![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Zoeya menunggu di dalam kamar, ia tak tahu Rafael pergi kemana makanya ia memilih untuk menunggunya saja. Zoeya juga sudah menyiapkan kotak obat untuk mengobati luka Rafael jika suaminya itu kembali ke kamar. Gadis itu mondar-mandir, ia berpikir apa dirinya cari saja keberadaan Rafael.
Zoeya menggigit jarinya, namun ujung matanya tak sengaja melihat sosok yang sangat ia tunggu menuju kemari. Reflek gadis itu tersenyum lega, untunglah suaminya itu kembali. Zoeya sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut tapi ia dilewati begitu saja.
Rafael berjalan ke arah mejanya dan mengambil beberapa dokumen yang berada di sana. Ia akan pergi lagi dari kamarnya, sebelum Rafael melenggang pergi Zoeya sudah menahan tangan Rafael dan membuat pria itu menatap ke arahnya. Zoeya juga tak segan untuk menarik Rafael agar mengikutinya. Ia mendudukkannya di ranjang membuat Rafael menautkan alisnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rafael. Namun Zoeya tak menjawabnya dan sibuk mengambil benda yang ada di dalam kotak obat.
"Diamlah dulu" sahut Zoeya, lalu mulai mengobati luka Rafael. Pria itu sempat berdesis ketika kapas yang terdapat obat merah menyentuh luka di ujung bibirnya.
"Apa kau tak bisa memberi aba-aba terlebih dahulu sebelum mengobatiku" mendengar Rafael yang terus saja mengoceh membuat Zoeya geram, apa tidak bisa pria ini diam dulu untuk sesaat.
"Kalau aku bilang pun apa kau mau menurutiku?"
Rafael tak berani menjawab, ia memilih menutup mulutnya memandang kearah lain. Memang benar ia tak akan mau menurut. Kenapa juga gadis ini repot-repot mengobati lukanya pikir Rafael.
"Sekarang sudah diobati, kau puas?" ucap Rafael dan bangkit berdiri akan meninggalkan kamar itu.
"Mau kemana?" Tanya Zoeya penasaran suaminya itu akan kemana dengan membawa dokumen.
"Tentu saja mau bekerja, meskipun aku di rumah aku pun tak akan meninggalkan pekerjaanku"
Zoeya ber-Oh ria meresponnya, "Makanlah dulu, akan aku buatkan makanan" gadis itu ikut bangun dari duduknya. Namun Rafael menggenggam lengan Zoeya erat untuk menghentikannya.
Terlalu erat sampai Zoeya merasa kesakitan, padahal baru saja ia merasa Rafael bersikap seperti biasanya. Tapi sekarang pria di hadapannya ini kembali menunjukkan tatapan bencinya. "Di depanku kau tak perlu repot-repot berusaha menjadi istriku. Jangan sok mengurusiku! Aku bisa mengatur diriku sendiri" ujarnya dengan nada penuh penekanan dan melepaskan genggamannya.
Zoeya mengusap tangannya yang kemerahan akibat genggaman Rafael. Nampak sekali pria itu tak peduli dan melanjutkan langkahnya keluar dari kamar tersebut tanpa rasa bersalah. Zoeya membiarkannya pergi, tangannya ia lipatkan di depan dada dan melihat Rafael pergi dengan santainya. Yah mau bagaimana lagi, suaminya itu keras kepala.
Tapi Zoeya tak pantang menyerah. Ia akan melakukan apa yang ia inginkan, jika Rafael tak mau makan maka akan Zoeya buat pria itu makan. Ia akan menunjukkan siapa yang memerintah dalam hubungan mereka. Gadis itu membenahkan kotak obatnya kemudian keluar dari kamar menuju dapur.
Sudah lama dirinya tidak memasak, mungkin inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kebolehan memasaknya. Saat tiba di dapur Zoeya melihat beberapa pelayan dan juga ada Cadh Bibi disana yang tengah memotong sayuran.
"Cadh Bibi apa kabar" sapa Zoeya hangat, melihat kedatangan Zoeya semua pelayan yang bekerja langsung menghentikan kegiatannya dan menyambut nyonya muda mereka.
"Nak Zoeya kenapa kemari? Apakah butuh sesuatu?" Tanya Cadh Bibi. Zoeya menggeleng pelan diiringi senyuman ramahnya.
"Aku tak butuh apapun tapi aku ingin membuat makanan untuk Rafael" Cadh Bibi yang mendengar itu merubah ekspresinya menjadi khawatir, ia takut Nyonya mudanya terluka.
