![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Awan mendung menyelimuti sebagian bumi, rintik hujan mulai membasahi jalanan. Orang-orang berlari kecil menghindari tetesannya, ada yang membuka payungnya dan ada pula yang memilih berteduh di tempat yang menurut mereka aman.
Ditengah derasnya hujan Zoeya berdiri diam di sebuah ruko, ia mengamati orang-orang tersebut dikala menunggu hujan mereda. Sesekali ia mengecek ponselnya takutnya sang Ibu menelfonnya.
Saat ia akan menaruh kembali ke dalam tasnya, ponselnya itu berdering. Ia melihat nama Ibu tertera di sana. Seketika ia tersenyum tipis, ia tahu sekali ibunya itu pasti sedang khawatir.
"Halo nak" ucap suara Roma terdengar sangat khawatir.
"Iya Bu, jangan khawatir ya.. sebentar lagi aku sampai. Tunggu hujan agak reda ya Bu" ujar Zoeya lembut menenangkan sang Ibu.
"Baiklah hati-hati ya nak. Berteduh dulu di tempat yang aman, ini sudah malam cari tempat yang agak ramai"
Zoeya tersenyum tipis, "Iya Ibu.. aku berteduh di tempat yang ramai kok" Gadis itu melihat sekelilingnya, di sebelah kanannya ada beberapa orang yang ikut berteduh. Dan sebelah kirinya ada seorang pria yang juga ikut berteduh dengan earphone di telinganya.
"Ibu jangan lupa minum obatnya, aku bisa tahu ibu sudah minum obat atau belum lho"
Roma terkekeh, putrinya itu selalu saja tahu. Ia jadi tak bisa membolos meminum obat. "Iya iya baiklah Bu dokter, yasudah hati-hati di jalan ya nak"
Setelah obrolan hangat itu Roma mematikan panggilan dan segera meminum obatnya. Jika sehari saja ia tak minum, Zoeya pasti mengomelinya. Ia jadi teringat dengan keras kepalanya Zaya, sama persis seperti Zoeya.
"Zaya anakmu sudah tumbuh dewasa, terimakasih sudah membiarkanku membesarkannya. Aku berjanji padamu akan terus menjaganya sampai nafas terakhirku. Kalau ada Tya disini pasti dia akan berpikir sama sepertiku" gumam Roma sendiri seraya menatap langit yang meneteskan rintikan hujannya.
Gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan pandangannya melihat ke arah bawah. Ia melihat sebuah gelang perak tergeletak di sana. Seketika Zoeya langsung mendongak ke arah pria yang berdiri di sampingnya itu.
"Tuan.. permisi gelangmu terjatuh" ujar Zoeya memberitahu lalu menunjuk ke bawah ke arah gelang tersebut. Pria itu melepas earphonenya dan ikut melirik ke bawah, ia pun langsung berjongkok mengambilnya.
"Terimakasih banyak, untung saja anda melihat. Kalau tidak entah apa jadinya"
Zoeya tersenyum, ia senang dapat membantu. Pasti gelang tersebut sangat berharga. "Sama-sama" sahutnya.
Pria tersebut membalas dengan senyuman.
"Anda habis pulang bekerja ya?" Tanya Pria itu memulai obrolan, karena ia melihat pakaian Zoeya yang masih rapih seperti pekerja kantoran.
"Iya Tuan, saya mau pulang. Tapi tiba-tiba hujan jadi saya tak bisa melanjutkan perjalanan. Tuan sendiri mau pulang juga?"
"Iya saya juga mau pulang, ini saya sedang menunggu jemputan keluarga saya" jawab Pria itu ramah. Zoeya mengangguk-angguk mengerti, kemudian ia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
"Nah ini jemputannya sudah datang, saya duluan ya"
Zoeya mengangguk sopan, matanya takjub melihat mobil milik pria itu. Dalam hati ia membatin suatu hari dirinya pun bisa menaiki mobil seperti itu. Pria itu tersenyum ke arah Zoeya sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Tentu saja Zoeya membalasnya dengan senyuman juga.
