![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Zoeya tertegun mendengar kalimat bijak dari mulut seorang Rafael. Entah pria ini tengah kerasukan atau tidak, namun Zoeya bisa melihat kejujuran dari dua manik matanya itu. Tatapan yang seolah menghipnotisnya, ia mulai terbuai oleh pelet ampuhnya Rafael.
"Untuk apa berpisah? Kita berdua sudah terlanjur masuk ke dalam jurang yang sama. Lanjutkan saja, hidup seperti biasa. Berdebat, saling memaki sebelum tidur, bukankah kehidupan kita yang alami seperti ini lebih seru?"
Mendengar ucapan Rafael spontan Zoeya menggelengkan kepalanya. Ia sedikit menundukkan wajahnya, "tidak El, aku tidak ingin kehidupan yang seperti itu." Jawabnya dan Rafael mengerutkan keningnya bingung.
"Lalu kehidupan bagaimana yang kau inginkan?" Rafael nampak frustrasi, sesekali ia mengacak rambutnya karena pusing dengan keadaan ini.
"Aku hanya ingin berpisah darimu" jawab Zoeya seraya mengangkat wajahnya untuk menatap pria di hadapannya ini.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Zoeya pergi begitu saja meninggalkan Rafael yang masih terdiam membisu. Tubuh Rafael seketika lemas, berdiri pun rasanya berat sekali kakinya untuk menopang. Pria itu menatap punggung sang istri yang pergi menjauh darinya.
POV Zoeya
Setelah melakukan terapi bersama Meghan, pikiranku jadi terbuka. Aku sadar bahwa hidupku tidak berhenti sampai di sini saja. Aku harus tetap melanjutkan kehidupanku, meskipun di dunia ini tidak ada tempatku bersandar lagi.
Maka dari itu aku ingin lebih bebas dalam menikmati kehidupanku ini. Aku ingin terbebas dari hubungan yang tak membuatku bahagia. Aku ingin berhenti memaksa memperbaiki hubungan pertemanan kami yang sudah hancur sejak awal Rafael menikahiku.
Mungkin aku akan berpikir dua kali jika terdapat cinta dalam gersangnya hubungan pernikahan kami. Tapi hingga kini tak ada sekalipun kata cinta yang ia lontarkan atau tanda-tanda bahwa benang merah itu tumbuh di hatinya.
Aku ingin bertanya "Pernahkah kau mencintaiku walau hanya sebentar?" Ingin sekali aku lontarkan pertanyaan ini, namun tak kulakukan karena aku tahu pria itu tak mungkin menjawab pertanyaan bodohku. Mungkin jika sebaliknya ia menanyakan pertanyaan yang sama, maka aku tidak akan ragu untuk menjawab "Ya! Aku pernah mencintaimu."
Beberapa waktu lalu aku bertanya-tanya apakah perasaan yang kurasakan padanya adalah cinta, dan jawabannya adalah iya. Aku mencintainya. Awalnya aku membantah, aku tak mungkin mencintai manusia aneh bin sengklek bin nyebelin seperti Rafael Khurana. Namun Meghan memberiku pencerahan bahwa aku memang jatuh cinta pada suamiku.
Aneh rasanya, aku menyadari bahwa aku mencintainya namun kini aku meminta mengkandaskan hubungan pernikahan kami. Raut wajahnya terlihat terkejut bahkan bingung karena aku tiba-tiba memintanya untuk bercerai.
Sampai sekarang aku tak bisa mengerti apa yang ada dalam pikirannya selain sifat keras kepalanya. Nampak jelas ia terlihat kesal, aku tak mengerti kenapa dirinya kesal. Aku pun berinisiatif mengajaknya pergi ke hutan, menyusuri jalan setapak yang menuju pantai. Tujuanku membawanya kemari agar pikiran kami sama-sama tenang untuk membahas masalah ini.
Kami membicarakannya lumayan serius sampai di mana aku mengalihkan pembicaraan. Aku tiba-tiba saja terpikir memberi suatu kesan untuknya sebelum aku benar-benar pergi. Aku memintanya untuk menatap langit dan bersyukur atas semua apa yang Tuhan kehendaki.
