Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 15 [Masa kelam kakak beradik]



Zoeya keluar dari kamar mandi dengan mata yang bengkak, ia melihat sang Ibu masih terduduk diam di sana. Gadis itu pun menghampirinya lalu duduk berlutut di hadapan Ibu. Zoeya menyandarkan kepalanya pada pangkuan Roma dengan tatapan kosong.


"Aku akan menyembuhkan Ibu bagaimana pun caranya" gumamnya pelan, Roma menundukkan kepalanya untuk menatap putri semata wayangnya itu. Ia mulai mengelus rambut panjang putrinya perlahan-lahan. Ia tahu sekali Zoeya seperti ini karena ia takut kehilangannya, ia takut kehilangan lagi.


Putrinya sudah melewatkan banyak hal yang menyakitkan. Apalagi masalah psikologis nya, ia sudah berjuang keras agar tak menyerah dan terus bertahan. Ia tak tahu apa jadinya jika Zoeya sebatang kara, apakah gadis ini bisa terus bertahan atau ia akan menyerah.


...***...


Pagi hari itu Rafael berkumpul bersama dengan keluarganya di meja makan, mereka sarapan bersama tapi ada yang berbeda kali ini karena Kakaknya Tama kembali pulang setelah beberapa bulan ia tinggal di kota C. Jadi meja makan tersebut kembali ramai seperti sediakala.


"Wah lihatlah pria sok jutek ini pulang" celetuk Rafael ketika melihat sang Kakak sudah duduk di tempat duduknya.


Tama hanya melirik sekilas adiknya itu, lalu ia mengambil kudapan yang ada di sana.


"Bagaimana kak disana? Kau hanya bekerja saja atau sudah mendapatkan wanita?" Pria itu menaik turunkan alisnya, sedangkan Tama memilih tak menjawab dan lebih mementingkan mengisi perutnya.


"Anak ini.. berhentilah mengganggu Kakakmu" Tya memukul lengan putra bungsunya itu yang berada tepat di sampingnya. Reflek Rafael melihat ke arah Tya sambil memanyunkan bibirnya, cemberut.


"Aku kan hanya bertanya saja, apa salahnya?"


"Kakakmu kan baru pulang biarkan dia menikmati sarapan dengan tenang, kau ini memang tak bisa lihat orang damai tentram ya" omel Tya sembari menaruh lauk di piring kedua putranya dan juga suaminya.


"Nak.. bagaimana disana? Apa masalah sudah selesai?" Tanya Hansel, ia menyeruput secangkir kopi untuk menunggu jawaban Tama.


"Semua sudah beres Papi, hotel baru perusahaan kita akan segera di buka" Hansel tersenyum lebar mendengarnya, inilah jawaban yang ia nantikan. Memang putra-putranya ini sangat bisa diandalkan.


"Bagus nak, seterusnya kau yang akan mengelolanya"


Tama tersenyum simpul, akhirnya kerja kerasnya tidak sia-sia.


"Terimakasih Papi"


"Bagaimana kalau kita adakan pesta untuk merayakan kembalinya Tama sekaligus untuk hotel kita" usul Hansel, Tya dan Rafael setuju sedangkan Tama hanya terdiam, sebenarnya ia tak terlalu menyukai pesta tapi keputusan ada ditangan Hansel. Jadi ia lebih mengikuti saja apa yang diinginkan mereka.


Tama beranjak dari sana karena sudah cukup sarapannya, ia berniat untuk keluar dan jalan-jalan sebentar.


"Kak mau kemana?" Tanya sang Adik ketika ia akan keluar.


"Keluar"


"Aku ikut dong"


Tanpa persetujuannya pun Adiknya itu tetap membuntuti di belakang. Tama membiarkannya ia sudah sangat mengenal Adiknya yang keras kepala itu. Mau ia mengizinkan atau tidak kalau anak itu ingin ya pasti ia lakukan.


Saat Rafael berjalan di belakang sang Kakak matanya itu tertarik dengan gelang perak di pergelangan tangan Tama. Ia melihat gelang tersebut dengan seksama,


"Gelang apa ini?" Pegang Rafael tiba-tiba yang membuat Tama terkejut.


