Zoeyael [between love and death]

Zoeyael [between love and death]
•Chap 40 [Gara-gara kecoak]



Zoeya menatap kesal pria yang sedang merebahkan kepalanya itu di pangkuannya. Rafael tiba-tiba sekali ingin dimanja olehnya, ia meminta Zoeya untuk mengelus kepalanya atau mau dijambak juga tidak apa-apa. Lumayan meringankan pusing perjalanan tadi katanya.


Gadis itu tidak habis pikir, pria ini sebenarnya kenapa? Zoeya bertanya-tanya dalam hati apakah Rafael memiliki kepribadian ganda. Sebentar-sebentar pria ini membencinya kemudian bersikap manja seperti ini seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ayo Zoey jambak kepalaku" pintanya seperti anak kecil yang tidak sabar. Bukannya menuruti perintah Rafael, Zoeya malah menyingkirkan kepala suaminya itu dari pangkuannya.


"Lho?? kau mau kemana?" tanya Rafael saat melihat istrinya itu bangkit dari ranjang dan meninggalkannya.


"Zoey, hey!" panggilnya tapi tak digubris oleh sang istri. Zoeya berjalan ke arah balkon dan berpegang pada pagarnya. Gadis itu menatap langit dengan sorot mata sendunya.


Perasaan hampa dan kehilangan kembali menyelimuti relung hatinya. Sedamai atau setentram apapun tempat ini tetap saja perasaan sedihnya itu tidak bisa dalam sekejap mata menghilang.


Ada rasa bersalah dan menyesal yang teramat dalam. Mengapa dirinya dulu tidak menghabiskan banyak waktu dengan sang Ibunda, mengapa dirinya tidak bisa menyelamatkan Roma saat itu. Mengapa? mengapa? dan mengapa?


Dalam kepala Zoeya dikelilingi pertanyaan yang tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, merasakan betapa nikmatnya rasa sesak di hatinya.


"Apa yang kau lakukan di sini" ucap suara berat Rafael tepat di belakangnya.


"Apa kau tidak lelah? tidak mau istirahat dulu?" tanyanya di samping telinga Zoeya, kini sudah tidak ada jarak antara keduanya.


Rafael menaruh dagunya di pundak Zoeya dengan santainya, ia juga mulai melingkarkan tangannya di perut Zoeya. Dalam hati gadis itu tentu saja kaget bukan main, kenapa pria ini tiba-tiba melakukan skinship dengannya. Bukankah Rafael membencinya?


"Zoeya sejak tadi kau tidak bicara satu kata pun padaku. Kenapa? ada apa denganmu?" tanyanya lagi dengan nada rendah.


"Apa kau masih sedih dengan kepergian ibumu? aku juga sedih, tapi kau tau kan tidak baik sedih berlarut larut. Kau harus tetap menjalani kehidupanmu"


Zoeya merenungi perkataan yang dilontarkan Rafael, tatapannya lurus ke depan menatap pantai indah dengan desiran ombaknya di sana. Semilir angin menerbangkan rambutnya, niat hati membiarkannya namun pria di belakangnya ini justru merapikannya dengan sentuhan lembutnya.


Melihat kelakuan aneh pria ini tentunya membuat Zoeya keheranan bahkan ia merasa sedikit merinding dengan perlakuan yang ia terima dari seorang Rafael.


"Rambutmu terbang-terbang, aku jadi geli saat rambutmu ini menabok wajah tampanku. Kenapa tidak kau potong saja sih?" gerutunya sembari mengumpulkan rambut Zoeya di genggamannya seakan ia akan mengikat rambut panjang Zoeya.


Ketika semuanya sudah rapih, pria itu jadi bingung sendiri bagaimana cara mengikatnya karena tidak ada ikat rambut ditangannya. Zoeya membuang nafasnya kasar, entah apa yang akan terjadi pada rambutnya itu.


"Apa kau tidak membawa ikat rambut menantu kesayangan?" tanya Rafael dan mendapat balasan dari suara jangkrik yang bersemayam di sekitaran hutan.


Zoeya mendiamkannya, melirik saja tidak. Suara Rafael bagai angin lalu bagi Zoeya. Karena tidak kunjung mendapat jawaban Rafael hanya bisa memperluas kesabarannya. Tak berselang lama ia pun mendapatkan ide bagus untuk mengikat rambut Zoeya. Pria itu mulai melepas kaos kakinya, sedikit sulit memang karena tangan kirinya menggenggam rambut Zoeya agar tetap rapih dan tangan kanannya melepaskan kaos kaki.


Dengan wajah sumringah nan jahilnya akhirnya Rafael berhasil melepas kaos kakinya, langsung saja ia rekatkan kaos kaki itu menyatu dengan rambut Zoeya. Sebenarnya Zoeya sendiri merasa aneh, darimana pria itu menemukan sesuatu yang dapat diikat di rambutnya.


"Nah sudah cantik" ujarnya puas setelah melihat hasil karyanya. Gadis itu akhirnya melirik Rafael penuh curiga, perasaannya tidak enak. Ia mulai meraba apa yang merekat pada rambutnya. Seperti kain, tapi kain dapat darimana pikir Zoeya.