Setelah kepergian pria itu, tak lama rintikan hujan mulai mereda. Gadis itu menatap langit sambil menengadahkan tangannya. Ia pun berlari kecil menuju rumahnya yang tak terlalu jauh dari tempatnya berteduh.
...***...
Pagi hari menyambut, matahari mulai terbit dengan sinarnya. Aroma pagi hari yang asri rasanya segar sekali jika menghirup udaranya. Tanahnya masih basah karena hujan deras semalaman. Zoeya termenung dalam kamarnya dengan jendela yang terbuka, ia menikmati aroma di pagi hari ini. Begitu menenangkan.
Hari ini adalah hari libur, ia ingin menghabiskannya dengan beristirahat di rumah bersama Ibunya. Bercerita banyak hal dan berkeluh kesah.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu tersebut membuat Zoeya menoleh ke arah pintu yang tertutup itu, kemudian ia tersenyum.
"Masuk Bu.. kenapa juga Ibu harus mengetuk dulu, kan bisa langsung masuk saja" sahutnya diiringi Roma yang memasuki kamarnya.
"Ibu hanya menghormati privasimu, ini ibu buatkan jus" Roma memberikan segelas jus yang berada di tangannya, gadis itu pun menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih Bu.."
"Bu.. aku belum memberitahu sesuatu padamu" gadis itu memulai obrolan, Roma mendengarkan ia pun penasaran apa yang akan di sampaikan putrinya.
"Aku bekerja di perusahaannya Uncle Han, suami Aunty Tya"
Roma yang mendengar hal itu langsung tersenyum lebar wajahnya begitu bahagia.
"Benarkah nak?" Tanyanya tak percaya karena takdir mempertemukan mereka kembali.
"Benar Bu, dan aku juga bertemu Rafael. Ia sekarang menjadi manager sekaligus atasanku"
Roma tampak lebih gembira lagi, ia sangat senang mendengar anak sahabatnya sudah menjadi orang yang sukses. Ia juga turut bangga dengan Zoeya, ia meraih apa yang ia inginkan.
"Uncle Han meminta kita untuk menemui Aunty Tya ke rumahnya, mungkin kapan-kapan kita bisa berkunjung kesana bersama" Roma mengangguk setuju dengan perkataan putrinya. Ia pun mengelus kepala putrinya itu dengan sayang.
Uhuk uhuk Roma terbatuk, "Kenapa batuk ibu belum sembuh juga, padahal ibu sudah minum obat" celetuk Zoeya dengan nada sedih.
"Apa Ibu diperiksa saja ya, nanti aku temani ibu ke dokter" sambungnya lagi. Roma menggeleng pelan, raut wajahnya berubah panik.
"Tidak usah nak, i-ibu sudah periksa kok. Ini hanyalah penyakit biasa kata dokter"
Zoeya menatap mata Ibunya lekat-lekat, ia ingin melihat apakah ada kebohongan dalam mata itu. Roma memalingkan wajahnya ketika di tatap seperti itu, ia tak ingin putrinya itu tau kepanikannya.
"Aku tahu... Ibu berbohong padaku, beritahu aku kenapa ibu berbohong? Ibu tak mau diperiksa? Menurutku penyakit ibu selama ini sudah tak wajar. Ibu menyembunyikan sesuatu dariku kah?" Tanya putrinya dengan tutur kata yang lembut.
Roma tak bisa mengelak lagi yang di katakan Zoeya memang benar ia telah menyembunyikan sesuatu, disaat ia terbatuk-batuk kembali batuknya begitu parah sehingga Zoeya menjadi khawatir. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat terbatuk, tapi saat ia membuka tangannya terdapat darah di sana.
Zoeya yang juga melihat darah di tangan sang Ibu ikut terkejut, mereka saling berpandangan dengan tatapan ketakutan terlebih Zoeya yang langsung gemetaran. Tubuhnya gemetar, air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
"Ibu.. jujurlah padaku, sebenarnya penyakit apa yang ibu sembunyikan dariku selama ini?" Tanya gadis itu dengan bibir yang gemetaran. Roma menangis terisak di sana, ia tak kuasa harus memberitahu penyakitnya pada putri semata wayangnya itu.
