Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 23 [Permintaan dari sang Ibu]



Setelah keadaan kembali tenang dan Zoeya juga sudah bisa mengontrol dirinya. Zoeya mulai mendekati Roma kembali. Ia ingin menemani Ibunya itu, membuat memori bersama, dan memanfaatkan waktu mereka dengan sebaik-baiknya.


"Ibu sudah jauh lebih baik kan?" Tanya Zoeya yang kini sudah duduk di kursi dekat ranjang. Roma mengangguk pelan, mereka berdua mendekatkan kening satu sama lain seperti saling memberi kekuatan.


"Ibu ingin apa? Atau membutuhkan apa? Aku akan berusaha untuk mengabulkannya sebisaku" ucap Zoeya lembut, nadanya terdengar begitu sendu seakan inilah effort terakhirnya untuk sang Ibu. Tya, Tama, dan Rafael melihat pemandangan manis tapi menyayat hati di hadapan mereka tidak ingin menganggu suasana. Mereka bertiga berniat untuk keluar dari sana dan memberi ruang bagi Ibu dan anak ini mengobrol, namun Roma memanggil Tya menghentikan langkah ketiganya.


Tya pun menoleh,dan kembali menghampiri sahabatnya itu.


"Kenapa Roma? Kau butuh sesuatu?" tanyanya lembut.


Roma tersenyum simpul, ia begitu beruntung memiliki sahabat seperti Tya yang selalu menemaninya dikala ia senang,sedih,bahkan di kondisinya yang tengah sakit begini. Rasa terimakasihnya kepada Tya sangat besar hingga luasnya lautan mungkin tak akan bisa menandingi rasa itu.


"Aku sungguh-sungguh sangat berterimakasih padamu Tya.. dan juga.. keluargamu yang sudah membantuku sejauh ini. Terimakasih banyak" ujar Roma tulus. Tya memberikan senyumannya diiringi tangisan haru. Di pertemukan Roma dengan keadaan begini membuatnya sangat sedih namun juga bahagia karena mereka bisa bertemu kembali.


"Ini semua bukanlah apa-apa Roma, tidak perlu berterimakasih"


Kini berganti Roma yang ikut terharu, padahal Tya sudah begitu banyak membantu tapi ia bilang bahwa semuanya bukanlah apa-apa. Ia terharu mendengar jawaban Tya.


"Untuk yang terakhir kalinya aku ingin meminta tolong kepadamu menjaga anak ini, aku tak punya kerabat atau orang terdekat selain dirimu dan anak ini pun tak punya siapa-siapa lagi selain aku. Meskipun aku tahu jika aku pergi, anak ini bisa hidup mandiri tapi tolong jagalah dia. Aku sangat percaya Tya bahwa dirimu akan menganggap Zoeya seperti anakmu sendiri seperti aku yang menganggapnya putriku sendiri"


Mendengar perkataan Ibunya, Zoeya sedikit janggal dengan ucapan di akhir kalimatnya. Namun ia berpikir sepertinya ia tengah salah dengar akibat dirinya yang masih lemas dan baru saja pulih.


"Tentu saja aku akan menjaga Zoeya, ia bahkan sudah ku anggap seperti putriku. Kau tak perlu khawatir lagi" kata Tya tulus dan mengelus rambut Zoeya. Roma tersenyum lega mendengarnya.


"Zoeya kemarilah lebih dekat lagi" pinta Roma, Zoeya pun mendekatkan dirinya menuruti perintah Roma. Tangan sang Ibu mulai membelai lembut wajahnya. Menghapus sisa air mata di pipinya, dan mencium keningnya.


"Putriku yang cantik sudah tumbuh dewasa, aku sangat tak tenang jika aku pergi meninggalkanmu sendirian. Permintaan Ibu yang terakhir hanya satu, yaitu melihatmu menikah dan berbahagia, hanya itu yang ingin kulihat sebelum Tuhan mencabut nyawaku"


Zoeya menangis terisak, ia menciumi tangan Roma dengan deraian air matanya.


