Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 45 [Pelaku sebenarnya]



Pupil mata Zoeya membesar terkejutnya ia melihat Rafael yang tiba-tiba melakukan hal yang melewati batas bagi pemikiran gadis itu. Pikirannya tiba-tiba kosong dan entah kenapa tubuh Zoeya seketika lemas. Ia bisa merasakan hembusan nafas pria itu tepat di telinganya.


Dan sekarang mereka berdua saling tatap. Terlalu dekat hingga rasanya udara tiba-tiba terasa panas. Rafael menatap gadis itu dengan tatapan mata yang seakan menginginkan sesuatu. Zoeya sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba Rafael seperti ini padanya.


Apa mungkin memang ini perasaan normal yang dimiliki lelaki saat tengah berada di situasi seperti ini. Zoeya mengalihkan pandangannya dan dengan gemetar ia menyentuh leher yang tadi pria itu tinggalkan jejak kecupan di sana.


Melihat reaksi Zoeya yang seakan takut padanya, Rafael jadi tersadar dengan apa yang ia lakukan. "Ah.. maaf.. a-aku tidak sadar melakukannya" Rafael jadi kelabakan sendiri, ia pun segera menyingkir dari posisinya tadi. Zoeya juga turut bangkit meskipun raut wajahnya kelihatannya masih syok atas kejadian barusan.


"Zoeya.. aku minta maaf, aku sungguh tidak sadar melakukannya"


"A-aku tidak tahu ada apa dengan diriku"


"S-sepertinya aku kerasukan penghuni vila ini"


"Aku lelah" ujar gadis itu yang tak berniat mendengarkan beribu alasan Rafael. Ia tahu sekali dari tatapan suaminya tadi. Zoeya berjalan ke arah ranjang dan berbaring di sana, menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Maaf" ucapnya lagi dengan nada lirih. Rafael menutup matanya dan merutuki dirinya sendiri, entah apa yang salah dengannya.


"Dasar gila! Apa yang kau lakukan keparat. Aku hanya kepikiran saja di otakku kenapa tubuh ini malah melakukannya" Rafael mengusap wajahnya kasar, sekarang ia jadi tak berani tidur di ranjang karena ulahnya sendiri. Meskipun hal yang ia lakukan lumrah saja karena mereka berdua merupakan suami istri.


Namun hubungan keduanya belum sampai ketahap itu. Bahkan Rafael sendiri masih bingung atas perasaannya sendiri begitupun dengan Zoeya. Di balik selimut ia sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi yang sangat di luar nalar.


Rafael sendiri kini terbaring di sofa kamar dan hanya bisa menatap langit-langit sambil termenung. Pikirannya berkecamuk tentang apa yang gadis itu pikirkan. Lambat laun matanya terasa berat dan Rafael pun terlelap. Lain halnya dengan Zoeya, gadis itu belum juga bisa tidur.


Karena suasana terasa sunyi, Zoeya pun mengintip di balik selimut tebalnya. Pandangannya langsung tertuju pada sofa di pojokan sana yang terdapat sesosok pria yang sangat ia kenal tertidur dengan pulasnya. Gadis itu turun dari ranjang dan mendekat ke sofa.


Ia memperhatikan garis rahang yang nampak begitu menawan di wajah tampannya. Bulu mata yang lentik turut hadir melengkapi sempurnanya paras tampan teman kecilnya itu sekaligus suaminya.


"Seandainya jika aku tidak mengingkari janji pertemanan kita dan tidak melukai perasaanmu. Akankah kita bisa memiliki hubungan yang baik?" ucap Zoeya yang sudah berjongkok untuk menatap lamat sang suami. Tangannya mulai meraba wajah Rafael pelan.


"Ael..." Zoeya teringat panggilan sang suami yang menurutnya agak menggelikan di telinganya, ia sendiri baru sadar dirinya tidak pernah memanggil Rafael dengan panggilan itu. Gadis itu terkekeh sendiri.


"Rafael Khurana, kau terlihat imut jika sedang tidur begini. Tolong jangan buka matamu karena jika kau bangun duniaku jadi sangat menyebalkan" Zoeya tersenyum-senyum sendiri, ia bangkit untuk mengambilkan selimut di almari.


Gadis itu menyelimuti tubuh sang suami dengan hati-hati agar Rafael tidak terbangun. "Tidurlah yang nyenyak" ucapnya sebelum dirinya kembali ke ranjang. Namun suara lirih Rafael berhasil menghentikan niatnya.


"Zoeya.. maaf" racaunya dengan mata yang terpejam. Zoeya kembali berjongkok untuk memastikan pria ini.


Dan Rafael sepertinya berada di alam bawah sadar. Pria itu masih terpejam tenang dengan bibir yang seperti menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Zoeya membelai lembut rambut Rafael agar pria itu bisa kembali tertidur nyenyak.


"Bahkan dalam mimpimu kau meminta maaf padaku, kau merasa sangat bersalah ya rupanya" batin gadis itu yang entah kenapa merasa senang dan tersentuh. Zoeya senang Rafael menghormati harga dirinya padahal Rafael pun membutuhkan kawajibannya yaitu melayani sang suami. Seketika raut wajah Zoeya berubah muram.


Dirinya teringat ucapan Rafael beberapa waktu lalu yang mengatakan tidak akan pernah menyentuhnya. Zoeya berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Rafael. Ia kembali ke ranjang dan langsung menyelimuti tubuhnya.


Kenangan getir itu kembali berseliweran dalam pikirannya. Rafael tidak semudah itu berubah hanya karena sore hari tadi yang mereka habiskan bersama. Akhir-akhir ini Rafael bersikap manis mungkin karena bersimpati padanya atas kematian Roma. Mungkin saja Rafael hanya ingin menghiburnya dikala dirinya sudah menyerah dengan kehidupan.


