Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 29 [Kau tak akan pernah bisa menjadi istri bagiku]



"Bangun! Mimpi sudah berakhir. Saatnya kembali ke kenyataan!"


Gadis itu memberikan ekspresi bingung, ia tak mengerti apa maksud dari Rafael.


"Kenapa? kau bingung dengan sikapku?? Aku bahkan lebih bingung saat kau memilihku sebagai calon suamimu" sambungnya lagi dengan sorot mata tajam.


Perkataan Rafael langsung mengena di hatinya, ia jadi kembali merasa bersalah dan pemikiran tentang Rafael yang memaafkannya ternyata salah besar.


"Dari kecil kau memang seorang gadis pembohong"


Rafael melepaskan dagu Zoeya dengan kasar, ia tersenyum dengan jahatnya melihat gadis itu meringis kesakitan.


"Semua yang ada di sini, tidak ada yang milikmu! Mau ruang pakaian, sofa itu, meja rias, atau bahkan kasur ini. Tidak ada yang milikmu!"


Zoeya bangkit dari ranjang itu, sekarang ia sudah berdiri di depan Rafael.


"Selama ini aku selalu ingin menjelaskan padamu! Tapi kau tak pernah mau mendengarkanku" pekik Zoeya ikut emosional.


Rafael membuang wajahnya, menurutnya tidak ada hal yang harus di dengarkan dari Zoeya. Gadis itu meraih tangan Rafael, "Akan kujelaskan, mengapa aku memilihmu. Alasan pertama karena Kak Tama pun tak bisa menikahiku dan alasan kedua karena demi Ibuku. Aku tak ada keinginan sedikitpun untuk menikah denganmu, ini semua kulakukan karena aku benar-benar tak bisa memilih pria lain selain dirimu"


Rafael langsung menepis tangan Zoeya, kini ia menatap Zoeya melotot penuh amarah.


"Sudah kukatakan padamu, kalau rencana keluarga kita tidak mampu untuk dipenuhi aku akan mengenalkan mu dengan temanku. Apa kau tuli ketika aku jelaskan saat itu?"


"Aku tak mengenal teman-temanmu meskipun kau punya banyak teman, kalau aku melakukan hal itu Ibuku akan semakin khawatir dan pasti membuat kondisinya drop kembali. Apa kau berpikir sampai kesana hah?"


Rafael tertawa getir, ia mendekatkan dirinya dan menarik rambut gadis itu dengan kuat sampai Zoeya meringis, menahan sakitnya.


"Hal itu tidak mengubah bahwa kau memilihku. Kenapa kau tidak memaksa Kakakku saja, dia yang lebih matang umurnya untuk menikah denganmu. Dia yang lebih baik, kau pun menyukainya kan? Lalu kenapa kau memilihku, kau tau aku tak bisa menjalankan hubungan seperti ini!" Rafael melepaskan genggaman di rambut Zoeya dengan kasar.


Air mata yang sedari tadi ia tahan benar-benar tumpah ruah. Ia tak bisa menahannya lagi diperlakukan sebegini kasarnya oleh Rafael.


"Kau tak mengerti El, aku tau kau masih belum memaafkanku tapi cobalah untuk mendengarkan aku dengan kepala dingin"


"Cukup! Berhenti! Aku tak mau mendengarmu lagi" Rafael memalingkan wajahnya dan melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Namun Zoeya berhasil mencegahnya dengan memegang lengan pria itu erat.


"Tidak! Aku bisa jelaskan El! Kali ini aku tak akan membiarkanmu pergi"


Rafael tersenyum smirk ia berbalik dan berjalan maju membuat gadis itu terus mundur ke belakang.


"Kenapa? Kau mau menjelaskan apalagi? Tidak Zoey.. tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau telah mengingkari janjimu maka aku juga akan mengingkari janjiku!" Sentak Rafael dengan mata yang masih penuh amarah. Hal itu membuat Zoeya tak sadar dibelakangnya ada ranjang, ia kembali terduduk di sana.


Rafael melirik ke sekelilingnya yang dipenuhi oleh hiasan bunga. Yang ia rasakan hanya rasa kebencian termasuk apa yang ada di dalam kamar ini. Ia sangat membenci hiasan kamar pengantin ini. Rafael menarik hiasan di ranjang itu dengan paksa bahkan sampai terputus dan membuat bunganya berhamburan di lantai.