"Hehehe cantik" ucapnya lagi sambil memberikan jempol dan menyengir. Rafael membalikkan badannya kemudian berjalan dengan cepat. Zoeya melihat ada yang aneh dengan pria itu masa ia menggunakan kaos kaki hanya sebelah.


Di samping itu ia penasaran benda apa yang Rafael ikatkan pada rambutnya, ia pun menariknya dan ekspresinya kian berubah ketika melihat sebuah kaos kaki berada ditangannya.


"Rafael Khurana!" teriaknya dalam hati, gadis itu benar-benar kesal. Rambut indahnya melekat dengan kaos kaki busuk milik Rafael.


"Aku tidak akan pernah berbicara lagi padamu! sialan" batinnya dongkol menatap kesal kearah dalam.


"Setelah kubuat kesal seharusnya dia berteriak padaku. Kenapa menantu kesayangan itu malah diam saja" gumam Rafael sendiri yang sudah terduduk di ranjang seraya terus melihat ke arah balkon.


"Apa aku periksa saja, siapa tau dia masih belum sadar" pikir Rafael lagi dan berniat untuk kembali ke balkon, namun sedetik kemudian gadis yang ia tunggu murkanya itu muncul dengan ekspresi datar. Rafael jadi sedikit kecewa dengan ekspektasinya, ia pikir mungkin dengan membuat Zoeya kesal gadis itu mau bicara dengannya. Tapi reaksi Zoeya malah biasa saja.


"Kenapa dia bersikap sok cool begitu biasanya juga teriak-teriak padaku. Rambutnya juga sudah terurai bukankah seharusnya dia sudah sadar dan akan memarahiku?" batinnya dan masih terus memperhatikan gerak-gerik Zoeya yang tengah membuka almari.


Di saat Zoeya membukanya ternyata sudah ada banyak baju di dalamnya. Rafael memelototkan matanya dan ikut menghampiri almari tersebut.


"Wow Papi benar-benar sudah menyiapkan kebutuhan kita. Wahh menantu kesayangan lihat, ada baju seperti ini juga" Rafael menenteng baju tidur menerawang bak saringan tahu itu dan memperlihatkannya pada Zoeya.


Baju tersebut langsung di sambar oleh gadis itu dengan tatapan kesal. Bahkan Zoeya pun merobeknya menjadi dua bagian. Rafael menganga lebar melihat Zoeya merobek-robek baju tersebut tanpa ampun. Setelah puas merobeknya, Zoeya mengambil salah satu baju santai yang ada di sana. Dan langsung menutup pintu almari dengan kasar kemudian ia pergi menuju kamar mandi.


"Aku hanya bercanda, tidak ada niat apapun" gumamnya yang masih syok atas kejadian barusan. Ia menatap kasihan pada baju tidur kurang bahan itu yang sudah berubah menjadi beberapa bagian.


"Ckckck baju yang malang, padahal bagus sekali modelnya" ucapnya sambil berdecak.


"Dasar menyebalkan! aku tak akan pernah berbicara padanya. Aku benci! benci! benci! aku sangat membencinya" di dalam kamar mandi Zoeya bicara sendiri, menggerutu sendiri, dan marah-marah sendiri. Kemudian ia menangis sendiri, perasaannya sungguh tidak bisa ditebak. Zoeya sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya ini.


Gadis itu mandi sambil terus mengoceh, Rafael yang sedang membuang baju rusak tadi di dekat kamar mandi itu jadi ikut penasaran kenapa Zoeya berisik sekali di dalam. Sedang asyik-asyiknya mandi menikmati wanginya sabun menyatu lembut di kulitnya tiba-tiba Zoeya dikejutkan dengan kedatangan makhluk coklat hobi terbang kala human ketakutan yaitu sang kecoak sialan.


"Aaaaaa" jerit Zoeya takut sambil menjauhkan diri. Dari luar Rafael menguping seraya mendekatkan telinganya pada pintu, ia ingin mendengarkan apa yang terjadi.


"Ah kau mirip Rafael Khurana, kemari akan aku cincang tubuhmu makhluk hina" sebagai pelampiasan amarahnya gadis itu benar-benar memukul kecoak menggunakan gayung meskipun kecoaknya kabur-kaburan.


Sedangkan Rafael yang berada di luar kebingungan, kenapa Zoeya menyebut namanya bahkan kedengarannya gadis itu sedang memukul sesuatu.


"Apa dia sedang menghancurkan lantai?" batin Rafael heran.


Hal paling menakutkannya kecoak tersebut terbang dan itulah yang sedang Zoeya rasakan. Kecoak tersebut terbang ke arahnya.


"AAAAAAA HIIIII HUSH HUSH" Zoeya langsung menyambar handuknya dan baju santai yang ia bawa tadi jatuh ke lantai alhasil bajunya basah semua. Tapi Zoeya tak peduli, ia memilih untuk keluar saja dari kamar mandi.


