![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Pemakaman dilakukan saat pagi buta, semua keluarga besar sudah berkumpul di tempat berlangsungnya proses pemakaman. Saat Tya tiba bersama Hansel tadi betapa terkejutnya ia mengetahui Roma, sahabatnya meninggal dunia bahkan itu berada di kediamannya.
Tya menangis dengan histerisnya sampai ia pingsan 2 kali. Suasana rumah kembali tegang dengan kembalinya Tuan dan Nyonya besar mereka. Apalagi Hansel marah besar ketika mengetahui hal ini, hampir saja semua pelayan ia pecat saat itu juga. Namun Rafael menenangkan sang Papi untuk tidak mengambil keputusan gegabah.
Untunglah Hansel mendengarkan dan menuruti putranya. Dan suasana duka pun kembali menyelimuti kediaman Khurana, semua yang tinggal di sini dilarang menyebarkan keadaan yang baru saja terjadi. Hansel tidak ingin awak media mengetahui privasi keluarganya.
Gadis itu menatap kosong ibunya sebelum dimakamkan. Zoeya berdiri di samping peti dan menggumamkan sesuatu, tentunya hal itu membuat Rafael iba melihat istrinya dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Zoeya" panggil Rafael lembut, gadis itu tak acuh dan tetap tak mengalihkan pandangannya dari jenazah Roma.
"Ayo.. sudah waktunya" Rafael merangkul pundak Zoeya memapahnya untuk sedikit menjauh dari sana.
Kemudian proses pemakaman pun dilaksanakan, mereka semua memanjatkan doa dipimpin oleh pastor sampai dengan penutupan peti jenazah dalam liang lahat. Lalu di lanjut dengan doa penutup proses pemakaman.
Hari itu keluarga Khurana berduka cita, mereka semua kembali ke rumah, suasananya terasa dingin sekali. Tak henti-hentinya Tya menangisi kepergian Roma, berbeda dengan Zoeya yang sudah tidak bisa menangis lagi dan kini hanya menatap kosong ke depan.
Baginya dunianya sudah hancur, alasan ia hidup atau bahkan bertahan sudah tidak ada lagi. Zoeya merasa sudah tidak ada gunanya ia hidup, tidak ada yang tersisa untuknya. Ia tak pernah menyangka ibunya pergi dengan cara seperti ini, dalam benaknya tak pernah sekalipun ia menyangkanya jika ada kejadian tragis yang menimpanya. Mungkin lebih baik ibunya meninggal karena sakitnya dibanding harus pergi dengan cara yang tragis. Sangat menyakitkan bagi Zoeya.
Saat ini gadis itu mengurung dirinya di kamar paling atas, ia mengunci pintunya karena tidak ingin diganggu. Lantai bawah terlalu berisik baginya, jadi ia memilih kamar atas dan keinginannya itu diizinkan oleh Rafael. Zoeya membuka jendela kamar, menatap nanar ke arah langit di sana.
"Kau benar-benar mengambil semuanya"
"Aku selalu mempercayaimu, lagi dan lagi"
"Tapi kau juga selalu mematahkan kepercayaanku kembali"
"Sebenarnya mengapa kau terus mengujiku dengan kepergian orang-orang terdekatku" Zoeya melihat ke bawah, sangat tinggi. Mungkin jika ia terjun bisa langsung mati. Zoeya tersenyum tipis, ia mulai berpikiran macam-macam.
"Apa aku terjun saja dan menyusul kalian?" gumamnya.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran gilanya itu, gadis itu menatap datar ke arah pintu dan tak mengacuhkannya. "Zoeya buka pintunya" suara berat khas yang sangat ia kenal. Zoeya tetap bergeming seraya terus menatap langit kelabu.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah langit? tidak usah mengasihani ku dengan menurunkan airmu" tanpa sadar Zoeya menaikkan satu kakinya, ia benar-benar akan melakukan hal gilanya. Tiba-tiba telinganya berdenging, sekelebat bayangan kembali muncul. Hal itu membuat kepalanya agak pusing.
"Pantang menyerah"
"Hadapi semua"
Lagi-lagi kata-kata itu, Zoeya melihat sekelebat bayangan wanita mengatakan hal itu pada seorang gadis kecil. Ia tak mengerti apa arti semua ini, siapa orang-orang ini. Bayangan siapa itu? apakah itu Roma? Zoeya memukul-mukul kepalanya.
Bersamaan dengan itu Rafael berhasil mendobrak paksa pintu kamar karena memiliki firasat yang tidak enak, dan benar saja saat ia masuk Rafael melihat istrinya sudah berdiri di jendela seakan ingin terjun ke bawah.
"Zoeya!!!" teriak Rafael sambil berlari menghampiri sang istri. Rafael melihat Zoeya memukul-mukul kepalanya sendiri tubuhnya hampir oleng dan terjatuh ke bawah, dengan sigap Rafael menangkapnya dan menggendongnya turun dari sana.
"Zoeya! apa kau sudah gila? apa yang kau lakukan di sana. Kau benar-benar tidak waras" ujarnya memarahi sang istri. Namun Zoeya seperti tak mendengarkannya dan terus memukuli kepalanya.
"Apa yang kau lakukan, jangan menyakiti dirimu sendiri" Rafael mencengkram pergelangan tangan gadis itu agar Zoeya berhenti.
"Lepaskan aku! pergi!" Zoeya meronta-ronta sehingga Rafael terpaksa melepaskannya.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri!"
Zoeya tak mendengarkan ucapan Rafael, bahkan ia mendorong tubuh pria itu agar keluar dari kamarnya.
"Ku bilang pergi!! pergiii!" Zoeya mendorong tubuh Rafael dengan kuatnya sampai Rafael hampir terjatuh.
"Apa-apaan kau ini!"
"Zoeya! kau benar-benar sudah gila. Kau tidak waras hentikan semua ini" sentaknya, tanpa sadar Rafael melontarkan kata-kata itu dan berhasil membuat Zoeya berhenti mendorongnya.
"Ya aku memang gila! aku memang sudah gila! kenapa? kau suka kan melihat aku gila? setiap hari, setiap menit, setiap detik kau memanggilku gadis gila, gadis pembohong, gadis licik dan julukanmu lainnya. Apa kau tidak puas menghinaku terus?"
"Kau pikir aku dengan senang hati hidup bersamamu begitu? apa kau pikir aku bahagia di sini? selama ini aku selalu mengalah, berusaha bertahan di sini. Aku selalu yakin pelan-pelan akan membuat sikapmu itu berubah padaku"
"Aku lelah berusaha! aku cape! aku muak! kau bilang kau sangat membenciku, ketahuilah aku pun sangat membencimu. Aku selalu berpikir mungkin aku bisa mengubah rasa bencimu menjadi cinta, tapi sekarang aku mengerti bahwa orang sepertimu tidak akan pernah bisa mencintai seseorang! karena kau selalu mementingkan dirimu sendiri. Kau selalu merasa dirimu yang paling menderita. Sejauh ini kau adalah pria terburuk yang pernah kukenal! dan aku sangat menyesal terikat denganmu"
Rafael menyimak semua perkataan yang Zoeya lontarkan padanya, ia merasa yang berbicara di depannya ini bukanlah Zoeya.
"Ketahuilah Rafael aku sangat lelah, sangat sangat lelah" suaranya merendah, Zoeya meneteskan air matanya bersamaan dengan dirinya yang terduduk di lantai. Padahal tadi rasanya ia sudah kehabisan air mata, tapi kini gadis itu bisa menangis kembali.
Pelan-pelan pria itu mendekat, Rafael ikut berjongkok menatap gadis itu iba dan juga ada perasaan aneh darinya. "Maafkan aku" ucapnya. Zoeya masih tertunduk diam sesekali ia melirik ke arah jendela dan hal itu membuat Rafael khawatir.
"Aku tau ini saat yang sulit bagimu, tapi kau harus melanjutkan hidupmu Zoey. Kau boleh marah padaku ataupun membenciku, tapi tolong jangan menyerah seperti ini" sontak gadis itu mendongak menatap tajam pria yang berjongkok dihadapannya ini.
"Di dunia ini tidak ada alasan bagiku untuk meneruskan hidupku Rafael Khurana. Kau tak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan! maka dari itu pergilah dari sini brengsek" Zoeya mendorong tubuh Rafael sampai terpelanting ke belakang.
Kemudian ia berlari ke arah jendela berniat menjalankan apa yang ada dalam pikirannya. Reflek Rafael bangkit dan berlari menyusul Zoeya yang sudah bersiap menaikan kakinya.
Salah satu pelayan yang ada di bawah tak sengaja melihat Zoeya yang akan segera melompat dan ia langsung heboh berteriak histeris.
"Nona mudaaa!!!"
