![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
"Ael~ kami dataaang yuhuuu" teriak Lais sambil menekan bel vila beberapa kali tanpa henti. Rupanya Lais dan Meghan datang berkunjung pagi-pagi karena perintah Hansel. Entah bagaimana ceritanya Lais jadi ikut terlibat. Lais cengar-cengir saja menatap Meghan yang tengah canggung itu, sesekali ia juga mengerlingkan matanya genit.
"AEEEL MAIN YUUU" teriaknya lagi seperti anak kecil yang mengajak main temannya.
"Sepertinya tuan dan nona masih belum bangun, kita tunggu saja di mobil"
"Haiss jangan, tunggu sebentar " Pria itu menarik tangan Meghan agar ia tidak kembali ke mobil, Lais melirik ke arah jendela atas lalu ia menyipitkan matanya karena tadi sepertinya ia melihat seseorang tengah mengintip dibalik tirai.
"Wah tak betul anak ini, WOI PEKOK JANGAN PURA-PURA TAK DENGAR. BUKAKAN PINTUNYA WOII" pekik Lais lantang bak habis menelan sebuah toa. Bahkan Meghan sendiri menyumpal telinganya dengan jari telunjuknya.
Benar saja yang mengintip tadi ialah Rafael yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengucek-ngucek matanya yang masih terdapat belek di sana.
"Hais Lais brengsek itu mau apa kemari, mengganggu pagi hariku saja" gumamnya pelan. Zoeya yang merasakan suara bising itu ikut terbangun juga, ia mulai membuka matanya dan menggeliat.
"Ah.. kau jadi terbangun ya. Maaf" ujar Rafael dengan suara serak khas bangun tidur. Zoeya mengangguk kecil menanggapinya, ia pun turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"WOI RAFAEL BUKA PINTU JANGAN PURA-PURA TAK DENGAR, BUDEG BETULAN TAU RASA KAU" pekik Lais kembali, Zoeya berbalik menoleh kearah Rafael dengan wajah bingung. Ia baru sadar rupanya yang bising sedaritadi bukanlah Rafael melainkan suara pria dari arah luar.
"I-itu.." gadis itu ingin mengatakan sesuatu namun Rafael langsung membungkam mulut Zoeya. Melihat tingkah suaminya seperti ini tentu saja Zoeya jadi kebingungan.
"Jangan bersuara, biarkan saja dia" ucap Rafael pelan.
"Kenaoaa nyangan?(kenapa jangan)" Tanyanya dengan mulut yang masih terbungkam. Lantas Rafael pun melepaskan tangannya itu dari mulut Zoeya dengan kikuk.
Mereka berdua kembali terdiam, Rafael sendiri malah jadi malu-malu kucing dengan telinganya yang sudah memerah.
"P-pokoknya jangan, biarkan saja" ucap Rafael dan ia ngibrit ke kamar mandi. Zoeya hanya menatap aneh kelakuan pria satu itu, ia jadi penasaran siapakah orang gila yang bertamu kemari pagi-pagi.
Tanpa izin dahulu kepada sang suami, Zoeya pun keluar dari kamar dan membukakan pintu untuk sang tamu. Di luar ia sudah mendapati Lais dan juga seorang wanita, langsung saja ia mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Yaampun.. fiuhh leganya pantatku" racau Lais yang memang sedaritadi sudah lelah berdiri, sekarang ia lega sekali karena bisa duduk di sofa yang empuk.
"Ah maaf sekali, saya baru bangun tidur. Tolong tunggu sebentar ya saya cuci muka dulu" ujar Zoeya sopan dan langsung jalan cepat kearah kamar mandi di sebelah dapur. Lais dan Meghan saling pandang saja lantas pria itu malah cengar-cengir kembali seperti orang stupid.
Beberapa menit kemudian Zoeya kembali ke ruang tamu, sekarang wajah bantalnya sudah tidak ada lagi. Mereka bertiga mengobrol ringan dan tak lupa Lais juga mengatakan tujuan ia dan Meghan datang kemari. Gadis itu mendengarkan penjelasan Lais dengan seksama lebih tepatnya seperti mendengar curhatannya Lais yang dramatis.
Rafael yang sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi jadi celingukan mencari keberadaan Zoeya yang hilang entah kemana.
"Zoey" panggilnya kesana kemari dan tak mendapat sahutan apapun selain suara hewan-hewan dari luar. Sedetik kemudian ia mendengar suara tawa renyah dari arah bawah. Yang berarti temannya Lais itu sudah dibukakan pintu oleh sang istri.
Tanpa basa basi Rafael langsung bergerak menuju ke bawah menghampiri istri dan tetamu tak diundang bagai jailangkung.
"Kau sudah siap?" Tanya Meghan, belum sempat Zoeya menjawab Rafael sudah muncul dan menyela pembicaraan.
"Siap apa?" Katanya dengan nada galak dan tatapan tajam ke arah Meghan, dengan langkahnya yang lebar itu Rafael menarik tangan Zoeya untuk ikut dengannya. Pria itu membawa Zoeya ke dapur.
