Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 32 [Pasutri muda & paruh baya]



Setiap manusia memiliki kesulitannya masing-masing dalam hidupnya. Begitupun dengan Tama yang berada dalam situasi yang menyulitkan bagi dirinya, keluarga, cinta, kehidupan baru dalam rahim kekasihnya.


Mana yang harus ia pilih? Kalau pun bisa ia ingin memilih semuanya damai. Keluarga Khurana dan Edward tak memiliki masalah apapun, namun sayang kenyataan memang lebih pahit dari khayalannya. Jika ia memilih cintanya maka dua keluarga ini mungkin akan saling bunuh-bunuhan atau keduanya menemukan kedamaian?


Yang Tama tahu ia ingin dirinya mencoba meskipun resiko sudah ada di depan mata. Menikahi salah satu putri dari Keluarga Edward tentunya suatu hal yang menentang keluarganya sendiri. Tapi apalah daya, cinta memang membuatnya buta terlebih lagi ada kehidupan baru yang harus ia jaga.


Sudah dari jauh hari ia memantapkan hati, siap secara mental. Keputusannya untuk menikahi Lusiana sudah bulat. Dan hari ini ia akan menjalankan rencananya bersama dengan Lusiana.


...---...


Seharian Tama menghilang tanpa memberi kabar, semenjak pertengkaran dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya ia tak kembali ke rumah. Tentunya hal itu membuat hati seorang Ibu khawatir dan gelisah, takut putranya melakukan hal yang tidak diinginkan akibat keinginannya di tolak mentah-mentah oleh sang Ayah.


Tya berbicara empat mata dengan Hansel perihal Tama yang ingin bertanggung jawab menikahi Lusiana. Tya pun merasa berat hati jika boleh jujur, karena ia juga menyaksikan sendiri bagaimana cara Orang-orang dari keluarga Edward ingin sekali menjatuhkan jerih payah suaminya.


Begitu licik dan menjijikkan bagi Tya, namun tak selamanya manusia berhubungan dengan orang-orang baik saja. Pastinya ada masa ketika harus menghadapi orang-orang yang tidak disukai. Tya berusaha untuk berlapang dada atas kejadian yang menimpa keluarganya.


Ia ingin memberi kesempatan kepada Tama, mungkin lewat dari putranya hubungan baik akan terbina dari kedua keluarga. Mungkin juga Tama adalah jembatan yang akan membawa kebaikan dan kedamaian teruntuk dua perusahaan yang selama ini saling menjatuhkan.


Meskipun Tya merasa memang sulit jika di lakukan, tapi ia ingin percaya pada kemampuan Putranya. Baginya Tama tak pernah sekalipun mengecewakannya kecuali satu kesalahannya yang belum paham soal hubungan. Dan sekarang keputusan ada pada Hansel, Tya sudah mengutarakan pendapatnya.


Mereka yang tengah serius membahas permasalahan itu dikejutkan dengan suara ketukan pintu, sontak Hansel dan Tya menghentikan perbincangan mereka. Mendengar tidak ada sahutan dari dalam, Rafael membuka pintunya dan mengintip memunculkan kepalanya saja. Ia mendapati kedua orang tuanya sedang duduk berhadapan di atas ranjang seraya melihat kearahnya.


Rafael hanya cengar-cengir saja, ia pun membuka pintunya lebar-lebar.


"Hehe kalian sedang apa? Duduk berhadapan begitu" Tanya Rafael mulai memasuki kamar kedua orang tuanya. Ia juga ikut duduk di ranjang dan mendusel dusel Maminya manja.


"Kenapa sih kamu, dirimu itu sudah besar lho! Ga malu kalo dilihat istrimu" omel Tya pada putranya yang kini sudah menaruh kepalanya di pangkuan Tya.


"Biarin! Dia gak ada disini tuh" sahut Rafael enteng.


"Lho kok gak ada disini? Lalu kemana istrimu?" Tanya Tya bingung.


"Dia pergi ke rumah sakit mengunjungi Ibunya"


Tya ber-Oh ria menanggapinya dan memberi pukulan pelan di dahi putranya.


