Vermillion

Vermillion
Chapter 9 : Apartemen Jessie



Mobil itu berhenti di depan sebuah apartemen. Jessie yang pertama kali turun dari mobil. Ted menepuk pelan pundak Rein, membangunkannya dari lamunannya.


“Ada apa?” tanya Rein.


“Um ... kita sudah sampai, turunlah.”


“Oh ... baiklah.”


“Aku akan tunggu disini, Ted!” seru Hein saat Ted sudah turun bersama dengan Rein. “Baiklah!” balas Ted seraya menutup pintu mobil.


***


Ted mengetuk sebuah pintu apartemen bernomor 29 itu. Tak butuh waktu yang lama, pintu itu akhirnya terbuka.


“Masuklah,” ucap Jessie yang sudah bertukar dengan pakaian santainya. Kemeja putih yang sudah di gulung pada bagian lengannya dan celana jeans pendek.


“Cepat sekali, Jess.”


“Kau mau sekalian masuk?” tanya Jessie saat Rein sudah melangkah masuk ke dalam apartemennya.


“Tidak. Aku akan segera pulang.”


“Jam berapa nanti kau kemari?”


Ted mengangkat sebelah alisnya. “Kemari?”


Jessie mendengus kesal. “Kau ingat janjimu, kan?”


“Oh! Benar! Mungkin agak sore, Jess!”


“Baiklah. Pulang sana!” usir Jessie seraya menutup pintu apartemennya.


“Ted tidak masuk?” tanya Rein yang ternyata masih berdiri di belakangnya.


Jessie yang baru saja berbalik sedikit melompat kaget. “K-kenapa masih berdiri di sana? Masuklah dan duduklah di dalam.”


“Baiklah ...” Rein mengikuti perintah Jessie dan menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa yang ada disana.


Jessie ikut bergabung dan duduk di sebelahnya. Masih menatapi wajah Rein dengan tatapan menginterogasi.


“A-ada yang aneh ... diwajahku?” tanya Rein sedikit mengalihkan fokus matanya pada meja kecil yang berada tepat di hadapannya.


“Tidak. Hanya saja, aku masih penasaran dengan rambutmu,” gumam Jessie sembari menyisir pelan rambut Rein. “Kau ini pria, kan?”


Rein mengerjapkan matanya berkali-kali. “I-iya?”


“Kenapa kau tidak memotong rambutmu? Dibiarkan memanjang begini, orang-orang bakal mengira kau ini perempuan loh! Kau pandai juga ya merawat rambutmu ...” Tanpa sadar Jessie mulai tersenyum dan memainkan rambut Rein.


“Ah ... aku tidak pernah kepikiran untuk memotongnya. Rambut ini adalah tanda kehormatan ras kami, diturunkan langsung oleh ayahku. Tapi, ibuku juga sudah pernah menyuruhku untuk merapikannya. Haha ....”


“Tak apa, kalau kau memang tidak mau memotongnya, ya tak usah. Lagipula, rambutmu juga belum terlalu panjang sih.”


“Ah ... iya.”


Setelah itu, tidak ada dari mereka yang mengeluarkan suara. Suasana hening pun tercipta.


“Rein, kan?” ucap Jessie yang tengah bersandar, memecahkan keheningan itu.


“Iya?”


“Kau bilang kau sedang mencari penawar, bukan?”


“Benar.”


“Penyakit apa yang diderita oleh ayahmu?”


“Aku tidak tau. High Priest bilang padaku kalau itu penyakit yang belum pernah di alami oleh ayahku sebelumnya. Aku sudah berjanji untuk kembali dengan penawar itu pada ibuku. Tapi, aku malah tersesat disini,” jawab Rein pasrah.


“Kau juga bilang sebelumnya tentang Planet Biru ini, jadi maksudmu, penawar itu hanya ada di Planet Biru?”


“Iya ... tapi, itu yang kudengar dari High Priest.”


“Hm ... apa High Priest yang kau sebut ini merupakan seorang dokter?”


“Dokter?”


“Ayahku tidak siuman, tubuh dan pernafasannya memang kelihatan nomal, tapi saat aku menyentuh tangannya, aku bisa merasakan perubahan suhu pada tubuhnya. Jauh lebih dingin dari biasanya.”


“Hm ... maaf, aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Tapi, mungkin dokter bisa membantu. Akan kubahas masalah ini dengan kedua temanku.” Jessie bangkit dari sofa dan beranjak menuju dapur.