"Waduh jangan nak, biar kami saja yang buat. Disini kotor kau duduk manis saja ya, biar kami antarkan nanti" Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya,
"Tidak Cadh Bibi, aku ingin memasaknya sendiri dengan tanganku. Aku janji tidak akan merepotkan kalian, Boleh ya Cadh Bibi~" ujar Zoeya menunjukan ekspresi imutnya, ia juga menggoyang-goyangkan lengan Cadh Bibi agar diperbolehkan memasak.
Cadh Bibi yang pada dasarnya adalah wanita yang lemah soal keimutan jadi tersenyum lebar, menantu baru keluarga Khurana itu sangat lucu nan cantik. Cadh Bibi jadi tak bisa menolak permintaan Zoeya, ia pun memperbolehkan Zoeya memasak di dapur dan tentunya di dampingi olehnya. Zoeya pun ikut senang akhirnya diperbolehkan, ia berniat untuk membuat makanan yang simple saja agar tidak berlama-lama di dapur contohnya nasi goreng.
Ia dengan cekatan mengambil bahan-bahan yang diperlukan.
"Apa kau akan membuat nasi goreng nak?" Gadis itu merespon dengan mengangguk.
"Oh iya Cadh Bibi dimana Aunt–ups Mami Tya?" Zoeya masih belum terbiasa dengan panggilan Mami jadi mulutnya terkadang suka terpeleset.
"Nyonya besar pergi ke rumah sakit, tadi setelah mengantar Tuan ke depan Nyonya langsung berpamitan pergi juga"
mendengar hal itu, Zoeya semakin bersyukur bisa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Tya. Sahabat Ibunya itu sudah banyak sekali membantu, bahkan setiap hari menemani Ibunya di rumah sakit. Entah bagaimana lagi ia berterimakasih kepada Tya dan Hansel.
Sembari memasak mereka berdua mengobrol ringan, Zoeya merasa memiliki teman baru di rumah ini. Banyak orang-orang baik di sekitarnya, ia semakin percaya diri bahwa bisa bertahan disini meskipun Rafael belum menerimanya.
Tak butuh waktu lama nasi goreng ala Zoeya sudah siap dengan telur mata sapi di atasnya dan tentunya ada suatu bumbu spesial yang ia taruh di dalam nasi goreng buatannya. Gadis itu tersenyum puas seraya mengelap keringat di pelipisnya, Cadh Bibi pun ikut tersenyum ketika nasi gorengnya sudah tertata rapih di piring.
"Sebenarnya Rafael belum pernah memakan makanan seperti ini. Tapi karena kau istrinya aku percaya, mungkin dia akan menyukainya" celetuk Cadh Bibi dengan segelas jus di tangannya. Ia juga mengambilkan nampan untuk membawa nasi goreng dan juga jusnya.
Zoeya menerima nampan yang diberikan oleh Cadh Bibi dengan senang hati, ia pun menaruh sepiring nasi goreng dan jus buatan Cadh Bibi di sampingnya.
"Tentu saja Cadh Bibi, aku ingin Rafael merasakan masakanku ini. Karena Zoeya sudah ada disini maka inilah saatnya aku menunjukkan sarapan sederhana ala rakyat jelata" Cadh Bibi terkekeh mendengar celotehan gadis itu.
"Oh iya Cadh Bibi aku ingin bertanya, Rafael bilang ia akan bekerja di rumah. Apa disini ada ruang kerjanya?" Tanya Zoeya yang mengingat perkataan Rafael tadi, untunglah ia ingat untuk menanyakan hal itu.
"Pastinya ada, ruang kerja Rafael berada di lantai dua juga kok tak jauh dari kamar kalian. Zoeya tinggal belok ke kiri lurus saja nanti ada tulisan ruangan kerja. Nah disitulah biasanya Tuan besar dan Tuan muda bekerja di rumah"
"Baiklah, terimakasih Cadh Bibi sudah membantuku. Aku pamit pergi ya" Zoeya memberikan senyuman manisnya sambil membawa nampannya.
Dengan hati-hati ia membawa nampan untuk naik ke tangga. Bak tangga kuil Dewa Siwa Zoeya akhirnya bisa melewatinya, ia kembali berjalan dengan hati-hati. Sangat luas, rumah ini terlalu luas sampai ia jalan pun rasanya seperti sedang jogging di taman.
"Dimana si ruangannya" gerutu Zoeya dengan mendongak keatas untuk menemukan tulisan ruangan kerja.
