![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Sang mentari mulai memancarkan kehangatan teriknya kala pagi hari itu. Udara yang dingin mulai memasuki kamar lewat celah-celah jendela apalagi kamar yang mereka tempati ber-ac menambah kesejukan di pagi itu. Dua orang yang masih menyelimuti tubuhnya nampak tidak ada pergerakan akan bangun dari mimpi indahnya setelah pertengkaran mereka berdua.
Kecuali satu hal yang akan membuat mereka terbangun yaitu suara alarm yang memekikkan telinga. Benar saja tak lama alarm berbunyi dan membuat keduanya terkejut dan akhirnya bangun. Zoeya menggeliat dan mengucek matanya, begitupun dengan Rafael. Mereka bangun dengan posisi yang saling berhadapan membuat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Sial! Apa setiap pagi aku harus melihat wajah menyebalkanmu itu" gerutu Rafael dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ini masih pagi! tolong jangan cari masalah denganku" sahut Zoeya yang tengah menguap. Nyawanya saja belum terkumpul pria di depannya ini bisa-bisanya menggerutu.
Rafael bangkit dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-siap, sedangkan Zoeya harus membersihkan tempat tidur terlebih dahulu sebelum membersihkan dirinya. Setelah rapih Zoeya langsung berlari ke kamar mandi. Saat itu Rafael akan menutup pintu tapi Zoeya dengan kekuatan kilatnya berhasil menahan pintunya.
"Apa-apaan ini?" ujar Rafael galak, tapi Zoeya malah menarik lengan Rafael agar keluar dari kamar mandi itu. Sekarang Zoeya yang sudah berada di dalam kamar mandi dan Rafael yang berada di luar.
"Aku hanya perlu 5 menit saja. Tolong tunggu sebentar"
"Ga! Ga! Ga! Apa-apaan kau ini, siapa cepat dia yang dapat. Aku duluan yang memasuki kamar mandi"
"Tapi sekarang aku yang di dalam kamar mandi. Tunggu sebentar oke? Bye~" gadis itu menutup pintunya yang membuat Rafael kesal.
"Dasar gadis licik" umpatnya seraya memukul pintu yang sudah tertutup rapat. Terpaksalah ia menunggu Zoeya sampai selesai mandi.
Tya dan Hansel sudah berkumpul di ruang makan, mereka menunggu Rafael dan Zoeya yang belum juga turun. Namun mereka juga memakluminya karena tadi malam kan malam pertama pengantin baru itu. Disana juga sudah ada Tama dengan wajah yang terlihat gelisah seperti ia ingin mengatakan sesuatu.
Hansel yang dari tadi memperhatikan Tama jadi heran dengan putra sulungnya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa nak? Ku perhatikan kau tampak gelisah dari tadi" tanya Hansel.
"Anu Pi.. sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu"
"Katakan saja, kami mendengarkan" sahut Hansel santai sembari menyesap kopinya.
Tama membuang nafasnya perlahan bersiap untuk bercerita tentang permasalahannya.
"Papi... Aku menghamili pacarku" Tya dan Hansel sangat terkejut mendengar pengakuan putra sulungnya, mereka berdua tampak tidak percaya dan saling melempar pandangan.Hansel sendiri hampir tersedak kala mendengar pengakuan tiba-tiba sang putra.
"Apa yang kau katakan nak? Apa kau sedang bercanda?" ujar Tya yang tak percaya,karena sepengetahuannya putranya itu tak memiliki kekasih.
"Tidak Mam, aku serius. Maafkan aku Mam, aku melakukan kesalahan yang besar dan membuat kalian malu" Tama menunduk dalam,ia terlihat sangat menyesal atas perbuatannya.Tya memegang kepalanya yang tiba-tiba pening, ia sangat syok. Yang ia tahu Tama putranya adalah anak yang santun dan tak akan pernah melakukan hal menyimpang. Tapi pengakuannya tadi benar-benar mengecewakan hati seorang Ibu.
Tya merasa gagal mendidik Tama sampai membuat putri seseorang hamil di luar nikah. Semua kehormatan keluarga Khurana akan tercemar jika berita ini tersebar luas, Tama pun semakin menunduk dengan wajah bersalahnya.
"Sorry Mami.. Sorry Papi, aku sungguh-sungguh minta maaf" ucap Tama memelas.