"Ibu tolong beritahu aku!" Ucapnya lagi dengan tegas karena sang Ibu hanya diam membisu. Roma akhirnya berani untuk menatap putrinya, dengan masih berderaian air mata Roma membuka suaranya untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Nak.. ibu menderita kanker"
Deg jantung Zoeya seakan berhenti berdetak, rasanya ia hancur sekali lagi. Ibundanya, dunianya, alasan dirinya hidup karena wanita di hadapannya ini ternyata menyembunyikan sesuatu yang sangat besar. Penyakit yang seharusnya ia ketahui sejak awal bagaimana bisa Ibunya itu menyembunyikannya.
"I-ibu tak bisa memberitahumu sebab ibu tak ingin melihatmu hancur lagi. Ibu tak mau melihatmu terpuruk lagi, i-ibu tak tega melihatmu menderita nak. Sudah cukup ibu melihat dirimu yang kehilangan harapan di kematian ayahmu, ibu tak mau melihatmu seperti itu lagi" ujar Roma menjelaskan, ia menangis begitu pilunya sampai Zoeya pun tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengeluarkan kekecewaannya dengan menangis mendengarkan penjelasan sang Ibu.
"Tapi nak p-percayalah Ibu baik-baik saja, lihat tidak akan terjadi apa-apa. Kau tak usah khawatir ibu rajin meminum obat maka tidak akan ada yang terjadi pada Ibu" Roma menenangkan putrinya itu, masih dengan air mata yang mengalir ia berniat untuk memeluknya. Tapi Zoeya malah menjauh darinya.
"Tidak, Ibu tidak baik-baik saja" sahutnya, ia memutuskan pergi ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya.
Zoeya pun mengunci pintunya dan menumpahkan semua rasa sedihnya di sana, ia berharap ini semua mimpi. Berharap ia bisa bangun dari mimpi buruk ini. Berharap kehidupan tak sejahat ini pada dirinya, apa salah keluarganya sampai satu persatu semua pergi meninggalkannya.
Rasa takut mulai menghantui pikirannya, takut ibunya tak bisa sehat seperti sediakala, takut seperti keadaan yang dulu terulang kembali untuk yang kedua kalinya. Ketika harapan terselip dalam setiap langkahnya, ketika usaha ia kerahkan untuk menyelamatkan sang Ayah. Tapi takdir menolak mentah-mentah usahanya dan memilih untuk mengambil nyawa Ayahnya.
Sedih, kecewa, amarah menyelimuti hati Zoeya. Zaid pergi begitu saja dalam hidup mereka, rasanya Zoeya kehilangan harapan hidupnya. Kepercayaannya pada Tuhan seakan menghilang, ia menganggap Tuhan begitu jahat telah menghancurkan rasa percayanya. Setiap hari ia berharap dengan percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkan Ayahnya tapi sekarang apa ia akan berharap lagi dan percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkan Ibundanya.
"Tuhan.. apa aku harus kembali mempercayaimu? Ketika kau pernah menghancurkan kepercayaanku. Bagaimana bisa aku mempercayaimu lagi"
Gadis itu menangis terisak dengan tubuhnya yang sudah terkulai lemas di lantai kamar mandi. Hatinya sakit sekali untuk menerima kenyataan ini, ia bingung harus bagaimana dengan keadaan yang kacau seperti ini.
Sedangkan Roma masih terduduk bersandar di kasur putrinya dengan beruraian air mata melihat tangannya yang terdapat darah di sana. Ia memejamkan matanya,
"Ya Tuhan kenapa kau berikan cobaan ini pada kami, kenapa kau memberikan ujian yang begitu berat. Kasihanilah putriku yang malang, bagaimana ia bisa bertahan dengan situasi ini. Karena aku luka hatinya terbuka kembali, Ayah dan ibu kandungnya sudah kau ambil nyawanya begitu juga dengan suamiku, ayah angkatnya. Kau mengambil mereka semua, apa sekarang kau akan mengambil nyawaku juga dan tak menyisakan seorang pun disisi anak itu"
"Apa kesalahannya ya Tuhan sehingga kau begitu kejam pada anakku"