Bagi Zoeya, Rafael tidak akan mungkin mencintainya. "Zoeya apa yang kau harapkan" gumamnya pelan. Gadis itu mulai menutup matanya berusaha untuk tertidur membiarkan semua pikiran dugaannya tanpa jawaban.



"Setelah tragedi di rumah mertuamu, baru kau mau pulang ya?" Pria paruh baya tersenyum tipis menatap kepulangan sang putri yang turut membawa menantu barunya. Tatapannya begitu menelisik, terdapat sorot mata antara suka tak suka ketika ia melihat sang menantu berdiri di hadapannya tanpa rasa takut.


"Hahahah" pria paruh baya itu tertawa menggelegar memenuhi seisi ruangan. Membuat menantu dan putrinya keheranan, entah apa yang lucu sampai sosok pria menyeramkan itu tertawa. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah serius,


"Lusiana kembalilah ke kamarmu dan Tama temanilah ayah mertuamu ini di sini" titahnya yang terdengar tak ingin dibantah.


Lusiana menatap Tama gelisah, ia takut sang ayah melakukan sesuatu yang akan membahayakan suaminya itu. Apalagi Tama adalah putra dari keluarga Khurana, musuh bebuyutannya. Melihat kegelisahan sang istri lantas ia menyunggingkan senyuman manisnya. Ia juga membelai sayang pipi Lusiana.


"Pergilah, jangan khawatirkan aku" bujuk Tama dan mendapat anggukan kecil dari sang istri. Lusiana menuruti permintaan kedua lelaki tersebut, ia pun keluar dari ruangan dengan diantar oleh adiknya atas perintah ayahnya.


"Lucan kenapa papah bisa tahu kejadian yang ada di kediaman Khurana" tanya Lusiana saat mereka berdua sudah keluar dari ruangan.


"No komen" jawab adiknya itu tanpa ekspresi, spontan Lusiana mencubit lengan sang adik berambut kecoklatan itu karena sangat pelit memberi jawaban. Ia sangat tahu adiknya itu pasti ada keterlibatan atas semua rencana-rencana ayahnya.


"Kau ini pelit sekali memberi informasi. Aku kan penasaran" gerutunya memanyunkan bibirnya. Lucanno hanya melirik sang kakak sekilas kemudian ia tersenyum tipis. Meskipun terlihat cuek dan kaku sebenarnya Lucanno tak seperti kelihatannya.


Ia mengacak-ngacak rambut Lusiana pelan karena ia merasa gemas saat sang kakak memanyunkan bibirnya.


"Sudah ku bilang padamu saat itu, kenapa kau tidak dengar nasehatku? Sekarang terimalah akibatnya" ujarnya dengan wajah datar seperti biasa.


"Aku bukannya tidak mau pulang, ada alasannya. Hey tunggu dulu kenapa sekarang seolah kau yang menjadi kakakku?" Adiknya itu hanya menunjukkan senyuman smirknya.


"Kau baru sadar? Dari dulu akulah yang lebih dewasa dibanding dirimu" katanya seraya membukakan pintu untuk Lusiana. Lusiana pun masuk ke dalam kamarnya dan pintu pun segera ditutup oleh Lucanno, namun Lusiana memanggilnya yang membuat sang adik tak jadi melakukan niatnya.


Ia hanya menaikkan satu alisnya seperti mengatakan "ada apa kau memanggilku"


Lusiana duduk di ranjang dan ia meminta Lucanno untuk menemaninya. Lucanno pun menuruti permintaan sang kakak, ia mendaratkan bokongnya itu di tepi ranjang.


"Aku ingin bertanya sesuatu dan kau harus menjawabku! Ayo berjanjilah" bagai sedang tertelan lem, Lucanno diam tak menjawab.


"Ayolah Lucan! Kau harus menjawabnya demi keponakanmu" Lusiana mengelus-elus perutnya dengan ekspresi memelas. Melihat tingkah Lusiana, Lucanno hanya mengedipkan matanya.


"Oke ku anggap kedipan mata itu adalah iya" Lucanno tak bisa mengatakan apapun selain menuruti saja permintaan kakak bagai adiknya itu, ia menunggu pertanyaan apa yang akan diajukan kepadanya.


"Lucan, jujurlah padaku apa kebakaran itu rencana dari papah?" seketika Lucanno tersenyum lebar. Nampak sekali jawaban dari wajahnya yang tersenyum menyeringai itu.


"Kalian memang benar-benar gila, apa kalian tidak sadar rencana kalian sudah membunuh seseorang" Lucanno menaikkan bahunya seakan ia tidak tahu menahu soal seseorang yang terbunuh itu.


"Hal itu diluar dugaan" jawab Lucanno santai menambah kekesalan Lusiana.Ia tak segan-segan untuk menampar sang adik.


"Kau tau karena rencana gila kalian, aku dituduh sebagai pembunuh. Mereka semua tak percaya padaku" Lucanno hanya tersenyum tipis mendengar amarah kakanya,ia memegangi pipinya yang terasa kebas.


"Sejak awal kau tidak diterima di sana. Lebih baik kau pulang ke rumah daripada hidup menderita di kediaman itu. Kami hanya membantumu" sahut Lucanno dengan tenangnya.


"Memangnya ada membantu seperti itu?" Lucanno hanya tersenyum menanggapinya,bahkan tidak ada rasa bersalah sedikitpun dirautnya.Lusiana mendengus pelan,rasanya kepalanya pusing.


"Baiklah pertanyaan terakhirku,apa kau juga terlibat?" kini Lucanno menatap sang kakak, ia menatapnya lekat-lekat dengan ekspresi datarnya.


"Bukan hanya terlibat,aku yang membakar dan menaruh gelangmu di sana"