"Kenapa kau juga tidak ikut Ael, harusnya kau ikut untuk menjenguk ibu mertuamu. Mami gamau tau ya pokoknya kalau Zoeya ke rumah sakit lagi dia tidak boleh sendiri"


Rafael memanyunkan bibirnya, kenapa Maminya itu selalu saja berada di pihak Zoeya. Ia jadi curiga sebenarnya siapa sih anak kandung Maminya, dirinya atau Zoeya? Semenjak bertemu Zoeya dirinya itu sudah seperti bodyguard saja, Harus menjaga Zoeya lah harus inilah itulah Rafael sebal mendengarnya.


"Kenapa kau kemari El? Ada yang ingin kau bicarakan?" Tanya Hansel yang memang daritadi sudah penasaran kedatangan putra bungsunya. Rafael mengangkat kepalanya dari pangkuan Tya, ia duduk menghadap pada Hansel karena tujuannya kemari memang untuk bertemu Papinya.


"Papi, aku ingin menerima jabatan baruku. Aku ingin menjadi Ceo, kalau memang bisa jabatan yang lebih tinggi pun tak apa. Aku siap menerima" ujarnya mantap dengan cengiran kudanya. Hansel tersenyum simpul mengetahui putranya ingin mengemban tanggung jawab yang begitu besar, putra bungsunya sudah lebih dewasa sekarang.


"Baiklah nak. Syukurlah kau sudah sadar, kemampuanmu itu bisa lebih dari itu. Papi dari awal percaya bahwa putraku yang satu ini pasti bisa membawa perusahaan lebih berjaya dari sebelumnya."


Tya turut senang mendengarnya, ia mengelus sayang kepala Rafael. Si bungsu yang manja ini cepat sekali tumbuh dewasa, rasanya baru kemarin ia menggendong bayi tampan di tangannya sekarang sudah bujangan saja. Mungkin sebentar lagi ia pun akan menggendong cucu yang lucu dari putranya itu.


Nampak senyuman bangga yang terukir di wajah keriputnya diiringi buliran air mata bahagia. "Ah Mami kenapa menangis" celetuk Rafael yang melihat Maminya diam-diam menyeka air matanya.


"Tidak ah, siapa yang menangis. Mami hanya kelilipan" sahutnya mengelak.


Hansel merubah posisi duduknya menjadi di samping Tya, ia merangkul pundak istrinya dengan mesra dan mencium keningnya lembut.


"Heleeh si Papi ngambil kesempatan! Ah tau ah aku keluar saja dari sini" dengan ekspresi masamnya Rafael turun dari ranjang membuat Tya terkekeh dengan tingkah putranya.


"Kenapa kau kesal begitu? Kan kau juga sudah bisa peluk-peluk begini dengan Zoeya" ucap Hansel sembari memeluk gemas istrinya. Rafael memutar bola matanya, ia sudah malas berada disana lama-lama segera dirinya melenggang pergi dengan langkah lebar seperti anak kecil yang tengah merajuk.


Sore hari berganti dengan malam, seperti kegiatan biasa yang dilakukan oleh sebagian keluarga. Tya mengajak untuk makan malam bersama, kali ini ia memasaknya sendiri meskipun beberapa masakan di bantu juga oleh Cadh Bibi. Tya mulai memanggil kepala keluarga terlebih dahulu alias Papi Hansel yang sedang bekerja di kamar, ia memanggilnya dengan menggunakan Ht atau handy talkie.


[Hansel.. Hansel masuk.. ganti]


^^^[Hansel masuk, kenapa cinta? Ganti]^^^


[Makan malam! cepat ke ruang makan, ganti]


^^^[Oke Honey I'm coming~]^^^


Tak perlu waktu lama Hansel pun sudah tiba di ruangan makan, Hansel memeluk Tya dari belakang, istrinya sempat terkejut karena dipeluk tiba-tiba saat tengah menaruh lauknya. suaminya itu menyunggingkan senyuman manis di ujung bibirnya, pria paruh baya itu masih nampak tampan di usianya yang tak lagi muda, guratan lelah nampak di wajah keriputnya. Dan memeluk Tya tentunya salah satu obat penghilang penatnya.


