![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Kejadian absurd yang terjadi hari ini membuat Zoeya membolos pelajaran, bagaimana tidak mau ke sekolah pun seragamnya kotor sekali. Rafael pun terkena apesnya hari ini, uangnya hilang separuh. Tapi ia mencoba ikhlas karena para orang jalanan itu masih baik untuk membaginya sebagian dan tidak mengambil semua uangnya.
Dan sekarang mereka berdua berjalan pulang menuju rumah Zoeya. Rafael yang memang sudah tersesat hanya bisa mengikuti gadis itu. "Hey gadis kurang mampu, dimana rumahmu? Aku sudah lelah berjalan" keluh Rafael yang memang merasa lelah.
Zoeya memicingkan matanya "Dasar menyebalkan sudah dibantu tapi masih mengataiku" gerutunya pelan.
"Ya ya terimakasih sudah membantuku" ucapnya tiba-tiba hingga gadis itu berbalik menatapnya.
"Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa aku tau pikiranmu"
Zoeya memutar bola matanya malas lalu kembali melangkah dan meninggalkan Rafael cukup jauh. "Hey pelan-pelan jalannya, dasar tidak berperikecapean" Rafael menyusul langkah Zoeya dengan memaksa kakinya untuk melangkah lebih lebar. Nafasnya tersengal-sengal ketika berusaha mengejar Zoeya.
Melihat Rafael yang berusaha menyusulnya, Zoeya berlari kencang diiringi gelak tawa. Ia ternyata sengaja mengerjai Rafael.
"Payah payah payah, Rafael payah" ledek gadis itu menjulurkan lidahnya.
Sudah lelah di kerjai pula, membuat Rafael mengelus dadanya. Bukan karna ia bersabar tapi karna rasa kesal sampai membuat dirinya sesak. Kesabaran Rafael hanya setipis tisu yang di belah tiga.
"Awas kau ya" batinnya, ia ikut berlari menyusul Zoeya. Mereka malah jadi kejar-kejaran. Yang satu memperlihatkan wajah gembiranya dan yang satunya mengomel dan menggerutu. Hingga tak terasa mereka sudah tiba di rumah Zoeya. Langsung saja Rafael duduk di teras rumah Zoeya, rasanya ia lega sekali bisa mengistirahatkan kakinya.
Zoeya pun ikut duduk di sampingnya sambil melepas sepatu,
"Hey kau ini sekolah dimana?" tanyanya karena melihat seragam mereka yang berbeda.
"British school" jawab Rafael seadanya, sekarang ia malah berbaring untuk mengistirahatkan punggungnya.
"Lumayan jauh dari sini, pantas saja dia lelah setengah mati begitu" batin Zoeya seraya menaruh sepatunya di rak. Sebelum masuk ia membasuh wajahnya di sebuah keran yang berada pojokan.
"Ayo masuk jangan tiduran di sana" ajak Zoeya dan Rafael pun menurut membuntuti di belakang. Ia menyapukan pandangannya melihat seisi rumah Zoeya. Terlihat sederhana namun luas juga, ia menyukai desain interiornya. Menurut Rafael sangat elegan.
"Ternyata lelaki berambut jabrik itu salah ya, kau bukan anak kurang mampu tuh" celetuk Rafael. Zoeya hanya meliriknya sekilas dan lanjut ke dapur untuk menemui Ibunya yang biasanya berada di sana. "Ibuuu aku pulang" teriaknya senang tapi ternyata Roma tidak ada disana.
"Aku panggil ibuku sebentar, kau istirahat saja" Rafael hanya mengiyakan dan Zoeya pun berjalan menuju kamar. Saat di depan pintu ia melihat sang Ibu tengah membereskan baju-bajunya dengan koper besar. Hal tersebut membuat Zoeya heran, kenapa Ibu memasukkan semua baju-bajunya ke koper.
"Ibu, kita mau kemana? Kenapa ibu memasukkan pakaian kita ke koper" tanya Zoeya yang penasaran juga bingung.
"Kita akan pindah dari sini nak, Ayahmu di pindah tugaskan ke kota B"
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Zoeya hanya bingung dan tak tahu harus berkata apa.
"T-tapi di depan ada Rafael bu" Roma menghentikan yang di lakukannya. Ia terdiam sejenak, "Baiklah saat kita berangkat nanti, kita akan mengantarkannya pulang"
Entah mengapa perasaan Zoeya campur aduk, Ia merasa harus meninggalkan teman pertamanya begitu saja.
Padahal baru saja ia merasa senang memiliki teman meskipun sikap Rafael menyebalkan. Tapi tetap saja di lubuk hatinya ia menganggap Rafael adalah temannya. Ia pergi dari kamar dengan lesu.
Zoeya pun menuju tempat Rafael berada, ia melihat Rafael tengah memejamkan matanya dengan posisi duduk bersandar pada sofa. Entah ia hanya menutup mata atau memang tertidur. Gadis itu duduk di sampingnya dan hanya menatap. Baru kali ini ia memperhatikan wajah Rafael, alisnya tebal, bulu matanya lentik. Hidungnya mancung, kulitnya kuning Langsat. Tidak putih namun juga tidak gelap.
Beberapa menit ia memperhatikan wajah Rafael, namun Zoeya dikejutkan dengan mata Rafael yang tiba-tiba terbuka. Hanya satu yang tidak ia suka dari wajah Rafael yaitu sorot mata menyebalkan yang kini sedang menatapnya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya kemudian menunduk mempersiapkan kata-kata apa untuk memberitahu kepergiannya yang tiba-tiba. Ia merasa mungkin Rafael pun tak akan terlalu peduli toh semenjak bertemu mereka tak pernah akur. Tapi ia ingin saja memberitahu bahwa ia akan pergi dan entah kapan kembali ke sini lagi.
"Hey aku ingin bertanya" Zoeya memulai percakapan. Rafael mempersilahkan seraya meminum air yang tadi Zoeya suguhkan.
"Kalau aku pergi apakah tidak apa-apa?" Ucap Zoeya takut-takut tapi penasaran juga dengan reaksi Rafael.
"Kalau mau pergi ya pergi saja, kenapa juga kau minta izin padaku?" jawabnya enteng dan memakan sebuah permen yang berada di meja. Sebenarnya gadis itu merasa sedikit kecewa dengan jawaban Rafael, tapi ia lebih memilih untuk diam dan berusaha terlihat tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
"Beneran?" Zoeya memastikan lagi dengan memberanikan diri menatap Rafael.
"YA PERGI!, pergilah sejauh yg kau mau"