"Kau benar-benar membuat keluarga ini malu! Sangat memalukan Tama! Papi tak pernah mengajarkanmu untuk berbuat hal yang akan mempermalukan keluarga ini. Tapi kau—" hardik Hansel dengan lantang sampai membuat Zoeya yang akan menuruni tangga jadi takut untuk turun ke bawah. Ternyata Zoeya sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapih untuk sarapan pertamanya bersama keluarga suaminya. Tapi kini ia mendengar Ayah mertuanya berteriak seperti itu membuat ia bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Uncle terdengar begitu marah" gumam Zoeya, ia mau turun pun jadi ragu-ragu. Sempat Zoeya terdiam di tangga sekitar 5 menit sampai suaminya itu keluar dari kamar mereka. Rafael yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya tengah membenarkan dasi sembari berjalan menuruni tangga dan melirik Zoeya sekilas, pria itu nampak tak peduli dan melewati Zoeya begitu saja.
Samar-samar ia mendengar suara Papihnya yang sedang memarahi seseorang. Rafael langsung buru-buru melangkah ingin tahu apa yang terjadi di ruang makan. Melihat Rafael yang buru-buru seperti itu, tentunya membuat Zoeya yang sebelumnya takut menjadi lebih berani untuk turun tangga dan ia pun ikut menyusul Rafael di belakang.
"Kau sangat mengecewakan kami nak, Mami tidak tahu harus berkata apa padamu" kata Tya yang memalingkan wajahnya tak ingin melihat Tama.
"Mami.. Papi.. aku sangat menyesal maka dari itu aku mau bertanggung jawab. Dan menikahi dia, aku tak akan membuat keluarga kita malu dan akupun tak akan membiarkan berita ini tersebar kemanapun"
"Itu tindakan yang memang seharusnya kau lakukan! Untungnya kau masih punya otak. Siapa perempuan itu? Kekasihmu yang mana? Pintar sekali kau menyembunyikannya dari kami ya, kukira adikmulah yang akan mengacau dan membuat keributan di keluarga ini makanya aku selalu mengawasinya bahkan sampai bekerja sekalipun aku yang mengaturnya, tapi sayangnya aku salah mengira seharusnya aku juga mengawasimu" ujar Hansel yang wajahnya kian memerah menahan kemarahannya. Ia sangat kecewa dengan ekspektasinya terhadap putra sulungnya itu.
"Papi membiarkanmu bebas kesana kemari karena Papi percaya padamu, bahkan bisa kubilang bahwa kamulah yang paling Papimu percaya dibanding Adikmu Rafael. Tapi hari ini kami sangat kecewa padamu nak" timpal Tya menunjukkan kekecewaan di wajah keriputnya.
Tama semakin menunduk, merenungi perbuatannya yang sudah membuat malu keluarga dan membuat kecewa kedua orang tuanya. Ditambah ia juga baru mengetahui tentang keluarga kekasihnya ada hubungan yang tidak baik dengan keluarganya.
"Papi.. I'm sorry again, satu hal lagi yang ingin kuberitahu pada kalian. Kekasihku merupakan putri dari keluarga Edward"
Dalam waktu sepersekian detik mimik wajah kekecewaan berganti dengan wajah Hansel yang memerah, rahangnya mengeras. Ia sangat marah mendengar perempuan yang di hamili putranya berasal dari keluarga Edward, musuh bebuyutannya. Hansel menggebrak meja, ia benar-benar murka.
"KETERLALUAN!!! AKU TIDAK SUDI BERBESAN DENGAN KELUARGA ITU. KELUARGA LICIK YANG MENDAPATKAN HASIL MEREKA DARI UANG KOTOR, KAU INGIN KELUARGA KITA BERBESANAN DENGANNYA? BISA-BISANYA KAU!!"
"Papi.. Lusiana tidak seperti itu, dia wanita yang baik. Meskipun keluarganya begitu, tapi aku bisa menjamin kekasihku tak memiliki sifat yang buruk"
"Tama, kau tidak bisa menilai seseorang yang statusnya baru sebagai pacarmu! Dia belum menunjukan sifat aslinya karena kau pacarnya dan bisa kapan saja putus, seharusnya kau tau itu nak" sahut Tya yang semakin pusing dengan masalah ini.
Rafael berdiri mematung di sana, daritadi ia menyimak pembicaraan Kakak dan kedua orang tuanya. Apa maksud dari Lusiana? Besan? Pacar? Apa yang terjadi di sini. Pikirannya bertanya-tanya tentang situasi ini, Zoeya kini berdiri di samping Rafael menatap pria itu yang nampak kebingungan.
