![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Rafael menuruni tangga, sebelum itu dirinya sudah pasrah saja toh yang mau diperiksa malah tidak ingin. Apa boleh buat? perut keroncongan, masalah terus berdatangan. Sudah lelah di kantor dibuat lelah juga di sini. Niat diri ingin healing pikiran eh malah kepikiran. Persetan dengan psikiater, stress tetap nomer satu.
"Mohon maaf dok, istri saya lagi sembelit. Mungkin bisa lain kali saja ya periksanya" ucap Rafael hati-hati, padahal Rafael tidak suka orang berbohong tapi sekarang dirinya yang berbohong. Memang paling mantap adalah menelan ludah sendiri.
Wanita bernama Meghan itu memberikan senyuman manisnya seperti ia pun memaklumi calon pasiennya itu. "Kalau begitu saya pamit dulu" ujarnya dan langsung bangkit berdiri, Rafael pun turut mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Anda datang kemari bersama siapa? soalnya tempat ini lumayan terpencil" tanya Rafael basa-basi. Meghan melirik pria itu sekilas, "saya datang sendiri, mobil saya ada di luar gerbang" Rafael mengangguk mengerti dan membiarkan wanita itu pergi setelah beberapa saat mengobrol ringan dan mereka berjabat tangan.
Dan interaksi keduanya itu rupanya diperhatikan oleh Zoeya yang mengintip di sela-sela jendela kamar.
"Dasar genit, pria murahan. Friendly ke semua wanita, pakai pegang tangan segala dia pikir sedang berbisnis untuk memeriksaku. Mihin bintiinnyi liin kili istri siyi gili cih" (Mohon bantuannya lain kali, istri saya gila) gerutunya sendiri lalu menutup tirai jendela dengan kasar.
Rafael kembali masuk ke dalam. Sambil berjalan menuju kamar ia mengingat pesan yang disampaikan oleh Meghan tadi sebelum pergi.
"Diperjalanan menuju kemari saya sudah dijelaskan sedikit tentang kondisi istri anda. Maaf sebelumnya saya ingin bertanya, apakah sampai sekarang nona Zoeya ada tindakan untuk bunuh diri?"
"Untuk sekarang tidak ada" jawab Rafael.
"Keinginan untuk bunuh diri itu bisa terjadi kapan saja tuan, mungkin untuk sekarang saran saya bujuklah dia agar mau melakukan terapi karena demi kebaikannya. Dan anda harus selalu berada disisinya, jangan pernah meninggalkannya sendirian"
"Cobalah untuk sering-sering berkomunikasi agar nona Zoeya merasa di dunia ini dia tidak sendiri dan masih ada anda yang mencintainya. Silahkan hubungi saya jika nona Zoeya sudah siap, pastikan saat anda mengubungi saya istri anda benar-benar sudah siap" Rafael mengernyitkan dahinya tanda ia agak bingung dengan perkataan wanita itu.
Meghan tersenyum simpul kemudian melanjutkan perkataannya tadi "Jujur saja Tuan perjalanan kemari sungguh jauh sekali, saya sedikit sedih karena sudah jauh-jauh datang dan malah ditolak begini" sambungnya memberi jawaban atas kebingungan Rafael, wanita itu menyunggingkan senyum manisnya meskipun wajahnya memperlihatkan betapa lelahnya perjalanannya.
Rafael jadi tak enak hati, maka dari itu sebelum pergi ia berjabat tangan dengan Meghan sebagai tanda permohonan maaf dan terimakasih atas saran yang diberikan oleh Meghan. Sambil berjabat tangan itulah Rafael pun memberikan sebuah kartu hitam miliknya alias black card.
"Ini sebagai tanda maaf dan juga saya ada satu permintaan. Tolong dokter Meghan jangan beritahu hal ini pada Papi saya. Kau mengerti kan maksudku?" saat itu Rafael berniat menyogok Meghan agar tidak memberitahukan bahwa Zoeya belum diperiksa. Tapi Meghan langsung menolaknya dengan tegas.
"Saya tidak akan menerima ini Tuan Khurana. Tapi tenang saja sekarang saya tak berniat memberitahu hal ini pada tuan Hansel"
Rafael tersenyum lebar, ia merasa sangat lega dan juga tertolong karena selamat dari omelan sang Papi. Pria itu kembali berterimakasih kepada Meghan dan wanita itu pun melenggang pergi dari pekarangan vila. Tanpa ia tahu Meghan merubah ekspresi ramahnya dan bergumam sesuatu.
"Dasar orang-orang kaya, hmm mungkin tadi aku tak berniat mengadukan kejadian ini tapi sekarang niatku jadi berubah. Kau tidak memperhatikan kalimatku tuan Rafael" wanita itu menoleh ke belakang, dan di sana sudah tidak ada sosok Rafael.