"Apasih peluk-peluk, awas ah nanti di lihat orang" ujar Tya meronta ingin melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Biarin, kalau dilihat juga tak masalah. Toh mereka juga punya mata" jawab Hansel enteng seraya mengendus-endus rambut Tya yang terurai.


"Anak-anak nanti kemari! Lepaskan aku, duduk sana di kursimu"


Hansel tak menggubris ocehan istrinya itu, ia malah asyik sendiri menciumi rambut Tya dengan gemas. Lama kelamaan malah semakin turun ke bawah membuat Tya jadi geli dengan kecupan sang suami.


Begitu mesra kedua pasangan paruh baya yang berada di ruangan makan, sangat berbanding terbalik dengan pasangan muda yang sedang menuruni tangga. Rafael tadi membalaskan dendamnya soal nasi goreng mematikan yang ia makan pagi hari tadi, ia dengan sengaja memasukkan garam di jus buah yang akan di minum Zoeya.


Zoeya pun jadi muntah-muntah karena ulah Rafael itu, dan di tangga ini mereka berdua kembali berseteru soal kejadian tersebut.


"Kau duluan yang mengerjaiku ya! Ini adalah karmamu. Tak usah mengomeliku lagi" ujar Rafael sambil menunjuk-nunjuk Zoeya.


"Aku melakukannya karena kau pun menyebalkan! Masih untung aku hanya memberimu bubuk cabai, itu aku sudah berbaik hati tahu! Kelakuanmu yang lebih parah selalu saja menarik rambutku kalau kau marah, memangnya aku tidak kesal hah!? Bisa-bisa aku botak bulan depan karena hobi barumu yang suka menarik rambutku"


"Kalau kau kesal karena aku menarik rambutmu kenapa kau tidak membalas dengan menarik rambutku! Aku lebih baik di jambak olehmu daripada harus memakan makanan yang pedas seperti itu. Kau tidak tahu saja aku bolak-balik ke kamar mandi karena masakanmu" jelas Rafael dengan nada kesal. Perkataannya itu justru semakin membuat Zoeya ikut kesal.


"Oh begitu? Kau lebih ingin ku jambak? Baiklah kemarikan kepalamu" Zoeya berusaha meraih kepala Rafael. Tinggi badan mereka yang berbeda itu agak membuatnya kesulitan apalagi mereka berdua sedang menuruni tangga.


"Dasar pendek! Kau tak bisa menjambakku meski kau ingin" ledek Rafael menjulurkan lidahnya, ia pun meninggalkan Zoeya dan mulai mempercepat langkahnya.


Gadis itu tentu saja semakin kesal, ia juga ikut mempercepat langkahnya dan melompat ke punggung Rafael seperti anak kecil minta digendong. Untung saja kaki Rafael sudah menapak di lantai, dengan posisi Zoeya yang nemplok di punggung Rafael, tentu saja itu posisi yang pas untuk menjambak Rafael dari belakang.


Rafael terus melanjutkan langkahnya santai dengan Zoeya yang masih nemplok di punggungnya, mereka malah jadi gendong-gendongan menuju ruang makan. Tangan kekar Rafael pun tanpa sadar menahan kaki Zoeya yang melingkar di pinggangnya, Zoeya masih tertawa dengan gembira karena akhirnya rasa kesalnya bisa ia luapkan dengan menjambak pria ini.


Tapi kok Rafael malah diam saja? Bukankah tadi ia kesakitan? Zoeya jadi heran.


"Kenapa kau diam saja, apa sudah tidak sakit?" Tanyanya polos sembari memiringkan kepalanya untuk melihat ekspresi Rafael.


"Lumayan, tapi enak. Aku sedang pusing, kebetulan kau jambak jadi pusingku seperti berkurang"


Zoeya melongo mendengar jawaban Rafael yang diluar nalarnya. "Jadi jambakan tadi kita berdua saling menguntungkan?"


"Yah seperti itulah, nanti di kamar jambak aku lagi yah" ujarnya membuat Zoeya tak habis pikir dengan pemikiran suaminya itu.