"Kau ini mengagetkan saja, lepas! Jangan sok akrab" ucapnya ketus.


Rafael tak menggubris, ia kembali melihatnya dan memeriksa gelang tersebut sampai tangan sang Kakak ia putar ke kanan ke kiri, pokoknya ia mencurigai gelang tersebut.


"Apa sih El, ini cuma gelang"


Rafael melepaskan tangan Tama begitu saja kemudian ia berdecak kagum.


"Wah Kak.. pemain kau ya"


Tama memasang ekspresi bingung,


"Hah? Pemain apa?"


"Kau pikir aku dan dirimu ini sama, aku pria baik-baik ya. Tidak sepertimu" cibir Tama lalu melanjutkan langkahnya.


"Oh halo... Aku juga pria baik-baik. Aku masih tahu batasan" sahut Rafael ikut menyusul langkah sang Kakak. Tama hanya menunjukkan ekspresi tak percaya.


"Justru orang sepertimu ini yang harus di curigai, diam-diam kau bermain di belakang. Yakan yakan? Kau tak bisa membohongi ku Kak. Aku tahu gelang perak itu gelang couple, ayo jujur padaku" Rafael terus saja memojokkan Tama, ia tak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban.


Tama menghentikan langkahnya dan menatap netra Adiknya itu dengan tatapan dingin.


"Kalau pun iya apa urusanmu? Urus saja wanita-wanita mu itu, kau kan pria yang suka berganti-ganti pasangan. Yakan? Adik tak tahu aturan!" ketusnya kemudian ia memilih masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rafael disana.


"Bukankah aku tak tahu aturan ini berkatmu Kak" sindir Rafael, dan kakaknya itu menghentikan langkahnya.


"Omong kosong! Jaga ucapanmu, kau memiliki sikap buruk karena dirimu sendiri tak ada hubungannya denganku" sahut Tama tanpa menoleh sedikitpun. Ia pun melanjutkan langkahnya dan benar-benar meninggalkan Rafael.


"Padahal aku sudah berusaha untuk dekat denganmu, tapi kebencian itu tetap bersarang di dalam hatimu" gumam Rafael yang masih terus melihat punggung Tama menjauh pergi.


Rafael terduduk di bawah pohon rindang yang berada di pinggiran sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap ia lelah, bersedih, atau pun ingin kedamaian dirinya itu selalu duduk disana. Ia kembali mengingat saat dirinya dan Tama masih kecil.


Flashback Rafael POV


Saat aku kecil sebenarnya aku anak yang pendiam dan pemalu. Aku juga anak yang penakut jadi aku lebih suka menurut dibanding membangkang. Dengan sikapku yang suka menurut itu membuat kedua orang tuaku lebih menyayangiku di banding Kakak.


Dan karena hal itu Kakak mulai membenciku, di depan Mami kami terlihat baik-baik saja dan akur tapi jika para orang dewasa tidak mengawasi kami. Biasanya kami hanya bermain sendiri-sendiri, atau bahkan Kakak yang menggangguku.


Saat itu puncaknya adalah nilaiku sangat bagus, aku menjadi juara di kelas dan guru pun menyarankan aku untuk loncat kelas saja. Yang berarti jika aku loncat kelas maka aku akan sekelas dengan Kakakku. Disaat itulah Kakak benar-benar membenciku, padahal aku pun belum memikirkan saran dari guru itu.


Baik di rumah ataupun di sekolah Kakak mulai terus terusan menggangguku. Aku berusaha menahan semua rasa sakit yang Kakak lakukan padaku, aku menganggap Kakak hanya marah padaku makanya ia menghukumku.


Tapi saat itu aku mulai mengerti bahwa ini bukanlah hanya sekedar amarah biasa tapi juga kebencian. Ketika Kakak akan melemparku dari atas gedung sekolah, aku berlutut dihadapannya. Ku pegang dengan erat kaki Kakakku agar ia mengampuniku.


Aku menangis disana memohon agar ia menghentikan hal gila itu, aku pun tak habis pikir kenapa anak berumur 10 tahun bisa kepikiran akan melempar adiknya dari ketinggian gedung ini.