"Maaf tuan Khurana, saya berkhianat" ucapnya tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya menuju mobil.
...***...
Tok tok tok
"Zoeya buka pintunya, ayo dengarkan penjelasanku. Kalau dalam hitungan ketiga pintu ini tidak terbuka maka aku akan mendobraknya" Rafael berniat mengancam main-main tapi di dalam tak ada respon apapun. Sehingga ia jadi khawatir.
"Aku serius lho! aku dobrak nih" ucapnya lagi lantang namun tetap saja tak ada sahutan. Cicak pun malas menanggapi pria itu.
"1 2... 3 seperempat.. 3 setengah.." pria itu mulai ancang-ancang meskipun dirinya tidak tega merusak fasilitas vila favoritnya, namun Zoeya sudah membuka pintunya lebar-lebar dengan wajah tanpa ekspresi.
Gadis itu memutar bola matanya malas dan kembali masuk ke dalam kamar, tentunya Rafael mengekori Zoeya sampai di mana gadis itu berhenti. Gadis itu duduk di ranjang dan membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Pelan-pelan Rafael mendekat ikut duduk di sampingnya.
"Zoeya percayalah Papiku dan aku tidak pernah berpikir bahwa kau gila, sungguh. Apalagi kau tau sendiri kau kan menantu kesayangan mereka, tidak mungkin papi berpikir seperti itu. Mungkin papi ingin menantunya kembali ceria, tersenyum, bahagia seperti sedia kala. Makanya dia memanggil psikiater untuk menyembuhkanmu" jelas Rafael seraya menyelipkan rambut Zoeya ke telinganya. Meskipun dalam hati ia ingin sekali memotong rambut ini karena di matanya terlihat ribet.
"Aku beritahu kau ya, kalau kau memeriksakan diri ke psikiater bukan berarti kau ini orang gila" sambung Rafael lagi. Gadis itu mulai mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Rafael.
"???" raut wajahnya penuh tanda tanya. Rafael mendengus pelan. "Apa kau tidak pernah belajar hal seperti ini?" gadis itu menggeleng.
"Kemari akan aku ceritakan sedikit masa lalu ku padamu" Zoeya menurut saja, ia pun menggeser duduknya lebih dekat dengan Rafael. Entah mengapa, padahal tadi dirinya kesal pada pria ini.
"Dulu saat aku masih berumur 10 tahun aku mengidap insomnia. Setiap malam aku selalu cemas, takut, dan stress hal itu disebabkan karena aku tertekan mungkin seperti dibully" Zoeya nampak tercengang ia sampai menganga karena tidak percaya.
"Aku serius, jangan menatapku seperti pembohong begitu"
"Apa iya? masa sih seorang Rafael Khurana pernah terbully HAHAHAHAH" gadis itu tertawa kencang karena tak percaya.
"Iya iya maaf, terus apa kelanjutannya?" Zoeya menopang dagunya tanda ia penasaran dengan cerita Rafael.
Rafael melirik sinis sebelum melanjutkan ceritanya, "Karena hal itu aku dibawa ke psikiater dan mendapat obat, saat itu orang tuaku tidak tau apa yang menggangguku. Yang mereka tau putranya hanya tidak bisa tidur"
"Kenapa kau tidak bilang saja pada mereka?" tanya Zoeya yang mulai serius mendengarkan cerita Rafael.
"Karena aku tidak ingin membuat mereka repot. Saat itu Papi sangat sibuk dengan perusahaan begitupun dengan Mami yang turut membantu, perusahaan berada diambang kebangkrutan" Zoeya menatap manik mata Rafael, ia juga memberikan tepukan pelan di kepala pria itu.
"Pasti saat itu berat sekali buatmu sampai bisa sembuh" ujarnya sambil memberikan senyuman yang terlihat tulus di mata Rafael, senyuman yang jarang sekali gadis itu berikan kepadanya.
"Ya sangat berat, tapi lihat sekarang aku sembuh. Jadi kau juga harus bisa sembuh dan membuang semua pikiran anehmu yang ingin bunuh diri itu"
"Kau bahkan lebih parah dari penyakitku dulu, apa kau benar-benar tidak mau memeriksakan dirimu demi kebaikanmu sendiri?" Zoeya terdiam mendengar perkataan suaminya yang sangat jleb di hati, ia menundukkan wajahnya merenungkan perbuatannya akhir-akhir ini.
"Aku harap keinginan anehmu itu tidak muncul di tempat favoritku ini. Ku tekankan sekali lagi meskipun kau ingin mati pun aku tidak akan membiarkan kau mati" tegas Rafael lalu bangkit berdiri. Lagi-lagi lengan Rafael ditarik oleh Zoeya meskipun tidak sekuat tadi.
"Kenapa? kenapa kau tidak akan membiarkan aku mati?" tanya Zoeya sedikit lantang, ia ingin Rafael menjawabnya.