"Lah? Kok dia malah ketagihan di jambak" batinnya bingung.


Rafael menghentikan langkahnya mendadak membuat Zoeya jadi terheran, gadis itu memiringkan kepalanya lagi untuk melihat apa yang membuat Rafael berhenti. Mereka berempat jadi saling terdiam. Rafael dan Zoeya melihat hal yang tidak seharusnya mereka lihat. Rafael berdiri diam sambil mengerjapkan matanya, dan Zoeya sendiri sudah menutup mata dan bersembunyi di balik punggung Rafael.


Sedangkan Tya dan Hansel yang baru menyadari keberadaan mereka nampak terkejut dengan kedatangan anak dan menantunya yang datang sambil gendong-gendongan.


"Papi kau sungguh tidak tahu malu, mohon lakukan hal tersebut di kamar kalian saja" celetuk Rafael dan menurunkan Zoeya perlahan.


Dengan wajah temboknya, Hansel menatap putranya seperti tidak ada yang terjadi.


"Kau sendiri tidak tahu diri, kenapa juga gendong-gendongan saat kemari." Sahut Hansel dan melepaskan pelukannya dari Tya, ia pun langsung duduk di kursinya.


"Setidaknya hal yang kulakukan masih dalam batas wajar, tidak seperti kalian" balas Rafael dengan mulut merconnya. Sontak Zoeya mencubit perut Rafael agar tidak lagi mengeluarkan suaranya.


"Kau ini! Berpura-puralah tidak melihat apapun, mulutmu ini tidak bisa dijaga" bisik Zoeya di belakang telinga Rafael agak berjinjit.


"Yang kukatakan juga tidak salah kan? Aku mengatakan hal yang benar" jawab Rafael keras-keras membuat Hansel terus menatapnya tajam. Zoeya kembali mencubitnya, rasanya ia ingin melakban mulut suaminya itu.


"Ahahahaha~ malam ini sangat indah bukan? mari kita semua makan, lihat Uncl–ah maksudku Papi Hansel sudah duduk di sana. Mari kita juga duduk dan makan bersama" ujar Zoeya berusaha mencairkan suasana, ia pun menarik lengan Rafael agar mengikutinya untuk duduk.


Rafael menurut saja dan duduk di kursinya, Tya juga ikut duduk di kursi samping Hansel. Sedangkan Zoeya ia memilih untuk mengambilkan nasi serta lauk di piring Rafael. Tya yang melihat apa yang dilakukan menantunya jadi ikut juga melakukan hal yang sama. Ia menaruh nasi serta lauk di piring Hansel.


Setelah melakukannya baru Zoeya duduk di kursinya. Namun Rafael malah menyodorkan piringnya untuk Zoeya membuat gadis itu menatap bingung.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Zoeya pelan.


"Aku hanya memberikan makananmu, sudah kubilang jangan sok menjadi istriku" sahut Rafael berbisik di telinga Zoeya, membuat gadis itu merinding.


"Aku melakukannya karena itu tugas sebagai menantu, cepat ambil lagi piringmu sebelum aku lempar piringnya ke wajahmu" ancam Zoeya masih bisik-bisik dengan nada kesal.


Rafael tertawa kecil, ia tetap tak mau menurut. Melihat wajah menyebalkan dari Rafael itu benar-benar memancing emosi Zoeya, "Aarrgh" Rafael berteriak kencang ketika perutnya kembali dicubit oleh Zoeya tiba-tiba. Hingga Hansel dan Tya menatap Rafael penuh tanda tanya.


Zoeya menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak mengeluarkan tawanya. Ia pura-pura mengusap wajahnya meskipun tak ada keringat disana. Tapi apalah daya, Zoeya adalah titisan manusia receh yang apa-apa tertawa meskipun hanya hal kecil saja.


Ia tak bisa menahan tawanya, tapi ia juga sudah memikirkan kalau dirinya tertawa harus membuat alasan apa di hadapan Hansel dan Tya.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Hansel yang sedari tadi tak mengerti dengan tingkah anak-anaknya.