Dan Rafael benar-benar menuruti permintaanku. Aku tak bisa melakukan sesuatu selain tersenyum menikmati keindahan wajah tenangnya yang rupawan. Mungkin jika aku membawa ponsel, aku akan memotretnya.
Setelah puas menatapnya, aku kembali ke sisinya dan mengutarakan alasanku untuk berpisah dengannya. Di luar dugaan ia menganggap ku meremehkan janjinya bersama ibuku. Dalam hatiku, aku sangat senang Rafael tak menganggap remeh sebuah janji. Ia menghormati ibuku sedemikian rupa.
Meski begitu niatku tak akan berubah,aku tetap ingin berpisah dengannya, dan di sinilah aku. Menangis tanpa suara. Aku tak ingin Rafael melihatku seperti ini, rasanya hatiku sesak sekali. Tapi aku harus tetap melakukannya, untuk membebaskannya dari hubungan yang selama ini dia benci.
Selamat tinggal Rafael.
Aku harap kita takkan pernah bertemu kembali.
•
•
•
POV Rafael
Setelah mengucapkan kata cerai sesuka hati dengan wajah gembiranya,Zoeya dan aku meninggalkan vila tersebut. Kami hanya saling terdiam selama perjalanan. Sebenarnya aku masih mencerna keinginannya.
"Apa segitu buruknya hidup denganku?"
"Tapi memang buruk sih,tidak salah juga dia meminta cerai"
"Tapi aku kan sudah mulai menerima keadaan kami,apa dia bisa seenak jidatnya mengatakan ingin berpisah dengan wajahnya yang tersenyum"
Sungguh suatu hal gila yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Mungkin saat awal menikah aku marah padanya,tapi lambat laun pun aku sadar dia melakukan pernikahan karena terpaksa juga. Dia pun korban,sama seperti ku.
Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengatakan ingin berpisah denganku. Dia bahkan tak menanyakan pendapatku dan hanya menyimpulkan sesuka hatinya. Wanita memang sulit di mengerti.
Dan sekarang dia mulai membuka suaranya. "Aku tak ingin pulang ke kediaman Khurana. Aku ingin pulang saja ke rumahku" katanya. Aku melirik sekilas tak menjawab. Bukankah gadis ini bertindak sesuka hatinya lagi? apa dia tidak memikirkan bagaimana jika Mami dan Papi bertanya soalnya saat aku kembali tak bersamanya.
"Aku tak mengizinkannya" sahutku dingin nampak tatapannya begitu tajam melirikku,
"Aku ingin pulang ke rumahku,Rafael"
"Jangan harap." ku pejamkan mataku dan berpura-pura tidur. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi gadis di sebelahku ini,entah dia sedang menggerutu atau mungkin memiliki rencana untuk mencekikku agar dia bisa kabur.
Namun rupanya dia tetap tenang di tempatnya,aku sempat lirik-lirik tipis tadi untuk melihatnya. "Rafael jangan pura-pura tidur,aku tau kau hanya pura-pura" cetusnya.
Karena dia sudah tahu aku berpura-pura,yah mau bagaimana lagi. Ku buka saja mataku seraya memainkan ponsel untuk mengecek beberapa pesan.
"Sepertinya kau harus segera bekerja" celetuknya. Aku menoleh ke arahnya dan pandangan kami bertemu.
Kami bertatapan sampai tidak sadar,mobil sudah terhenti di pekarangan rumah.
"Tuan sudah sampai" kata pak supir yang langsung membuat kami berdua tersadar. Aku lebih dulu turun dari mobil, kulihat di depan pintu sudah ada Mami dan Cadh Bibi yang menyambut kepulangan kami.
Lantas aku dan Zoeya menghampiri keduanya. Ku kecup singkat pipi Mamiku sebelum menanyakan kabarnya.
"Halo Mam bagaimana semuanya,aman?"
"Iya nak,kami semua baik-baik saja" sahut Mami, kemudian beralih memeluk Zoeya.
