Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 28 [Apakah dia memaafkanku?]



Pemberkatan mereka sudah selesai dilakukan dan sekarang mereka sudah terduduk di mobil yang melaju ke arah kediaman Khurana karena Zoeya sudah resmi menjadi menantu dan bagian dari keluarga terhormat itu. Maka ia akan tinggal bersama Rafael dan anggota keluarga lainnya.


Kali ini ia benar-benar harus menjelaskan semuanya pada Rafael, pria di sampingnya sudah menjadi suaminya maka dari itu ia tak ingin ada yang disembunyikan lagi. Zoeya melirik-lirik Rafael namun tetap saja pria itu tak menggubrisnya dan malah asik sendiri dengan ponselnya.


Gadis itu bingung sendiri, apakah saat tiba di rumah Rafael saja mereka berbicara lagi pikirnya bimbang. Gadis itu membiarkan matanya melihat jalanan, dari kejauhan ia bisa melihat kediaman yang begitu megah, sebentar lagi mereka akan sampai. Saat gerbang di buka betapa terperangah ia ternyata rumah mewah itu di hiasi begitu indahnya.


Di depan pintu utama juga sudah ada beberapa pelayan yang menyambut mereka. Gadis itu tak pernah terpikir sambutan yang begitu mewah seperti ini, Zoeya melirik Rafael. Nampak raut wajahnya pun bingung dan heran tak jauh beda dari ekspresinya tadi. Yah mana mungkin Rafael yang menyiapkan hal seperti ini, sudah tentu Mami Tya yang menyiapkannya.


Zoeya ingin sekali berterimakasih kepada Tya saat itu juga, tapi sayangnya Tya dan Hansel belum sampai di sini karena mungkin mengantarkan Ibunya kembali ke rumah sakit untuk terapi.


Saat ia membuka pintu mobil dan menapakkan satu kakinya. Semua pelayan yang ada di sana langsung menunduk hormat. "Selamat datang Nyonya muda" ucap mereka serempak. Zoeya makin merasa aneh di perlakukan begitu, kaki yang baru saja menapak tadi ia masukan kembali ke dalam mobil. Tapi Rafael yang entah kapan keluarnya itu sudah berdiri tegap membelakangi Zoeya. Pria itu juga sempat melirik sekilas seperti mengatakan "Cepat keluar"


Zoeya yang di lirik begitu dingin langsung menapakkan kedua kakinya dan ikut berdiri di samping Rafael. Mereka berdua berjalan diiringi bunga yang bertebaran di bawah kaki mereka. Zoeya sedikit menyunggingkan senyumnya karena suka melihat bunga bunga yang cantik itu.


Saat sudah memasuki rumah, Zoeya melihat Tama juga menyambut mereka berdua. Ia jadi teringat tentang percakapan di rumah sakit bersama Tama. Pria itu tersenyum kearahnya, yang menurut Zoeya sedikit menakutkan.Mungkin Tama lebih baik jangan tersenyum.


Tama mulai mendekat ke arah mereka, "Selamat untukmu Adikku" ucapnya seraya memeluk Rafael. Dan suaminya itu hanya memasang wajah datar, membiarkan sang Kakak memeluknya.


"Apakah mereka memang tak akur?" Batin Zoeya yang daritadi memperhatikan interaksi keduanya.


"Kamarmu bukan di lantai satu lagi tapi di lantai 2. Mami sudah mengaturnya untuk kalian"


Respon Rafael hanya mengangguk mengerti kemudian ia berjalan begitu saja tanpa mau menunggu Zoeya yang masih berdiri diam.


"Adik ipar jangan di ambil hati, Rafael memang begitu" celetuknya, Zoeya meresponnya tersenyum saja kemudian ia ikut menyusul Rafael.


"Tunggu dulu" katanya yang berhasil menghentikan langkah Zoeya. Gadis itu menoleh kembali ke belakang.