Rafael gelagapan untuk menjawab pertanyaan sang Papi, ia melirik gadis itu dengan ekspresi paniknya.


"A-a-anu... I-itu"


Seketika Zoeya menghentikan tawanya dan memotong perkataan Rafael yang gagap.


"Bukan apa-apa Pi.. tadi kami main-main saja yang kalah harus berteriak seperti harimau 'Rawrr' tapi Rafael malah membuat suara teriakan, jadi aku tertawa"


Hansel dan Tya ber-Oh ria menanggapinya, mereka saling melempar pandangan karena masih tak mengerti permainan apa yang dimainkan anak dan menantunya. Zoeya tersenyum smirk ke arah Rafael seraya menyodorkan kembali piring Rafael tadi.


"cepat dimakan! aku sudah membantumu membuat alasan teriakanmu" ujar Zoeya kembali berbisik. Rafael menerima piringnya lagi dengan wajah terpaksa dan mulai menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya. Gadis itu menopang dagunya melihat pria menyebalkannya memakan makanan yang ia taruh disana. "Lagi-lagi kau memakan apa yang tanganku berikan" batin Zoeya puas.


"Aku akan mengubah hidupmu, mulai dari hal-hal kecil seperti ini. Akan kutulis semua perubahan dalam hidupmu ketika kau bersamaku" ucap Zoeya dalam hati. Rafael menyantap makanannya dengan lahap sesekali ia melirik Zoeya yang juga sedang makan. Mereka berdua sudah seperti curi-curi pandang.


Beberapa menit berlalu, mereka semua sudah selesai makan malam. Zoeya dan Tya membereskan piring kotor mereka, sedangkan Hansel dan Rafael mengobrol ringan di ruang keluarga. Suasana rumah nampak sepi karena para pelayan sudah kembali ke paviliun yang berada di samping rumah utama.


Paviliun tersebut adalah rumah bagi para pelayan, ada yang memilih tidur disana dan aja juga yang memilih untuk pulang saja ke rumah masing-masing. Tapi kebanyakan dari mereka untuk tinggal di paviliun, sebab mereka adalah orang-orang rantau. Mungkin mereka berpikir lebih baik tinggal di paviliun daripada harus mengontrak sendiri.


"Papi dimana Kak Tama? Apa dia belum pulang juga dari pagi?" Tanya Rafael memulai percakapan. Hansel mendengus, ia pun tak tahu dimana keberadaan putra sulungnya.


"Papi tidak tahu, Kakakmu belum pulang juga. Mamimu dari tadi khawatir dengannya" sahutnya dengan nada cemas.


"Begini saja Pi.. apa aku dan teman-temanku cari saja Kakak sekarang, mumpung masih sore"


Hansel melihat kearah jam dinding, Sore? Jam 7 malam Rafael bilang masih sore?


"Ini sudah malam nak, sore hari sudah lewat beberapa jam yang lalu" celetuk Hansel.


"Haduh Papiii bagiku jam segini masih sore" jawab Putranya enteng, kemudian berpamitan untuk pergi mencari Kakaknya. Zoeya yang melihat Rafael akan pergi itu berlari kecil menghampirinya.


"El.. mau kemana" tanya Zoeya saat berhasil membuat Rafael menoleh kearahnya.


"Mau mencari Kak Tama" Zoeya pun berjalan mendekat dan sekarang ia sudah berada di samping Rafael.


"Aku ikut"


"Kau ini selalu menempel padaku, sudah kau dirumah saja" Zoeya tak menghiraukan ucapan Rafael yang melarangnya dan ia malah menggandeng lengan Rafael.


Gadis ini sangat keras kepala, Rafael hanya bisa pasrah. Kali ini ia mengalah dan membiarkan Zoeya ikut bersamanya namun langkah keduanya terhenti seketika ketika melihat orang yang akan mereka cari sudah berada di depan pintu utama. Tapi yang berbeda adalah Tama tak sendirian kembali kerumah.


"Kak Tama? Lusiana??" Keduanya sama-sama terkejut melihat pemandangan apa yang terjadi dihadapannya.