Ia pun langsung berlari untuk memberitahukan yang lainnya agar menolong nona muda mereka. Dan karena pelayan tersebut sekarang seisi rumah jadi kalang kabut dan berbondong-bondong mengambil kasur untuk menyelematkan Zoeya. Begitu pula dengan Cadh Bibi yang lari pontang-panting menuju samping rumah.
"Ya Tuhan nak apa yang kau lakukan, Zoeya sadar nak sadar!" Cadh Bibi berteriak dari bawah, kemudian Hansel dan Tya pun datang menyusul saat diberitahu menantu mereka yang akan melakukan tindakan bunuh diri.
"Zoeya sayang jangan lakukan hal itu nak! masih banyak yang sayang padamu" Hansel turut meneriaki menantunya.
"Zoeya... ikut denganku. Pegang tanganku, ini berbahaya oke jangan lakukan hal ini"
Gadis itu tertawa kecil, "ini memang berbahaya Rafael Khurana. Aku bukan sedang bermain-main denganmu"
Zoeya merasa sudah sangat ingin menyerah atas hidupnya namun lagi-lagi telinganya berdenging membuat fokusnya menghilang. Rafael tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia langsung menangkap tubuh Zoeya dan membopongnya.
Gadis itu sempat memberontak namun Rafael berhasil membuat gadis itu diam dengan cara membuatnya pingsan. Rafael terpaksa harus membuat Zoeya pingsan agar ia tidak melanjutkan aksi bunuh dirinya.
Setelah itu Rafael membawa Zoeya turun ke bawah. Orang-orang yang berada di bawah sangat bersyukur Rafael bisa menghentikan hal-hal yang tidak diinginkan. Semuanya mengucap syukur dan langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi Zoeya.
Rafael membaringkan Zoeya di sofa ruang keluarga. Banyak para pelayan yang ingin melihat tapi langsung dibubarkan oleh Cadh Bibi dan diperintahkan untuk kembali bekerja.
"Cadh Bibi juga tidak perlu khawatir lagi, Bibi bisa melanjutkan pekerjaan" tutur Rafael menenangkan semua orang.
"Huhu Zoeyaku sangat menderita" Tya menangis dipelukan Hansel, dan Hansel memintanya untuk duduk dan menenangkan diri. Rafael melihat Zoeya dengan sorot mata yang sedih, ia tak tahu lagi harus melakukan apa untuk gadis yang sudah kehilangan harapan hidupnya.
Dari arah belakang Rafael dikejutkan dengan kehadiran Lusiana mendekatinya seraya berbisik, "Istrimu ini banyak drama sekali. Ibunya meninggal juga kan karena dia, rumah ini jadi berantakan juga karena dia. Barang-barang mahalmu jadi habis terbakar"
Rafael memicingkan matanya sinis,
"kalau kau tidak ingin bersimpati maka cukuplah diam saja dan menutup mulutmu rapat-rapat kakak ipar!"
Wanita itu berdecak, dan pergi dari sana. Rafael heran saja dengan wanita seperti Lusiana, disaat kejadian kemarin entah ia berada di mana dan sekarang tiba-tiba muncul dan menghasutnya. Entah bagaimana bisa kakaknya itu tergila-gila dengan wanita sepertinya. Ia pun jadi sadar bagaimana sifat asli dari mantan kekasihnya yang sudah menjadi iparnya itu.
Hansel menepuk pelan pundak putranya, Rafael menoleh dan tersenyum tipis pada sang Papi. "Nak, apa yang kau bicarakan tadi dengan kakak iparmu?" tanya Hansel dengan ekspresi yang aneh bagi Rafael.
"Tidak ada papi hanya obrolan biasa" Hansel manggut-manggut mengerti.
"Ael.. papi menemukan ini" Papinya itu merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu.
Sebuah gelang perak rusak berada di tangan Hansel. Rafael tahu itu siapa pemiliknya, tapi ia lebih penasaran kenapa gelang itu ada ditangan Papinya.
"Apa maksudnya Pi?" tanya Rafael dengan raut wajah yang kebingungan.
"Papi menemukannya di depan dapur, dan untungnya tidak terbakar"
Rafael mengerutkan keningnya menandakan ia ingin lebih tahu apa maksud Papinya.
"Ini bukan kecelakaan El" ucap Hansel pelan.
"Papi sudah memeriksa cctv dan memang ada seseorang yang berada di dapur saat itu"
Rafael dan Tya cukup terkejut mendengar perkataan Hansel. Tya bangkit dari duduknya dan menarik Hansel agar suaminya itu menatapnya. "Apa maksudmu Hansel!"