Zoeya semakin sedih melihatnya, ia merasa habis di terbangkan begitu tinggi oleh Rafael dan langsung dihempaskan ke bawah begitu saja. Ia tak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana ia menjalani kehidupan bersama pria itu.


"Kau sangat ingin sekali kan menjadi bagian dari keluarga ini. Maka akan kuberitahu kau satu hal. Kau mungkin bisa menjadi menantu di keluarga ini tapi kau tidak akan pernah bisa menjadi istri bagiku!"


"Semua hiasan ini, kasur penuh bunga ini sangat menjijikkan bagiku. Apalagi kau! Aku takkan pernah menyentuhmu atau bahkan menganggapmu sebagai istriku" sambungnya lagi. Kemudian Rafael benar-benar pergi dari sana meninggalkan Zoeya menangis terisak sendirian.


Ia menangis sejadi-jadinya membiarkan emosinya terluapkan. Dadanya sesak sekali menahan perkataan menyakitkan dari suaminya. Ia memejamkan matanya, mencari ketenangan di sana. Ia pun teringat dengan suara bisikan yang terus terngiang saat ia tenggelam beberapa minggu lalu.


[Pantang menyerah, hadapi semua, dengan ketulusan hati aku menjadi berani] ia mengingat itu. Zoeya mulai mengulangi apa yang ada dalam pikirannya.


"Pa-pantang me-nyerah, hadapi semua, dengan ketulusan hati aku menjadi berani" ucapnya di sela-sela tangisnya. Ia menepuk pelan pipinya sendiri, kemudian mengusap air matanya. Entah mengapa setelah mengatakan itu Zoeya seperti mendapatkan sedikit kekuatan. Kata-kata itu seolah mantra baginya ketika menghadapi masalah.


"Zoeya tidak pantang menyerah. Ini adalah jalan yang kupilih sendiri meskipun bersama Rafael merupakan sesuatu yang tak jauh beda dari neraka. Tapi aku sudah memilihnya, aku pasti bisa mengatasinya" gumamnya sendiri. Zoeya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Ia bangkit dari sana, menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan membersihkan tubuhnya.


Gadis itu segera menyelesaikan mandinya dan keluar dari sana dengan mengenakan jubah mandi. Sekarang ia mondar mandir sendiri karena memikirkan kopernya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, karena pintu kamarnya terbuka jadi Zoeya mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.


Ternyata seorang wanita paruh baya yang tengah menyeret kopernya. Zoeya langsung mendekatinya dengan raut wajah yang lega,


"Ah koperku, terimakasih banyak" ucap Zoeya dengan senyuman hangatnya. Wanita itu pun membalasnya dengan senyuman juga.


"Nyonya muda, ini koper Anda. Sebelumnya perkenalkan saya Cadhna kepala pelayan di rumah ini, biasanya di panggil Cadh Bibi. Tadi saya diperintahkan Tuan muda kedua untuk membawakan koper nyonya kemari"


Zoeya mengambil alih kopernya, kemudian ia pun menatap Cadh Bibi dengan tatapan penuh rasa terima kasih.


"Cadh Bibi terimakasih sekali lagi, aku sangat kebingungan tadi untuk mengambil koperku, kalau aku keluar dengan pakaian seperti ini kurasa akan sangat tidak sopan"


Cadh bibi tersenyum mendengar cerita Zoeya, ia bisa merasakan menantu baru keluarga Khurana memiliki attitude yang sangat baik. "Benar nak, itu sangat tidak sopan. Ah maaf saya kelepasan jadi memanggil anda nak"


Zoeya tersenyum kecil, padahal tidak masalah baginya panggilan seperti itu lebih membuatnya nyaman daripada panggilan Nyonya muda.


"Tidak apa-apa, aku lebih senang jika Cadh Bibi memanggilku seperti tadi dan Cadh Bibi tidak perlu terlalu formal padaku, aku kurang nyaman mendengarnya"


Cadh Bibi tersenyum lebar sampai giginya yang berjejer rapih terlihat, dari raut wajahnya ia sangat senang.


"Baiklah jika begitu, sifatmu sama persis seperti Tuan muda kedua, Rafael. Ia juga tak suka jika saya memanggilnya Tuan, ia lebih suka dipanggil namanya atau bahkan saya panggil 'nak' "


Zoeya hanya memberikan senyuman tipisnya, ia masih teringat dengan tatapan benci Rafael beberapa waktu lalu.


