![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Di dalam mobil Lusiana termenung, ternyata Lusiana melihat segalanya saat Rafael dan Zoeya berdansa, api cemburu menyelimuti hatinya. Di dalam mobil itu ia mulai memikirkan rencana untuk membalas sekretaris kekasihnya. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya Rafael dan Lusiana tiba di kediaman Khurana. Disana sudah ada teman-teman Rafael yang sudah berdatangan. Tak terkecuali sahabatnya Lais sudah ada disana dan menyambut kedatangan mereka.
Rafael berniat akan menggandeng Lusiana tapi ia tak sengaja melihat sebuah gelang perak di pergelangan tangan kekasihnya itu.
"Kau baru membelinya?" Celetuk Rafael melirik ke arah gelang tersebut. Lusiana tersenyum dan mengangguk,
"Iya aku baru membelinya sebulan yang lalu, cantik kan?"
Pria itu tersenyum dan menggandeng tangan Lusiana. "Iya cantik, tapi lebih cantik orang yang memakainya"
Lusiana tersenyum-senyum sendiri, kemudian mereka berdua keluar dari mobil. Kecuali Zoeya yang masih betah di dalam mobil sibuk dengan ponselnya.
"Wah lihat pasangan ini, kami daritadi menunggu yang menyelenggarakan pesta tapi kalian malah datang terlambat." ujar Lais sambil menghampiri Rafael, dirinya itu sudah menunggu mereka dari tadi sampai rasanya mau lumutan. Rafael menarik pelan telinga sahabatnya itu yang kini sudah berdiri di sampingnya. Lais meringis kesakitan berdrama, padahal kan jeweran Rafael tak sakit.
"Banyak drama!!" cibir Rafael, sedangkan Lais hanya menyengir kuda.
"Eh.. ada nona cantik. Halo Lusi apa kabar? gimana karirmu aman?" sapa Lais pada Lusiana.
"Terimakasih Lais, semuanya aman. Kau sendiri bagaimana? tak membawa pacarmu?" Sahut Lusiana. Lais menggelengkan kepalanya, "Tidak ah males, mau nyari lagi" Lais menjawabnya dengan wajah tanpa dosa. Sontak Rafael menoyor kepala Lais pelan, benar-benar pria satu ini sangatlah brengsek batin Rafael yang tak sadar diri, bahwa dirinya juga suka nemplok sana sini.
"Kalian nikmatilah pestanya, aku akan menyapa teman-teman yang lain dulu"
Rafael melepaskan genggaman tangannya dari Lusiana dan memilih untuk menghampiri teman-teman yang sudah menunggunya itu. Ia membuat pesta ini mungkin sebagai tempat reunian juga karena sudah lama mereka tidak kumpul-kumpul begini.
Saat ia ikut bergabung, Rafael tak menyangka rupanya banyak teman-temannya yang sudah berkeluarga, bahkan ada juga yang membawa para istri mereka. Karena sudah banyak yang berkeluarga Rafael pun tak luput dari pertanyaan teman-temannya tentang hubungannya dengan Lusiana.
"El bagaimana hubunganmu dengan Lusiana? kapan nih kalian nyusul"
"Jangan sibuk nyari duit mulu, kau kan sudah kaya raya. Kerja lembur setiap hari, pulang-pulang tidur sendiri Yahahaha" ejek salah satu dari mereka. Rafael hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya.
"El kau tak ada niat untuk serius dengan Lusiana, dia cantik seorang model pula. Kau mau mencari yang bagaimana lagi?"
Rafael meresponsnya tersenyum tipis, ia memang masih tak tahu hubungannya dengan Lusiana mau ia bawa kemana. Dirinya kan memang belum siap untuk berkeluarga, rasanya kalau di tanya soal menikah Rafael sudah paling males meladeninya. Ia masih ingin menikmati masa-masa bebasnya meskipun usianya memang sudah matang untuk menikah.
"Haduh teman-teman Rafael ini masih mau menikmati masa muda dulu, jadi tak perlu terburu-buru untuk menikah" sahut Arga yang tiba-tiba muncul dan merangkul Rafael.
"Arga? Kapan kau pulang?" Ucap Rafael terkejut dengan kedatangan Arga sahabatnya yang sudah setahun pergi karena pekerjaannya di negara lain. Arga pun langsung memeluknya singkat untuk melepas rindu.
"Aku kemarin pulang dan beruntungnya Lais memberitahuku tentang pesta yang kau buat, jadi aku datang. Kejutan untukmu" Rafael menepuk pundak Arga pelan dan merangkul Lais dan Arga bersama, akhirnya mereka bertiga sudah lengkap kembali.
"Akhirnya team kita sudah lengkap. 'Three similar' comeback"
Mereka bertiga tertawa bersama, 'Three similar' julukan dari Maminya untuk persahabatan mereka bertiga yang masih mereka gunakan sampai saat ini.