"AAAAAAA" Gadis itu berteriak kembali saat kecoaknya seperti mengejarnya, ia pun langsung membuka pintu tepat dihadapannya berdiri Rafael. Saking takutnya, Zoeya melompat ke tubuh pria itu untuk mengamankan diri dari kejaran kecoak.


Untungnya Rafael tidak oleng, ia bahkan menerima dengan senang hati jika Zoeya minta di gendong. Rafael malah tersenyum lebar melihat wajah Zoeya yang ketakutan sambil memeluknya.


"Oho~ jadi kau ingin bermain tarik ulur begitu denganku. Tadi tidak mau bicara padaku sekarang malah memelukku" ujarnya dengan wajah tengilnya. Gadis itu memberikan ekspresi kesal, "Tarik ulur matamu! itu di bawahmu ada kecoak!" sahutnya kesal dan menunjuk ke bawah.


Rafael mulai melihat arah yang di tunjuk Zoeya. "AAAA KECOAK!" Rafael berteriak kencang, sekarang ia malah kabur sambil menggendong Zoeya. "Dasar payah kenapa kau malah lari" Zoeya semakin mengeratkan pelukannya serta kaki yang melingkar di pinggang Rafael karena pria ini membawanya lari.


"Aku juga takut" jawab Rafael yang masih berlari menjauh dari kamar.


Sekarang mereka berdua tiba di dapur, pasutri itu tatap-tatapan dengan jarak yang sangat dekat. Tapi suara perut Rafael malah membuyarkan suasana kedekatan mereka.


"Hehe kita selamat dan aku lapar" celetuk Rafael lalu menurunkan Zoeya. Gadis itu membenarkan handuknya dengan canggung, niatnya yang tidak ingin bicara pada pria ini malah jadi menelan ludah sendiri gara-gara kecoak tadi.


Zoeya berniat untuk pergi menjauh dari Rafael, namun sebelum itu Rafael sudah menarik tangannya.


"Apa kau tuli? aku lapar" rengeknya seperti anak kecil manja. Gadis itu mendongak menatap tajam pria di hadapannya ini.


"Ya aku tuli! jadi jangan bicara padaku, aku alergi dengan suaramu" sahutnya ketus dan berbalik membelakangi Rafael.


Tapi mereka berdua jadi terkejut karena ada seseorang menekan bel di luar. Zoeya yang tak sadar dengan kondisi tubuhnya itu berniat untuk membukakan pintu tapi langsung diteriaki oleh Rafael.


"Hey! menantu kesayangan apa yang kau lakukan? apa kau mau menerima tamu dengan pakaian seperti itu?" reflek gadis itu melihat ke tubuhnya.


"Aaaa dasar bodoh kenapa tidak bilang?"


"Kau yang bodoh! masa tidak sadar"


Zoeya langsung berlari ke kamar, sedangkan Rafael pergi melihat siapa yang bertamu itu. Dugaannya adalah seorang dokter yang dikirim oleh Papinya. Dan saat ia membuka pintu terlihat seorang wanita berdiri di sana dan menyunggingkan senyum ramahnya.


"Selamat siang tuan, saya Meghan. Psikiater yang dikirim oleh Tuan Hansel untuk kemari"


Rafael mengangguk mengerti dan mempersilahkan wanita bernama Meghan itu untuk masuk ke dalam.


"Silahkan duduk terlebih dahulu, istri saya masih bersiap. Tolong tunggu sebentar" Rafael meninggalkan wanita itu dan naik ke atas untuk memberi tahu Zoeya.


"Zoeya" panggilnya membuka pintu kamar.


"HEY! JANGAN MASUK! AKU BELUM SELESAI BERPAKAIAN" teriaknya kesal. Rafael mendengus lalu kembali menutup pintunya.


"Tapi aku sudah lihat, bagaimana dong?" batinnya.


"Cepatlah, orangnya Papi sudah menunggumu"


"Siapa memangnya?" tanya Zoeya bingung, kenapa tamu tersebut menunggunya. Apa mungkin orang penting pikir Zoeya.


"Psikiater" jawab Rafael santai, tapi reaksi Zoeya justru tidak santai.


Setelah ia selesai berpakaian, gadis itu langsung menghampiri suaminya yang berada di luar kamar.


"Apa maksudnya El?" tanya Zoeya serius.


"Kau akan menjalankan pemeriksaan atau mungkin terapi dengan psikiater"


"Apa papi yang mengatur ini semua?" Rafael mengiyakannya sebagai jawaban.


"Aku tidak gila Rafael Khurana! aku tidak butuh pemeriksaan ataupun terapi!" gadis itu marah. Zoeya pun berniat tak ingin menemui orang yang diperintahkan oleh Hansel, ia masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintunya.


Rafael menghela nafas, Zoeya memang gadis yang keras kepala. Ia mengusap wajahnya, memperluas kesabarannya yang sebenarnya sudah kesal setengah mati gara-gara perutnya lapar sekaligus menghadapi istrinya yang berkepala batu itu. Sekarang apa yang harus ia lakukan dan bagaimana menghadapi wanita di bawah sana yang masih menunggu. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi.