pandangannya. Entahlah Zoeya merasa sedih jika memikirkannya, jadi ia ingin memuaskan matanya untuk melihat Rafael saja.


Rafael sendiri sebenarnya tahu Zoeya daritadi memperhatikannya. Namun karena dirinya tengah sibuk, pria itu lebih membiarkannya saja.


"Apa kau mau olahraga terlebih dahulu sebelum pergi dari sini?" celetuk Rafael tanpa menoleh dan masih terfokus pada pekerjaannya.


Gadis itu berpikir sejenak dan menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan, tentu saja ia mau berlama-lama di sini untuk memandangi Rafael sebelum suaminya itu pergi. Kesempatan mana lagi yang Zoeya dustakan? Ini kan alasan yang bagus untuk memandangi sepuasnya berdalih olahraga.


"Ya boleh! Kau mengizinkan?"


Rafael manggut-manggut mengiyakan. Sebenarnya Rafael pun ingin melihat Zoeya lebih lama lagi, namun dirinya gengsi untuk sekadar memberitahu agar gadis itu menemaninya sepanjang hari. Dan sekarang ia senang bukan main kala Zoeya menerima tawarannya untuk berolahraga di sini.


Rafael tersenyum-senyum sendiri di depan layar laptopnya itu. "Apa dia tahu cara memakai alatnya?" pikir Rafael yang sesekali mencuri pandang ke arah Zoeya. Nampaknya gadis itu akan menggunakan dumbbell milik Rafael, lantas pria itu bangkit menghampiri sang istri sebelum ada sesuatu yang terjadi.


"Jangan pakai yang ini" kata Rafael seraya mengambil dumbbell miliknya yang seberat 5 kg itu. Zoeya hanya menatap lekat suaminya, ia memperhatikan Rafael yang tengah mengambil sesuatu di pojok ruangan.


"Pakai yang ini saja" Rafael menyerahkan dumbbell yang berukuran lebih kecil pada Zoeya.


Gadis itu menerimanya dengan wajah bingung. "Bukankah ini terlalu kecil? Apa kau sedang meremehkan ku?" ujarnya yang membuat Rafael terkekeh.


"Bukan begitu.. aku takut kau cedera, kau kan jarang olahraga. Pakai saja yang itu" jelas Rafael kembali, kemudian mengacak pelan rambut Zoeya.


Melihat wajah Zoeya yang merona Rafael jadi tersenyum tipis ia pun langsung pergi membiarkan gadis itu berolahraga dan dirinya melanjutkan pekerjaannya.


POV Zoeya


Rasanya hatiku cenat cenut ketika pria itu mengacak-acak rambutku, apa karena sekarang aku menyadari bahwa aku menyukainya? Alhasil pipiku jadi panas begini ya.


Aku mengangkat dumbbell imut ini seperti melakukan olahraga biasa sembari sesekali aku mencuri pandang untuk melihatnya yang sangat serius di depan layarnya. Pikirku apa memang urusan di Milan sangat penting bagi perusahaan ya? Tapi dibalik itu juga, aku bersyukur bisa sedikit menjauh darinya.


Mungkin aku memang harus benar-benar memikirkan kembali berpisah dengannya disaat Rafael tidak ada. Tapi aku juga masih penasaran dengan alasannya yang terlihat tidak ingin berpisah. Sebenarnya apa yang dia pertahankan dari hubungan kami?.


Entah sudah berapa lama aku terus memperhatikannya sampai aku tak sadar aku mulai mengantuk. Aku bingung padahal aku sedang berolahraga tapi bisa-bisanya aku ingin tertidur. Mata ini sudah sepet sekali rasanya.


Yaampun.. dan entah bagaimana ceritanya aku pun ketiduran. Saat terbangun tiba-tiba saja aku sudah berada di ranjang kamarku. Ku sapukan pandanganku ke sekeliling dan mata ini menangkap sosok pria asing yang sedang mencari sesuatu.


"Hey! Siapa kau?" Teriakku seraya bangkit dari ranjang untuk menghampirinya. Pria itu menoleh kearah ku dengan wajah yang terkejut. Setelah melihatku ekspresinya kembali tenang, berbeda denganku yang menunjukkan kemarahan karena ia sudah tidak sopan masuk ke kamar seseorang tanpa izin.


"Ah maafkan saya nona Zoeya, masih ingatkan dengan saya? Saya Luno, sebelumnya maaf sudah tanpa izin masuk ke kamar anda. Tuan Rafael tadi buru-buru berangkat ke Milan karena ada hal yang mendesak jadi saya–"


"Tunggu! Apa katamu? Rafael sudah berangkat ke Milan?" Aku sangat terkejut mendengarnya, bahkan rasanya bola mata ini akan keluar dari kelopak mataku. Apa benar Rafael berangkat ke Milan tanpa berpamitan dulu denganku?.


