![Zoeyael [between love and death]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/zoeyael--between-love-and-death-.webp)
Drama pagi hari ini diakhiri dengan Lais dan Meghan yang berpamitan pulang. Alhasil suasana vila pun kembali tentram, manusia rusuh itu sudah pergi bahkan sepertinya ia akan mampir sebentar ke rumah sakit terdekat. Dalam lubuk hati terdalam nan gelap gulita sebenarnya Rafael merasa bersalah tapi ia juga merasa sepenuhnya bukan kesalahannya, toh kenapa juga Lais melanjutkan menelan makanan tersebut jika di rasa sudah basi.
Namun yang sudah terjadi biarlah terjadi. Saat ini Zoeya memasang ekspresi serius, melirik tajam sang suami yang tampaknya tak ada rasa berdosa. Rafael sendiri santai saja dan memilih berbaring di ranjang sambil ongkang-ongkang kaki.
"Rafael!" Panggil gadis itu dan hanya mendapat lirikan mata dari Rafael.
Zoeya mulai berjalan mendekat, ia pun duduk di tepi ranjang seraya menurunkan kaki Rafael yang terlihat sangatlah sopan.
"Duduk dulu dengarkan aku" pintanya namun tak digubris oleh pria itu.
"Bicara tinggal bicara, jangan ganggu aku rebahan" katanya dan langsung membangkitkan kekesalan Zoeya.
Zoeya menarik paksa t-shirt polos milik Rafael dengan sekuat tenaga, ia ingin suaminya itu duduk dan mendengarkan perkataannya dengan serius.
"Aku sedang serius El! Bangun!" ucap Zoeya galak, Rafael tidak bisa melakukan apapun selain menuruti permintaan sang istri dengan terpaksa mendudukkan tubuhnya.
"Kau ini mau bicara apa sih?" Tanya Rafael sambil mengacak rambutnya yang sudah mulai gondrong itu. Zoeya tak menjawab dan hanya menatap lamat netra pria di hadapannya. Posisi mereka berdua sekarang duduk berhadapan.
Gadis itu nampak tengah berpikir diiringi senyuman simpul sebelum mengatakan sesuatu. Rafael sendiri jadi penasaran, ia menantikan hal apa yang akan disampaikan oleh Zoeya sampai tersenyum-senyum begitu.
"Rafael.."
"Hmm?"
"Ayo kita cerai" ujarnya enteng kemudian tersenyum lebar pada Rafael.
Mendengar kata-kata itu Rafael bagai disambar petir meskipun cuaca pagi ini cerah sekali, bahkan sekarang ia bagaikan orang yang linglung dengan pandangannya terus menatap sang istri, Ia tak menyangka. Saking syoknya, Rafael tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Ibuku sudah tiada El, kau tidak perlu khawatir mengingkari janjimu padanya. Kau sudah cukup menjagaku selama ini, bukankah kau sendiri ingin bebas?" ucap gadis itu masih dengan senyumannya, tak ada nada tinggi ataupun memaksa. Bahkan suaranya terdengar begitu lembut di telinga Rafael. Untuk beberapa saat mereka terdiam masih dengan saling menatap.
"Ke-kenapa?" Akhirnya hanya kata-kata itu yang berhasil keluar dari bibirnya. Sebelum menjawabnya Zoeya menghela nafasnya dengan pandangan yang melihat langit-langit kamar seperti tengah kilas balik dengan kehidupan mereka.
"Bukankah kita berdua tidak cocok? Untuk apa bertahan jika tidak ada cinta di hati kita. Aku ingat saat kau mabuk, kau bilang sangat membenciku dan kau memintaku untuk membebaskanmu"
Rafael mengernyitkan dahinya, ia merasa tak pernah berkata seperti itu pada Zoeya.
"Aku tak pernah mengatakannya" protes Rafael.
"Kau sedang mabuk! Tentu saja kau tak ingat perkataanmu padaku" sahut Zoeya cepat yang membuat Rafael tak bisa berkutik lagi.
Mereka berdua kembali terdiam, apalagi Rafael yang seperti sudah kehilangan rohnya dan hanya bisa bengong meratapi selimut tebal di sampingnya.