"Kau ini kenapa sih?" ucap Zoeya dengan nada kesal, ia juga melepaskan genggaman Rafael dari tangannya.
"Apa kau sudah memikirkannya matang-matang? Kau benar tidak apa-apa terapi dengan psikiater?" Zoeya mendengus pelan, rupanya suaminya itu hanya menanyakan hal seperti ini. Padahal kan beberapa waktu lalu Rafael sendiri yang membujuknya.
"Aku tidak apa-apa sungguh. Kau ini khawatir padaku apa bagaimana?" Tanya gadis itu heran, Rafael ini seolah khawatir sekali dengan dirinya. Zoeya kan bisa kegeeran nantinya. Lebih baik jangan menaruh harapan jika ujungnya pun membuat hati kecewa.
"Aku hanya bertanya saja kok" sahut Rafael cepat seraya mengalihkan pandangannya. Karena malas meladeni manusia satu ini, Zoeya berniat kembali ke ruang tamu. Ia jadi terkaget saat melihat tangannya sudah di genggam Rafael lagi.
"Aku akan menemanimu" kata pria itu menatap lurus ke depan. Zoeya jadi tersenyum-senyum tipis melihat perilaku pria menyebalkan itu. Aneh saja tiba-tiba jadi manis begini.
Mereka berdua kembali ke ruang tamu,
"Bagaimana nona Zoeya?" Meghan bertanya lagi dengan senyuman yang merekah, seperti sedang memperluas kesabarannya.
"Ah.. saya siap. Jadi mulai kapan saya akan di terapi?"
"Mulai hari ini, ayo" jawab Meghan cepat dan langsung membawa tas yang ia bawa.
Zoeya melirik Rafael untuk melepaskan genggaman tangannya, sebelum menyusul Meghan ia tersenyum hangat pada sang suami seolah mengatakan "tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja"
melihat tatapan Zoeya yang seperti itu, Rafael pun melepaskan genggamannya dengan berat hati. Jujur saja ia khawatir sekali.
Istrinya itu naik ke atas bersama Meghan dan meninggalkan para pria di bawah sana. Rafael terus memperhatikan Zoeya sampai gadis itu hilang dari pandangan matanya.
"Ku lihat kau cemas sekali ya. Tenang saja Meghan tidak gigit kok" celetuk Lais yang mendapat toyoran kepala dari Rafael.
"Diam kau! Aku tidak cemas kok" sahutnya dan ikut duduk di samping Lais.
"By the way kok kau yang mengantarnya? Apa sekarang kau sudah beralih profesi menjadi supir dokter itu?" Mendengar perkataan Rafael sekarang gantian Rafael yang kena toyoran dari Lais.
"Sembarangan! Aku bisa di sini karena aku di perintahkan oleh Papimu katanya Zoeya belum diperiksa dan tidak mau diterapi makanya aku kemari sebagai saksi mata" jelas Lais dan langsung mendapat cubitan dari Rafael.
"Sialan bagaimana Papi bisa tau"
"YA AKU MANA TAU! KENAPA JUGA KAU MENCUBITKU" teriak Lais lantang karena dirinya memang tidak tahu menahu tapi malah mendapat cubitan dari Rafael.
"Nona Zoeya aku akan memberimu terapi perilaku kognitif. Kau boleh menceritakan semua masalah yang membuatmu cemas, keinginan untuk bunuh diri, dan semua perasaan yang kau rasakan. Kita akan berdiskusi bersama, jika ada yang membuatmu tidak nyaman beritahu aku" jelas Meghan yang kini mereka berdua sudah berada di kamar. Zoeya mengangguk mengerti.
"Sebelum itu, bolehkah kita berbicara santai saja. Jangan panggil aku nona, panggil saja Zoeya"
"Oh tentu boleh, jika begitu aku akan memanggilmu Zoeya dan kau pun bisa memanggilku Meghan saja" mereka berdua saling melempar senyum.
"Baiklah kita mulai ya"
"Bing aku lapar sekali, beri aku makan" rengek Lais yang merasakan perutnya keroncongan. Ia mengusap-usap perutnya itu seolah menenangkan para cacing di dalam. Rafael hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia pun bangkit dan menuju dapur.
Ia baru ingat masih ada masakan sang istri kemarin di atas meja makan, lantas pria itu langsung cosplay sebagai toa untuk memanggil Lais ke ruang makan. "LAIS LEONARD"
"Ada apa sih teriak-teriak" sahut Lais yang baru saja menapakkan kakinya di ruang makan tersebut.
"Duduklah, masakan Zoeya masih ada. Katanya kau lapar tadi"
"Wuuuh pasti mantap"
"Woohh sudah pasti! Masakannya luar biasa" puji Rafael tanpa sadar, Lais sendiri sudah cengar-cengir saja menatap Rafael yang di matanya sedang di mabuk asmara.