"Karena aku–" Rafael membisu, lidahnya tiba-tiba kelu. Ia tidak bisa mengatakannya dan tidak tau kenapa dirinya tidak ingin Zoeya mati.
Zoeya menatap Rafael serius, ia ingin tahu apa yang akan Rafael katakan.
"Sudahlah pokoknya jangan pernah berpikir akan mati di sini, awas kau!" ujarnya galak lalu meninggalkan Zoeya. Gadis itu menatap sebal punggung lebar yang menjauh darinya, ia mulai merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar.
"Apa yang harus aku lakukan dalam hidup ini jika tidak mati?" gumamnya sendiri.
"Hmm bekerja? sebagai sekretaris? ah tidak mau, aku tidak mau sehari suntuk bersama dengan Rafael. Apa aku bekerja di tempat lain?" Zoeya bangkit mendudukkan tubuhnya. Perutnya pun keroncongan, cacing-cacing diperutnya mendemo untuk segera diberikan makanan. Mau bagaimana lagi sekalian saja ia buat makanan untuk Rafael.
Zoeya keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Saat tiba di sana ia melihat sudah ada Rafael yang terlihat kebingungan. Entah apa yang sedang dimasak olehnya. Zoeya langsung menghampiri suaminya itu. Ia sangat terkejut melihat kondisi dapur yang berantakan bahkan sepertinya sebentar lagi akan terjadi kebakaran part dua di dapur.
Masakan Rafael sudah gosong dan berasap begitu tapi pria itu malah terlihat santai dan masih mengaduk adonan, dengan sigap Zoeya langsung mematikan kompornya.
"Apa kau ini sedang simulasi membakar dapur?" omel Zoeya pada Rafael yang wajahnya sudah belepotan dengan tepung.
"Kalau tidak bisa masak ya jangan masak!" pria itu mulai menaruh adonannya dan tangannya ia lipatkan di dada dengan ekspresi sinis.
"Aku kelaparan karena siapa? di sini tidak ada pelayan. Dari tadi juga aku sudah merengek padamu agar segera memberiku makan"
"Dasar anak manja! makanya belajarlah mandiri, sudah pergi sana biar aku tangani" Zoeya mendorong Rafael agar menjauh dari dapur meskipun tubuh Rafael tak berpindah sedikitpun.
"Aku duluan yang kemari kenapa aku yang diusir, makanya aku di sini karena ingin mandiri, kau menyuruhku belajar mandiri tapi kau sendiri mengusirku pergi" mereka berdua jadi beradu tatap kesal.
"Aku mengusirmu karena kau mengacaukan dapur ini, dasar payah!" Zoeya berkacak pinggang sekarang mereka jadi adu mulut. Rafael ikut-ikutan berkacak pinggang, "Kau yang mengacaukan masakanku! dasar tukang ikut campur"
"Kau pria paling menyebalkan sejagat raya!. Makan ini hasil masakanmu yang sudah gosong!" ujar Zoeya memberikan makanan gosong yang tadi di masak Rafael dan menyudahi pertengkaran mereka, ia sudah lelah menghadapi manusia satu seperti Rafael.
"Oke! masakan ku tidak begitu buruk. Aku akan memakannya" pria itu membawa masakannya pergi menjauh dari dapur.
"Kepala batu! makanlah masakan gosongmu itu pria arogan" Zoeya mulai menggulung rambut panjangnya, dengan cekatan ia mengambil alat serta sayuran yang ingin ia masak.
Tanpa sadar ia bersenandung kecil seperti kebiasaannya di rumah saat menyiapkan makanan untuk sang Ibunda. Karena bahan-bahan di kulkas sangat lengkap Zoeya bisa memasak makanan sesuka hatinya. Gadis itu bagai lupa ingatan atau hanya tak sadar ia membuat makanan kesukaan Roma.
Sementara itu di ruang makan..
"Hoekk pahit makanan apa ini sialan" keluhnya sambil memuntahkan makanan tak layak buatannya. Rafael menenggak habis minuman di sampingnya untuk menghilangkan rasa getir yang terasa nyangkut di tenggorokan.
"Rafael Khurana apa segini saja kemampuanmu? ini bahkan tidak bisa disebut sebagai makanan" sambungnya lagi sambil menelisik makanan di tangannya.
"Apa aku terlalu banyak memberikan tepung ya? tadi yang kumasukkan garam atau gula sih? atau racun tikus? sialan rasa manis atau asin pun tidak ada dalam makanan ini" pria itu menatap aneh makanan buatannya kemudian ia membuangnya. Karena rasa gengsinya itu Rafael tak membuang semua makanan tersebut ke tempat sampah, ia ingin menunjukkan pada Zoeya bahwa ia pun bisa membuat perutnya kenyang dengan hasil masakannya sendiri meskipun Rafael harus setengah mati menelannya.