Setelah berjalan beberapa menit akhirnya gadis itu menemukan ruangan kerja Rafael, ia bisa bernafas lega sekarang. Zoeya langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu.
Ia melihat sekeliling ruangan yang begitu luas, di pojok kanan ada meja kerja serta kursinya. Tapi yang anehnya mengapa terdapat alat-alat gym juga, Apa ini benar ruangan kerja? Ruangan olahraga dia jadikan ruang bekerja? Zoeya terheran-heran dalam hati.
Ia juga melihat Rafael sedang berlari di treadmill, sepertinya pria itu belum sadar dengan kehadiran Zoeya namun tetap saja Zoeya ragu untuk menghampirinya. Bukan apa-apa, tapi masalahnya pria itu telanjang dada. Zoeya mau menghampirinya pun harus mikir beberapa kali. Gadis itu menelan salivanya, sebelum ia memanggil Rafael. Setelah menguatkan hati ia pun akhirnya berani, kali ini matanya akan 100% ternodai.
"Ra-rafael" panggilnya gugup, sontak Rafael langsung menghentikan larinya dan menoleh ke arah Zoeya.
Ia tak bisa menyembunyikan bahwa Zoeya begitu gugup, ia merasa malu tapi bisa-bisanya Rafael berdiri dengan santainya dan tak berniat menutupi tubuh atletisnya. Zoeya mau tutup mata juga tak bisa, pemandangan ini kan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Lagipula Rafael juga suaminya.
"A-aku mengantar makanan untukmu" Gadis itu menaruh nampannya di meja yang berada di sana. Rafael menatap Zoeya dingin, ia mulai berjalan mendekat sampai Zoeya pun hanya bisa berdiri seperti manekin. Kalau situasinya begini bagaimana caranya kabur?
"Sebelum kau berdiri di sini apa aku mengizinkanmu untuk masuk? Beraninya kau masuk tanpa izin, mengetuk pintu saja tidak. Memangnya kau siapa berani seperti itu?"
Zoeya hanya menunduk yang berarti tatapannya melihat kebawah tapi bonus bagi matanya adalah terpampang jelas perut six pack milik pria di hadapannya.
"Sudah kubilang padamu aku bisa mengurus diriku sendiri. Apa kau tuli? atau tak mengerti dengan perkataanku?"
Gadis itu sebal setiap hari harus dimarahi,dimaki oleh Rafael, ia pun memutuskan menyudahi saja melihat tubuh bagus pria ini.
Zoeya mendongakkan kepalanya untuk menatap kedua manik mata Rafael, ia dengan berani menatap Rafael sekarang tak kalah tajamnya bahkan gadis itu berkacak pinggang.
"Terserah aku, sudah kubilang juga padamu bahwa aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Aku pun sama keras kepalanya denganmu! Jadi kau tak bisa seenaknya memerintahku" jawab Zoeya galak, mereka berdua tak melepas pandangan mereka. Masih beradu tatap sama-sama dengan tatapan tajam.
Rafael menyudahi adu pandang itu, ia memalingkan wajahnya dan melirik ke arah meja yang terdapat makanan dan jus.
"Aku tidak memakan makanan ini" ketusnya dan akan melanjutkan olahraganya lagi.
"Kenapa? Kau takut dalam makanan itu ada racunnya?" Rafael mengangkat bahunya, "Yah siapa tahu memang ada, kau kan gadis licik"
Zoeya memutar bola matanya malas, ia menarik lengan Rafael dan mendudukkan pria itu di kursi.
"Apaan sih kau ini,aku tidak mau makan!" Kata Rafael kesal.
"Aku mau kau makan!" Sahut Zoeya memelototi Rafael.
"Aku yang memerintah disini!" Rafael tak mau kalah ia balas dengan wajah galaknya. Zoeya tak takut ia mendekatkan wajahnya dan memegang dagu pria itu.
"Tapi aku ratunya disini!"
Zoeya menyodorkan piring itu, ia ingin melihat Rafael memakan masakannya.
"Kalau tidak kau makan, maka aku akan tetap disini. Menikmatimu sedang berolahraga dan bekerja, yah pokoknya akan menempel padamu sampai kau memakan makanan ini"
"Dasar gadis mesum" sahut Rafael dengan wajah tak suka, Zoeya menanggapinya dengan tersenyum santai ia sudah tak peduli dengan panggilan apa lagi yang dilontarkan Rafael untuknya.