Hansel merasa ada yang janggal dengan ucapan putranya tadi di awal kalimat yang menyebutkan nama seseorang.
"Tunggu, siapa tadi yang kau sebut? Lusiana??" Tama mengangguk pelan membenarkan.
"Iya, Lusiana adalah nama kekasihku"
Hansel mengusap wajahnya kasar, dari namanya saja ia bisa ingat. Gadis bernama Lusiana yang ia interogasi beberapa waktu lalu bersama Rafael di kantor.
"Kalian kakak beradik bisa-bisanya terpikat dengan wanita seperti itu! Kemarin adikmu! dan sekarang kau yang terjerat dengannya. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua!?" Tama berusaha mencerna maksud dari perkataan Papinya. Ia tak mengerti mengapa Lusiana ada hubungannya dengan Rafael.
"Apa maksudnya Papi? Lusiana bahkan tidak pernah bertemu dengan Rafael, bagaimana bisa dia terpikat? Ini tidak ada hubungannya dengannya"
"Biar kuberitahu sebelum bersama Zoeya, Adikmu memiliki hubungan dengan wanita yang bernama Lusiana. Dan sekarang dia adalah wanita yang kau hamili! Dari sudut pandangku saja bisa kutebak betapa liciknya dia menggaet kalian berdua"
Tama, Rafael, dan Zoeya membelalakkan matanya serempak, mereka terkejut bukan main dengan kenyataan hidup yang begitu rumit ini. Dalam pikiran Rafael mereka putus saat di rumah sakit, mana mungkin dalam waktu sesingkat itu Lusiana hamil. Satu kesimpulan yang bisa ia cerna dalam pikirannya yaitu Lusiana dan Kakaknya menusuknya dari belakang.
"Bajingan!" Pekik Rafael marah dan mendekat ke arah Tama bersiap untuk memukulnya. Rasa sakit hati di khianati, kecewa, marah semua terkumpul di hati Rafael. Kemarahan dengan Zoeya belum mereda sekarang bertambah dengan pengkhianatan yang dilakukan Lusiana dan Kakaknya sendiri. Ia sungguh sangat marah.
Zoeya menahan Rafael yang akan memukul Tama, keadaan sudah kacau begini. Ia tak mau ada perkelahian diantara Kakak beradik itu. Zoeya pun sama terkejutnya dengan Rafael ternyata kekasih Tama adalah Lusiana. Ia tak pernah menyangkanya karena yang ia tahu hanya Tama menghamili kekasihnya tapi ia tak tahu bahwa kekasihnya itu Lusiana.
"El tenang dulu! Jangan emosional begini" ujar Zoeya berusaha menenangkan Rafael.
"Lepaskan! Akan ku habisi bajingan ini! Dia bukan Kakakku!" Rafael tak sengaja mendorong Zoeya sampai gadis itu terjatuh di lantai. Dan benar saja Rafael mendaratkan pukulannya di pipi kanan Tama dan di beberapa tubuhnya dengan membabi buta. Tama yang merasa tak terima membalas pukulan itu sama kerasnya dengan yang Rafael berikan. Ia mendaratkan pukulannya di pipi kiri Rafael.
"Akupun tak tahu bahwa dia ada hubungan denganmu!" Ujar Tama yang tak kalah emosional, Rafael menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Ia tertawa getir dan mendaratkan kembali pukulannya di wajah Tama. Mereka berdua benar-benar berkelahi dengan sengit bahkan kursi yang berada di sana sudah berantakan.
Hansel yang melihat itu segera melerai kedua putranya, ia semakin marah melihat putra-putranya berkelahi hanya karena seorang wanita. Sedangkan Zoeya dipapah oleh Tya untuk segera berdiri. Entah apa yang terjadi dengan anak-anaknya, Tya pun ikut frustrasi.
"Sudah cukup kalian berdua!!" Hansel meneriaki keduanya.Ia melerai kedua putranya itu sambil memegangi lengan mereka. Tama di sebelah kanan,dan Rafael di sebelah kiri Hansel.
