Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 24 [Curhat setelah putus]



Hari itu rumah sakit lumayan ramai, terlihat banyaknya para medis yang berlalu lalang, ada juga yang sibuk dengan pekerjaannya. Nampak ada beberapa pasien yang berjalan di lorong ditemani keluarganya, bahkan ada pula pasien baru datang karena kecelakaan. Semua orang begitu sibuk, tak terkecuali dengan Rafael yang tengah sibuk mencari keberadaan Zoeya.


Kebetulan ia melewati persimpangan lorong dan matanya itu tak sengaja menangkap bayangan seseorang. Dari kejauhan Rafael melihat Lusiana mondar-mandir di salah satu lorong rumah sakit, dirinya tak menemukan gadis yang dicarinya tapi malah mendapati kekasih yang tak ingin ia temui. Kenapa dia berada disini? Apa yang dia lakukan? Tanyanya dalam hati.


Antara memenuhi rasa ingin tahunya atau membiarkannya saja. Rafael bingung harus memilih yang mana,


"kenapa wanita ini suka sekali mencari masalah? Rasanya aku tak mau mengakuinya bahwa dia pacarku" gumam Rafael sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Lusiana, dirinya itu belum saja melangkah tapi ponselnya berdering. Tertera nama Lusiana disana.


Pria itu mengerutkan keningnya, "Apa dari tadi dia mondar mandir itu dilema mau menghubungiku atau tidak?" batinnya lalu ia mengangkat panggilan itu.


"Halo, Lusi? Ada apa" ucap Rafael senatural mungkin. Sembari menelfon Rafael bersembunyi di balik tembok, ia jadi bisa melihat mimik wajah Lusiana seperti orang yang gelisah. Namun beberapa saat ekspresi gelisah itu tak ada lagi, sekarang berganti dengan wajah yang kelihatan ceria namun terpaksa.


"Ya.. Haha Halo baby, mmm bisakah kau menemuiku sebentar. Aku sudah berada di rumah sakit tempat sekretarismu di rawat"


"Oh oke, aku akan menemuimu. Kau dimana?" Tanya Rafael tetap memperhatikan gerak gerik Lusiana.


"Aku di lobby"


"Oke" Rafael mematikan panggilan itu kemudian berdecak kagum. Rupanya kekasihnya itu pandai berbohong, ia tak suka dengan orang yang berbohong. Tapi Rafael juga menantikan hal apa yang ingin disampaikan kekasihnya.


Saat sampai di lobby rumah sakit, mata Rafael langsung menemukan Lusiana. Dengan senyuman tipis Rafael pun menghampirinya seakan tak mengetahui apapun.


"Ada perlu apa kau kemari Lusi?" ujarnya dan Lusiana memeluk Rafael tanpa menjawab pertanyaannya.


"Aku rindu padamu~" dengan suara yang dibuat imut itu entah mengapa bulu kuduk Rafael langsung berdiri.


"Kenapa kau selalu saja menemani sekretarismu? Kau jadi tidak punya waktu untukku" sambungnya lagi masih memeluk Rafael erat.


Rafael melepaskan pelukan itu dengan sedikit mendorongnya, ia mengajak Lusiana berbicara di taman rumah sakit. Disana tidak begitu ramai, mereka berdua duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon. Lumayan sejuk karena mereka berdua tak terkena sinarnya mentari.


"Sebelumnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa kau benar-benar mendorong Zoeya ke sungai?" Tanya pria itu tanpa basa-basi seraya menatap netra Lusiana.


"Aku tak mendorongnya, dia terpeleset sendiri" jawab Lusiana santai, karena memang ia tak merasa melakukan kejahatan.


Rafael membuang nafasnya perlahan, yah cukup meyakinkan karena Lusiana menjawabnya langsung tanpa berpikir.


"Baiklah, tapi apa yang kalian bicarakan sampai Zoeya bisa terpeleset?"


"Pokoknya aku tak melakukan apapun, aku hanya berbicara dengannya dan dia tiba-tiba terpeleset. Hal itu kan bukan salahku, suruh siapa dia terpeleset." sahut Lusiana seakan tak ingin disalahkan.