"Iya nona Zoeya, tuan sudah berangkat mungkin sekarang masih dalam perjalanan ke bandara. Namun beberapa berkasnya ada yang tertinggal jadi saya diperintahkan untuk mengantarkannya ke sana segera"


"Kalau begitu aku ikut mengantarnya" ucapku tanpa pikir panjang. Aku ingin menemuinya sebelum ia berangkat, jahat sekali dia tidak berpamitan denganku. Apa begitu mendesak pekerjaannya itu? Bahkan sekadar mengucapkan selamat tinggal pun ia tak sempat.


Pria bernama Luno itu sudah membawa beberapa dokumen yang katanya milik Rafael yang tertinggal. Aku pun mengekorinya di belakang dengan perasaan yang masih dongkol terhadap suamiku. Luno memintaku untuk membawa mobil milik Rafael saja, aku mengangguk mengiyakan dan menurutinya.


Aku pun pergi ke arah garasi mobil sedangkan Luno berjalan menuju paviliun, katanya ia ingin berpamitan dulu pada Cadh bibi. Aku pun mengizinkan saja, rupanya Luno anak yang berbakti. Dalam hati aku memuji Cadh bibi yang berhasil mendidik putranya.


Beberapa menit berlalu, aku menunggunya di dalam mobil. Kulihat dari kaca spion Luno berjalan mendekat, ia mengetuk kaca di sebelahku dan memintaku untuk duduk di belakang saja. Ia menawarkan dirinya saja yang menyetir. Lagi-lagi aku mengiyakan saja dan beralih tempat duduk di belakang seraya memegang erat berkas milik suamiku.


Mobil mulai melaju menjauhi pekarangan kediaman Khurana. Bahkan terbilang melaju sangat cepat sampai aku khawatir dengan keselamatan kami.


"Anu.. Luno bisakah kau menurunkan kecepatannya?" tegurku dan pria itu hanya melirik dari center mirror seperti tak berniat untuk mengabulkan permintaanku.


Baru saja aku memegang ponsel, rupanya sudah ada beberapa pesan dan juga panggilan tak terjawab dari Rafael.


"Zoey aku pergi sebentar"


"Jangan kemana-mana, tetaplah di rumah!"


Aku mengernyit heran kala mendapati pesan seperti ini. Untuk menghilangkan rasa bingungku, aku mencoba menelfon Rafael agar aku bisa mendengar dengan jelas maksud pesannya.


Panggilannya tersambung, namun tiba-tiba saja Luno mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit mengalihkan perhatianku.


"Nona.. bukankah itu mobil tuan Rafael?" tanyanya. Aku menyipitkan mataku untuk melihat apakah benar mobil di depan adalah mobil suamiku.


"Hmm sepertinya benar" sahutku dan pria itu kembali terdiam. Aku syok sekali saat mobil yang kunaiki ini melaju dengan kencangnya mengarah pada mobil Rafael.


"Luno!! Apa yang kau lakukan!?" Teriakku panik. Aku tak tinggal diam saja melihat pria ini seolah akan melukai suamiku, aku maju ke depan untuk menghentikannya meskipun nyawaku taruhannya.


Perasaan tak enak sedaritadi rupanya pria sialan ini memiliki niat jahat pada suamiku. Sungguh, aku tak menyangka putranya Cadh Bibi ingin melukai Rafael, entah ada dendam apa dia. Namun aku bisa melihat kebengisan dari raut wajahnya yang polos itu.


Dengan sekuat tenagaku, aku berebutan stir mobil bahkan aku pun menjambak rambutnya hingga aku terpelanting ke belakang, yang paling membuatku syok sekali adalah rupanya rambut pria ini palsu. Bersamaan dengan itu ponselku terdengar suara seseorang yang sangat kukenal.


"Zoey ada apa?" Itu adalah suara Rafael, suamiku. Tanpa pikir panjang aku langsung meraih ponsel yang sudah terjatuh ke bawah. Namun sayangnya pria licik itu menarik rambutku dan membuatku meringis menahan sakit.


"Rafael!! cepat menjauh dari mobil belakangmu!"


Aarghh


"Halo? Zoey!? Zoeyaa!? Ada apa??"


Dengan gesit pria itu menarikku ke depan. Dan mengarahkan wajahku untuk melihat jalanan. Mobilnya terhenti di tepi jalan dan dari jarak beberapa meter sudah ada mobil Rafael yang berhenti juga. Aku bisa melihat sosoknya yang keluar dari mobil dengan ekspresi khawatir menatap layar ponselnya.


"Zoeya!? Jawab aku! Zoeya!?"


Aku bisa mendengar suaranya dari ponselku meskipun samar-samar karena berada di bawah. Ekspresinya terlihat khawatir padaku, padahal nyawanya sendiri perlu dikhawatirkan dibandingkan aku.


"Kau mau kita menemuinya seperti ini?" Kata pria itu seraya menarikku ke pangkuannya.


Menjijikkan. Sungguh aku sangat marah. Pria itu membuka pintu mobil mungkin ia bermaksud agar Rafael dapat melihat kami seperti ini. Sayangnya dia telah meremehkan ku. Kusikut tepat di ulu hatinya kemudian mendorongnya keluar dari mobil menggunakan tendangan ku.