"Aku melihat cctvnya Tya, dan memang ada seseorang di sana. Karena gelap jadi tidak terlihat jelas"
"Hansel apa maksudmu di rumah ini terjadi pembunuhan begitu?" Tya mencengkeram kemeja suaminya, sorot mata sedihnya berubah menjadi marah.
"Aku tak terima jika kematian sahabatku seperti ini karena ulah seseorang. Jika memang kebenarannya seperti itu maka cari orangnya! berikanlah keadilan untuk Roma!" Hansel mengelus lembut pipi istrinya, pria paruh baya itu sudah tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Aku pasti akan membuat orang ini membayar perbuatannya, jangan khawatir" Tya mengangguk kecil, sekarang emosinya mulai mereda.
Hansel beralih melirik putranya, ia pun berjalan mendekatinya. "Ael sebaiknya dirimu dan Zoeya menenangkan diri kalian di vila pribadi kita. Anggaplah ini sebagai bulan madu kalian yang tertunda beberapa waktu lalu, dan juga agar kondisi mental Zoeya stabil. Papi akan mengirim dokter psikiater untuknya setibanya kalian di sana"
"Tapi Papi perusahaan–"
"Jangan pedulikan itu, papi akan menghandlenya. Kau urus saja istrimu, papi mau Zoeya sembuh saat kembali ke sini. Jangan tinggalkan dia atau bahkan menyakitinya, ingat nak kau sudah berjanji pada mendiang ibunya" sambung Hansel menyela ucapan Rafael dengan serius. Putranya itu merenung sejenak dan ia pun akhirnya menganggukkan kepala menuruti permintaan sang Papi.
"Bawa dia ke kamar dan berkemaslah nak. Papi harap hubungan kalian semakin membaik setelah perjalanan panjang kalian" titah Hansel kemudian pergi sambil merangkul Tya yang masih dilanda kesedihan itu. Rafael cengar-cengir saja untuk menutupi hubungan mereka yang sebenarnya. Tidak mungkin Papinya itu mengetahuinya kan?
Rafael membopong Zoeya kembali ke kamarnya dulu di lantai bawah. Di sini lebih aman di banding kamar atas. Pria itu membaringkannya perlahan, kemudian ia mengambil koper.
"Papi menyuruhku untuk berkemas tapi papi lupa semua barangku kan habis terbakar" batin Rafael. Ia jadi bingung sendiri.
Ponsel Rafael bergetar, ia pun merogohnya dan melihat pesan dari siapa itu.
Yang Mulia Papi
[Barang-barangmu perkara mudah nak, tak perlu kau pikirkan. Maaf tadi papi lupa dan malah menyuruhmu berkemas, kau pergi saja. Di sana sudah papi siapkan semuanya]
Rafael tersenyum sendiri melihat pesan dari sang Papi. Entah sejak kapan papinya itu menyiapkan semua ini untuknya dan Zoeya.
^^^[Thank you Papi, i love you more]^^^
Zoeya yang sudah tersadar mengerjapkan matanya, ia melihat suaminya berdiri di samping ranjang sambil tersenyum sendiri. Gadis itu nampak heran tapi juga tak terlalu peduli. Zoeya mulai teringat kejadian sebelum dirinya pingsan.
"Oh kau sudah sadar? ayo kita pergi dari sini" Rafael duduk di tepi ranjang dengan wajah yang berbinar. Ia merasa tak sabar untuk meliburkan diri di sebuah vila milik keluarganya. Zoeya hanya meresponnya dengan melirik saja tanpa mengeluarkan suara.
"Kau masih lemas? mau ku gendong?" tawar Rafael. Zoeya bergeming, tatapannya kembali sendu. Di luar terdengar suara klakson mobil yang menunggu mereka berdua. Sontak Rafael langsung menggendong Zoeya tanpa persetujuannya.
Gadis itu menatap bingung suaminya, entah ia mau dibawa kemana. "Apa ini?" tanyanya, akhirnya Zoeya membuka suaranya meskipun dengan nada tak ramah.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat, jadi duduk diam dan nikmati perjalanannya" Rafael mendudukkan Zoeya pelan-pelan di dalam mobil, kemudian barulah ia duduk di sampingnya.
"Pria gila ini akan membawaku kemana" batin Zoeya melirik Rafael sekilas yang kelihatannya sangat bersemangat menuju tempat tersebut. Ia pun mengalihkan pandangannya, mobilnya mulai melaju dan keluar gerbang dari kediaman Khurana.