"Tolong jangan bahas masalah ini lagi, lagipula dia hanya tercebur" sambungnya enteng dengan membuang wajahnya.


Perkataan Lusiana itu entah mengapa jadi membangkitkan amarahnya ketika mendengar kata 'hanya' yang keluar dari mulut kekasihnya.


"Kalau kau tahu dia terpeleset dan akan tercebur kenapa kau tak berinisiatif menolongnya? Ini bukan soal hanya tercebur saja! Tapi ini tentang nyawa seseorang. Kau bahkan tak pernah merasakan bagaimana rasanya tenggelam dengan air yang membawamu mengikuti arus derasnya. Kalau saja aku tak menemukan Zoeya, apa yang akan terjadi!? Nama baik keluargaku pun akan tercemar karena perbuatan sembronomu!"


Mendengar sentakan Rafael membuat Lusiana terpancing emosi juga. Ia menatap Rafael dengan wajah yang memerah karena kesal.


"Kenapa si El akhir-akhir ini kau itu selalu saja membelanya! Memang apa pentingnya dia? Dia hanya bawahanmu, tak ada bedanya seperti seorang pelayan. Aku juga heran kenapa keluarga terhormat seperti keluargamu itu begitu sayang padanya"


Rafael benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran kekasihnya itu, apa segitu bencinya Lusiana sampai mengatakan Zoeya seperti pelayan.


"Ucapanmu keterlaluan!!" hardik Rafael dan Lusiana membuang wajahnya, buliran air mata mulai turun dari matanya. Rafael yang masih merasa kesal membiarkannya menangis tak berniat untuk membujuknya. Lagipula yang salah kan memang Lusiana.


"Rafael apa kau ini benar-benar mencintaiku" celetuk Lusiana masih dengan tangisannya. Matanya yang sembab menatap Rafael tajam ingin mengetahui jawaban kekasihnya.


"Aku mencintaimu, tapi aku tak suka dengan caramu yang seperti ini"


Lusiana membuang wajahnya, ia tertawa getir. Memang apa salahnya? Dirinya hanya ingin lebih diperhatikan. Apa salahnya jika ia ingin Rafael kembali memperhatikannya.


"Baiklah, kau bilang kau mencintaiku. Maka lamar aku! Nikahi aku! Aku ingin menjadi istrimu"


Rafael memasang ekspresi heran, ia tak mengerti kenapa Lusiana tiba-tiba ingin di seriusi. Padahal setahunya Lusiana masih ingin berkarir, ia bukan tipe yang akan meninggalkan karirnya hanya untuk seorang pria. Dari awal Rafael memilihnya sebagai kekasihnya karena Lusiana memang wanita yang sangat menyayangi pekerjaan, Rafael pun tak terlalu serius dengan hubungan. Jadi hal itu membuatnya lega karena Lusiana pun tak serius dengannya.


Sekarang situasi malah berbalik, ia bingung sekali. Apa maksud Lusiana tiba-tiba meminta untuk di nikahi.


"Apa maksudmu Lusiana?"


"Jika kau benar-benar mencintaiku, maka buktikan itu dengan menikahiku" Lusiana meraih tangan Rafael, namun Rafael menepisnya agak kasar. Pria itu langsung bangkit dari duduknya.


"Kau sudah tahu, aku belum siap berkomitmen dengan hubungan semacam itu" sahut Rafael mengalihkan pandangannya.


"Kenapa? Kenapa kau tidak siap? Ini aku, bukan orang lain El"


"Aku tahu! Mau itu kau ataupun orang lain, tetap saja aku belum siap"


Nampak sekali Lusiana terlihat gelisah, dan kebingungan sesaat setelah mendengar ucapan Rafael.


"Baiklah! Lebih baik kita akhiri saja hubungan tak jelas ini" ujarnya dengan nada kesal. Lalu Lusiana pergi dari sana.


Rafael terdiam melongo melihat Lusiana pergi menjauh. Bukan, bukan dia ingin menghentikannya. Justru ia merasa aneh dengan sikap Lusiana.


"Bukankah reaksi normal itu dia menangis atau setidaknya menunjukkan ekspresi kecewa. Kenapa dia kesal begitu?" Gumam Rafael sendiri sambil menggaruk kepalanya.