"Kalian berdua sangat memalukan!!Kau Tama harusnya kau lebih mengontrol emosimu, sebelum adikmu memukulmu pun aku akan menamparmu terlebih dahulu karena kesalahan besar yang kau lakukan. Dan kau Rafael, apa masalahmu? Kau marah karena apa? Apa karena perempuan bernama Lusiana sampai kau mendorong istrimu. Kalian berdua sama saja"
"Hari ini kalian berdua tidak usah ke kantor! Instrospeksi diri kalian masing-masing" ujar Hansel meninggalkan ruangan makan. Karena hal ini sarapan bersamapun di tiadakan. Semuanya sudah tidak memiliki nafsu makan.
Tya juga pergi dari sana menyusul suaminya. Zoeya yang masih berdiri mematung menatap Rafael sedih, ia pun mendekati suaminya perlahan.
"El ayo kita kembali ke kamar, aku obati lukamu" bujuk Zoeya, namun Rafael melengos pergi ke luar rumah.
"El kau mau kemana?" Ujar Zoeya agak lantang memanggil Rafael yang menjauh pergi.
Zoeya berniat untuk menyusul Rafael namun lengannya ditahan oleh Tama.
"Biarkan dia pergi, dia butuh waktu untuk sendiri. Rafael sedang emosi lebih baik kau tidak dekat-dekat dengannya sementara" sontak Zoeya menoleh kearah Tama, ia pun menarik tangannya agar lepas dari genggaman pria itu.
"Kak Tama, situasi ini semakin rumit. Bagaimana bisa kalian memiliki kekasih dengan wanita yang sama. Apa kau tidak curiga sedikitpun dengannya?"
"Sungguh, aku benar-benar tak tahu kalau Lusiana memiliki hubungan dengan Rafael. Aku bertemu dengannya pun saat di kota C, bukan di kota ini."
Gadis itu mendengus pelan, ia jadi ikut bingung dengan situasi yang terjadi.
"Lalu apa yang akan kau lakukan kak? Setelah kejadian ini pasti Uncle Han tidak akan dengan mudah memberi kalian restu" Tama kembali tertunduk dengan wajah lesunya.
"Meskipun begitu, anak yang berada di dalam kandungan Lusiana tetaplah darah Keluarga Khurana. Aku akan mencari caranya" Zoeya hanya mengangguk mengerti ia berpikir Tama dan Rafael seperti korban dari kelicikan Lusiana, mereka berdua sama-sama tidak tahu memiliki hubungan yang sama dengan wanita yang sama pula. Mungkinkah Lusiana sudah tahu tentang Kakak beradik ini? Pikir Zoeya penasaran dari sudut pandang Lusiana.
Rafael keluar dari rumah, seperti biasa dikala hati dan pikirannya sedang gundah ia akan terduduk di bawah pohon yang berada di tepi sungai. Ia diam di sana mengamati air sungai yang mengalir jernih. Rafael juga mengamati sekelilingnya, kediaman yang begitu megahnya berdiri tak jauh dari tempat dirinya duduk.
Tak ada kendaraan yang berlalu lalang, sangat tenang. Rumah-rumah tetangga pun berjarak lumayan jauh. Rafael baru menyadari semasa kecil, ia tak punya teman di rumah. Setiap hari hanya bermain dengan Kakaknya saja, Rafael jadi teringat masa-masa dirinya dan Tama belum sekolah dan tak mengenal rasa iri hati satu sama lain.
Dunia mereka hanya tahu bermain, bermain, dan bermain. Terasa sangat menyenangkan, Rafael merindukan momen itu. Dibanding sekarang ia berharap bisa kembali seperti dulu lagi. Kini rasa sakit di sekujur tubuhnya mulai terasa, pukulan Kakaknya tadi lumayan keras juga.
Sakit, namun hatinya lebih sakit dibandingkan dengan sakit di tubuhnya. Matanya mulai panas bersama rasa sesak di dadanya. Rafael mengingat gelang perak yang Kakaknya kenakan dan gelang perak yang mirip dengan milik Lusiana.
Rafael tertawa, ia menertawakan kebodohannya. Ternyata saat itu mereka berdua sudah punya hubungan bahkan mungkin sudah lama sampai memiliki gelang couple.
"Kenapa kalian semua begitu tega padaku" gumam Rafael tanpa sadar meneteskan air matanya. Rafael merasa meskipun belum ada niat untuk serius dengan Lusiana namun rasa sayangnya pada wanita itu benar adanya. Dan rasa sayang ke Kakaknya lebih besar dari rasa sayang ke Lusiana. Rafael lebih sakit hati dengan keterlibatan Kakaknya, kenapa harus Kakaknya? Kenapa Lusiana harus berselingkuh dengan Kakaknya sendiri.