"Nak, kurasa kalian belum saling mencintai karena pernikahan yang mendadak ini. Tapi percayalah padaku, Rafael adalah anak yang baik, jika kau sudah mengenalnya maka kau akan melihat betapa mulianya hatinya"


Zoeya hanya diam saja, tak mengatakan apapun. Antara ia percaya dan tidak oleh perkataan Cadh Bibi setelah melihat perlakuan Rafael padanya.


"Oh iya nak, Keluarga Khurana memiliki kebiasaan sarapan bersama. Jadi esok hari datanglah juga ya"


"Baik Cadh Bibi, terimakasih"


Mereka berdua saling melempar senyum dan Cadh bibi pun pamit undur diri. Akhirnya ia tak perlu bingung lagi, sekarang kopernya sudah ada di sini dan ia bisa mengganti pakaiannya. Zoeya mengambil piyama tidurnya berwarna biru laut dan bawahan putih, ia juga menyisir rambutnya yang panjang. Setelah selesai, Zoeya keluar dari kamar mandi.


Ia sempat terkejut melihat Rafael sudah ada di sana dengan pakaian santainya dan tengah membersihkan ranjang yang masih bertaburan bunga. Zoeya memperhatikan gerak gerik Rafael yang membersihkan sambil menggerutu itu. Setelah bersih, Rafael membaringkan tubuhnya di sana.


Matanya tak sengaja melirik ke arah Zoeya yang berdiri diam. "Kau masih disini? Kupikir kau sudah tahu diri" celetuknya dengan senyuman julidnya. Kali ini Zoeya tak akan kalah, ia berjalan mendekat ke arah Rafael.


Pria itu mengganti posisinya dengan duduk, "Disini tidak ada yang milikmu, jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu tidur di ranjang ku"


Zoeya tak peduli, ia tetap meneruskan langkahnya hingga gadis itu berada tepat di depan Rafael. Zoeya kembali melakukan apa yang Rafael lakukan padanya tadi. Ia memegang dagu pria itu diiringi senyum smirknya. Pria itu melihat Zoeya keheranan, "Apa-apaan gadis ini?" Batinnya.


"Rafael Khurana, aku sudah dinikahi olehmu dan namaku bukan Zoeya Larassati lagi tapi Zoeya Larassati Khurana yang berarti aku sudah resmi menjadi istrimu serta menantu keluarga ini. Tentunya kamar ini juga milikku! Kau tidak bisa mengusirku sesuka hatimu. Kalau kau tidur di ranjang ini maka aku juga memiliki hak yang sama" ucap Zoeya tanpa rasa takut.


Gadis itu melepaskan tangannya dari dagu Rafael kemudian ia pun ikut duduk di ranjang tersebut yang membuat Rafael kesal setengah mati.


"Dasar tidak tahu malu! Gadis licik! Aku akan tetap mengusirmu sampai titik darah penghabisan" Zoeya tertawa kencang mendengar sahutan Rafael yang nampak kesal sekali.


"Oh begitu ya? Silahkan saja usir aku kalau bisa. Kau tau sekali aku pun keras kepala sama seperti dirimu. Coba kuingat-ingat siapa ya pendukung ku di rumah ini. Ah iya~ aku ingat, di rumah ini Ibu dan ayah mertuaku adalah pendukungku. Mereka juga sa~ngat menyayangiku, coba kau pikir jika kau mengusirku apa yang akan kau katakan pada mereka?"


Rafael menggertakan giginya, tatapannya yang tajam tak membuat gadis itu goyah. Ia tahu Rafael akan terus mencari cara untuk mengusirnya dari rumah ini, tapi Zoeya juga tak mau kalah dengan Rafael. Dua orang yang sama-sama keras kepala dan pantang menyerah, mungkin akan beradu dalam kehidupan sehari-hari mereka.


"Aku mau tidur disini! Terserah kau mau melakukan apa" ujarnya dan mengambil bantal disana. Posisi mereka bukan tidur berdampingan melainkan posisi 69. Kepala Zoeya berada di samping kaki Rafael, dan begitupun posisi Rafael.


"Mungkin hari ini aku akan mengalah, tapi tidak untuk lain kali. Gadis licik!" gumam Rafael yang masih bisa terdengar oleh Zoeya. Gadis itu tertawa puas.


"Kita lihat saja nanti~" ucapnya lantang agar pria itu bisa mendengarnya.