"Rafael?" Zoeya menepuk pundak suaminya itu agak keras karena daritadi Rafael tak menyahutinya. Rafael sendiri jadi terkejut mendapati Zoeya menepuknya dan memasang wajah heran.
"Kau ini jangan melamun nanti kesambet lho" kata Zoeya kemudian mengambil selimut yang berada di samping Rafael dan ia rapihkan. Rafael hanya bisa memandang istrinya itu lekat-lekat. Pikiran dan hatinya jadi kacau setelah mendengar kata cerai dari mulut Zoeya. Apakah memang seharusnya mereka bercerai saja? Pikir Rafael.
Namun entah mengapa hati kecilnya begitu tercubit kala kata cerai ia batinkan seolah hal itu adalah keramat. Rafael sendiri bingung dengan perasaannya, rasanya ia kesal sekali jika mengingat Zoeya yang meminta cerai dengan senyuman lebar terukir di wajahnya.
"Dasar wanita aneh! Katanya dia tak akan meninggalkanku semudah itu, tapi sekarang dia sendiri yang meminta cerai" gerutu Rafael pelan dan langsung mendapat lirikan tajam dari Zoeya.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya gadis itu sembari menaruh selimut yang tadi ia lipat di ranjang.
"Tidak tuh" sahut Rafael dengan wajah yang ditekuk, terlihat seperti sedang merajuk. Melihat kelakuan aneh suaminya Zoeya hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia mulai membersihkan kamar tersebut meskipun sudah terlihat rapih.
"Untuk apa kau membersihkannya? Ruangan ini sudah bersih tak perlu kau bersihkan lagi" celetuk Rafael yang sedari tadi mengamati pergerakan Zoeya. Istrinya itu hanya tersenyum tipis menanggapinya sesekali ia selipkan rambutnya itu ke telinga agar memudahkannya bergerak.
"Rafael aku tidak ingin berlama-lama di sini, aku ingin kembali saja. Sebaiknya kita urus perceraian kita secepatnya" wajah Rafael kian memerah mendengar tentang perceraian kembali. Ia marah tapi dirinya juga tak tahu harus marah kepada siapa.
"Zoeya aku belum menyetujuinya" sahut Rafael serius, bahkan terkesan sedang menahan kekesalan dari intonasinya. Istrinya itu hanya memberikan ekspresi datarnya dan lebih melanjutkan pekerjaannya, meskipun dalam hati Zoeya semakin bingung dengan sikap Rafael.
Tak perlu waktu lama kini Rafael sudah berada di bawah. Nafasnya memburu, rasanya ia ingin sekali menghancurkan barang-barang di vila ini saking kesalnya.
"Rafael" panggil suara yang sangat ia kenal, rupanya Zoeya tadi mengikutinya ke bawah. Pria itu langsung menoleh dan mendapati sang istri yang sudah berdiri tak jauh dari dirinya.
Perlahan-lahan Zoeya mulai mendekatinya.
"Aku tak tau kenapa kau terlihat kesal. Tapi sepertinya kita perlu membicarakan nya lagi empat mata. Kemarilah ikut denganku" istrinya itu meraih tangannya dan mengajaknya ke suatu tempat. Rafael membiarkan Zoeya membawanya, ia mengikuti sang istri dengan pandangannya menatap rambut panjang Zoeya yang tergerai bebas.
Gadis itu membuka pintu belakang dan mereka berdua kembali ke hutan ini. Mereka menyusuri hutan lagi mengikuti jalan setapak. Pria itu terus memperhatikan setiap gerakan Zoeya yang berada di sampingnya, angin semilir terkadang menerbangkan helaian rambut panjangnya. Namun gadis itu membiarkannya.
"Rafael.. hubungan kita terlalu kacau. Banyak sekali problem yang tak pernah kita bicarakan berdua." gadis itu mulai membuka suaranya, ia tertunduk dalam dan matanya mulai berkaca-kaca namun ia tak ingin menunjukkan hal itu pada Rafael.