Setelah kepergian Lusiana, Rafael berniat kembali mencari Zoeya. Tapi untungnya matanya yang jeli itu menemukannya lebih cepat, Zoeya berada tak jauh dari jaraknya ia berdiri. Ia tengah terduduk di sebuah bangku sendirian dengan matanya yang terpejam dan tangan yang ia lipat di dada.


Rafael segera berlari kecil menuju kesana, ia pun ikut duduk di samping Zoeya. Gadis itu pun tak menyadarinya dan masih menutup matanya. Rafael terus memandangi wajah sekretarisnya itu, entah kenapa wajah Zoeya itu tak bosan untuk di lihatnya.


"Untuk apa kau kemari" ucap Zoeya tiba-tiba yang membuat Rafael terperanjat. Bagaimana tidak? Zoeya tiba-tiba bicara tapi matanya masih tertutup.


"Aku hanya ingin berdiskusi denganmu soal perjodohan yang dilakukan kedua Ibu kita" sambungnya lagi dan melirik Zoeya sekilas.


Zoeya mulai membuka matanya, kini matanya menatap birunya langit yang berada di atasnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Aku belum memikirkan apapun" sahutnya masih mendongak menatap cantiknya awan di atas. Rafael mengangguk-angguk mengerti, ia ikut menatap langit.


"Yang penting kau jangan memilihku" celetuknya. Zoeya melirik Rafael sekilas, "Dasar narsis! Siapa juga yang mau memilihmu"


Rafael terkekeh, ia merasa sedikit lega. Yah setidaknya Zoeya memang terlihat tak akan pernah mau memilihnya. Hubungan mereka pun lebih baik menjadi teman saja dan partner kerja.


"Bukankah Kakakku memang lebih baik di banding aku?"


Kini Zoeya menghadapkan tubuhnya kearah Rafael. "Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Zoeya heran, Rafael menolehkan wajahnya untuk menatap Zoeya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


"Yah.. aku hanya sedikit berfikiran, bahwa Kak Tama memang lebih unggul. Sebenarnya hubungan kami tak sebaik itu untuk disebut sebagai Kakak beradik. Aku lebih sering ingin mendapat perhatiannya meskipun dengan cara yang menjengkelkan"


Zoeya mendengarkan cerita Rafael dengan seksama, baru kali ini Rafael terbuka dengannya semenjak mereka bertemu kembali.


"Apakah hubungan kalian seburuk itu?" Tanya Zoeya lagi. Rafael mendengus pelan kemudian mendongak keatas untuk melihat langit biru yang memancarkan cerahnya.


"Ya, sangat buruk. Aku masih tak mengerti harus bagaimana jika ingin dekat dengannya" Jawab Rafael, Zoeya bisa sedikit mengerti perasaan serba salah itu. Beginilah seorang Rafael yang ia tahu. Kalau ia bilang dirinya itu peka? Jawabannya tidak, Rafael tidak peka. Kalaupun ingin membuatnya peka, maka harus membuat Rafael mengerti dahulu.


Terkadang sifat seperti ini yang sedikit membahayakan Rafael karena ia tak mengerti apapun jadi Rafael menganggap apa yang dilakukannya sudah benar. Padahal ia sudah gagal total.


"Mungkin cara pendekatanmu salah, kau harus mengubah metode itu. Jika caramu saja sudah salah maka apapun yang kau lakukan itu semua sia-sia"


Pria itu mulai merenungkan perbuatannya, perkataannya, semuanya yang ia lakukan terhadap Kakaknya selama bertahun-tahun ini.


"Yang kau katakan benar, aku sepertinya kurang introspeksi diri"


Zoeya menyunggingkan senyumannya.


"Perlakukan Kakakmu lebih baik lagi, jangan mendekatinya dengan cara menyebalkan! Cukup aku saja yang merasakan betapa menyebalkannya dirimu"


Pria itu tertawa, dirinya juga merasa sikapnya itu kadang membuat orang mengelus dada. Yah mungkin ia bisa mencoba dengan apa yang dikatakan sekretarisnya itu.


"Meskipun begitu aku merasa kita partner kerja yang baik, bekerjasama denganmu lumayan menyenangkan bukankah begitu?" sambung Zoeya.