"Akan ku turuti permintaan Ibu, apapun yang ibu inginkan" Gadis itu menaruh kepalanya di samping kepala Roma. Apapun itu, dia akan melakukannya. Asalkan Ibunya bahagia.


Rafael agak terkejut mendengar permintaan Roma, ia berpikir mau cari dimana calon suami untuk Zoeya sedangkan yang ia tahu gadis itu tak pernah dekat dengan pria manapun.


Tya melirik kedua putranya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, Rafael pun sampai heran kenapa Maminya menatap mereka berdua dengan aneh begitu. Kemudian Tya melihat kembali ke arah Roma.


"Roma.. jika itu permintaanmu bagaimana jika salah satu dari putraku menjadi calon suami Zoeya"


Tama dan Rafael sama-sama membelalakkan matanya, mereka saling pandang dengan ekspresi terkejutnya.


"Biarkan Zoeya yang memilih di antara keduanya" sambungnya lagi enteng, Tama dan Rafael tak habis pikir dengan ucapan sang Mami. Apakah mereka berdua ini barang yang bisa sesuka hati dipilih gadis itu.


"Tidak Tya, bagaimana bisa kau mengatakan itu. Mereka berdua pun mungkin sudah sama-sama memiliki kekasih"


Tya menggeleng cepat, "Tidak, setahuku kedua putraku single. Lagipula kau juga ingin aku menjaga Zoeya, maka keputusan terbaik adalah ku jadikan dia sebagai menantuku."


Roma beralih menatap Zoeya seperti tatapannya berkata apakah dirinya itu setuju atau tidak dengan usulan Tya.


Zoeya yang di tatap begitu hanya memberikan senyuman tipis sedikit terpaksa. Ia sekarang bingung, menikah dengan salah satu dari dua pria itu? Dalam pikirannya ataupun mimpinya Zoeya bahkan tak pernah terpikir sedikitpun menjadi bagian dari Keluarga Khurana.


Ia membuang nafasnya perlahan dan menatap sang Ibu lekat-lekat.


"Baiklah jika Ibu ingin begitu, tapi berikan aku waktu untuk berpikir dahulu" Roma tersenyum kemudian ia mengangguk. Yang berarti ia mengizinkannya, Tya juga ikut tersenyum senang dan menghampiri kedua putranya. Ia memeluk keduanya dengan wajah berseri-seri bahagia.


Rafael yang daritadi melongo tak bisa berkata apa-apa seperti ia habis makan lem, tak mengeluarkan sepatah katapun. Begitu pula dengan Tama yang terdiam membisu kebingungan.


"Kalian tak akan keberatan kan? Usia kalian juga sudah matang untuk menikah. Zoeya pun gadis yang baik apalagi dia adalah anak sahabat Mami, siapapun yang dia pilih pasti akan beruntung bersamanya"


Mereka berdua tak menjawab pertanyaan Tya karena masih syok dengan situasi yang tiba-tiba berubah.


Zoeya pamit keluar dari ruangan tersebut, ia ingin menjernihkan pikirannya. Bagaimana bisa ia yang dari keluarga biasa ini menjadi bagian dari Keluarga terhormat itu, haruskah dirinya memilih di antara salah satunya? Tapi kalau bukan dengan mereka Zoeya harus menikah dengan siapa? Baik di kota ini ataupun di kotanya dahulu ia tak pernah dekat dengan pria.


Tama dan Rafael ikut keluar dari ruangan dan membiarkan Tya & Roma berdua. Nampak sekali dari raut wajah Rafael terlihat gelisah sedangkan Tama terlihat lebih santai dan tenang.Padahal pikirannya pun sama kacaunya dengan Rafael.


"Kenapa kau begitu tenang?" Tanya Rafael melirik Kakaknya itu.


"Bukan urusanmu" jawabnya ketus dan meninggalkan Rafael, Tama berjalan kearah keluar dari rumah sakit.