Aku melemparkan senyum pada Cadh Bibi, ia memegang pundak ku dan mengelusnya pelan. "Semoga Tuhan selalu memberikan kalian kebahagiaan" ucapnya,sontak aku melirik gadis di sebelahku. Pikiranku jadi teringat tentangnya yang meminta cerai.
Sebelum Cadh Bibi merasa ada yang aneh dengan sikapku,aku pun langsung menanggapinya dengan tersenyum lebar.
"Amin" sahutku dan mulai masuk ke dalam rumah meninggalkan para wanita yang masih ingin melepas rindu.
Aku membuka pintu kamarku yang berada di bawah. Terlihat rapih dan bersih,sudah pasti Cadh Bibi yang membersihkannya. Aku pun mengambil laptopku dan mulai bekerja. Ku lihat ada peluang besar bagi perusahaan untuk mencapai target yang sempat aku rencanakan.
Kedatangan Zoeya di kamar sontak membuatku agak terkejut karena aku sedang fokus pada layar laptopku. Aku meminta untuk duduk di sampingku. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya bingung.
"Kemari duduk di sini" titahku dan dia menurutinya. Aku membuang nafasku pelan sebelum memberitahunya.
"Zoeya.. kali ini aku yang akan berpendapat"
"Aku belum menyetujui tentang perceraian kita, aku mengerti dengan pemikiranmu bahwa kita terpaksa dengan hubungan ini. Tapi sejujurnya aku sudah menerima keadaan yang sudah terjadi,jika ingin berpisah pun aku harus memikirkan matang-matang terlebih dahulu. Aku harap kau pun memikirkannya baik-baik,jangan mengambil keputusan yang gegabah"
Zoeya sedikit menundukkan wajahnya,"Lalu menurutmu hubungan ini mau di bawa ke mana?" katanya dengan intonasi yang menahan kesal.
"Untuk apa kau mempertahankanku jika kau pun tak menyukaiku?apa kau pikir ini masuk akal?" timpalnya lagi yang kini sudah bangkit dari duduknya.
Aku jadi ikutan kesal karena dia tak mau mendengarkanku dan malah memancing perdebatan. "Aku tak mau hidup bersamamu dengan keadaan seperti ini" ucapnya dan akan melenggang pergi dari kamar. Aku langsung menyusulnya dan menarik tangannya.
Ku genggam erat pergelangan tangannya dan ku kunci genggaman itu ke belakang. Aku menatapnya tajam,kesal karena gadis ini keras kepala dan tak berniat mendengarkanku dengan kepala dingin.
"Ku bilang pikirkan baik-baik. Apa kau tak sadar bahwa dirimu sangat egois?apa kau tak berpikir bagaimana perasaan keluargaku jika kita berpisah. Saat di vila pun kau meremehkan janjiku dan Ibumu,apa kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Ibumu di atas sana saat mendengar keputusan egois mu?"
"aku hanya ingin kau memikirkannya lagi, sebenarnya yang tak bahagia itu kau kan? menurutku alasanmu meminta cerai juga tidak masuk akal. Aku bahagia-bahagia saja,aku menerima hubungan kita. Mungkin di awal pernikahan aku memang marah padamu,tapi hal itu sudah berlalu."
"yang bermasalah di sini itu hanya pemikiranmu. Sekarang aku minta padamu untuk mengambil keputusan dengan kepala dingin, aku akan pergi ke Milan. Waktuku di Milan lumayan lama,jadi selama aku pergi pikirkanlah baik-baik"
nampak dari ekspresinya Zoeya terlihat terkejut sekali. Ia membuka matanya lebar-lebar. "Pergi ke Milan?untuk apa?" tanyanya.
"Ada peluang besar bagi perusahaan. Aku harus pergi ke Milan"
Aku mengendurkan genggaman tanganku dan melepaskannya. Gadis itu hanya terdiam sebelum ia menjawab.
"Baiklah akan aku pikirkan lagi" jawabnya dan entah kenapa hatiku merasa sedikit lega. Aku harap ia mengurungkan niatnya untuk berpisah denganku.