“Apa dokter yang disebutnya ini memiliki kemampuan di atas High Priest? Tapi, High Priest bilang penawarnya hanya ada di Planet Biru. Bagaimana mungkin disini ada yang bisa menyembuhkan penyakit langka ayah?”


“Hei ... kau lapar?” Terdengar suara Jessie dari dapur.


“Tidak. Terima kasih sudah menanyakannya.”


Beberapa menit kemudian, Jessie kembali bergabung dengan membawa semangkuk sereal.


“Kau tinggal disini sendiri? Di mana orangtuamu?” tanya Rein yang merasa heran dengan kesunyian apartemennya.


“Ah ... aku tinggal sendiri. Um, kau mau menonton film?” Jessie langsung mengambil remote tv dan mulai memilih saluran.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Rein heran sembari menatap benda berbentuk persegi yang mulai mengeluarkan suara acak dihadapannya itu.


Jessie meletakkan remote tv itu disebelahnya dan kembali menyantap serealnya. “Nonton sajalah ... jangan banyak bertanya.”


Rein menatap ke layar tv yang kini menyiarkan siaran drama anak-anak muda. Rasa penasarannya semakin bertambah. “Ah ... maaf mengganggu makanmu, tapi kenapa benda ini bisa memperlihatkan pada kita kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan oleh kaummu? Di mana kau mendapatkan benda ini? Bukankah ini sudah melanggar privasi mereka?”


“Pftt ... Rein, Rein. Ada-ada saja! Ini namanya televisi tau! Dan tentu orang-orang itu sedang bermain film! Kita tidak melanggar privasi mereka, oke? Lagipula, yang mereka lakukan itu hanyalah akting,” jelas Jessie gemas.


“Oh ... begitu ya?”


“Kau tau, kau ini seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa.”


“A-aku bukan anak kecil! Aku sudah berusia 20 tahun!”


“Oh?! Kau sudah berusia 20 tahun?! Seharusnya aku memanggilmu Kakak Rein! Haha ...” ledek Jessie.


“J-jangan meledekku ....”


“Maaf, maaf. Tapi, besok aku sudah kembali sekolah. Masa liburan sudah berakhir. Jangan heran kalau kau tidak menemukanku besok pagi, ya!”


“Sekolah?”


“Ya, tempat dimana sekelompok orang berkumpul dan belajar. Oh, iya. Aku akan pulang jam 5 sore. Sehabis pulang sekolah, aku masih ada kerja sampingan menjaga toko yang tak jauh di sekitar sini,” jelas Jessie.


“Baiklah.”


“Kau tidak akan ketakutan, kan?” ledek Jessie lagi.


“T-tentu saja tidak!”


“Haha! Kau tidak merindukanku? Aku pulangnya lama loh ...” goda Jessie sembari kembali menyentuh helaian rambut merah Rein.


“Tidak,” jawab Rein datar.


Jessie spontan tertawa lepas, lalu menatap lekat-lekat wajah Rein. Sebelah tangan Jessie perlahan membelai lembut pipi Rein. “Tampangmu oke juga, sih. Hm ... aku jadi ingin memamerkanmu,” gumam Jessie.


“Apa?”


“Tidak. Tidak ada. Ikutlah denganku ke atas. Aku akan menunjukkan kamarmu.” Jessie kembali bangkit dari sofa dan beranjak menaiki tangga apartemennya. “Cepatlah, Rein!”


“B-baik!”


***


“Ini kamarmu,” ucap Jessie mempersilahkan Rein masuk.


“Kamarku ada disebelah. Kalau ada apa-apa, kau bisa memanggilku.”


Rein mengangguk pelan. “Tenang saja, aku selalu membersihkan kamar ini juga. Jadi kau tidak perlu beberes,” jelas Jessie yang masih berdiri di depan pintu.


Rein kembali mengangguk. “Aku akan memanggilmu kalau sudah jam makan malam. Tapi kalau kau sudah lapar, ada sereal di kulkas. Kau bisa makan itu dulu. Dah!” Jessie pun berbalik dan menutup pintu kamar itu.


Rein beranjak menuju kasur dan menghempaskan dirinya. Matanya masih menatap langit-langit apartemen. “Maafkan aku, ibu. Aku tidak yakin aku bisa menepati janjiku.”


Rein meletakkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, lalu menghela nafas lelah. “Selene ... sebenarnya kau ada di mana sekarang? Aku harap kau baik-baik saja ....”