Rafael membiarkannya pergi ia celingak celinguk mencari keberadaan Zoeya, dan Rafael baru teringat tentang teman-temannya yang masih berada di kediamannya. Pagi ini kan interogasi mereka, Papi akan menginterogasinya satu persatu. Ia pun merogoh sakunya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Lais.


"Halo Lais, kau masih di rumahku?" Tanya Rafael langsung saat panggilannya di angkat.


"Untuk apa kau menelfon? Jika kau mau menanyakan kami semua, tak ada gunanya kau menanyakan kabar kami, TELAT! Aku sudah pulang semua orang juga sudah pulang. Kau tidak tahu saja subuh hari tadi kami semua di interogasi. Maaf ya kami semua mengkhianatimu dan mengatakan pelakunya. Oke bye tengkyu" jelas Lais panjang lebar.


Rafael mengedipkan matanya berkali-kali mendengar dumelan sahabatnya itu, padahal kan ia berniat baik ingin mengetahui kondisi teman-temannya.


"Kalian tidak dicambuk atau diancam kan?" Tanya Rafael kembali dengan hati-hati. Bisa terdengar sebuah hembusan nafas kasar di dalam telfon itu.


"Bukan hal itu tapi kami di suruh mandi di sungai! Pagi buta! Kau pikir sendiri pagi buta mandi di sungai bagaimana rasanya. Jika tidak ada yang membuka suara kami semua tidak boleh keluar dari sungai. Kau bayangkan saja betapa kejamnya Papimu El. Untung saja arusnya tidak sederas malam kemarin"


Rafael tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Lais, ia tak menyangka Papinya melakukan hal itu. Sangat diluar prediksi.


"Lalu adakah yang membuka suara?"


"Ya akulah! Aku yang menyebutkan nama Lusiana sebagai tersangka. Sorry ye, seorang Lais tidak bisa berbohong. Lebih baik mengkhianatimu daripada mati kedinginan di sungai itu"


"Kau.. benar-benar ya emang kawan bajingan, yasudahlah. Terimakasih." Umpatnya tapi tetap harus berterimakasih karena Lais berhasil menghentikan hal gila yang di lakukan Papinya. Menurutnya Papinya sangat berlebihan sampai memerintahkan semua teman-temannya mandi di sungai di pagi buta.


Rafael takut mungkin saja teman-temannya itu trauma datang ke rumahnya lagi. Ia jadi teringat perihal Arga yang ia suruh pulang tadi malam. Seingatnya mobil Arga kan masih ada di rumahnya.


"Oh iya Lais, bagaimana dengan Arga? Tadi malam aku menyuruhnya pulang. Tapi sepertinya mobilnya masih di rumahku. Dia tadi malam ke rumahku tidak?"


"Ya dia ke rumahmu, kebetulan aku dan semua teman lelaki terjaga sampai jam 2 malam karena masih menikmati pesta. Arga kembali jam 1, dia sempat mau keluar tapi satpam rumahmu sudah menggembok pagarnya. Jadi yah dia juga ikut masuk perangkap"


Rafael tertawa jahat, kasihan sekali nasib Arga. Niat ingin pulang malah masuk jebakan Papinya, yah mau bagaimana lagi.


"Yasudah begitu saja, terimakasih sudah mengkhianatiku. Mungkin hari ini aku akan di hajar Papiku sampai salah urat. Jangan lupa panggilkan tukang pijat untukku nanti ya"


Sekarang Lais yang tertawa jahat, seperti sangat puas jika Rafael dimarahi habis-habisan oleh Papi Hansel. Ia tahu sekali kenapa Papinya itu sangat tidak setuju anaknya berhubungan dengan Lusiana. Dikarenakan Keluarga Khurana tidak pernah akur dengan Keluarga Edward. Apalagi Lusiana berkarir sebagai modeling, semakin membuatnya tidak mungkin mendapatkan restu.