Rafael mengangguk-angguk setuju, saat bekerja mereka memang partner kerja yang baik.Jika sedang serius keduanya sama-sama bekerjasama untuk menyelesaikannya.


"Kita cukup menjadi teman yang baik, kalau aku menjadi teman hidupmu. Jujur aku tidak bisa, makanya jangan memilihku oke meskipun aku adalah kandidat terbaik kategori calon suami dan menantu idaman" ujarnya mengerlingkan matanya. Zoeya yang melihat itu hanya memberikan ekspresi geli.


"Lihat kau mulai menyebalkan! Siapa juga yang mau jadi teman hidupmu hah?" sahut Zoeya kesal.


Rafael tertawa kecil ia suka melihat raut wajah Zoeya yang kesal karena ulahnya.


"Yah terserah padamu, tapi soal kandidat terbaik itu benar adanya kan?"


"Hmm mungkin bagi sebagian wanita menganggapmu calon suami yang mereka idamkan. Tapi ketahuilah El, mereka itu hanya menyukai wajahmu dan uangmu saja makanya kau di anggap terbaik"


"Aku tahu, yang kau bilang memang tidak salah. Semua wanita yang dekat denganku hanya menginginkan uangku, mungkin termasuk juga Lusiana"


Zoeya terdiam sejenak, sebenarnya Zoeya juga merasakan hal itu. Seperti Lusiana tak mencintai Rafael dengan tulus.


"Apa kau mencintainya?" Tanya Zoeya spontan. Rafael beralih menatap Zoeya dengan menaikkan satu alisnya.


"Ah maaf, aku hanya.."


"Aku tak tahu" Jawab Rafael menyela perkataan Zoeya. Rafael mengusap wajahnya pelan, ia teringat pertengkarannya tadi dengan Lusiana.


"Aku tak tahu apa ini cinta? Aku tak mengerti definisi cinta itu seperti apa" lanjutnya lagi sambil berekspresi bingung. Gadis itu tersenyum kecil, sekarang ia tahu Rafael berlagak seperti ia adalah seorang pemain wanita, seorang yang sangat tahu tentang cinta.


Tapi kenyataannya Rafael tak mengerti sama sekali, tak mengerti apapun. Sebenarnya apa yang ingin pria ini tunjukkan pada dunia soal dirinya sendiri.


"Kalau kau tak tahu perasaan cinta itu seperti apa, lalu kenapa kau menjalin hubungan dengannya?"


"Aku tak tahu, aku hanya ingin seperti teman-temanku." jawab Rafael lesu.


Zoeya mulai mengerti, ternyata ini alasannya. Rafael membohongi perasaannya sendiri karena ingin mengikuti teman-temannya yang sudah memiliki kekasih, Zoeya tak habis pikir dengan pemikiran pria di sampingnya ini.


"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanyanya penasaran sekarang ia mulai menopang dagunya, karena ingin lebih tahu cerita Rafael.


"Sekarang kami sudah putus" Zoeya menautkan kedua alisnya, berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalanya.


Rafael melirik gadis itu heran, kenapa juga Zoeya ingin sekali mendengar ceritanya.


"Kenapa kau diam? Kau putus karena apa? Ayo ceritakan lagi, apa dia mencampakkanmu karena menyadari sifat menyebalkanmu atau hmmpp"


Rafael membekap mulut Zoeya, gadis ini sangat lancar kalau soal mengejeknya.


"Kau ini kepo sekali dengan hubunganku" Rafael melepaskan bekapannya sedangkan Zoeya memanyunkan bibirnya, ia kan hanya ingin tahu kenapa tiba-tiba Rafael putus.


"Terlalu kepo itu tidak baik, ah sudahlah kenapa juga aku bicara denganmu disini"


"Oh halo.. kan kau yang mencariku, kenapa juga kau mencariku sampai kemari"


Rafael terdiam sejenak. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Zoeya, karena dirinya sendiri pun tak tahu kenapa ia mencari Zoeya.


"Kenapa aku mencarinya?" pikir Rafael sambil memegang dagunya. Sedangkan Zoeya masih dengan ekspresi herannya menatap Rafael lekat-lekat.Ia masih ingin mengetahui cerita selanjutnya.