Langsung saja Lais menyantap hidangan yang disajikan oleh Rafael. Karena Rafael masih belum lapar jadi ia biarkan Lais saja yang menghabiskan makanan, ia lebih memilih untuk membuat teh hangat saja.
"El.. kok rasanya agak aneh" protes Lais dan langsung mendapat tatapan elang.
"Sembarangan! Masakan Zoeya enak sekali tau! lidahmu itu kampungan ya?" Cibir Rafael yang entah mengapa kesal saja jika Lais mengatakan masakan Zoeya tak enak.
"Bukannya begitu, memang enak kok tapi agak aneh El" katanya seraya mengecap-ngecap untuk lebih merasakan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Ah kau ini, lidahmu saja yang aneh" sahutnya ketus sembari menyesap teh hangat yang ia buat tadi. Mendengar tanggapan Rafael yang tidak ramah, Lais jadi tidak bisa apa-apa. Ia telan-telan saja makanan tersebut untuk mengisi perutnya.
Satu jam telah berlalu, diskusi Zoeya dan Meghan berjalan lancar jaya lebih tepatnya rehabilitasinya lancar. Meghan juga memberikan beberapa obat untuk Zoeya sebelum ia pamit keluar. Mereka berdua pun sudah menentukan jadwal sesi terapi selanjutnya. Bak bertemu dengan kawan lama, Zoeya jadi merasa nyaman menceritakan semua pikiran dan perasaannya pada Meghan.
Bahkan setelah terapi mereka berdua nampak akrab mengobrolkan hal lain dan juga keduanya saling bertukar nomor ponsel.
"Ingat ya minum obatmu, kalau ada keluhan lain telfon saja aku oke?"
"Iya iya, terimakasih Meghan" sahut Zoeya turut mengantar Meghan ke bawah. Mereka berdua celingukan kala mendapati ruang tamu tidak ada orang.
"Lho kemana pria aneh itu?" gumam Meghan pelan.
"Pria aneh? Siapa?" Tanya Zoeya spontan karena ia masih bisa mendengar gumaman Meghan.
"Ah yang itu lho.. aku lupa namanya" jawabnya menyengir kuda. Zoeya pun hanya bisa mendengus meskipun ia tahu yang dimaksud oleh Meghan adalah Lais. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya sekarang dua pria itu pergi kemana?
-Brutt
"Aduh El perutku masih sakit" keluh Lais yang ternyata baru saja keluar dari kamar mandi. Rupanya setelah menghabiskan makanan tadi Lais jadi bolak balik ke toilet bahkan sampai terkentut-kentut.
"masakan istrimu itu ada racunnya kah?" Celetuknya dan Lais kembali mendapat cubitan dari Rafael.
"Sembarangan! Mana ada racun. Itu lambungmu primitif, tidak bisa mencerna makanan enak!" Setelah di cubit Rafael, bukannya membaik Lais malah ngibrit kembali ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya mereka ada di dapur" ucap Zoeya dan berjalan menuju dapur, Meghan pun hanya mengikuti saja di belakang.
"Lho? El? Kenapa di sini" Zoeya mendekati suaminya itu yang tengah duduk santai di ruang makan.
"Oh kau sudah selesai? Bagaimana? Tidak ada masalah kan?" Tanya Rafael, spontan ia berdiri memeriksa Zoeya dari ujung kepala sampai kaki.
"Aku tidak apa-apa kok, semuanya lancar" sahut sang istri dengan senyumannya.
"Fiuuh syukurlah"
"Oh iya, kalian pasti belum sarapan ya. Aku buatkan sarapan dulu ya" ujar Zoeya menawarkan. Namun Meghan menggelengkan kepalanya, ia ingin pulang saja dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Tidak usah repot-repot Zoeya. Aku ingin pulang, oh iya di mana ya pria itu?" Tanya Meghan melirik Rafael seolah meminta jawabannya.
Belum sempat Rafael menjawab, Lais sudah keluar duluan dari sana dengan wajahnya yang pucat.
"Yaampun ada apa denganmu?" Meghan nampak terkejut melihat kondisi Lais, ia dengan sigap langsung mendekat ke arah Lais dan memapahnya untuk duduk di kursi.
"Heleehh lebay saja dia" celetuk Rafael yang langsung mendapat senggolan dari Zoeya.
"Dia sepertinya diare. Ckckck kau habis makan apa tadi" tanya Meghan. Tapi Lais tak ada tenaga sekadar menjawab pertanyaan itu, Lais sudah seperti orang teler yang tengah mabuk kendaraan. Kebetulan Zoeya melirik meja makan yang sudah kosong, masakannya kemarin sudah tidak ada.
"Rafael apa dia habis makan masakanku?" Rafael manggut-manggut mengiyakan pertanyaan Zoeya.
"Yaampun apa kau tidak memeriksanya dulu?" Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya yang berarti ia tidak memeriksanya.
"Astagaa, Lais sepertinya kau memakan makanan basi" ucap Zoeya dan dua pria sableng itu terlihat syok sekali begitu juga dengan Meghan yang sudah tepok jidat.