Rafael memasukkan makanan itu sesuap ke dalam mulutnya dengan terpaksa. "Sudah kumakan, puas?" Ujarnya sambil mengunyah. Zoeya tersenyum lebar, ia pun mengangguk senang dan pergi dari sana sambil melompat kecil. Rafael bisa merasa lega sekarang, karena tidak ada yang mengganggunya lagi.
Tapi ada yang salah dengan makanan ini, mengapa sangat pedas? Ia mulai berkeringat, wajahnya memerah padahal baru sesuap ia makan.
"Sialan aku dikerjai gadis itu" gumamnya dan buru-buru menenggak jusnya. Di luar sana Zoeya sudah tertawa puas, rencana mengerjai pria menyebalkan itu akhirnya terbalas juga. Zoeya tahu Rafael adalah tipe orang yang tidak bisa memakan makanan yang pedas maka dari itu ia menaburkan bumbu spesial dalam makanannya, yaitu bubuk cabai level 50.
"Kalau dia sedang marah selalu saja menarik rambutku atau bahkan memelototi ku dengan muka galaknya. Dia pikir aku takut hanya karena perlakuan buruk darinya, kali ini akan kubuat dia tak akan bisa hidup tenang" Zoeya tertawa jahat sendiri lalu melanjutkan langkahnya dengan hati yang begitu gembira, sesekali dirinya melompat-lompat diiringi bersenandung kecil.
...***...
"Meskipun keluargaku belum merestui hubungan kita, aku akan tetap bersamamu. Bersama anak kita, aku tak akan meninggalkanmu" Tama menggenggam erat tangan kekasihnya, Lusiana tak mendengarkan ucapan Tama sama sekali. Tatapannya kosong ke depan setelah mendengar cerita dari Tama. Mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe, dan sekarang disinilah mereka berada.
"Ternyata kau Putra pertama keluarga Khurana. Aku tak pernah menyangka dunia sesempit ini, Tama.. yang dikatakan oleh Papimu benar. Aku selingkuh darimu untuk apa kau repot-repot ingin bertanggung jawab. Bukan, lebih tepatnya kau adalah selingkuhanku" jelas Lusiana masih dengan tatapan lurusnya.
Tama menatap Lusiana sedih, tak bisa dipungkiri bahwa ia memang kecewa mengetahui bahwa kekasihnya menduakannya dengan Adiknya sendiri. Tapi ia juga tak mau jika Lusiana ia tinggalkan begitu saja.
"Aku tak masalah, yang lalu biarlah berlalu. Lagipula hubungan kalian juga sudah kandas kan? Sebaiknya kita lupakan saja dan fokus pada masa depan"
Tama menunduk mengelus pelan tangan Lusiana yang berada dalam genggamannya. Tama benar-benar mencintai kekasihnya setulus hati, ia tak mau kehilangan Lusiana. Meskipun harus menentang keluarganya. Namun berbeda dengan Lusiana, dilubuk hatinya ia lebih menginginkan menjadi istri Rafael dibanding Tama. Meskipun latar belakang keluarga keduanya sama.
Keadaan memang tak mendukung keinginannya, mungkin takdirnya memang berjodoh dengan Tama. Maka Lusiana pun berusaha untuk menerima ketulusan dari Tama, kini ia mulai menatap kedua netra Pria yang berada di sampingnya.
"Baiklah, nikahilah aku jadikan aku istrimu" ujar Lusiana yang tentunya membuat Tama merasa bahagia, reflek ia memeluk kekasihnya dengan wajah berseri-seri.
"Akhirnya~ tenang Lulu aku akan membuatmu bahagia percayalah padaku. Aku pasti akan menikahimu, aku janji"
"Aku tahu itu, terimakasih kau tetap disisiku dan mau bersamaku setelah kesalahan yang kuperbuat"
"Tidak apa-apa, sudah kita lupakan saja masalah itu oke? Yang terpenting saat ini kau harus banyak istirahat dan jaga kesehatanmu. Ayo aku antar kau pulang" Lusiana menggelengkan kepalanya, ia tak mau pulang karena keluarganya pun tidak menerima dirinya setelah mengetahui dirinya hamil.
"Aku tidak ingin pulang" katanya dengan nada sendu.
"Kenapa?" Tanya Tama cemas.
"Keluargaku sudah tahu masalah kita"
Tama mendengus pelan, "Baiklah, karena situasi memang sudah memojokkan kita berdua. Mari kita jalankan rencanaku"
Lusiana mengangguk pelan, tanda ia setuju dengan keputusan Tama meskipun dirinya sendiri belum tahu apa rencana dari kekasihnya.