"Ku pikir kau harus tau ini, banyak sekali penderitaan dan luka di hati kita masing-masing. Dan sebelum itu aku sungguh sangat menyesal perihal janji pertemanan kita yang sudah aku patahkan dengan keputusan egoisku. Aku tak berniat untuk melukai perasaanmu, ku rasa kau baru ingin mendengarkanku saat ini karena dulu kau selalu menatapku dengan tatapan benci. Maka dari itu aku ingin meminta maaf padamu sekali lagi, tolong maafkan aku"
Terdengar helaan nafas berat dari sang suami, "Itu sudah lama, kenapa kau mengungkitnya lagi. Aku bahkan sudah lupa dengan perjanjian menyebalkan itu" sahut Rafael. Zoeya terdiam memainkan jari-jarinya karena bingung menjawab perkataan Rafael.
"Bukan permintaan maaf yang ingin ku dengar, tapi alasan kenapa kau ingin meminta cerai" sambung Rafael yang nada bicaranya masih menahan kesal. Zoeya pun semakin tertunduk, ia ingin mengutarakan maksudnya namun dirinya jadi menciut kala Rafael nampak tak ramah membahas hal ini.
Rafael sadar bahwa dirinya membuat gadis di sampingnya ini jadi takut untuk bicara. Sebisa mungkin ia hilangkan kesal dan amarah dalam hatinya sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Zoey... Bukankah kau mengajakku kemari untuk membahasnya? Beritahu aku dengan jelas apa alasanmu" ucapnya dengan nada rendah, kali ini Rafael lebih tenang dan siap mendengarkan penjelasan Zoeya.
Gadis itu menghentikan langkahnya, spontan Rafael juga ikut berhenti dan menatap Zoeya keheranan.
"Kenapa berhenti?" Tanya Rafael dan Zoeya hanya diam. Gadis itu menjauh dari Rafael dan menapakkan kakinya di luar jalan setapak.
"Zoeya!!" Panggil Rafael yang panik saat Zoeya semakin jauh dari tempatnya berdiri.
"Jangan mengejarku, diam saja di tempatmu"
Rafael tak bisa tenang, ia berniat menyusul istrinya itu namun gadis itu membalikkan tubuhnya dari kejauhan sana. Ia berhenti,
"Rafael! Kita bicara seperti ini saja" pekik Zoeya agar Rafael bisa mendengar dari sana.
"Dasar kekanakan" sahut Rafael pelan.
Zoeya tahu Rafael pasti menggerutu bahwa dirinya ini sangat kekanakan. Tak urung ia tetap tersenyum lebar. "Rafael ayo kita berpisah dengan wajah yang gembira" pekiknya lagi. Sontak Rafael menelan salivanya setelah mendengar kata-kata yang diucapkan sang istri.
Zoeya tertawa riang, melompat lompat kecil. Bahkan ia memutar tubuhnya dengan kepala yang mendongak menatap langit serta tangan yang ia rentangkan.
"Rafael! Ayo kau juga melakukan hal ini"
"Tidak mau, untuk apa?"
"Untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang telah menciptakan hari yang cerah"
Rafael mendongak menatap langit biru di atas sana, ia mulai memejamkan matanya. Melihat Rafael yang menuruti perintahnya, gadis itu pun tersenyum lebar. Ia kembali berjalan mendekat ke arah Rafael.
"Kau bertanya alasanku kan? Itu karena kau pun tidak bahagia dengan hubungan ini. Kau ingin bebas, aku juga ingin bebas. Aku ingin hidup demi diriku sendiri, seperti katamu saat aku terpuruk. Menikah denganmu pun bukanlah keinginanku, maka dari itu ayo kita berpisah tanpa ada kebencian"
Rafael membuka matanya, ia menurunkan pandangannya dan menatap lekat manik mata sayu milik Zoeya. Gadis itu ingin Rafael mengerti apa maksudnya, ia ingin Rafael melepaskan hubungan bagai beban bagi mereka. Mereka berdua menikah karena keinginan terakhir dari Roma. Bukan karena cinta antara keduanya, namun di luar dugaan Rafael justru memberikan raut wajah sendu.
"Zoeya apa kau pikir janjiku pada Ibumu hanya sebuah omong kosong belaka?" Tanya Rafael dengan nada yang terlihat kecewa. Pria itu menghela nafas berat sambil memijat pelan keningnya.
"Sebrengsek-brengseknya aku, jika aku berjanji aku takkan pernah mengingkarinya. Apalagi aku berjanji pada sahabat Mamiku, entah dia masih hidup ataupun sudah tiada hal itu tidak akan mengubah janjiku"