"Zoeya aku minta maaf dan terimakasih. Aku akan jujur pada semua orang nanti agar kau juga tidak di salah pahami Rafael. Maaf sekali lagi" ujarnya dengan wajah yang merasa bersalah. Bagi Zoeya entah Tama mau jujur atau tidak di hadapan keluarga, hal itu tetap tak bisa mengubah pemikiran suaminya.


Rafael akan tetap menyalahkannya karena perjanjian mereka, hal ini tidak ada hubungannya dengan alasan Tama. Meskipun begitu Zoeya menghargai perkataan Tama. Ia memberikan senyumannya,


"Tidak apa-apa Kak, jika Kak Tama memang ingin jujur dan bertanggung jawab itu memang tindakan yang tepat. Itu berarti Kakak membuktikan bahwa Kak Tama adalah pria yang baik, jangan takut untuk mengatakan kebenaran"


Tama mengangguk mengerti diiringi senyuman simpulnya. Zoeya pun pamit untuk pergi dari sana dan Tama juga mengizinkannya. Zoeya naik ke tangga dengan hati-hati karena ia masih mengenakan gaun pengantinnya yang besar dan berat. Zoeya masih terlihat kesulitan di tangga sana, ia merasa kalau saja ia tak hati-hati mungkin dirinya sudah terjatuh menggelinding.


Gaunnya yang mengembang itu membuat Zoeya sulit melihat langkahnya jadi ia hanya bisa menggunakan feeling saja. Dan kali ini kakinya terpeleset, Zoeya berpikir mati konyol dirinya hari ini. Jika media memberitakan kematiannya pasti akan berjudul Menantu keluarga Khurana meninggal dunia, di duga sebab gaun pengantin.


Zoeya hanya memasrahkan diri kepada Tuhan sambil memejamkan matanya takut. Namun kok ia merasa tidak terjatuh sebaliknya malah seperti ada yang menahannya dan sekarang ia merasa dirinya terbang. Zoeya mulai membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.


Dan kini ia sudah dalam gendongan Rafael. Zoeya menatap pria itu heran, bukankah tadi ia sudah duluan ke kamar pikir Zoeya. Gadis itu mulai melingkarkan tangannya di pundak Rafael, takut jatuh. Ia merasa kagum pada Rafael yang kuat menggendongnya dengan gaun pengantin yang berat ini.


Apakah ini pertanda bahwa Rafael telah memaafkannya. Zoeya sempat memiliki pemikiran itu. Akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu kamar, Zoeya melihat sekeliling yang begitu luas, entah ada ruangan apa saja di lantai dua ini. Pria itu menurunkannya dan tangannya mulai membuka pintu.


Rafael masuk terlebih dahulu, kemudian berbalik menatap Zoeya dengan tersenyum. Zoeya yang melihat itu jadi keheranan, apa benar ini Rafael?


"Tada~ selamat datang di kamar kita" ujarnya dengan wajah yang sumringah kemudian ia menarik tangan Zoeya dan membuat Zoeya ikut masuk ke dalam kamar itu.


Zoeya kembali dibuat takjub dengan indahnya kamar mereka yang telah di hiasi bunga-bunga yang cantik. Rafael masih terus menariknya entah Zoeya akan di bawa kemana. Langkah mereka terhenti di sebuah walk in closet.


"Ini adalah ruang pakaian kita, kau di sebelah sini dan aku di sebelah sini" tunjuknya sambil sesekali menatap Zoeya.


"Ini adalah kasur kita, kau di sebelah sini dan aku di sebelah sini"


Rafael bangkit dari duduknya dan kembali menarik tangan Zoeya. Mereka berhenti di sebuah sofa yang berada di sana.


"Sofa ini adalah tempat bersantai untuk kita, di setiap pagi kita bisa duduk disini dan menikmati secangkir kopi bersama"


Rafael kembali menariknya ke depan meja rias, Zoeya bisa melihat pantulan wajah mereka di cermin.