Aku keluar dari mobil dan berlari ke arah Rafael. Sungguh aku tak tahan jika ada seseorang yang ingin mencelakainya tepat di depan mataku. Aku ingin memeluknya, aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.


Bisa kulihat dengan wajah bingungnya pria itu melihatku yang berlari ke arahnya. Aku tak bisa menahan air mataku ketika mendapati suamiku masih berdiri tegap di sana. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah menjaganya sampai saat ini.


Ku paksakan kaki ini untuk berlari menuju suamiku di sana. Bahkan jika bisa aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya.


Dorr dorr


"ZOEYA!!!"


Seketika kaki ini lemas untuk berlari lagi dan jantung ini seakan berhenti berdetak karena aku melihat lengan suamiku bercucuran darah. Rafael menangkapku karena tubuh ini lemas, ia memelukku erat dengan air mata yang mengalir dari mata indahnya.


Aku masih sangat syok atas kejadian barusan. Dalam dekapannya aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar hebat, aku pun meraba hati-hati lengannya diikuti air mataku yang semakin mengalir deras.


"Kau tertembak" ucapku dengan bibir gemetar. Pria itu menatapku sendu, sungguh aku tak kuasa melihatnya menangis. Apakah luka tembaknya terasa sakit sehingga pria kuat ini menitikkan air matanya.


"Apa kau bodoh? lukamu lebih parah dariku! disaat begini pun kau masih memikirkanku?" pekiknya dan memperlihatkan telapak tangannya yang sudah bersimbah darah sebab menahan punggungku.


Rasanya aneh, aku tak merasakan sakit apapun. Justru rasa sakit hatiku lebih terasa dibanding luka di belakang punggungku. "Ra-rafael aku mengantuk"


"Tidak! tidak! tidak!"


"Zoeya lihat aku! jangan tutup matamu"


"Dengarkan aku! Kau harus tetap terjaga! jangan tutup matamu. Ini perintah! tunggu aku, aku akan kembali"


Rafael membaringkanku dan dia berjalan ke depan dimana sudah terdapat beberapa orang di sana. Pandanganku mulai kabur meskipun begitu aku masih bisa melihatnya yang tengah memukuli seseorang.


Aku mengantuk, apakah aku berakhir mati seperti ini? Mataku mulai terpejam. Namun sayup-sayup kudengar suara seseorang.


"Nak.. kau ingatkan pesanku? Pantang menyerah hadapi semua dengan ketulusan hati kau menjadi berani"


Suara-suara itu seperti tumpang tindih dengan suara seseorang.


"Zoeya! lihat aku! Zoeya buka matamu" mendengar suara tersebut, aku pun membuka mataku dan mata ini menangkap sosok pria yang tengah berderai air mata. Kurasa kami dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Ayo bicara padaku! jangan tutup matamu, hiks lihat aku" katanya, aku tersenyum tipis melihatnya. Apa mungkin ini kesempatan terakhirku melihat wajahnya?


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu dengarkan aku baik-baik" pria itu meraih tanganku sesekali menyeka air matanya. Ia juga mengecup punggung tanganku seperti memberikannya kekuatan untuk mengatakan sesuatu.


"Zoeya aku mencintaimu! aku sangat mencintaimu. Tolong.. tolong bertahan hiduplah untukku hiks sungguh aku tak bisa hidup tanpamu. Aku akan melakukan apapun untukmu tolong tetaplah disisiku, tetaplah menjadi istriku" lagi-lagi air matanya mengalir membasahi pipinya, priaku ini jadi sangat cengeng sekarang.


Rafael memberikan bunga edelweis padaku yang entah sejak kapan ia membelinya. Sungguh aku tak menyangka di penghujung hidupku mendapat pengakuan cinta dari seorang Rafael.


"Kau tau.. saat dijalan aku bertemu dengan seorang kakek yang menjual bunga ini. Aku membelinya untukmu, Zoeya Larassati Khurana. Istriku.. cintaku.. teman hidupku"


Aku merasa senang namun aku juga merasa sedih mendengar pengakuannya yang begitu memilukan, kuusap pelan wajahnya yang rupawan. Kutatap ia lekat-lekat sebelum mata ini terpejam untuk selamanya.


"Zoeya berjanjilah padaku. Ayo berikan jari kelingkingmu. Kau harus berjanji untuk tetap hidup selamanya denganku, cepat berjanjilah padaku"


Kali ini rasa kantukku semakin tak tertahankan. Aku tak sempat berjanji padamu, dan aku pun tak sempat mengucapkan kata terakhir untukmu.


Namun ketahuilah untuk seluruh nafas ini ku persembahkan hanya untukmu. Jika ada lain kali mungkin kita bisa bertemu kembali. Meski akan ada banyaknya kekurangan dalam dirimu, aku akan tetap memilihmu.


—Zoeya Larassati Khurana.