"Kakak.. aku mohon maafkan aku. A-a-aku tak akan menyinggungmu lagi hiks aku mohon ampuni aku"


Kakakku hanya diam, wajahnya datar, tatapan matanya seakan memang tak ada niat untuk mengampuniku. Aku tak menyerah, disaat itu muncul ide dalam kepalaku yang mengingatkanku awal mula kenapa kakak membenciku.


"Kakak.. kakak.. a-aku punya solusi. Aku akan membangkang, aku akan menjadi anak nakal. A-aku tak mau semua ini, aku juga tak mau loncat kelas. K-kakak akan mendapatkan kembali semua kasih sayang Mami Papi, a-aku tak akan merebutnya lagi" Aku menangis di bawah kakinya bahkan jika ia menyuruhku untuk mencium kakinya akan ku turuti karena hanya itu yang bisa ku lakukan. Sekarang aku tinggal menunggu keputusan dari Kakak.


Dan cara itu berhasil membuat hati Kakakku tergerak, ia menyuruhku untuk berdiri dan aku menurutinya. Kemudian Kakak memelukku erat, "Maafkan aku Adik" Aku yang mendengar permintaan maaf itu langsung tersenyum bahagia, aku memeluk kakakku dengan erat.


"Adikku Rafael, seperti biasa kau harus melupakan apapun yang terjadi disini dan jangan pernah bilang pada siapapun soal apa yang ku lakukan padamu" bisiknya di telingaku, seperti biasa kata-kata itu pasti keluar dari mulutnya setelah Kakak menggangguku seperti ini. Aku mengangguk nurut masih memeluknya erat.


"Soal idemu tadi aku suka mari kita mainkan tukar peran. Aku akan menjadi anak yang pendiam, penurut dan disayangi semua orang persis seperti perilakumu dan kau akan menjadi sepertiku nakal, pembangkang, dan tak tahu aturan. Bagaimana?"


Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku mengatakan hal itu tanpa berpikir karena aku hanya ingin mengalihkan perhatian Kakak, tapi aku juga tak masalah memainkan peran itu toh paling tak akan lama. Kupikir mungkin kalau aku memainkan peran ini sebentar Kakak akan menyadari kesalahannya tapi aku salah besar.


"Baiklah tapi mulai kapan Kak?"


Kakak tersenyum padaku lalu mengatakan hal yang tak pernah kubayangkan.


"Mulai detik ini sampai se-la-ma-nya. Bawalah sampai mati sifat itu"


Senyumku memudar, kebahagiaan itu seketika hilang dan bertukar menjadi kesedihan. Sontak Kakak melepaskan pelukannya dan mendorongku kasar sampai aku tersungkur. Kudongakan kepalaku untuk melihat Kakakku, apa yang bisa kulakukan saat itu? Tidak ada, hanya menangis menatap punggungnya yang menjauh pergi meninggalkanku sendirian tersungkur disini.


Flashback end.


Dan hingga sekarang aku memainkan peran ini, aku senang melihat Kakak lebih sukses dibanding aku. Aku senang akhirnya Kakak bisa lebih unggul dan Mami Papi bangga padanya. Meskipun kurasa dalam hal ini Mami Papi tetap menyayangi dan bangga pada kami berdua tapi aku lebih ingin mereka menaruh perhatian lebih pada Kak Tama. Yah meskipun semua yang ada dalam diriku ini entah bohong atau bukan, bahkan diriku sendiri tak mengerti sifatku yang asli yang mana. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan agar keluarga ini tetap dengan kedamaiannya.


Memang benar manusia hanya bisa berusaha, bertahun-tahun aku berusaha untuk tak membenci Kakak kandungku sendiri. Aku terus berusaha agar dekat dengannya, aku terus berusaha menerima segalanya. Dan sekarang hanya satu pertanyaan di kepalaku "Sampai kapan aku akan terus berusaha? Harus menunggu sampai kapan agar Kakakku dapat menerima dan menyayangiku sebagai adiknya? Sampai kapan aku harus bersabar?"