"Kau bisa menggunakan meja rias ini untukmu, karena aku tidak terlalu membutuhkannya. Kau suka?" ucapnya seraya melihat ke cermin dan tangannya memegang bahu gadis itu. Zoeya tersenyum kecil mendengarnya, mungkin Rafael memang sudah memaafkannya. Tapi tetap saja Zoeya ingin menjelaskan semuanya.


Zoeya membalikkan badannya menatap Rafael, "El, aku ingin mengatakan sesuatu"


Pria itu malah menyodorkan jari telunjuknya ke bibir Zoeya yang berarti dirinya itu harus diam.


"Sssttt jangan bicara lagi, sekarang aku suamimu dan kau istriku. Mari kita berdua memulai semuanya dari awal dan melupakan apa yang terjadi"


Zoeya menatap Rafael lekat-lekat, apa ia tak salah dengar? Rafael benar-benar memaafkannya dan ingin memulainya dari awal? Tangan Zoeya mulai memegang tangan Rafael untuk menurunkan jari telunjuk yang berada di bibirnya.


"Aku senang kau mengatakan hal itu, tapi aku harus menjelaskan sesuatu aku—"


Lagi-lagi Rafael menarik tangan Zoeya untuk lebih dekat dengannya dan membuat gadis itu tak bisa bicara lagi, sekarang Rafael mulai menggendong Zoeya kembali dengan senyuman di ujung bibirnya.


"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, apa kau tidak berat menggendongku?" ujar Zoeya kala tubuhnya tak menapaki lantai lagi.


Rafael menggeleng pelan, "Suamimu ini sangat kuat, gaun yang kau kenakan bukanlah apa-apa bagiku" gadis itu tersenyum tipis mendengarnya, sejak kapan Rafael jadi romantis begini? Zoeya sedikit merasa aneh tapi ia juga ingin percaya bahwa Rafael memang ingin memulai hubungan mereka dari awal.


Rafael menurunkannya di tengah-tengah ruangan, sorot mata yang memandang Zoeya lekat-lekat membuat gadis itu tak bisa mengalihkan matanya dari Rafael.


"Ayo kita rayakan pernikahan kita dengan berdansa disini"


Zoeya melihat sekeliling, "Disini?"


Rafael tersenyum dan menarik pinggang Zoeya agar lebih dekat dengannya.


"Tentu, kau mau?"


Zoeya mengangguk kecil, karena tangannya sudah ia taruh di pinggang Zoeya maka ia mengarahkan tangan Zoeya untuk merangkulnya. Seakan terhipnotis olehnya, Zoeya mengikuti apapun yang diarahkan Rafael.


Mereka mulai berdansa meskipun tanpa musik iringan, namun tetap ada kesan romantis karena tatapan mereka berdua yang tak melepas satu sama lain. Rafael mengangkat tubuh Zoeya ke atas. Lalu menurunkannya perlahan hingga wajah mereka begitu dekat, hidung mancung keduanya bersentuhan. Tatapan keduanya begitu dalam sampai rasanya Zoeya seolah sudah dicintai Rafael.


Pria itu lebih mendekatkan wajahnya sampai jarak bibir mereka hanya tersisa 2 sentimeter. Zoeya menutup matanya, berpikir Rafael akan menciumnya. Namun ia salah Rafael hanya diam saja dan tersenyum ketika melihat gadis itu tutup mata.


Ia mulai menjauhkan wajahnya dan Zoeya pun membuka mata. Sekarang Zoeya merasa malu sekali, pipinya merona karena pria itu mengerjainya. Rafael kembali menarik tangan Zoeya dan membuatnya berdansa, memutar tubuh Zoeya berulang kali kemudian mendorong gadis itu ke ranjang. Tatapannya berubah, sorot mata yang penuh cinta tadi sudah hilang berganti dengan tatapan penuh kebencian.


Pria itu berjalan mendekat lalu mendongakkan dagu Zoeya agar menatapnya. Zoeya menatap Rafael kebingungan, apa maksud Rafael mendorongnya tadi?


"Bangun! Mimpi sudah berakhir. Saatnya kembali ke kenyataan!" Ujarnya.