"El.. dimana sekretarismu?" Tanya Lais tiba-tiba, ia malah semakin penasaran dengan Zoeya semenjak drama sandiwara itu.
"Aku hanya penasaran dengannya, tak sampai menargetkannya kok. Kurasa aku telah menjadi fansnya karena sekretarismu sangat keren"
Rafael melongo mendengar jawaban Lais, ia tak habis pikir Lais berpikiran bahwa gadis itu keren. "Yang benar saja!? dasar tidak waras! Kau menjadi fansnya?"
Lais menganggukkan kepalanya seperti anak kecil, "Aku mau minta tanda tangannya nanti" sahutnya dengan mata berbinar-binar.
Arga yang daritadi hanya menyimak pembicaraan mereka itu hanya memasang wajah cengo kebingungan,
"Kalian sedang membicarakan siapa sih?" Tanya Arga seraya menatap Rafael dan Lais secara bergantian.
"Ada deh, kamu itu ga di ajak" sahut Lais lalu diiringi tawa Rafael. Dan mereka berdua malah jadi ngakak bersama membiarkan Arga yang penasaran. Sedangkan Arga hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tak mengerti pembahasan kedua sahabatnya itu.
Zoeya turun dari mobil Rafael sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas, ia melihat sekelilingnya yang nampak ramai. Tema pesta itu outdoor jadi hiasan lampu kelap-kelip menerangi sepanjang jalannya. Tanaman-tanaman juga tak luput dari hiasan cantik yang sudah tertata.
Dari tempat ia berdiri, Zoeya bisa melihat Rafael yang tengah bersenda gurau bersama teman-temannya. Ia mau menghampirinya tapi takut merusak suasana, jadi Zoeya lebih memilih menikmati pesta sendirian saja. Ia duduk tak jauh dari Rafael dan teman-temannya itu berkumpul.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya pelan, Zoeya pun menoleh untuk melihat siapa itu. Dan ternyata Lusiana, wanita itu membawa sebotol minuman dan dua gelas di tangannya.
"Mau minum bersamaku?" Ujarnya lalu duduk di samping Zoeya dan meletakkan botol tersebut.
Zoeya yang melihat sikap Lusiana pun jadi curiga, apa maksud dari wanita ini? Mungkinkah ini rencana licik untuk mencari masalah dengannya?.
"Apa maksud sikapmu ini nona Lusiana?" Zoeya tersenyum namun nada pertanyaannya penuh penekanan.
"Kau jangan berburuk sangka dulu, aku hanya mengajakmu menemaniku minum" jawab Lusiana santai sembari menuangkan minuman tersebut ke gelas.
"Tak perlu munafik begitu, aku tahu kau tak suka padaku. Cepat katakan ada urusan apa kau mengajakku minum?"
"Sudah kubilang, tak ada apa-apa. Aku hanya ingin kau minum bersamaku, apa aku salah?"
Zoeya tertawa kecil, ia tak percaya kalau Lusiana mendekatinya tanpa ada maksud apapun.
"Maaf nona Lusiana, aku menolak. Lebih baik kau cari orang lain saja" sahut Zoeya melengos dan tak menghiraukan keberadaan wanita itu. Lusiana menatap Zoeya, ia mendekatkan lagi kursinya agar lebih dekat dengan Zoeya.
"Apakah kau tersinggung dengan ucapanku tadi? Kalau begitu aku minta maaf. Masalahnya aku sangat cemburuan jadi aku tak terlalu suka melihat dirimu dan Rafael terlalu dekat, mohon maklumi sikapku. Kita kan sama-sama wanita jadi pasti kau pun pernah merasakan bagaimana rasanya milikmu di tempeli wanita lain. Aku hanya mengajakmu berdamai tak ada maksud apapun"
Zoeya menautkan kedua alisnya, "siapa juga yang menempeli Rafael, kau pikir aku hantu yang membuat Rafael ketempelan denganku. Aku juga tidak mau di tempeli Rafael, sebab tuntutan pekerjaan saja yang membuatku tidak jauh-jauh dengannya" batin Zoeya kesal.
Gadis itu memilih bangkit dan pergi dari sana. Ia sedang malas meladeni wanita satu itu, Zoeya memilih berjalan-jalan keluar dan mendapati tempat yang menurutnya begitu nyaman yaitu di bawah pohon rindang pinggiran sungai.
Ia berdiam diri di sana sambil memejamkan matanya menikmati semilir angin malam yang menyentuh wajahnya. Rasanya ini lebih baik daripada pesta di tempat tadi. Saking nyamannya ia menikmati suasana sampai Zoeya tak sadar Lusiana mengikutinya daritadi.
"Wanita gatal sepertimu memang harus kuberi pelajaran"